Kaidah Penerapan Sunnah Penulis:
Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Memang orang yang memulai menghidupkan suatu sunnah pada masa umat meninggalkannya akan mendapatkan risiko yang berat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat di atas.
Orang yang mengerjakannya seperti orang yang memegang bara api. Jika dipegang tangan terbakar, namum jika dilepaskan kita akan tersesat jauh dari jalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Namun risiko itu sesuai dengan pahalanya yang besar, yaitu lima puluh kali para sahabat.Di samping itu, agama ini memang bermula dengan keasingan dan pada saatnya akan kembali asing seperti permulaannya.
Jika dengan alasan masih asing, kemudian kita meninggalkan sunnah maka akan lenyaplah Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengkhabarkan akan asingnya agama ini pada mulanya dan akan kembali menjadi asing pada saatnya.
Namun beliau juga sekaligus memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang terasing karena menjalankan agama ini.
Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing. (HR. Muslim)
Untuk itu janganlah perasaan asing, malu, takut, dan lain-lain menjadikan kita meninggalkan sunnah. Kita harus ingat bahwa sunnah adalah Islam, dan Islam tidak lain melainkan kumpulan sunnah-sunnah.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam al Barbahari dalam bukunya, Syarhus Sunnah: “Islam adalah
sunnah dan Sunnah adalah Islam. Tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lainnya”.
Jika berkurang satu sunnah maka berkuranglah kesempurnaan Islam, begitulah seterusnya hingga akan hilanglah Islam secara keseluruhan. Berkata Abdullah Ibnu Dailami: ”Sesungguhnya awal pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya sunnah.
Agama ini akan hilang satu sunnah demi satu sunnah seperti hilangnya tali satu kekuatan demi kekuatan”. (Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Al Lalikai 1/93).
Oleh karena itulah Ahlul bid’ah dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang ikut andil dalam menghancurkan Islam. Karena dengan kebidahan yang mereka lakukan, maka ada sunnah yang tergeser.
Semakin banyak bid’ah dikerjakan, semakin banyak pula sunnah yang hilang, hingga hancurlah Islam.Berkata Al Auza’i dari Hassan bin Athiyyah: ”Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu kebid’ahan kecuali Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisalnya.
Kemudian tidak akan dikembalikan kepada mereka sampai hari kiamat”.Dan berkata Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu:
“Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka mengada-adakan satu kebid’ahan dan mematikan satu sunnah. Demikianlah hingga berkembanglah kebid’ahan dan matilah sunnah”. (al-Bida’ wa nahyu ‘anha,hal. 38-39; lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 85).
Sedangkan Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’nya menyatakan bahwa orang-orang yang mematikan sunnah itu ada dua jenis. Pertama orang-orang yang mengerjakan kebid’ahan-kebid’ahan dan yang kedua orang-orang yang tidak mau menghidupkan sunnah.
Ketahuilah bahwa di samping risiko yang akan dihadapi oleh orang yang memulai menghidupkan sunnah, ada pula maslahat bagi agama yang besar yaitu hidupnya sunnah. Adapun mafsadah atau risiko yang dihadapinya hanyalah bersifat pribadi.
Tentunya maslahat agama harus lebih diutamakan daripada maslahat pribadi. Dengarkanlah apa yang diucapkan oleh Imam asy-Syatibi berikut: “Aku ragu dan berulang kali menghitung antara menerapkan sunnah dengan konsekwensi menyelisihi kebiasaan manusia yang tentunya akan mendapatkan risiko seperti apa yang telah didapatkan oleh orang yang menyelisihi adat kebiasaan kaumnya; apalagi kalau mereka menganggap apa yang biasa mereka lakukan tidak lain adalah sunnah; namun di samping risiko yang berat itu ada pahala yang besar.
Atau aku memilih untuk mengikuti kebiasaan mereka dengan konsekuensi menyelisihi sunnah dan menyelisihi jalan salafus shalih hingga aku digolongkan termasuk orang-orang yang menyimpang –Naudzubillah min dzalika—
Namun karena aku mencocoki kebiasaan manusia akan dianggap sebagai orang yang bisa bermasyarakat dan tidak termasuk orang yang menyelisihi adat. Akhirnya aku berpendapat bahwa kebinasaan dalam mengikuti sunnah adalah keselamatan, dan bahwasanya manusia tidak akan bisa mencukupi aku dari Allah sedikitpun”.
(Dlaruratul Ihtimam, Syaikh, Abdus Salam bin Barjas hal. 88)
Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 20/Th. I tgl 13 Muharram 1425 H/5 Maret 2004 M
Sunnah Yang Hilang
Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani
Sesungguhnya menjaga sunnah yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemuliaan yang tiada tara disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.
Terlebih lagi, jika dituntut untuk merealisasikannya dimasa akhir zaman. Yaitu pada masa dimana hawa nafsu terus diumbar, fatamorgana kesenangan dunia selalu diprioritaskan, sifat pelit telah menjadi panutan, dan setiap orang yang memiliki rasio merasa bangga dengan pikirannya.
Inilah waktu yang kebanyakan manusia tidak lagi menghiraukan ajaran sunnah. Kelangkaan mengamalkan sunnah sudah menjadi tradisi yang mengakar ditengah-tengah kehidupan manusia pada umumnya. Sedangkan berkomitmen dengan sunnah laksana menggenggam bara api.
Namun bukan berarti bahwa ajaran sunnah telah lenyap secara keseluruhan dari muka bumi ini. Pejuang sunnah akan tetap eksis sampai Allah mendatangkan hari kiamat, walaupun dalam jumlah yang minoritas.
Demikianlah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jaminan yang pasti, sebagaimana dalam sabdanya,
“Senantiasa akan ada sekumpulan kecil dari umatku yang selalu tampak diatas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka, sampai datang perintah dari Allah (hari kiamat), sementara mereka masih dalam kondisi yang demikian itu”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)
Mereka yang mau membangun kembali puing-puing sunnah yang sudah runtuh dan dilupakan adalah pihak yang sangat berbahagia. Allah telah menjanjikan pahala yang cukup besar sebagai ganjaran atas perjuangan mereka.
Keberuntungan ini tergambar dalam sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut,“Hendaklah kalian memerintah kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar, sampai kalian melihat sifat pelit sudah dipeturutkan, hawa nafsu sudah diikuti, dunia sudah diprioritaskan, dan setiap orang yang memiliki rasio sudah merasa bangga dengan pikirannya, maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah urusan keumuman manusia.
Sesungguhnya dibelakang kalian terdapat hari-hari kesabaran. Saat itu kesabaran (diatas agama) laksana menggenggam bara api. Bagi yang mau mengamalkan (agama) diantara mereka (niscaya akan memperoleh) seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya”.Dalam sebuah riwayat: “Sang sahabat bertanya, wahai Rosulullah! Apakah (seperti) pahala lima puluh orang dari mereka? Beliau menjawab, (seperti) pahala lima puluh orang dari kalian”.
(HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan beliau menghasankannya, Ibnu Majah, An Nasai, Ibnu Hibban, serta yang selainnya, dari sahabat Abu Tsa’labah Al Khusyani. Lihat “Al Qobidhuna ‘Alal Jamr” karya Salim Al Hilali, hal 11-dst)
Monday, October 19, 2009
Sunday, October 18, 2009
Apa Itu ManhaJ sALAf??
Alhamdulillah..selesai sudah dauroh di Institute Al-Qayyim yang bertemakan=
Keilmuan Sebelum Berdakwah..
Saya ingin berkongsi satu berita genbira,kerana ada seorang ikhwah yang memeluk Islam setelah selesai dauroh kali ini,dan komentarnya adalah,dauroh ini memang jelas penjelasannya tentang Islam,memahami Islam bermula daripada Aqidah yang Saheeh,Ibadat yang bersih dan saheeh,akhlak yang terpuji yang bermanhajkan Salaf.
Dalam dauroh kami bermula kuliah kami dengan membincangkan soal Aqeedah..Aqeedah yang saheeh yang benar-benar ikut petunjuk Rasulullah,iaitu zaman terbaik yakni salaf.Kemudian diikuti dengan ibadat,akhlak,muamalat,dan Dakwah Salafiyyah,Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Istilah al-Quran=Kalam Allah yang diwahyukan kepada Baginda Nabi Saw dan merupakan ibadah dengan membacanya.
Dipetik daripada Manna’ al-Qattan,Mabahith fi Ulum al-Quran,(Riyadh:Maktabah al-Maarif li al-Nashar wa al-Tauzi’:cetakan 3,1421H:2000M)ms/17.
Istilah al-Sunnah=Setiap perkara yang dinisbahkan/disandarkan kepada baginda Nabi saw dari segi perkataan,perbuatan,taqrir dan sifat jasmani dan akhlaq baginda sama ada sebelum atau selepas dilantik sebagai rasul
Dipetik daripada Abu al-Laith,Prof Dr Mohd Syamsuddin,Ulum al-Hadith:Asiluha wa Mua’siruha(Kuala Lumpur:Dar al-Syakir:cetakan 4,1426H:2005M)M/S 21.
Taqrir adalah Isyarat Nabi Saw secara jelas atau tidak.Kadangkala baginda Nabi Saw tidak membantah perbuatan sahabat baginda,menggambarkan Nabi Saw tidak melarang.
al-Salaf=
1.Bahasa:terdahulu dan telah berlaku
2.Istilah:para sahabat Nabi Saw dan yang mengikuti cara mereka(Tabi’en) dan mereka yang berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah menurut cara kefahaman para Sahabat RA.
Dipetik daripada Ibn Faris,Abu al-Hussain Ahmad,Mu’jam Muqayiis al-Lughah,Tahiqiq:Abdul Salam Muhammad Harun,(Lubnan:Dar al-Fikr,1399H:1979M)j.3 m/s 95.
Dakwah kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Dakwah kepada al-Quran dan al-Sunnah adalah suatu perkara yang amat kritikal bagi umat ini menyeru kepada bukan sahaja umat Islam malah mereka yang bukan Islam untuk memahami dan beriman dengannya.
Namun,mengapa MANHAJ SALAF menjadi pilhan??Adakah manhaj lain bukannya terbaik sehingga memaksa kita memilih salaf sebagai jalan dakwah.
Manhaj Salaf adalah satu cara faham dan metodologi yang digunapakai mengikut kaedah kefahaman yang diselusuri para Ulama’ Salaf(terdahulu) dari
Para sahabat Nabi SAW,Tabi’en dan Tabi’en al-Tabi’en.Cara faham ini adalah yang berkait langsung dengan AQIDAH Islamiah dan Ibadah.Kerana dua unsur ini sahaja yang tidak bersifat fleksibel dan berubah selama mana tiada nas yang jelas membantah dan melarangnya.
Apabila terdapat sesuatu masalah dalam Fiqh,tentu sekali Ulama’ mempunyai pelbagai pendapat,pendapat yang berbeza,dan kita akan ikuti Jumhur Ulama’ dan ketepatan bernaskan Dalil al-Quran dan al-Sunnah.Maka inilah disiplin ilmu yang ada pada Manhaj Salaf,metodologi memahami sesuatu masalah,ada dalil yang kuat dan lemah.Maka disini kita seharusnya memahami mengikut ketepatan hujah dalil daripada Ulama’ yang berkefahaman Salaf.Maka,kurangnya keilmuwan dan tipisnya pengetahuan sebelum berdakwah menyebabkan kita akan terjerat didalam fitnah dan kesilapan berdakwah.
Tips dan solusi=
1)Menuntut ilmu dengan memperbanyakkan taddabur al-Quran dan kitab-kitab Hadith(Yang saheeh).
2}Membuat perbincangan tentang masalah-masalah yang ada(untuk mencari dalil dan pendapat yang kuat daripada ulama’ salaf)
3)Mengamalkan ilmu tersebut kepada diri sendiri
4)Mengajar ilmu tersebut kepada orang sekeliling kita(masyarakat).
5)Menjadi jurubicara Ummah,menterjemahkan apa itu Salaf,mengapa perlu ikut manhaj Salaf.
6)Menyelesaikan masalah ummah semaksimanya(akhlak Salaf).
Manhaj Salaf adalah Manhaj Yang sederhana dimana Manhaj ini menitik beratkan semua aspek daripada Aqidah yang saheeh,ibadat yang terbaik yang tepat dengan sunnatullah,akhlak yang mengikuti Salaf dan bermasyarakat.Inilah Kesyumulan Islam,semua aspek Islam dibncangkan,bukan menolak maslah fiqh dibelakang dengan beranggan khilaf,sebenarnya amat penting untuk membincangkan fiqh Islam untuk mendapat ketepatan dalam beribadat.
Keilmuan Sebelum Berdakwah..
Saya ingin berkongsi satu berita genbira,kerana ada seorang ikhwah yang memeluk Islam setelah selesai dauroh kali ini,dan komentarnya adalah,dauroh ini memang jelas penjelasannya tentang Islam,memahami Islam bermula daripada Aqidah yang Saheeh,Ibadat yang bersih dan saheeh,akhlak yang terpuji yang bermanhajkan Salaf.
