Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?
Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ
“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.
Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.
Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.
Uraian Pendapat Para Ulama
Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.
Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.
Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.
Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.
Dalil Pendapat Pertama
Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :
مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.
Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.
Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.
Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy.
Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”.
Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.
Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata :
“Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.
Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi).
Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).
Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.
Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :
Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” .
Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.
Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan.
Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.
Kemudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :
Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :
قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ
“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah dengan mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :
Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494.
Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).
Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.
Catatan :
Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ
“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.
Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaimana dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.
Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :
صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ
“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut”.
Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.
Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id.
Yang ada hanyalah “beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.
Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :
مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ
“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.
Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.
Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”.
Dan berkata Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.
Kesimpulan pendapat pertama:
Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.
Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian.
Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.
1) Doa
2) Khusyu’
3) Ibadah
4) Taat
5) Menjalankan ketaatan.
6) Penetapan ibadah kepada Allah
7) Diam
8) Shalat
9) Berdiri
10) Lamanya berdiri
11) Terus menerus dalam ketaatan
Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.
Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.
Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat :
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)
Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :
Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya.
Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.
Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :
وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.
Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam.
Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.
Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .
Dalil Pendapat Ketiga
Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i
قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.
“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”.
Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.
Dua : Hadits Ibnu ‘Umar
عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.
” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”.
Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.
Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.
Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.
Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :
1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.
2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.
Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do’a qunut
“Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat.
Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.
Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma’ad.
Kesimpulan
Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.
Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.
Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain
Monday, October 19, 2009
Ahlul Bidaah,Stop!Sunnah nanti akan Hilang..
Kaidah Penerapan Sunnah Penulis:
Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Memang orang yang memulai menghidupkan suatu sunnah pada masa umat meninggalkannya akan mendapatkan risiko yang berat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat di atas.
Orang yang mengerjakannya seperti orang yang memegang bara api. Jika dipegang tangan terbakar, namum jika dilepaskan kita akan tersesat jauh dari jalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Namun risiko itu sesuai dengan pahalanya yang besar, yaitu lima puluh kali para sahabat.Di samping itu, agama ini memang bermula dengan keasingan dan pada saatnya akan kembali asing seperti permulaannya.
Jika dengan alasan masih asing, kemudian kita meninggalkan sunnah maka akan lenyaplah Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengkhabarkan akan asingnya agama ini pada mulanya dan akan kembali menjadi asing pada saatnya.
Namun beliau juga sekaligus memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang terasing karena menjalankan agama ini.
Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing. (HR. Muslim)
Untuk itu janganlah perasaan asing, malu, takut, dan lain-lain menjadikan kita meninggalkan sunnah. Kita harus ingat bahwa sunnah adalah Islam, dan Islam tidak lain melainkan kumpulan sunnah-sunnah.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam al Barbahari dalam bukunya, Syarhus Sunnah: “Islam adalah
sunnah dan Sunnah adalah Islam. Tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lainnya”.
Jika berkurang satu sunnah maka berkuranglah kesempurnaan Islam, begitulah seterusnya hingga akan hilanglah Islam secara keseluruhan. Berkata Abdullah Ibnu Dailami: ”Sesungguhnya awal pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya sunnah.
Agama ini akan hilang satu sunnah demi satu sunnah seperti hilangnya tali satu kekuatan demi kekuatan”. (Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Al Lalikai 1/93).
Oleh karena itulah Ahlul bid’ah dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang ikut andil dalam menghancurkan Islam. Karena dengan kebidahan yang mereka lakukan, maka ada sunnah yang tergeser.
Semakin banyak bid’ah dikerjakan, semakin banyak pula sunnah yang hilang, hingga hancurlah Islam.Berkata Al Auza’i dari Hassan bin Athiyyah: ”Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu kebid’ahan kecuali Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisalnya.
Kemudian tidak akan dikembalikan kepada mereka sampai hari kiamat”.Dan berkata Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu:
“Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka mengada-adakan satu kebid’ahan dan mematikan satu sunnah. Demikianlah hingga berkembanglah kebid’ahan dan matilah sunnah”. (al-Bida’ wa nahyu ‘anha,hal. 38-39; lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 85).
Sedangkan Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’nya menyatakan bahwa orang-orang yang mematikan sunnah itu ada dua jenis. Pertama orang-orang yang mengerjakan kebid’ahan-kebid’ahan dan yang kedua orang-orang yang tidak mau menghidupkan sunnah.
Ketahuilah bahwa di samping risiko yang akan dihadapi oleh orang yang memulai menghidupkan sunnah, ada pula maslahat bagi agama yang besar yaitu hidupnya sunnah. Adapun mafsadah atau risiko yang dihadapinya hanyalah bersifat pribadi.