Dalam dauroh kami bermula kuliah kami dengan membincangkan soal Aqeedah..Aqeedah yang saheeh yang benar-benar ikut petunjuk Rasulullah,iaitu zaman terbaik yakni salaf.Kemudian diikuti dengan ibadat,akhlak,muamalat,dan Dakwah Salafiyyah,Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Istilah al-Quran=Kalam Allah yang diwahyukan kepada Baginda Nabi Saw dan merupakan ibadah dengan membacanya.
Dipetik daripada Manna’ al-Qattan,Mabahith fi Ulum al-Quran,(Riyadh:Maktabah al-Maarif li al-Nashar wa al-Tauzi’:cetakan 3,1421H:2000M)ms/17.
Istilah al-Sunnah=Setiap perkara yang dinisbahkan/disandarkan kepada baginda Nabi saw dari segi perkataan,perbuatan,taqrir dan sifat jasmani dan akhlaq baginda sama ada sebelum atau selepas dilantik sebagai rasul
Dipetik daripada Abu al-Laith,Prof Dr Mohd Syamsuddin,Ulum al-Hadith:Asiluha wa Mua’siruha(Kuala Lumpur:Dar al-Syakir:cetakan 4,1426H:2005M)M/S 21.
Taqrir adalah Isyarat Nabi Saw secara jelas atau tidak.Kadangkala baginda Nabi Saw tidak membantah perbuatan sahabat baginda,menggambarkan Nabi Saw tidak melarang.
al-Salaf=
1.Bahasa:terdahulu dan telah berlaku
2.Istilah:para sahabat Nabi Saw dan yang mengikuti cara mereka(Tabi’en) dan mereka yang berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah menurut cara kefahaman para Sahabat RA.
Dipetik daripada Ibn Faris,Abu al-Hussain Ahmad,Mu’jam Muqayiis al-Lughah,Tahiqiq:Abdul Salam Muhammad Harun,(Lubnan:Dar al-Fikr,1399H:1979M)j.3 m/s 95.
Dakwah kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Dakwah kepada al-Quran dan al-Sunnah adalah suatu perkara yang amat kritikal bagi umat ini menyeru kepada bukan sahaja umat Islam malah mereka yang bukan Islam untuk memahami dan beriman dengannya.
Namun,mengapa MANHAJ SALAF menjadi pilhan??Adakah manhaj lain bukannya terbaik sehingga memaksa kita memilih salaf sebagai jalan dakwah.
Manhaj Salaf adalah satu cara faham dan metodologi yang digunapakai mengikut kaedah kefahaman yang diselusuri para Ulama’ Salaf(terdahulu) dari
Para sahabat Nabi SAW,Tabi’en dan Tabi’en al-Tabi’en.Cara faham ini adalah yang berkait langsung dengan AQIDAH Islamiah dan Ibadah.Kerana dua unsur ini sahaja yang tidak bersifat fleksibel dan berubah selama mana tiada nas yang jelas membantah dan melarangnya.
Apabila terdapat sesuatu masalah dalam Fiqh,tentu sekali Ulama’ mempunyai pelbagai pendapat,pendapat yang berbeza,dan kita akan ikuti Jumhur Ulama’ dan ketepatan bernaskan Dalil al-Quran dan al-Sunnah.Maka inilah disiplin ilmu yang ada pada Manhaj Salaf,metodologi memahami sesuatu masalah,ada dalil yang kuat dan lemah.Maka disini kita seharusnya memahami mengikut ketepatan hujah dalil daripada Ulama’ yang berkefahaman Salaf.Maka,kurangnya keilmuwan dan tipisnya pengetahuan sebelum berdakwah menyebabkan kita akan terjerat didalam fitnah dan kesilapan berdakwah.
Tips dan solusi=
1)Menuntut ilmu dengan memperbanyakkan taddabur al-Quran dan kitab-kitab Hadith(Yang saheeh).
2}Membuat perbincangan tentang masalah-masalah yang ada(untuk mencari dalil dan pendapat yang kuat daripada ulama’ salaf)
3)Mengamalkan ilmu tersebut kepada diri sendiri
4)Mengajar ilmu tersebut kepada orang sekeliling kita(masyarakat).
5)Menjadi jurubicara Ummah,menterjemahkan apa itu Salaf,mengapa perlu ikut manhaj Salaf.
6)Menyelesaikan masalah ummah semaksimanya(akhlak Salaf).
Manhaj Salaf adalah Manhaj Yang sederhana dimana Manhaj ini menitik beratkan semua aspek daripada Aqidah yang saheeh,ibadat yang terbaik yang tepat dengan sunnatullah,akhlak yang mengikuti Salaf dan bermasyarakat.Inilah Kesyumulan Islam,semua aspek Islam dibncangkan,bukan menolak maslah fiqh dibelakang dengan beranggan khilaf,sebenarnya amat penting untuk membincangkan fiqh Islam untuk mendapat ketepatan dalam beribadat.
Sunday, October 11, 2009
wHERE iS gOD??
Dear Sister,I took this from www.shareIslam.com BY Yusuf Estes..i hope you read all of his articles..he is a very good in following salafees..he is (wahhabi..hehe just kidding) he is following salafees..and he is good.
Some other religions teach "God is everywhere." This is actually called "pantheism" and it is the opposite of our belief system in Islam.
Allah tells us clearly there is nothing, anywhere in the universe like Him similar to his likeness, nor is He ever in His creation.He tells us in the Quran He created the universe in six "yawm" (periods of time) and then He "astawah 'ala al Arsh" (rose up, above His Throne).
He is there (above His Throne) and will remain there until the End Times.Allah has such complete Knowledge as to be able to Know all things past, present and future in all places at exactly the same time. The same can be said for His absolute Hearing and Seeing.
In this way, His Knowledge, His Hearing, His Sight is everywhere simultaneously.In this regard, the prophet Muhammad (peace be upon him) told us He is as close to us as our jugular vein. He also explained Allah is "with us" when we are in sincere worship to Him and in times of need.
Naturally, this would not compromise His existence outside of His creation.The Quran offers us a more detailed understanding of Where (and Who) Allah is.
"Certainly your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. He brings the night as a cover over the day rapidly, and the sun, the moon, the stars subject to His Command. Surely, His is the Creation and the Commandment. Blessed be Allah, the Lord of the universe!"
[Noble Quran 7:54]
"Indeed, your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above), the Throne, disposing the affair of everything. No intercessor (can plead with Him) except by His Permission. This is Allah, your Lord, so worship Him. Won't you then remember?"
[Noble Quran 10:3]
"It is Allah who erected the heavens without pillars that you [can] see; then He Istawa (rose above) the Throne and made subject the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. He arranges [each] matter; He details the signs that you may, of the meeting with your Lord, be certain."
[Noble Quran 13:2]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. The Most Beneficent! Ask Him, as He is Al-Khabir (The All-Knower of everything).
[Noble Quran 25:59]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. You (mankind) have none, besides Him, as a Wali (protector or helper etc.) or an intercessor. Won't you then remember (accepting admonishment)?
[Noble Quran 32:4]
Some other religions teach "God is everywhere." This is actually called "pantheism" and it is the opposite of our belief system in Islam.
Allah tells us clearly there is nothing, anywhere in the universe like Him similar to his likeness, nor is He ever in His creation.He tells us in the Quran He created the universe in six "yawm" (periods of time) and then He "astawah 'ala al Arsh" (rose up, above His Throne).
He is there (above His Throne) and will remain there until the End Times.Allah has such complete Knowledge as to be able to Know all things past, present and future in all places at exactly the same time. The same can be said for His absolute Hearing and Seeing.
In this way, His Knowledge, His Hearing, His Sight is everywhere simultaneously.In this regard, the prophet Muhammad (peace be upon him) told us He is as close to us as our jugular vein. He also explained Allah is "with us" when we are in sincere worship to Him and in times of need.
Naturally, this would not compromise His existence outside of His creation.The Quran offers us a more detailed understanding of Where (and Who) Allah is.
"Certainly your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. He brings the night as a cover over the day rapidly, and the sun, the moon, the stars subject to His Command. Surely, His is the Creation and the Commandment. Blessed be Allah, the Lord of the universe!"
[Noble Quran 7:54]
"Indeed, your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above), the Throne, disposing the affair of everything. No intercessor (can plead with Him) except by His Permission. This is Allah, your Lord, so worship Him. Won't you then remember?"
[Noble Quran 10:3]
"It is Allah who erected the heavens without pillars that you [can] see; then He Istawa (rose above) the Throne and made subject the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. He arranges [each] matter; He details the signs that you may, of the meeting with your Lord, be certain."
[Noble Quran 13:2]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. The Most Beneficent! Ask Him, as He is Al-Khabir (The All-Knower of everything).
[Noble Quran 25:59]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. You (mankind) have none, besides Him, as a Wali (protector or helper etc.) or an intercessor. Won't you then remember (accepting admonishment)?
[Noble Quran 32:4]
Saturday, October 10, 2009
Arus Perubahan
Arus tajdid(perubahan),wahai saudaraku mari kita renungi seketika..
Tidak ada siapa yang dapat menafikan sumbangan gerakan Islam dalam memberikan kesedaran umat dalam bidang-bidang yang mereka fokuskan.Sumbangan itu tidak hanya bersumberkan sebuah gerakan tertentu semata.Bahkan ia datang dari keperbagaian gerakan,organisasi mendakwa hanya mereka yang berfungsi menyedarkan umat dan penyelesai segala krisis,lantas menafikan peranan gerakan atau yang lain.
Arus tajdid berterima kasih kepada semua gerakan yang menyelusuri perjalanan mereka bermanhajkan al-Quran dan sunnah dan bersendikan kefahaman salafussoleh.Arus tajdid wajar menghargai apa yang telah mereka sumbangkan selama ini,selagimana sumbangan itu positif untuk umat.
Arus tajdid meolak sikap ekstrimis yang menganggap jemaah dan kumpulan mereka sahaja yang syar’I,manakala selain mereka secara langsung atau tidak,dianggap tertolak.Jemaah atau organisasi yang ditubuhkan hanyalah wasilah(jalan) bukan ghayah(matlamat) bagi Islam itu sendiri.Matlamat Islam lebih agung dan syumuldari sebarang jemaah atau harakah.Fikrah Islam yang tulen merentasi kesempitan jemaah.Melebar luas menyeberangi pagar sebarang organisasi.
Arus tajdid juga harus berterima kasih kepada individu-individu yang memberikan sumbangan kepada kesedaran Islam,sama ada mereka terlibat dengan mana-mana jemaah,organisasi atau tidak terlibat.Bukan syarat sah sesuatu amalan soleh atau dakwah kepada al-Kitab dan al-Sunnah seseorang mesti terlibat dengan organisasi atau jemaah tertentu.
Bahkan amalan soleh itu sah apabila memenuhi rukun dan syarat seperti yang dijelaskan oleh nas-nas Islam,iaitu aqidah yang murni,niat yang ikhlas dan menepati petunjuk al-Sunnah dalam mempraktikkan amalan tersebut.Maka dakwaan sesetengah kelompok yang menganggap sesiapa yang tidak menyertai organisasi organisasi atau jemaah dengan istilah ‘tidak masuk jemaah’ sebagai tidak berpendirian dan tidak diiktirafkan,adalah lambing suatu sikap ghulu atau melampau.
Terima kasih ini merangkumi individu atau tokoh yang berada di setiap pelosok dan penjuru,yang bergerak menyumbangkan kepada umat ini.Sama ada mereka berada di dalam organisasi kerajaan atau di luar dari daerah percaturan politik.Selagi mereka menyumbang kepada umat ini dan memperlihatkan kejujuran mereka,maka mereka berada dalam perjuangan umat.
Dakwaan yang menganggap golongan agama yang mendekati pemerintah kesemuanya mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang dan bersikap tidak adil.Walaupun ramai bersikap demikian,tapi bukan kesemuanya.Menghukum mereka secara keseluruhan bercanggahan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw terhadap Najasyi,Raja Habsyah yang menganut Islam pada zaman baginda.Baginda percaya kepada keadilannya dan menghantar para sahabat berhijrah ke negaranya.
Apabila Najasyi menganut Islam,Nabi saw tidak memerintahkan Najasyi meninggalkan kedudukannya sebagai Raja Habshah,sekalipun kerajaan yang dipimpinnya bukan kerajaan Islam dan beliau tidak berhijrah mendapatkan Rasulullah saw.Namun Rasulullah pula tidak memerintahkan hal itu kepadanya.Kedudukan Najasyi sebagai raja membolehkan dia melindungi para sahabat yang berhijrah ke negaranya dan melaksanakan keadilan dengan ruang kemampuan yang dimilikinya.
Apabila Najasyi meninggal,Rasulullah saw bersabda:
Maksudnya,
Daripada Jabir r.a Nabi saw bersabda-ketika kematian Najasyi,Telah mati pada hari ini seorang lelaki soleh.Bangunlah dan bersolatlah ke atas saudara kamu Ashamah(Nama Najashi)
Riwayat al-Bukhari,Kitab al-Manaqib,Muslim,Kitab al-Janaiz.
Baginda menyifatkan Najasyi sebagai seorang yang soleh.Baginda menyebut ungkapan ‘akhukum’(saudara kamu) yang bermaksud saudara seislam kamu.Bahkan baginda menyuruh para sahabat mengadakan solat ghaib untuk jenazah tanda persaudaraan sekalipun berjauhan.Baginda tidak mengatakan Najasyi berkepentingan,enggan menyertai gerakan Islam atau tidak berprinsip.Bahkan baginda menghargainya kerana telah zahir dari dirinya iman,keikhlasan dan keadilan sikap.
Maka kita wajar mencontohi hal ini.Sesiapa yang menyatakan pendirian menyokong usaha kembali kepada al-Quran dan sunnah seperti yang difahami oleh generasi awal Islam,kurun-kurun yang diberkati,golongan salafussoleh serta berusaha memperbaharui pendekatan al-Din dalam wajah kemodenan yang ada bertunjangkan prinsip salaf,maka kita menganggapnya berjuang bersama dengan arus tajdid ini.Sama ada dia berada dalam kerajaan atau pembangkang,sama ada dia berjemaah atau bersendirian.
Arus tajdid dengan ini menyeru dijauhi sikap ghulu atau melampaui batasan dalam beragama termasuk dalam urusan dakwah.
Firman Allah swt:
Maksudnya,
Katakanlah:Wahai ahli kitab!janganlah kamu melampau dalam agama kamu secara yang tidak benar dan janganlah kamu menurut hawa nafsu yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan banyak manusia serta (sekarang) mereka telah tersesat (jauh) dari jalan yang betul-Surah al-Maidah;77.
Dalam sebuah hadith:
Maksudnya:Daripada Ibn Abbas,katanya:Pada pagi Hari ‘Aqabah(musim haji) Rasulullah saw bersabda kepadaku ketika baginda berada di atas kenderaannya:Kutipkan untukku (batu-batu kecil untuk melontar jamrah al-Aqabah).Aku pun mengutip batu-batu kecil untuk baginda yang semuanya sebesar biji kacang.Apabila aku meletaknya ke dalam tangan baginda,baginda pun bersabda:
Ya!sebesar ini!Jauhilah kamu melampau dalam agama(al-Ghulu) kerana sesungguhnya al-Ghulu telah membinasakan mereka yang sebelum kamu.
Riwayat al-Nasaai,Ibn Majah dan Ahmad.Disahihkan oleh Ibn Khuzaimah (Sahih Ibn Khuzaimah jil:4,ms 276,Beirut:al-Maktab al-Islami).Al-Albani turut mensahihkannya dalam al-Silsilaj al-Sahuhah(jil:3,ms:278).
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah (w.728H) berkata:
Sesungguhnya agama Allah ini adalah pertengahan antara yang melampau dan yang meninggalkannya.Allah Ta’ala tidak memerintahkan hamba-hambaNya sesuatu melainkan syaitan akan mengganggunya dengan 2 cara.Syaitan tidak kisah yang mana sati dia berjaya.Iaitu sama ada secara ifrat(melampaui batasan yang sepatutnya dalam beragama) atau tafrit (cuai terhadap agama).
Justeru,Islam adalah agama Allah yang tidak boleh diambil ajarannya daripada sesiapapun selainNya.Maka syaitan menggangu kebanyakan mereka yang mengaku mengikut ajaran Islam.Sehingga syaitan berjaya mengeluarkan mereka daripada syariat.
Malah,syaitan berjaya mengeluarkan banyak puak umat ini yang terdiri daripada mereka yang kuat beribadah dan warak.Sehingga menjadikan mereka keluar daripada agama seperti mana melurunya anak panah daripada busarnya.
(Ibn Taimiyah,Majmu’at al-Fatawa,jil 2,ms:236,Riyadh:Maktabah al-‘Abikan)
Ditulis oleh Abu Talhah.
Tidak ada siapa yang dapat menafikan sumbangan gerakan Islam dalam memberikan kesedaran umat dalam bidang-bidang yang mereka fokuskan.Sumbangan itu tidak hanya bersumberkan sebuah gerakan tertentu semata.Bahkan ia datang dari keperbagaian gerakan,organisasi mendakwa hanya mereka yang berfungsi menyedarkan umat dan penyelesai segala krisis,lantas menafikan peranan gerakan atau yang lain.
Arus tajdid berterima kasih kepada semua gerakan yang menyelusuri perjalanan mereka bermanhajkan al-Quran dan sunnah dan bersendikan kefahaman salafussoleh.Arus tajdid wajar menghargai apa yang telah mereka sumbangkan selama ini,selagimana sumbangan itu positif untuk umat.
Arus tajdid meolak sikap ekstrimis yang menganggap jemaah dan kumpulan mereka sahaja yang syar’I,manakala selain mereka secara langsung atau tidak,dianggap tertolak.Jemaah atau organisasi yang ditubuhkan hanyalah wasilah(jalan) bukan ghayah(matlamat) bagi Islam itu sendiri.Matlamat Islam lebih agung dan syumuldari sebarang jemaah atau harakah.Fikrah Islam yang tulen merentasi kesempitan jemaah.Melebar luas menyeberangi pagar sebarang organisasi.
Arus tajdid juga harus berterima kasih kepada individu-individu yang memberikan sumbangan kepada kesedaran Islam,sama ada mereka terlibat dengan mana-mana jemaah,organisasi atau tidak terlibat.Bukan syarat sah sesuatu amalan soleh atau dakwah kepada al-Kitab dan al-Sunnah seseorang mesti terlibat dengan organisasi atau jemaah tertentu.
Bahkan amalan soleh itu sah apabila memenuhi rukun dan syarat seperti yang dijelaskan oleh nas-nas Islam,iaitu aqidah yang murni,niat yang ikhlas dan menepati petunjuk al-Sunnah dalam mempraktikkan amalan tersebut.Maka dakwaan sesetengah kelompok yang menganggap sesiapa yang tidak menyertai organisasi organisasi atau jemaah dengan istilah ‘tidak masuk jemaah’ sebagai tidak berpendirian dan tidak diiktirafkan,adalah lambing suatu sikap ghulu atau melampau.
Terima kasih ini merangkumi individu atau tokoh yang berada di setiap pelosok dan penjuru,yang bergerak menyumbangkan kepada umat ini.Sama ada mereka berada di dalam organisasi kerajaan atau di luar dari daerah percaturan politik.Selagi mereka menyumbang kepada umat ini dan memperlihatkan kejujuran mereka,maka mereka berada dalam perjuangan umat.
Dakwaan yang menganggap golongan agama yang mendekati pemerintah kesemuanya mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang dan bersikap tidak adil.Walaupun ramai bersikap demikian,tapi bukan kesemuanya.Menghukum mereka secara keseluruhan bercanggahan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw terhadap Najasyi,Raja Habsyah yang menganut Islam pada zaman baginda.Baginda percaya kepada keadilannya dan menghantar para sahabat berhijrah ke negaranya.
Apabila Najasyi menganut Islam,Nabi saw tidak memerintahkan Najasyi meninggalkan kedudukannya sebagai Raja Habshah,sekalipun kerajaan yang dipimpinnya bukan kerajaan Islam dan beliau tidak berhijrah mendapatkan Rasulullah saw.Namun Rasulullah pula tidak memerintahkan hal itu kepadanya.Kedudukan Najasyi sebagai raja membolehkan dia melindungi para sahabat yang berhijrah ke negaranya dan melaksanakan keadilan dengan ruang kemampuan yang dimilikinya.
Apabila Najasyi meninggal,Rasulullah saw bersabda:
Maksudnya,
Daripada Jabir r.a Nabi saw bersabda-ketika kematian Najasyi,Telah mati pada hari ini seorang lelaki soleh.Bangunlah dan bersolatlah ke atas saudara kamu Ashamah(Nama Najashi)
Riwayat al-Bukhari,Kitab al-Manaqib,Muslim,Kitab al-Janaiz.
Baginda menyifatkan Najasyi sebagai seorang yang soleh.Baginda menyebut ungkapan ‘akhukum’(saudara kamu) yang bermaksud saudara seislam kamu.Bahkan baginda menyuruh para sahabat mengadakan solat ghaib untuk jenazah tanda persaudaraan sekalipun berjauhan.Baginda tidak mengatakan Najasyi berkepentingan,enggan menyertai gerakan Islam atau tidak berprinsip.Bahkan baginda menghargainya kerana telah zahir dari dirinya iman,keikhlasan dan keadilan sikap.
Maka kita wajar mencontohi hal ini.Sesiapa yang menyatakan pendirian menyokong usaha kembali kepada al-Quran dan sunnah seperti yang difahami oleh generasi awal Islam,kurun-kurun yang diberkati,golongan salafussoleh serta berusaha memperbaharui pendekatan al-Din dalam wajah kemodenan yang ada bertunjangkan prinsip salaf,maka kita menganggapnya berjuang bersama dengan arus tajdid ini.Sama ada dia berada dalam kerajaan atau pembangkang,sama ada dia berjemaah atau bersendirian.
Arus tajdid dengan ini menyeru dijauhi sikap ghulu atau melampaui batasan dalam beragama termasuk dalam urusan dakwah.
Firman Allah swt:
Maksudnya,
Katakanlah:Wahai ahli kitab!janganlah kamu melampau dalam agama kamu secara yang tidak benar dan janganlah kamu menurut hawa nafsu yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan banyak manusia serta (sekarang) mereka telah tersesat (jauh) dari jalan yang betul-Surah al-Maidah;77.
Dalam sebuah hadith:
Maksudnya:Daripada Ibn Abbas,katanya:Pada pagi Hari ‘Aqabah(musim haji) Rasulullah saw bersabda kepadaku ketika baginda berada di atas kenderaannya:Kutipkan untukku (batu-batu kecil untuk melontar jamrah al-Aqabah).Aku pun mengutip batu-batu kecil untuk baginda yang semuanya sebesar biji kacang.Apabila aku meletaknya ke dalam tangan baginda,baginda pun bersabda:
Ya!sebesar ini!Jauhilah kamu melampau dalam agama(al-Ghulu) kerana sesungguhnya al-Ghulu telah membinasakan mereka yang sebelum kamu.
Riwayat al-Nasaai,Ibn Majah dan Ahmad.Disahihkan oleh Ibn Khuzaimah (Sahih Ibn Khuzaimah jil:4,ms 276,Beirut:al-Maktab al-Islami).Al-Albani turut mensahihkannya dalam al-Silsilaj al-Sahuhah(jil:3,ms:278).
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah (w.728H) berkata:
Sesungguhnya agama Allah ini adalah pertengahan antara yang melampau dan yang meninggalkannya.Allah Ta’ala tidak memerintahkan hamba-hambaNya sesuatu melainkan syaitan akan mengganggunya dengan 2 cara.Syaitan tidak kisah yang mana sati dia berjaya.Iaitu sama ada secara ifrat(melampaui batasan yang sepatutnya dalam beragama) atau tafrit (cuai terhadap agama).
Justeru,Islam adalah agama Allah yang tidak boleh diambil ajarannya daripada sesiapapun selainNya.Maka syaitan menggangu kebanyakan mereka yang mengaku mengikut ajaran Islam.Sehingga syaitan berjaya mengeluarkan mereka daripada syariat.
Malah,syaitan berjaya mengeluarkan banyak puak umat ini yang terdiri daripada mereka yang kuat beribadah dan warak.Sehingga menjadikan mereka keluar daripada agama seperti mana melurunya anak panah daripada busarnya.
(Ibn Taimiyah,Majmu’at al-Fatawa,jil 2,ms:236,Riyadh:Maktabah al-‘Abikan)
Ditulis oleh Abu Talhah.
Friday, October 9, 2009
Sebelah Menyebelah..
Sampainya aku di bilik, Amir sedang solat Asar,tanpa melengahkan masa aku segera mengambil wudhu’ dan terus bersedia untuk solat mengikutinya.”Allahuakbar…”aku terus bertakbir.”
Eh..apsal ko berdiri sebelah aku ni?”teriak Amir terkejut dengan tindakanku yang berdiri selari atau sebelah menyebelah denganya.Terbantut keinginanku berimam..”Ya Allah..apsal plak ni?kan dah elok-elok solat tadi.”
Ayat-ayat spontan terpacul keluar dari mulutku akibat tindakannya.“Eh, aku pulak yang salah? yang ko pergi berdiri sebelah aku tu buat apa? kan ko tu makmum, diri la belakang sikit!”Amir menyuarakan apa yang terbuku dihatinya sehingga membuatkan solatnya terbatal.