Tentunya maslahat agama harus lebih diutamakan daripada maslahat pribadi. Dengarkanlah apa yang diucapkan oleh Imam asy-Syatibi berikut: “Aku ragu dan berulang kali menghitung antara menerapkan sunnah dengan konsekwensi menyelisihi kebiasaan manusia yang tentunya akan mendapatkan risiko seperti apa yang telah didapatkan oleh orang yang menyelisihi adat kebiasaan kaumnya; apalagi kalau mereka menganggap apa yang biasa mereka lakukan tidak lain adalah sunnah; namun di samping risiko yang berat itu ada pahala yang besar.
Atau aku memilih untuk mengikuti kebiasaan mereka dengan konsekuensi menyelisihi sunnah dan menyelisihi jalan salafus shalih hingga aku digolongkan termasuk orang-orang yang menyimpang –Naudzubillah min dzalika—
Namun karena aku mencocoki kebiasaan manusia akan dianggap sebagai orang yang bisa bermasyarakat dan tidak termasuk orang yang menyelisihi adat. Akhirnya aku berpendapat bahwa kebinasaan dalam mengikuti sunnah adalah keselamatan, dan bahwasanya manusia tidak akan bisa mencukupi aku dari Allah sedikitpun”.
(Dlaruratul Ihtimam, Syaikh, Abdus Salam bin Barjas hal. 88)
Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 20/Th. I tgl 13 Muharram 1425 H/5 Maret 2004 M
Sunnah Yang Hilang
Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani
Sesungguhnya menjaga sunnah yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemuliaan yang tiada tara disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.
Terlebih lagi, jika dituntut untuk merealisasikannya dimasa akhir zaman. Yaitu pada masa dimana hawa nafsu terus diumbar, fatamorgana kesenangan dunia selalu diprioritaskan, sifat pelit telah menjadi panutan, dan setiap orang yang memiliki rasio merasa bangga dengan pikirannya.
Inilah waktu yang kebanyakan manusia tidak lagi menghiraukan ajaran sunnah. Kelangkaan mengamalkan sunnah sudah menjadi tradisi yang mengakar ditengah-tengah kehidupan manusia pada umumnya. Sedangkan berkomitmen dengan sunnah laksana menggenggam bara api.
Namun bukan berarti bahwa ajaran sunnah telah lenyap secara keseluruhan dari muka bumi ini. Pejuang sunnah akan tetap eksis sampai Allah mendatangkan hari kiamat, walaupun dalam jumlah yang minoritas.
Demikianlah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jaminan yang pasti, sebagaimana dalam sabdanya,
“Senantiasa akan ada sekumpulan kecil dari umatku yang selalu tampak diatas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka, sampai datang perintah dari Allah (hari kiamat), sementara mereka masih dalam kondisi yang demikian itu”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)
Mereka yang mau membangun kembali puing-puing sunnah yang sudah runtuh dan dilupakan adalah pihak yang sangat berbahagia. Allah telah menjanjikan pahala yang cukup besar sebagai ganjaran atas perjuangan mereka.
Keberuntungan ini tergambar dalam sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut,“Hendaklah kalian memerintah kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar, sampai kalian melihat sifat pelit sudah dipeturutkan, hawa nafsu sudah diikuti, dunia sudah diprioritaskan, dan setiap orang yang memiliki rasio sudah merasa bangga dengan pikirannya, maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah urusan keumuman manusia.
Sesungguhnya dibelakang kalian terdapat hari-hari kesabaran. Saat itu kesabaran (diatas agama) laksana menggenggam bara api. Bagi yang mau mengamalkan (agama) diantara mereka (niscaya akan memperoleh) seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya”.Dalam sebuah riwayat: “Sang sahabat bertanya, wahai Rosulullah! Apakah (seperti) pahala lima puluh orang dari mereka? Beliau menjawab, (seperti) pahala lima puluh orang dari kalian”.
(HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan beliau menghasankannya, Ibnu Majah, An Nasai, Ibnu Hibban, serta yang selainnya, dari sahabat Abu Tsa’labah Al Khusyani. Lihat “Al Qobidhuna ‘Alal Jamr” karya Salim Al Hilali, hal 11-dst)
Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Memang orang yang memulai menghidupkan suatu sunnah pada masa umat meninggalkannya akan mendapatkan risiko yang berat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat di atas.