Aku hanya mampu tersenyum sinis mendengar kata-katanya. Otak aku ligat bekerja mencari jawapan yang sesuai dengan pemahamanku tentang kedudukan makmum seorang diri."Em..ko belajar makmum kene belakang sikit dari imam ker?”aku cuba bertanya walaupun tahu akan jawapannya."Ek eleh..mestilah,habis tu takkan la kedudukan imam belakang makmum?”
Jawapan Amir cuba menyindir. Aku segera cuba menjernihkan keadaan takut kalau-kalau Amir“terbakar” dengan pertanyaanku."Makmum sebelah kanan kan?”aku bertanya lagi."Yela!” Amir menjawab keras kerana soalanku yang dikira tidak relevan pada usianya. Untuk menguatkan hujahnya dia membacakan hadith yang dihafalnya sejak di sekolah menengah agama."Artinya :
Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku di sebelah kanannya....(Shahih Riwayat Bukhari I/177).
"“Pergh..mantap jugak budak Amir ni.”hatiku berbisik penuh kekaguman.” Tapi tu just dalil yang mengatakan makmum di sebelah kanan jer?”aku cuba menjauhkan perbualan.Walaupun jam telah menunjukkan tepat pukul 5.30 petang, aku berniat melewatkan sedikit solatku untuk sesuatu yang ku harapkan memberi manfaat kepada pengetahuan Amir.”Memangla makmum sebelah kanan,habis tu?”soalan Amir menunjukkan seolah-oleh beliau tidak faham akan soalanku.
“Selain dalil bahawa makmum sepatutnya berada di sebelah kanan,ada juga dalil lain yakni…Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ;
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia dirikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliaumendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud).
" Terjah Amir menguatkan hujah-hujahnya dengan hadith sahih.“Tapi kedua-dua dalil yang kau berikan ni just menceritakan bahawa kedudukan makmum di sebelah kanan,yang aku persoalkan sekarang ni ialah bagaimana dengan posisi makmum tu, sebelah menyebelah imam atau sebelah kanan dan belakang sikit,ada tak dalil?
” Aku terus menyoal membuatkan dahi Amirberkerut.Beliau seolah-olah tercabar. Soalanku seolah-olah menambah minyak petrol ke dalam api yang baru hendak marak,tetapi aku beranggapan bahawa tindakan aku seterusnya diharap mampu membuatkanAmir faham.
“Ah..dahla, nak solat ke tak ni?karang habis plak waktu.”Amir cuba berdalih.Barangkali dia tidak ketemu jawapan bagi soalanku.Amir terus bertakbir dan meneruskan niatnya untuk solat. Aku bersangka baik bahawa kemungkinan dia tidak mahu melewat-lewatkan solatnya.
Akibat berpegang teguh dengan kefahamanku, aku meneruskan“sunnah”yang dianggap pelik oleh Amir dengan solat sejajar dengannya. Barangkali solat Amir tidak khusyu’ dengan tindakanku yang dianggap pelik.Selesai solat, setelah berzikir secara sir’, aku memulakan muzakarah yang terbantut sebentar tadi, Amir seolah-olah“melarikan diri”.”Amir….”aku menyapa.Amir yang tadinya bergegas bangkit menoleh melihatku.
"Dalam hadits Jabir bin Abdullah tu, sewaktu datang Jabbar bin Shakhr lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menempatkan keduanya dibelakangnya. Ini menunjukan kedua sahabat itu tadinya berada di samping Nabi sejajar dengan beliau. Kemudian Nabishallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan mereka di belakangnya. Tidak akan dikatakan "Di belakang" kalau pada awalnya sahabat itu tidak berada sejajar dengan baginda shallallahu 'alaihi wa sallam? Apabila ma'mum dua orang atau lebih, maka barulah harus berdiri di belakang Imam”
pertanyaanku yang berbentuk ulasan membuatkan Amir melabuhkan punggungnya semula di atas hamparan sejadah.“Ha..tula,bab-bab hadith ni ko kene berguru, bukan boleh baca ikut buku jer.
”Amir cuba memperliku sambil tersenyum sinis.Aku masih cuba bertenang walaupun agak terasa dengan kata-katanya.
“Tapi dalam Al-Muwattha karangan Imam Malik diterangkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah shalat bersama Umar. Lalu IbnuMas'ud berdiri dekat di sebelah kanan Umar sejajar dengannya.Apa pendapat ko?”
Aku cuba membentang hujah.“Ha..tula ko, berguru dengan buku.sampai lupa kita tinggal kat Malaysia.kita kan mazhab Shafie.yang nak ikut sangat mazhab Maliki tu kenapa? mana boleh tukar-tukar mazhab.”
kata Amir dengan hujahnya.Aku tetap mengukir senyum dan mengangguk seolah-olah mengiakan kata-katanya.
”Seorang da’e yang bijak harus mengetahui cara bagaimana mengawal emosinya sebelum dia ingin mengawal emosi mad’unya” terngiang kata-kata ustaz di telingaku.”Inilah masanya bom atom digugurkan…huhu”bisik hatiku.
”Pernah tak ko dengar hadith Dari Ibnu Abbas, ia berkata ;"Aku pernah shalat di sisi/tepi Nabishallallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah shalat bersama kami dibelakang kami, sedang aku (berada) di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku shalat bersamanya (berjama'ah) (Shahih Riwayat Ahmad dan Nasa'i)”
“Err..tak pernah”Amir menjawab dengan muka penuh kekeliruan.Mendengar perkataan tidak pernah aku terus menyambung.”Perkataan, "Aku shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", terjemahan dari kalimat "Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
“Hadith tu guna root word “janbun”?”pertanyaan Amir menunjukkan simpulan tali makin terurai.Sebagai seorang pelajar bahasa Arab di Universiti Islam Antarabangsa semestinya beliau memahami perkataan itu seperti mana dalam kamus-kamus bahasa Arab artinya : sisi, tepi, samping, sebelah, pihak, dekat.
"A’ah.. Jika dikatakan dalam bahasa Arab "janban li janbin" maka artinya :Sebelah menyebelah, berdampingan, bahu-membahu kan?”aku cuba menyoal."Em…a’ah”jawapan Amir lambat seperti jawapan itu memakan tuannya."Em..takpelah.aku pun tak berapa tahu sangat bahasa Arab ni.
Sajer tanye.”aku cuba merendah diri dengan menyorok di belakang bidang ekonomiku.Aku meninggalkan Amir yang masih duduk di hamparan kekeliruannya itu. Cukuplah motifku untuk menimbulkan persoalan dengan hadith tersebut yang boleh difahami jelas dari segi bahasanya bahawa Ibnu Abbas ketika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berada di samping/sejajar dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keesokkanharinya,aku pulang ke bilik setelah habis kelas seperti biasa.Bilik lengang dan aku menghamparkan tubuhku di atas katil.Menghembus nafas syukur kerana hari Khamis sememangnya jadualku padat dan akhirnya dapatku lalui hari ini degan lancar.Berselimutkan keletihan sepanjanghari,maka dengan sendirinya aku terlelap.”Eh..ya Allah! Pukul berapa dah ni?”aku tersedar dari lamunan tidurku.
Jam telahpun menunjukkanpukul 6.Aku terlena lebih kurang satu jam lebih tanpa sedar."Ish..taksolat lagi ni”. Aku segera ke bilik air mengambil wudhu’.
“Allahuakbar..”aku melaungkan takbir tanpa melafazkan niat secara jahar.”Allahuakbar” tiba-tiba takbirku disambut Amir yang berada di sebelahku.Amir berdiridi sebelah kanan dan sejajar denganku menjadikannya makmum dan akusebagai imam.
"Alhamdulillah..faham gak dia apa yang aku cuba sampaikan semalam.”bisik hatiku.Selesai solat aku melihat ke arah Amir,menunggu responnya.”Ko tahu Mi,semalam pas ko tanya aku tu,aku try lah check hadith tu guna software Maktabah Syamilah,memang betul matan hadith ada"Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
Malah ada gak dalam kitab Subulus Salam, Diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha' (seorang tabi'in),"Seorang menjadi ma'mum bagi seorang, dimanakah ia (ma'mum) harus berdiri .? Jawab Atha', "Di tepinya". Ibnu Juraij bertanya lagi,"Apakah si Ma'mum itu harus dekat dengan Imam sehingga ia satu shaf dengannya, yaitu tidak ada jarak antara keduanya (ma'mum dan imam) ?"Jawab Atha'; "Ya!" Ibnu Juraij bertanya lagi, "Apakah si ma'mum tidak berdiri jauh sehingga tidak ada lowong antara mereka (ma'mum dan imam)?Jawab Atha' : "Ya".(Subulus Salam jilid 2 hal.31).
" Jawapan Amir dengan muka keyakinan."Yeke?” reaksiku dengan mimik muka terkejut bercampur bangga sekurang-kurangnya Amir tidak lagi bertaqlid dalam hal ini..Belum sempat dia menjawab, aku menambah "Maknanya…betullah apa yang aku buat semalam?" soalku dengan agak sinis.
Amir hanya mampu membisu tanda mengiakannya."Takpelah, sekurang-kurangnya lepas ni ko dah tak payah nak tepuk-tepuk bahu imam dari belakang kalau nak jadi makmum, kalau imam tu ada heart-attack,terkejut, kan payah?.” aku cuba berjenaka menjernihkan keadaan. Mendengar kata-kata ku itu, Amir tergelak hingga ternampak putih giginya.
Ibn Yusof 14 Zulhijjah 1427/ 04 January 2007 5.15 p.mibnyusof.blogspot.com
Eh..apsal ko berdiri sebelah aku ni?”teriak Amir terkejut dengan tindakanku yang berdiri selari atau sebelah menyebelah denganya.Terbantut keinginanku berimam..”Ya Allah..apsal plak ni?kan dah elok-elok solat tadi.”
Ayat-ayat spontan terpacul keluar dari mulutku akibat tindakannya.“Eh, aku pulak yang salah? yang ko pergi berdiri sebelah aku tu buat apa? kan ko tu makmum, diri la belakang sikit!”Amir menyuarakan apa yang terbuku dihatinya sehingga membuatkan solatnya terbatal.
Aku hanya mampu tersenyum sinis mendengar kata-katanya. Otak aku ligat bekerja mencari jawapan yang sesuai dengan pemahamanku tentang kedudukan makmum seorang diri."Em..ko belajar makmum kene belakang sikit dari imam ker?”aku cuba bertanya walaupun tahu akan jawapannya."Ek eleh..mestilah,habis tu takkan la kedudukan imam belakang makmum?”
Jawapan Amir cuba menyindir. Aku segera cuba menjernihkan keadaan takut kalau-kalau Amir“terbakar” dengan pertanyaanku."Makmum sebelah kanan kan?”aku bertanya lagi."Yela!” Amir menjawab keras kerana soalanku yang dikira tidak relevan pada usianya. Untuk menguatkan hujahnya dia membacakan hadith yang dihafalnya sejak di sekolah menengah agama."Artinya :
Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku di sebelah kanannya....(Shahih Riwayat Bukhari I/177).
"“Pergh..mantap jugak budak Amir ni.”hatiku berbisik penuh kekaguman.” Tapi tu just dalil yang mengatakan makmum di sebelah kanan jer?”aku cuba menjauhkan perbualan.Walaupun jam telah menunjukkan tepat pukul 5.30 petang, aku berniat melewatkan sedikit solatku untuk sesuatu yang ku harapkan memberi manfaat kepada pengetahuan Amir.”Memangla makmum sebelah kanan,habis tu?”soalan Amir menunjukkan seolah-oleh beliau tidak faham akan soalanku.
“Selain dalil bahawa makmum sepatutnya berada di sebelah kanan,ada juga dalil lain yakni…Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ;
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia dirikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliaumendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud).
" Terjah Amir menguatkan hujah-hujahnya dengan hadith sahih.“Tapi kedua-dua dalil yang kau berikan ni just menceritakan bahawa kedudukan makmum di sebelah kanan,yang aku persoalkan sekarang ni ialah bagaimana dengan posisi makmum tu, sebelah menyebelah imam atau sebelah kanan dan belakang sikit,ada tak dalil?
” Aku terus menyoal membuatkan dahi Amirberkerut.Beliau seolah-olah tercabar. Soalanku seolah-olah menambah minyak petrol ke dalam api yang baru hendak marak,tetapi aku beranggapan bahawa tindakan aku seterusnya diharap mampu membuatkanAmir faham.
“Ah..dahla, nak solat ke tak ni?karang habis plak waktu.”Amir cuba berdalih.Barangkali dia tidak ketemu jawapan bagi soalanku.Amir terus bertakbir dan meneruskan niatnya untuk solat. Aku bersangka baik bahawa kemungkinan dia tidak mahu melewat-lewatkan solatnya.
Akibat berpegang teguh dengan kefahamanku, aku meneruskan“sunnah”yang dianggap pelik oleh Amir dengan solat sejajar dengannya. Barangkali solat Amir tidak khusyu’ dengan tindakanku yang dianggap pelik.Selesai solat, setelah berzikir secara sir’, aku memulakan muzakarah yang terbantut sebentar tadi, Amir seolah-olah“melarikan diri”.”Amir….”aku menyapa.Amir yang tadinya bergegas bangkit menoleh melihatku.
"Dalam hadits Jabir bin Abdullah tu, sewaktu datang Jabbar bin Shakhr lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menempatkan keduanya dibelakangnya. Ini menunjukan kedua sahabat itu tadinya berada di samping Nabi sejajar dengan beliau. Kemudian Nabishallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan mereka di belakangnya. Tidak akan dikatakan "Di belakang" kalau pada awalnya sahabat itu tidak berada sejajar dengan baginda shallallahu 'alaihi wa sallam? Apabila ma'mum dua orang atau lebih, maka barulah harus berdiri di belakang Imam”
pertanyaanku yang berbentuk ulasan membuatkan Amir melabuhkan punggungnya semula di atas hamparan sejadah.“Ha..tula,bab-bab hadith ni ko kene berguru, bukan boleh baca ikut buku jer.
”Amir cuba memperliku sambil tersenyum sinis.Aku masih cuba bertenang walaupun agak terasa dengan kata-katanya.
“Tapi dalam Al-Muwattha karangan Imam Malik diterangkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah shalat bersama Umar. Lalu IbnuMas'ud berdiri dekat di sebelah kanan Umar sejajar dengannya.Apa pendapat ko?”
Aku cuba membentang hujah.“Ha..tula ko, berguru dengan buku.sampai lupa kita tinggal kat Malaysia.kita kan mazhab Shafie.yang nak ikut sangat mazhab Maliki tu kenapa? mana boleh tukar-tukar mazhab.”
kata Amir dengan hujahnya.Aku tetap mengukir senyum dan mengangguk seolah-olah mengiakan kata-katanya.
”Seorang da’e yang bijak harus mengetahui cara bagaimana mengawal emosinya sebelum dia ingin mengawal emosi mad’unya” terngiang kata-kata ustaz di telingaku.”Inilah masanya bom atom digugurkan…huhu”bisik hatiku.
”Pernah tak ko dengar hadith Dari Ibnu Abbas, ia berkata ;"Aku pernah shalat di sisi/tepi Nabishallallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah shalat bersama kami dibelakang kami, sedang aku (berada) di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku shalat bersamanya (berjama'ah) (Shahih Riwayat Ahmad dan Nasa'i)”
“Err..tak pernah”Amir menjawab dengan muka penuh kekeliruan.Mendengar perkataan tidak pernah aku terus menyambung.”Perkataan, "Aku shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", terjemahan dari kalimat "Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
“Hadith tu guna root word “janbun”?”pertanyaan Amir menunjukkan simpulan tali makin terurai.Sebagai seorang pelajar bahasa Arab di Universiti Islam Antarabangsa semestinya beliau memahami perkataan itu seperti mana dalam kamus-kamus bahasa Arab artinya : sisi, tepi, samping, sebelah, pihak, dekat.
"A’ah.. Jika dikatakan dalam bahasa Arab "janban li janbin" maka artinya :Sebelah menyebelah, berdampingan, bahu-membahu kan?”aku cuba menyoal."Em…a’ah”jawapan Amir lambat seperti jawapan itu memakan tuannya."Em..takpelah.aku pun tak berapa tahu sangat bahasa Arab ni.
Sajer tanye.”aku cuba merendah diri dengan menyorok di belakang bidang ekonomiku.Aku meninggalkan Amir yang masih duduk di hamparan kekeliruannya itu. Cukuplah motifku untuk menimbulkan persoalan dengan hadith tersebut yang boleh difahami jelas dari segi bahasanya bahawa Ibnu Abbas ketika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berada di samping/sejajar dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keesokkanharinya,aku pulang ke bilik setelah habis kelas seperti biasa.Bilik lengang dan aku menghamparkan tubuhku di atas katil.Menghembus nafas syukur kerana hari Khamis sememangnya jadualku padat dan akhirnya dapatku lalui hari ini degan lancar.Berselimutkan keletihan sepanjanghari,maka dengan sendirinya aku terlelap.”Eh..ya Allah! Pukul berapa dah ni?”aku tersedar dari lamunan tidurku.
Jam telahpun menunjukkanpukul 6.Aku terlena lebih kurang satu jam lebih tanpa sedar."Ish..taksolat lagi ni”. Aku segera ke bilik air mengambil wudhu’.
“Allahuakbar..”aku melaungkan takbir tanpa melafazkan niat secara jahar.”Allahuakbar” tiba-tiba takbirku disambut Amir yang berada di sebelahku.Amir berdiridi sebelah kanan dan sejajar denganku menjadikannya makmum dan akusebagai imam.
"Alhamdulillah..faham gak dia apa yang aku cuba sampaikan semalam.”bisik hatiku.Selesai solat aku melihat ke arah Amir,menunggu responnya.”Ko tahu Mi,semalam pas ko tanya aku tu,aku try lah check hadith tu guna software Maktabah Syamilah,memang betul matan hadith ada"Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
Malah ada gak dalam kitab Subulus Salam, Diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha' (seorang tabi'in),"Seorang menjadi ma'mum bagi seorang, dimanakah ia (ma'mum) harus berdiri .? Jawab Atha', "Di tepinya". Ibnu Juraij bertanya lagi,"Apakah si Ma'mum itu harus dekat dengan Imam sehingga ia satu shaf dengannya, yaitu tidak ada jarak antara keduanya (ma'mum dan imam) ?"Jawab Atha'; "Ya!" Ibnu Juraij bertanya lagi, "Apakah si ma'mum tidak berdiri jauh sehingga tidak ada lowong antara mereka (ma'mum dan imam)?Jawab Atha' : "Ya".(Subulus Salam jilid 2 hal.31).
" Jawapan Amir dengan muka keyakinan."Yeke?” reaksiku dengan mimik muka terkejut bercampur bangga sekurang-kurangnya Amir tidak lagi bertaqlid dalam hal ini..Belum sempat dia menjawab, aku menambah "Maknanya…betullah apa yang aku buat semalam?" soalku dengan agak sinis.
Amir hanya mampu membisu tanda mengiakannya."Takpelah, sekurang-kurangnya lepas ni ko dah tak payah nak tepuk-tepuk bahu imam dari belakang kalau nak jadi makmum, kalau imam tu ada heart-attack,terkejut, kan payah?.” aku cuba berjenaka menjernihkan keadaan. Mendengar kata-kata ku itu, Amir tergelak hingga ternampak putih giginya.
Ibn Yusof 14 Zulhijjah 1427/ 04 January 2007 5.15 p.mibnyusof.blogspot.com
Monday, October 5, 2009
Doa Jahar atau Israr?
Prof Madya Dr Ahmad Farouk Musa
Firman Allah:“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selainAllah yang mensyariatkan kepada mereka agama yangtidak diizinkan oleh Allah?” [42:21]
Sabda arRasul:“Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklahkalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’arRasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglahdengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilahkamu perkara yang diada-adakan (dalam agama) keranasetiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiapbid’ah adalah sesat”
[Riwayat Abu Dawud dan at-Tarmizi. Kata at-Tarmizi:Hadith ini hasan sahih. Diriwayatkan juga oleh IbnuHibban dan al-Hakim di dalam al Mustadrak denganmengatakan hadith ini sahih. Hal ini dipersetujui olehaz-Zahabi di dalam Tahqiq al-Mustadrak 1/288]
Marilah kita melihat secara adil dan saksama tentangpermasalahan berzikir secara jahar (kuat) yang dilakukan secara berjamaah sepertimana yang telahdinukilkan daripada hadith yang diriwayatkan oleh IbnuAbbas.
Apa yang jelas, penulis (Dr Asmadi Mohamed Naim, bekas tenaga penggerak al-Arqam) telah cuba untuk membela perbuatan yang diamalkan oleh jama’ah yang pernah beliau anuti dan juga yang dilakukan olehramai umat Islam di Malaysia ini yang mengkhatamkan solat dengan berzikir dan berdo’a beramai-ramai.
Penulis telah dengan sengaja melakukan jenayah ilmiah,dengan melupakan perbicaraan upacara berdo’a setiap habis solat yang mengiringi zikir tersebut. Sedangkan perbuatan tersebut dilakukan secara beriringan.
Tujuannya tidak lain melainkan untuk -Sunnah yang sebenarnya. Di zaman siber ini, manusia tidak dapat bersembunyi disebalik jubah atau serban,celak atau janggut, mahupun ijazah Azhar atau Jordan,kerana setiap rujukan yang dikemukakan boleh diperiksa kesohihannya. Penulis beranggapan bahawa sekiranya beliau dapat mendatangkan hadith Ibnu Abbas tersebut,maka tiada yang akan mempersoalkan tentang upacara berdo’a beramai-ramai dan menganggap bahawa perbuatan tersebut juga sebahagian daripada as-Sunnah.
Ketika mengulas hadith Ibnu Abbas tersebut, yakni"Meninggikan suara berzikir selepas orang ramai selesai daripada solat fardu sudah pun berlaku pada zaman Nabi";
al-Imam asy-Syafie berkata: “Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir setelah selesai solat. Hendaklah mereka mengisrarkan(memperlahankan) zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya, maka ketika itu dijaharkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka sesudah itu hendaklah ia israrkan.
[Mausu’ at al-Imam asy-Syafie: al-Umm, jilid 1ms353]Adapun hadith Ibnu Abbas tersebut, Imam asy-Syafiemenjelaskan: “Aku berpendapat Baginda menjaharkan zikir hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajari daripada Baginda. Hal ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir.
(Maksud Imam asy-Syafie ialah apa yang beliau tulis dalam al-Umm tersebut dalam bab kalam al-Imam wajulusihi ba’dassalam yang mana beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang menunjukkan Baginda tidak menjaharkan suara ketika zikir sesudah solat.) Kadangkala riwayat menyebut Baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut Baginda pergi tanpa zikir.
Ummu Salamah pula menyebut duduknya Baginda (sesudah solat) tetapi tidak menyebut Baginda berzikir secara jahar. Aku berpendapat Baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara sirr (perlahan).”Maksud al-Imam asy-Syafie di sini ialah hadith riwayat Ummu Salamah : “Adalah Rasulullah apabila telah memberi salam, bangunlah para wanita dikala Nabi selesai memberi salam itu.
Sedang Nabi duduk sejenak ditempatnya sebelum berdiri. Kami berfikir; Nabi berbuat demikian untuk memberi kesempatan kepada wanita keluar lebih dahulu agar tidak berdesakan dengan para lelaki.” [Riwayat Ahmad dan Bukhari; al-Muntaqa 1:473]
Selanjutnya al-Imam asy-Syafie berkata: “Jika seseorang berkata: Seperti apa? (yakni apakah contoh yang Baginda lakukan hanya seketika kemudian setelah orang ramai mempelajarinya, Baginda tinggalkan)
Akukatakan: Sepertimana Baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana Baginda berdiri dan ruku’ diatasnya, kemudian Baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, Baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat, Baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat Baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (di dalam solat), ruku’ dan bangun daripada sujud. Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.”Sambungnya lagi: “Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika sehingga kaum wanita pergi.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian Imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum daripada itu, atau duduk lebih lama daripada itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”Demikianlah huraian Imam asy-Syafie berhubung hadithIbnu Abbas tersebut.
Apa yang jelas Imam asy-Syafie yang dikenali sebagai ‘nasirus-sunnah’ tidak pernah menyebutkan bahawa Nabi dan para sahabatnya berkekalan berbuat sedemikian yakni menjaharkan zikir sesudah solat sepertimana yang dilakukan oleh umat Islam yang mengaku bermazhab Syafie di negara kita ini. Sekiranya para sahabat yang terdahulu senantiasa menjaharkan zikir sesudah solat, sudah tentulah telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dan berlaku ijma’ para sahabat dalam hal yang sedemikian itu. Akan tetapi kita tidakmenjumpai perkara yang sedemikan rupa.
Jelaslah sudah bahawa perbuatan menjaharkan zikir beramai-ramai menyanggahi apa yang telah di fatwakan oleh Imam asy-Syafie sendiri dan apa yang diwarisi daripada as-sunnah. Mereka memandang sunnah perbuatan yang sedemikian itu sehingga mereka merasakan orang yang meninggalkan perkara tersebut seakan-akan telah meninggalkan sunnah ar-Rasul.
Selanjutnya al-Baihaqi dan selainnya berhujjah untukmengisrarkan zikir sesudah solat dengan hadith AbuMusa al-Asya’ari ujarnya: “ Kami telah menyertai Nabidi dalam satu perjalanan. Kami apabila turun ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir sehingga bergema suara kami.
Maka Nabi bersabda: Wahai manusia,berlemah-lembutlah kamu terhadap dirimu, kerana kamu bukan menyeru kepada Dia yang pekak dan bukan pula menyeru kepada Dia yang jauh, tetapi Dia yang senantiasa dekat dengan dirimu”Apa yang lebih jelek ialah mereka mengadakan suatu bid’ah yang tidak dikenali diz aman Rasulullah dan para sahabatnya iaitu berterus-terusan berdo’a beramai-ramai sesudah solat.
Manakah nas daripada as-sunnah yang dapat menjadi dalil bagi perbuatan yang sedemikian ini? Bukankah perbuatan berzikir dan berdoa beramai-ramai sesudah solat ini dilakukan serentak?Mengapakan perbincangan tentang perkara ini sengaja dilupakan?
Adakah kerana tidak ada satu nas pun daripada as-sunnah yang boleh di kemukakan untuk menjadi dalil, lantas merasa cukup untuk membawa nas yang mengizinkan menjaharkan zikir dengan harapan manusia akan terpedaya dan menganggap perbuatan ini juga sebahagian daripada as-sunnah?
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam hal ini: “Tidaklah ada khilaf tentang kesunnatan adanya zikir sesudah solat,bagi imam, bagi makmum, dan bagi yang bersolat bersendirian. Masing-masing berzikir sendiri-sendiri.Adat yang diadakan manusia, iaitu imam menentukan doa buat solat subuh dan asar, tiada berasal sama sekali.Berjabat tangan sesudah solat subuh dan asar adalah suatu bid’ah” [al-Majmu’ III: 484,492]
Berkata al-Imam Ibnul Qayyim: “Imam berdoa sesudah salam daripada solat sambil menghadap qiblat, atau menghadap makmum tidak pernah dikerjakan Nabi, yang senantiasa bertindak sebagai imam, dan tidak ada pula riwayat yang menyuruh kita mengerjakan yang sedemikian itu.” [Zadul Ma’ad I:93]
Berkata pula al-Ustaz Ali Mahfuz di dalam al-Ibda’: “Nabi tidak pernah duduk sambil menghadap makmum untuk membaca doa sesudah solat dengan suara yang keras serta terus menerus melakukan yang sedemikian itu.
Lantaran itu, orang awam menyangka bahawa begitulah seharusnya mengkhatamkan solat, padahal yang disukai ialah berdoa secara sendiri-sendiri. Dan mengapa harus kita mengeraskan suara waktu berdoa, padahal Allah telah berfirman:
Serulah Tuhanmu dengan tadarru’ dan khufyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [7:55]
Tadarru’ ialah berlaku khusyu’, tenang, dan merasa rendah diri berhadapan dengan Allah. Khufyah ialah menyebut sesuatu dengan menghaluskan suara.” [al Ibda’: 272-273]
Hadith Nabi yang memberi amaran kepada pengamal dan pembuat bid’ah sangat banyak jumlahnya. Cukuplah sekiranya kami mendatangkan satu athar untuk membuktikan betapa prihatinnya para sahabat Nabi dalam perkara yang berhubung dengan ibadah ini.
Mereka senantiasa mengingkari sesuatu ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi walaupun dipandang baik oleh mata manusia.
Daripada ‘Amr bin Salamah (murid kepada Abdullah bin Mas’ud) katanya:
Suatu ketika kami ke pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum solat subuh.Apabila beliau keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musaal-Asy’ari lalu bertanya: Apakah Abu Abdul Rahman(gelaran Abdullah bin Mas’ud) telah keluar kepadakamu?
Kami jawab: Tidak. Maka beliau duduk bersama kami sehingga Abdullah bin Mas’ud keluar. Apabila beliau keluar, kami semua bangun kepadanya.Lalu Abu Musa al-Asy’ari berkata: Wahai Abu AbdulRahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak melihat,alhamdulillah, melainkan ianya baik. Beliau bertanya:Apakah dia? Kata Abu Musa: Jika umur kamu panjang kamu akan melihatnya.
Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan menunggu solat. Bagi setiap lingkungan ada seorang lelaki (ketua), sementara ditangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata: Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali,merekapun bertahlil. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih.
Tanya Abdullah binMas’ud: Apa yang telah kamu katakan kepada mereka.Jawabnya: Aku tidak berkata apa-apapun kerana menanti pandangan dan perintahmu.”Berkata Abdullah bin Mas’ud: Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa-dosa mereka dan memberi jaminan pahala mereka tidak akan hilang sedikitpun?Lalu beliau berjalan dan kamipun berjalan bersama.
Sehinggalah beliau tiba di salah satu lingkungan tersebut. Beliau berdiri lantas berkata: Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini? Jawab mereka: Wahai Abu Abdul Rahman, batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih.
Jawab beliau: Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju Baginda belum lagi buruk, bekas makanan dan minuman Baginda belum lagi pecah. Demi jiwaku yang berada ditanganNya, apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad,atau kamu semua pembuka pintu kesesatan.
Jawab mereka: Demi Allah wahai Abu Abdul Rahman, kami hanya bertujuan baik. Jawab beliau: Betapa ramai yang bertujuan baik tetapi tidak menepatinya. Sesungguhnya Rasulullah telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Qur’an namun tidak lebih daripada kerongkong mereka. Demi Allah, aku tidak tahu,barangkali kebanyakan mereka daripada kalangan kamu.Kemudian beliau pergi.Berkata ‘Amr bin Salamah: Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan. [Riwayat ad-Darimi di dalam Musnadnya dengansanad yang dinilai sahih oleh al-Albani di dalamSilsilah al-Ahadith as-Sohihah V:11]
Lihatlah betapa Abdullah bin Mas’ud membantah perbuatan ibadah berzikir beramai-ramai yang diamalkan kumpulan tersebut walaupun mereka pada asalnya memiliki niat dan pandangan yang baik. Pada zahirnya tiada yang buruk pada perbuatan mereka. Namun kerana ia merupakan ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi, maka ia ditolak. Bahkan Abdullah bin Mas’ud memberi amaran betapa perbuatan bid’ah yang kecil akan mengheret seseorang kepada bid’ah yang lebih besar.
Akhir kata perhatikanlah apa yang telah disebut olehSyeikh Yusuf al-Qaradawi: “Hendaklah seorang Muslim dalam ibadahnya mengikut batasan yang ditentukan untuknya. Tidak mencukupi hanya sekadar bertujuan untuk keredaan Allah semata. Bahkan hendaklah ibadah itu dilakukan dalam bentuk yang disyari’atkan Allah dengan kaifiyyat (tatacara) yang diredaiNya.
Janganlah ibadah seorang Muslim itu berdasarkan apa yang direka oleh manusia berdasarkan hawa nafsu dan sangkaan.”
Selanjutnya beliau berkata: “Tidak boleh sesiapa pun daripada imam-imam kaum muslimin betapa tinggi sekalipun darjat ilmunya, demikian juga tidak boleh mana-mana badan ilmu sekalipun hebat kedudukannya,demikian juga bagi mana-mana institusi ilmu, atau golongan daripada kaum muslimin samada kecil atau besar, untuk mencipta ibadah yang baru dalam agama Allah atau menokok-nambah ibadah yang ada dalam agama atau mengubah cara yang dilakukan pada . Hal ini memandangkan pembuat syari’at hanyalah Allah manakala ar-Rasul adalah penyampainya,sedangkan kita hanyalah pengikutnya.
Segala kebaikan itu dalam al-ittiba’ (mengikut apa yang ditentukanAllah dan rasulNya). [Al-Ibadah fil-Islam: 165-167]
Firman Allah:“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selainAllah yang mensyariatkan kepada mereka agama yangtidak diizinkan oleh Allah?” [42:21]
Sabda arRasul:“Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklahkalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’arRasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglahdengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilahkamu perkara yang diada-adakan (dalam agama) keranasetiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiapbid’ah adalah sesat”
[Riwayat Abu Dawud dan at-Tarmizi. Kata at-Tarmizi:Hadith ini hasan sahih. Diriwayatkan juga oleh IbnuHibban dan al-Hakim di dalam al Mustadrak denganmengatakan hadith ini sahih. Hal ini dipersetujui olehaz-Zahabi di dalam Tahqiq al-Mustadrak 1/288]
Marilah kita melihat secara adil dan saksama tentangpermasalahan berzikir secara jahar (kuat) yang dilakukan secara berjamaah sepertimana yang telahdinukilkan daripada hadith yang diriwayatkan oleh IbnuAbbas.
Apa yang jelas, penulis (Dr Asmadi Mohamed Naim, bekas tenaga penggerak al-Arqam) telah cuba untuk membela perbuatan yang diamalkan oleh jama’ah yang pernah beliau anuti dan juga yang dilakukan olehramai umat Islam di Malaysia ini yang mengkhatamkan solat dengan berzikir dan berdo’a beramai-ramai.
Penulis telah dengan sengaja melakukan jenayah ilmiah,dengan melupakan perbicaraan upacara berdo’a setiap habis solat yang mengiringi zikir tersebut. Sedangkan perbuatan tersebut dilakukan secara beriringan.
Tujuannya tidak lain melainkan untuk -Sunnah yang sebenarnya. Di zaman siber ini, manusia tidak dapat bersembunyi disebalik jubah atau serban,celak atau janggut, mahupun ijazah Azhar atau Jordan,kerana setiap rujukan yang dikemukakan boleh diperiksa kesohihannya. Penulis beranggapan bahawa sekiranya beliau dapat mendatangkan hadith Ibnu Abbas tersebut,maka tiada yang akan mempersoalkan tentang upacara berdo’a beramai-ramai dan menganggap bahawa perbuatan tersebut juga sebahagian daripada as-Sunnah.
Ketika mengulas hadith Ibnu Abbas tersebut, yakni"Meninggikan suara berzikir selepas orang ramai selesai daripada solat fardu sudah pun berlaku pada zaman Nabi";
al-Imam asy-Syafie berkata: “Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir setelah selesai solat. Hendaklah mereka mengisrarkan(memperlahankan) zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya, maka ketika itu dijaharkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka sesudah itu hendaklah ia israrkan.
[Mausu’ at al-Imam asy-Syafie: al-Umm, jilid 1ms353]Adapun hadith Ibnu Abbas tersebut, Imam asy-Syafiemenjelaskan: “Aku berpendapat Baginda menjaharkan zikir hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajari daripada Baginda. Hal ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir.
(Maksud Imam asy-Syafie ialah apa yang beliau tulis dalam al-Umm tersebut dalam bab kalam al-Imam wajulusihi ba’dassalam yang mana beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang menunjukkan Baginda tidak menjaharkan suara ketika zikir sesudah solat.) Kadangkala riwayat menyebut Baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut Baginda pergi tanpa zikir.
Ummu Salamah pula menyebut duduknya Baginda (sesudah solat) tetapi tidak menyebut Baginda berzikir secara jahar. Aku berpendapat Baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara sirr (perlahan).”Maksud al-Imam asy-Syafie di sini ialah hadith riwayat Ummu Salamah : “Adalah Rasulullah apabila telah memberi salam, bangunlah para wanita dikala Nabi selesai memberi salam itu.
Sedang Nabi duduk sejenak ditempatnya sebelum berdiri. Kami berfikir; Nabi berbuat demikian untuk memberi kesempatan kepada wanita keluar lebih dahulu agar tidak berdesakan dengan para lelaki.” [Riwayat Ahmad dan Bukhari; al-Muntaqa 1:473]
Selanjutnya al-Imam asy-Syafie berkata: “Jika seseorang berkata: Seperti apa? (yakni apakah contoh yang Baginda lakukan hanya seketika kemudian setelah orang ramai mempelajarinya, Baginda tinggalkan)
Akukatakan: Sepertimana Baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana Baginda berdiri dan ruku’ diatasnya, kemudian Baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, Baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat, Baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat Baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (di dalam solat), ruku’ dan bangun daripada sujud. Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.”Sambungnya lagi: “Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika sehingga kaum wanita pergi.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian Imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum daripada itu, atau duduk lebih lama daripada itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”Demikianlah huraian Imam asy-Syafie berhubung hadithIbnu Abbas tersebut.
Apa yang jelas Imam asy-Syafie yang dikenali sebagai ‘nasirus-sunnah’ tidak pernah menyebutkan bahawa Nabi dan para sahabatnya berkekalan berbuat sedemikian yakni menjaharkan zikir sesudah solat sepertimana yang dilakukan oleh umat Islam yang mengaku bermazhab Syafie di negara kita ini. Sekiranya para sahabat yang terdahulu senantiasa menjaharkan zikir sesudah solat, sudah tentulah telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dan berlaku ijma’ para sahabat dalam hal yang sedemikian itu. Akan tetapi kita tidakmenjumpai perkara yang sedemikan rupa.
Jelaslah sudah bahawa perbuatan menjaharkan zikir beramai-ramai menyanggahi apa yang telah di fatwakan oleh Imam asy-Syafie sendiri dan apa yang diwarisi daripada as-sunnah. Mereka memandang sunnah perbuatan yang sedemikian itu sehingga mereka merasakan orang yang meninggalkan perkara tersebut seakan-akan telah meninggalkan sunnah ar-Rasul.
Selanjutnya al-Baihaqi dan selainnya berhujjah untukmengisrarkan zikir sesudah solat dengan hadith AbuMusa al-Asya’ari ujarnya: “ Kami telah menyertai Nabidi dalam satu perjalanan. Kami apabila turun ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir sehingga bergema suara kami.
Maka Nabi bersabda: Wahai manusia,berlemah-lembutlah kamu terhadap dirimu, kerana kamu bukan menyeru kepada Dia yang pekak dan bukan pula menyeru kepada Dia yang jauh, tetapi Dia yang senantiasa dekat dengan dirimu”Apa yang lebih jelek ialah mereka mengadakan suatu bid’ah yang tidak dikenali diz aman Rasulullah dan para sahabatnya iaitu berterus-terusan berdo’a beramai-ramai sesudah solat.
Manakah nas daripada as-sunnah yang dapat menjadi dalil bagi perbuatan yang sedemikian ini? Bukankah perbuatan berzikir dan berdoa beramai-ramai sesudah solat ini dilakukan serentak?Mengapakan perbincangan tentang perkara ini sengaja dilupakan?
Adakah kerana tidak ada satu nas pun daripada as-sunnah yang boleh di kemukakan untuk menjadi dalil, lantas merasa cukup untuk membawa nas yang mengizinkan menjaharkan zikir dengan harapan manusia akan terpedaya dan menganggap perbuatan ini juga sebahagian daripada as-sunnah?
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam hal ini: “Tidaklah ada khilaf tentang kesunnatan adanya zikir sesudah solat,bagi imam, bagi makmum, dan bagi yang bersolat bersendirian. Masing-masing berzikir sendiri-sendiri.Adat yang diadakan manusia, iaitu imam menentukan doa buat solat subuh dan asar, tiada berasal sama sekali.Berjabat tangan sesudah solat subuh dan asar adalah suatu bid’ah” [al-Majmu’ III: 484,492]
Berkata al-Imam Ibnul Qayyim: “Imam berdoa sesudah salam daripada solat sambil menghadap qiblat, atau menghadap makmum tidak pernah dikerjakan Nabi, yang senantiasa bertindak sebagai imam, dan tidak ada pula riwayat yang menyuruh kita mengerjakan yang sedemikian itu.” [Zadul Ma’ad I:93]
Berkata pula al-Ustaz Ali Mahfuz di dalam al-Ibda’: “Nabi tidak pernah duduk sambil menghadap makmum untuk membaca doa sesudah solat dengan suara yang keras serta terus menerus melakukan yang sedemikian itu.
Lantaran itu, orang awam menyangka bahawa begitulah seharusnya mengkhatamkan solat, padahal yang disukai ialah berdoa secara sendiri-sendiri. Dan mengapa harus kita mengeraskan suara waktu berdoa, padahal Allah telah berfirman:
Serulah Tuhanmu dengan tadarru’ dan khufyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [7:55]
Tadarru’ ialah berlaku khusyu’, tenang, dan merasa rendah diri berhadapan dengan Allah. Khufyah ialah menyebut sesuatu dengan menghaluskan suara.” [al Ibda’: 272-273]
Hadith Nabi yang memberi amaran kepada pengamal dan pembuat bid’ah sangat banyak jumlahnya. Cukuplah sekiranya kami mendatangkan satu athar untuk membuktikan betapa prihatinnya para sahabat Nabi dalam perkara yang berhubung dengan ibadah ini.
Mereka senantiasa mengingkari sesuatu ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi walaupun dipandang baik oleh mata manusia.
Daripada ‘Amr bin Salamah (murid kepada Abdullah bin Mas’ud) katanya:
Suatu ketika kami ke pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum solat subuh.Apabila beliau keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musaal-Asy’ari lalu bertanya: Apakah Abu Abdul Rahman(gelaran Abdullah bin Mas’ud) telah keluar kepadakamu?
Kami jawab: Tidak. Maka beliau duduk bersama kami sehingga Abdullah bin Mas’ud keluar. Apabila beliau keluar, kami semua bangun kepadanya.Lalu Abu Musa al-Asy’ari berkata: Wahai Abu AbdulRahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak melihat,alhamdulillah, melainkan ianya baik. Beliau bertanya:Apakah dia? Kata Abu Musa: Jika umur kamu panjang kamu akan melihatnya.
Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan menunggu solat. Bagi setiap lingkungan ada seorang lelaki (ketua), sementara ditangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata: Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali,merekapun bertahlil. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih.
Tanya Abdullah binMas’ud: Apa yang telah kamu katakan kepada mereka.Jawabnya: Aku tidak berkata apa-apapun kerana menanti pandangan dan perintahmu.”Berkata Abdullah bin Mas’ud: Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa-dosa mereka dan memberi jaminan pahala mereka tidak akan hilang sedikitpun?Lalu beliau berjalan dan kamipun berjalan bersama.
Sehinggalah beliau tiba di salah satu lingkungan tersebut. Beliau berdiri lantas berkata: Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini? Jawab mereka: Wahai Abu Abdul Rahman, batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih.
Jawab beliau: Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju Baginda belum lagi buruk, bekas makanan dan minuman Baginda belum lagi pecah. Demi jiwaku yang berada ditanganNya, apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad,atau kamu semua pembuka pintu kesesatan.
Jawab mereka: Demi Allah wahai Abu Abdul Rahman, kami hanya bertujuan baik. Jawab beliau: Betapa ramai yang bertujuan baik tetapi tidak menepatinya. Sesungguhnya Rasulullah telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Qur’an namun tidak lebih daripada kerongkong mereka. Demi Allah, aku tidak tahu,barangkali kebanyakan mereka daripada kalangan kamu.Kemudian beliau pergi.Berkata ‘Amr bin Salamah: Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan. [Riwayat ad-Darimi di dalam Musnadnya dengansanad yang dinilai sahih oleh al-Albani di dalamSilsilah al-Ahadith as-Sohihah V:11]
Lihatlah betapa Abdullah bin Mas’ud membantah perbuatan ibadah berzikir beramai-ramai yang diamalkan kumpulan tersebut walaupun mereka pada asalnya memiliki niat dan pandangan yang baik. Pada zahirnya tiada yang buruk pada perbuatan mereka. Namun kerana ia merupakan ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi, maka ia ditolak. Bahkan Abdullah bin Mas’ud memberi amaran betapa perbuatan bid’ah yang kecil akan mengheret seseorang kepada bid’ah yang lebih besar.
Akhir kata perhatikanlah apa yang telah disebut olehSyeikh Yusuf al-Qaradawi: “Hendaklah seorang Muslim dalam ibadahnya mengikut batasan yang ditentukan untuknya. Tidak mencukupi hanya sekadar bertujuan untuk keredaan Allah semata. Bahkan hendaklah ibadah itu dilakukan dalam bentuk yang disyari’atkan Allah dengan kaifiyyat (tatacara) yang diredaiNya.
Janganlah ibadah seorang Muslim itu berdasarkan apa yang direka oleh manusia berdasarkan hawa nafsu dan sangkaan.”
Selanjutnya beliau berkata: “Tidak boleh sesiapa pun daripada imam-imam kaum muslimin betapa tinggi sekalipun darjat ilmunya, demikian juga tidak boleh mana-mana badan ilmu sekalipun hebat kedudukannya,demikian juga bagi mana-mana institusi ilmu, atau golongan daripada kaum muslimin samada kecil atau besar, untuk mencipta ibadah yang baru dalam agama Allah atau menokok-nambah ibadah yang ada dalam agama atau mengubah cara yang dilakukan pada . Hal ini memandangkan pembuat syari’at hanyalah Allah manakala ar-Rasul adalah penyampainya,sedangkan kita hanyalah pengikutnya.
Segala kebaikan itu dalam al-ittiba’ (mengikut apa yang ditentukanAllah dan rasulNya). [Al-Ibadah fil-Islam: 165-167]
Friday, October 2, 2009
Wahhabi adalah sesuatu yang tiada hakikatnya.
Wahhabi ialah sesuatu yang tiada hakikatnya. Isu ini telah lama didengari dan diperkatakan dari zaman ke zaman, namun ianya tetap akan berterusan selagi mana masyarakat tidak cuba memahaminya secara ilmiah. Sesungguhnya Islam dibina di atas manhaj ilmu iaitu al-Quran dan Sunnah nabi s.a.w.
Oleh kerana itu para ulama’ salaf sering menyatakan ilmu itu ialah apa yang difirmankan Allah dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. Ingin diingatkan di sini bahawa janganlah kita bercakap tentang sesuatu perkara yang kita tidak ada ilmu tentangnya.
Allah berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 36:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dipertanggungjawabkan”.
Sekiranya kita bercakap di atas suatu perkara yang kita tidak mengetahuinya dikhuatiri akan terjebak ke dalam kancah fitnah pula. Tetapi fenomena ini berlaku di tengah-tengah masyarakat di mana mereka melabelkan sebahagaian mereka dengan wahabi atau kaum muda. Apabila ditanya kembali apakah itu wahabi, mereka membisu.
Ada yang menjawab wahabi itu tidak membaca qunut subuh, wahabi tidak membaca zikir lepas sembahyang beramai-ramai, wahabi tidak membuat kenduri arwah dan sebagainya. Inilah yang dikatakan bercakap tidak atas dasar ilmu. Diulangi sekali lagi bahawa kita akan dipersoalkan di hari akhirat kelak atas apa yang kita perkatakan.
Secara ringkas wahhabi adalah nama yang dinisbahkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, beliau dilahirkan pada tahun 1115 hijrah di Najd dan meninggal pada tahun 1206 hijrah. Perjuangan beliau ialah mengembalikan kesucian tauhid jauh dari syirik, khurafat. Beliau berjuang menegakkan sunnah dan menentang bid’ah dalam agama. Pergerakan Muhammad bin Abdul Wahab bukan satu mazhab yang baru.
Bahkan beliau sendiri bermazhab Hambali. Manhaj yang digunakan dalam berdakwah ialah manhaj Salafus Soleh iaitu manhaj yang dibawa oleh tiga kurun yang pertama dan terbaik sepertimana yang disabdakan nabi s.a.w. “Sebaik-baik manusia ialah kurunku (zaman nabi dan sahabat), kemudian kurun selepasnya (tabiin), kemudian selepasnya (tabi’ tabiin).Tetapi perjuangan dakwah tidak dihamparkan dengan permaidani merah, sebaliknya perjuangan dakwah akan dirintangi dengan pelbagai mehnah dan tribulasi. Begitulah yang dihadapi oleh Muhammad bin Abdul Wahab.
Musuh-musuh yang tidak berpuas hati dengannya lalu melabelkannya sebagai Wahhabi. Sepatutnya ianya lebih tepat dengan label Muhammadiyah kerana namanya Muhammad namun untuk mengelakkan masalah yang timbul sekiranya dilabelkan Muhammadiyah lalu dinisbahkan kepada ayahnya Abdul Wahab maka jadilah Wahhabi. Itulah hakikat sebenarnya nama Wahhabi yang tidak diketahui masyarakat kita.
Penulisan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sekitar permasalahan Tauhid seperti yang masyhur Kitab al-Tauhid.Di Malaysia nama Dr.Yusuf al-Qaradhawi sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat. Begitu juga dikalangan ustaz-ustaz yang memusuhi golongan yang dilabel sebagai wahabi ini.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam kitabnya Fiqh al-Awlawiyyat memuji Muhammad bin Abdul Wahab katanya: “Bagi al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah Arab perkara aqidah adalah menjadi keutamaanya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menaggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik. (hlm. 263, ctk. Maktabah Wahbah Mesir).
Satu lagi nama yang tidak asing bagi masyarakat kita ialah Dr. Wahbah al-Zuhaili yang memuji Muhammad bin Abdul Wahhab dengan berkata: “Sesuatu yang tidak syak padanya, menyedari hakikat yang sebenar, bukan untuk meredakan sesiapa, berpegang kepada ayat al-Quran yang agung (maksudnya) “Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya”. (surah Hud:85) bahawa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah yang terbesar untuk islah (pembaikan) membina umat, jihad dan mengembalikan individu Muslim kepada berpegang dengan jalan salafus soleh yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab pada kurun yang ke 12 hijrah.
Tujuannya adalah untuk mentajdidkan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan pelbagai khilaf, kekeliruan, bid’ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin Abdul Wahhab ialah pemimpin kebangkitan agama dan pembaikan (islah) yang dinantikan, yang menzahir timbangan aqidah yang bersih.”
( Risalah Mujaddid al-Din fi Qarn al-Thani ‘Asyar, hlm 57-58). Adakah Dr.Yusuf al-Qaradhawi dan Dr. Wahbah al-Zuhaili yang menjadi rujukan oleh mereka ini dilabelkan sebagai Wahhabi?Siapa tidak mengenali syeikh Muhammad Rashid Redha. Beliau antara orang yang mempertahankan dan mengeji mereka yang mengeji dan menfitnah Muhammad bin Abdul Wahab.
Antaranya ialah tulisannya dalam muqaddimah kitab ‘Siyanatul Insan ‘An Waswasatil Dahlan’ sebuah kitab yang menolak fitnah dan pembohongan Zaini Dahlan ke atas Muhammad bin Abdul Wahab yang dinamakan ‘Duraru al-thaniyah fi raddi ‘Ala al-Wahhabiah’ yang banyak tersebar di pondok-pondok di Malaysia. Antara isinya beliau menceritakan bagaimana beliau tertipu sejak kecil lagi dengan pembohongan dan fitnah yang terdapat di dalam kitab Zaini Dahlan.
Beliau menyedari semuanya itu hanyalah fitnah dan dusta selepas beliau berhijrah ke Mesir. Beliau telah mengkaji mengenai gerakan Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau juga banyak membaca kitab-kitab, risalah-risalah, fatwa-fatwanya, anaknya, cucunya dan ulamak-ulamak Najd.
Dengan pengetahuan tentang hakikat dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab beliau membuat kesimpulan :
1- Tidak ada satu pun tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke atas Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab melainkan dusta dan fitnah.
2- Zaini Dahlan dan musuh-musuh Syeikh Muhammad orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak amanah, sama ada tidak mengetahui tentang hakikat dakwah Syeikh Muhammad ataupun sebab-sebab lainnya.(dipetik dari www.al-ahkam.net)
Begitulah seperti kata pepatah manusia akan memusuhi sesuatu perkara yang dia jahil terhadapnya. Suatu kisah yang masyhur seorang syeikh selalu berdoa keburukan dan laknat ke atas Muhammad Abdul Wahab, suatu hari anak muridnya meletakkan kitab yang ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang telah dikoyak kulitnya supaya syeikhnya tidak mengetahui siapakah penulisnya.
Setelah membaca kitab tersebut anak muridnya tadi datang kepadanya lalu bertanya “Wahai syeikh bagaimanakan isi kandungan kitab itu” lalu syeikhnya menjawab kitab ini sangat bagus untuk dijadikan sebagai rujukan dalam aqidah.
Selepas itu anak muridnya mengeluarkan semula kulit buku tersebut dan menyatakan inilah kitab Muhammad bin Abdul Wahhab. Syeikh tersebut terkejut dan menangis kerana menyesal. Setelah itu setiap kali beliau berdoa beliau memohon keampunan dan berdoa kebaikan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab.
Suatu perkara yang penting bahawa mereka yang dilabelkan sebagai Wahhabi ini hanya berdalilkan kepada al-Quran dan Sunnah serta membawa perkatan-perkataan para imam yang muktabar seperti para imam mazhab yang empat.
Tidak sepatah pun kedengaran nama Muhammad bin Abdul Wahhab apatah lagi perkataan-perkataan beliau. Sebagai contoh masalah berzikir secara sendirian dan senyap selepas setiap kali sembahyang, mereka membawakan kitab Imam Syafie sendiri iaitu al-Umm juga perkataan Imam al-Nawawi dalam syarah Muhazzab yang menyatakan zikir hendaklah secara senyap kecuali untuk mengajar bukannya pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab.
Adakah Imam al-Syafie dan Imam al-Nawawi Wahhabi? Itulah akibatnya sekiranya jahil tentang permasalahan agama.Seperti yang dinyatakan sebelum ini penulisan-penulisan Muhammad bin Abdul Wahab hanya tertumpu kepada permasalahan aqidah.
Jadi apa yang diajarkan oleh sebahagian mereka yang dilabelkan sebagai Wahhabi tiada kena mengena dengan Muhammad bin Abdul Wahab namun masyarakat terutamanya golongan agama yang tidak menitik beratkan persoalan ilmu terus melabel dan menfitnah mereka dengan Wahhabi.Akhirnya kita mohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu yang bermanfaat serta dihapuskan kejahilan dalam diri.
Permasalahan wahhabi tidak wajar ditimbulkan lagi dan seperti yang dinyatakan ianya sesuatu yang tidak pernah wujud secara hakikatnya sebaliknya ianya ajaran islam bukan Wahhabi. Wallahu a’lam.
Oleh kerana itu para ulama’ salaf sering menyatakan ilmu itu ialah apa yang difirmankan Allah dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. Ingin diingatkan di sini bahawa janganlah kita bercakap tentang sesuatu perkara yang kita tidak ada ilmu tentangnya.
Allah berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 36:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dipertanggungjawabkan”.
Sekiranya kita bercakap di atas suatu perkara yang kita tidak mengetahuinya dikhuatiri akan terjebak ke dalam kancah fitnah pula. Tetapi fenomena ini berlaku di tengah-tengah masyarakat di mana mereka melabelkan sebahagaian mereka dengan wahabi atau kaum muda. Apabila ditanya kembali apakah itu wahabi, mereka membisu.
Ada yang menjawab wahabi itu tidak membaca qunut subuh, wahabi tidak membaca zikir lepas sembahyang beramai-ramai, wahabi tidak membuat kenduri arwah dan sebagainya. Inilah yang dikatakan bercakap tidak atas dasar ilmu. Diulangi sekali lagi bahawa kita akan dipersoalkan di hari akhirat kelak atas apa yang kita perkatakan.
Secara ringkas wahhabi adalah nama yang dinisbahkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, beliau dilahirkan pada tahun 1115 hijrah di Najd dan meninggal pada tahun 1206 hijrah. Perjuangan beliau ialah mengembalikan kesucian tauhid jauh dari syirik, khurafat. Beliau berjuang menegakkan sunnah dan menentang bid’ah dalam agama. Pergerakan Muhammad bin Abdul Wahab bukan satu mazhab yang baru.
Bahkan beliau sendiri bermazhab Hambali. Manhaj yang digunakan dalam berdakwah ialah manhaj Salafus Soleh iaitu manhaj yang dibawa oleh tiga kurun yang pertama dan terbaik sepertimana yang disabdakan nabi s.a.w. “Sebaik-baik manusia ialah kurunku (zaman nabi dan sahabat), kemudian kurun selepasnya (tabiin), kemudian selepasnya (tabi’ tabiin).Tetapi perjuangan dakwah tidak dihamparkan dengan permaidani merah, sebaliknya perjuangan dakwah akan dirintangi dengan pelbagai mehnah dan tribulasi. Begitulah yang dihadapi oleh Muhammad bin Abdul Wahab.
Musuh-musuh yang tidak berpuas hati dengannya lalu melabelkannya sebagai Wahhabi. Sepatutnya ianya lebih tepat dengan label Muhammadiyah kerana namanya Muhammad namun untuk mengelakkan masalah yang timbul sekiranya dilabelkan Muhammadiyah lalu dinisbahkan kepada ayahnya Abdul Wahab maka jadilah Wahhabi. Itulah hakikat sebenarnya nama Wahhabi yang tidak diketahui masyarakat kita.
Penulisan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sekitar permasalahan Tauhid seperti yang masyhur Kitab al-Tauhid.Di Malaysia nama Dr.Yusuf al-Qaradhawi sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat. Begitu juga dikalangan ustaz-ustaz yang memusuhi golongan yang dilabel sebagai wahabi ini.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam kitabnya Fiqh al-Awlawiyyat memuji Muhammad bin Abdul Wahab katanya: “Bagi al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah Arab perkara aqidah adalah menjadi keutamaanya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menaggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik. (hlm. 263, ctk. Maktabah Wahbah Mesir).
Satu lagi nama yang tidak asing bagi masyarakat kita ialah Dr. Wahbah al-Zuhaili yang memuji Muhammad bin Abdul Wahhab dengan berkata: “Sesuatu yang tidak syak padanya, menyedari hakikat yang sebenar, bukan untuk meredakan sesiapa, berpegang kepada ayat al-Quran yang agung (maksudnya) “Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya”. (surah Hud:85) bahawa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah yang terbesar untuk islah (pembaikan) membina umat, jihad dan mengembalikan individu Muslim kepada berpegang dengan jalan salafus soleh yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab pada kurun yang ke 12 hijrah.
Tujuannya adalah untuk mentajdidkan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan pelbagai khilaf, kekeliruan, bid’ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin Abdul Wahhab ialah pemimpin kebangkitan agama dan pembaikan (islah) yang dinantikan, yang menzahir timbangan aqidah yang bersih.”
( Risalah Mujaddid al-Din fi Qarn al-Thani ‘Asyar, hlm 57-58). Adakah Dr.Yusuf al-Qaradhawi dan Dr. Wahbah al-Zuhaili yang menjadi rujukan oleh mereka ini dilabelkan sebagai Wahhabi?Siapa tidak mengenali syeikh Muhammad Rashid Redha. Beliau antara orang yang mempertahankan dan mengeji mereka yang mengeji dan menfitnah Muhammad bin Abdul Wahab.
Antaranya ialah tulisannya dalam muqaddimah kitab ‘Siyanatul Insan ‘An Waswasatil Dahlan’ sebuah kitab yang menolak fitnah dan pembohongan Zaini Dahlan ke atas Muhammad bin Abdul Wahab yang dinamakan ‘Duraru al-thaniyah fi raddi ‘Ala al-Wahhabiah’ yang banyak tersebar di pondok-pondok di Malaysia. Antara isinya beliau menceritakan bagaimana beliau tertipu sejak kecil lagi dengan pembohongan dan fitnah yang terdapat di dalam kitab Zaini Dahlan.
Beliau menyedari semuanya itu hanyalah fitnah dan dusta selepas beliau berhijrah ke Mesir. Beliau telah mengkaji mengenai gerakan Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau juga banyak membaca kitab-kitab, risalah-risalah, fatwa-fatwanya, anaknya, cucunya dan ulamak-ulamak Najd.
Dengan pengetahuan tentang hakikat dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab beliau membuat kesimpulan :
1- Tidak ada satu pun tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke atas Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab melainkan dusta dan fitnah.
2- Zaini Dahlan dan musuh-musuh Syeikh Muhammad orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak amanah, sama ada tidak mengetahui tentang hakikat dakwah Syeikh Muhammad ataupun sebab-sebab lainnya.(dipetik dari www.al-ahkam.net)
Begitulah seperti kata pepatah manusia akan memusuhi sesuatu perkara yang dia jahil terhadapnya. Suatu kisah yang masyhur seorang syeikh selalu berdoa keburukan dan laknat ke atas Muhammad Abdul Wahab, suatu hari anak muridnya meletakkan kitab yang ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang telah dikoyak kulitnya supaya syeikhnya tidak mengetahui siapakah penulisnya.
Setelah membaca kitab tersebut anak muridnya tadi datang kepadanya lalu bertanya “Wahai syeikh bagaimanakan isi kandungan kitab itu” lalu syeikhnya menjawab kitab ini sangat bagus untuk dijadikan sebagai rujukan dalam aqidah.
Selepas itu anak muridnya mengeluarkan semula kulit buku tersebut dan menyatakan inilah kitab Muhammad bin Abdul Wahhab. Syeikh tersebut terkejut dan menangis kerana menyesal. Setelah itu setiap kali beliau berdoa beliau memohon keampunan dan berdoa kebaikan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab.
Suatu perkara yang penting bahawa mereka yang dilabelkan sebagai Wahhabi ini hanya berdalilkan kepada al-Quran dan Sunnah serta membawa perkatan-perkataan para imam yang muktabar seperti para imam mazhab yang empat.
Tidak sepatah pun kedengaran nama Muhammad bin Abdul Wahhab apatah lagi perkataan-perkataan beliau. Sebagai contoh masalah berzikir secara sendirian dan senyap selepas setiap kali sembahyang, mereka membawakan kitab Imam Syafie sendiri iaitu al-Umm juga perkataan Imam al-Nawawi dalam syarah Muhazzab yang menyatakan zikir hendaklah secara senyap kecuali untuk mengajar bukannya pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab.
Adakah Imam al-Syafie dan Imam al-Nawawi Wahhabi? Itulah akibatnya sekiranya jahil tentang permasalahan agama.Seperti yang dinyatakan sebelum ini penulisan-penulisan Muhammad bin Abdul Wahab hanya tertumpu kepada permasalahan aqidah.
Jadi apa yang diajarkan oleh sebahagian mereka yang dilabelkan sebagai Wahhabi tiada kena mengena dengan Muhammad bin Abdul Wahab namun masyarakat terutamanya golongan agama yang tidak menitik beratkan persoalan ilmu terus melabel dan menfitnah mereka dengan Wahhabi.Akhirnya kita mohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu yang bermanfaat serta dihapuskan kejahilan dalam diri.
Permasalahan wahhabi tidak wajar ditimbulkan lagi dan seperti yang dinyatakan ianya sesuatu yang tidak pernah wujud secara hakikatnya sebaliknya ianya ajaran islam bukan Wahhabi. Wallahu a’lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)