Orang yang mengerjakannya seperti orang yang memegang bara api. Jika dipegang tangan terbakar, namum jika dilepaskan kita akan tersesat jauh dari jalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Namun risiko itu sesuai dengan pahalanya yang besar, yaitu lima puluh kali para sahabat.Di samping itu, agama ini memang bermula dengan keasingan dan pada saatnya akan kembali asing seperti permulaannya.
Jika dengan alasan masih asing, kemudian kita meninggalkan sunnah maka akan lenyaplah Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengkhabarkan akan asingnya agama ini pada mulanya dan akan kembali menjadi asing pada saatnya.
Namun beliau juga sekaligus memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang terasing karena menjalankan agama ini.
Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing. (HR. Muslim)
Untuk itu janganlah perasaan asing, malu, takut, dan lain-lain menjadikan kita meninggalkan sunnah. Kita harus ingat bahwa sunnah adalah Islam, dan Islam tidak lain melainkan kumpulan sunnah-sunnah.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam al Barbahari dalam bukunya, Syarhus Sunnah: “Islam adalah
sunnah dan Sunnah adalah Islam. Tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lainnya”.
Jika berkurang satu sunnah maka berkuranglah kesempurnaan Islam, begitulah seterusnya hingga akan hilanglah Islam secara keseluruhan. Berkata Abdullah Ibnu Dailami: ”Sesungguhnya awal pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya sunnah.
Agama ini akan hilang satu sunnah demi satu sunnah seperti hilangnya tali satu kekuatan demi kekuatan”. (Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Al Lalikai 1/93).
Oleh karena itulah Ahlul bid’ah dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang ikut andil dalam menghancurkan Islam. Karena dengan kebidahan yang mereka lakukan, maka ada sunnah yang tergeser.
Semakin banyak bid’ah dikerjakan, semakin banyak pula sunnah yang hilang, hingga hancurlah Islam.Berkata Al Auza’i dari Hassan bin Athiyyah: ”Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu kebid’ahan kecuali Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisalnya.
Kemudian tidak akan dikembalikan kepada mereka sampai hari kiamat”.Dan berkata Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu:
“Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka mengada-adakan satu kebid’ahan dan mematikan satu sunnah. Demikianlah hingga berkembanglah kebid’ahan dan matilah sunnah”. (al-Bida’ wa nahyu ‘anha,hal. 38-39; lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 85).
Sedangkan Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’nya menyatakan bahwa orang-orang yang mematikan sunnah itu ada dua jenis. Pertama orang-orang yang mengerjakan kebid’ahan-kebid’ahan dan yang kedua orang-orang yang tidak mau menghidupkan sunnah.
Ketahuilah bahwa di samping risiko yang akan dihadapi oleh orang yang memulai menghidupkan sunnah, ada pula maslahat bagi agama yang besar yaitu hidupnya sunnah. Adapun mafsadah atau risiko yang dihadapinya hanyalah bersifat pribadi.
Tentunya maslahat agama harus lebih diutamakan daripada maslahat pribadi. Dengarkanlah apa yang diucapkan oleh Imam asy-Syatibi berikut: “Aku ragu dan berulang kali menghitung antara menerapkan sunnah dengan konsekwensi menyelisihi kebiasaan manusia yang tentunya akan mendapatkan risiko seperti apa yang telah didapatkan oleh orang yang menyelisihi adat kebiasaan kaumnya; apalagi kalau mereka menganggap apa yang biasa mereka lakukan tidak lain adalah sunnah; namun di samping risiko yang berat itu ada pahala yang besar.
Atau aku memilih untuk mengikuti kebiasaan mereka dengan konsekuensi menyelisihi sunnah dan menyelisihi jalan salafus shalih hingga aku digolongkan termasuk orang-orang yang menyimpang –Naudzubillah min dzalika—
Namun karena aku mencocoki kebiasaan manusia akan dianggap sebagai orang yang bisa bermasyarakat dan tidak termasuk orang yang menyelisihi adat. Akhirnya aku berpendapat bahwa kebinasaan dalam mengikuti sunnah adalah keselamatan, dan bahwasanya manusia tidak akan bisa mencukupi aku dari Allah sedikitpun”.
(Dlaruratul Ihtimam, Syaikh, Abdus Salam bin Barjas hal. 88)
Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 20/Th. I tgl 13 Muharram 1425 H/5 Maret 2004 M
Sunnah Yang Hilang
Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani
Sesungguhnya menjaga sunnah yang telah diwariskan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemuliaan yang tiada tara disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.
Terlebih lagi, jika dituntut untuk merealisasikannya dimasa akhir zaman. Yaitu pada masa dimana hawa nafsu terus diumbar, fatamorgana kesenangan dunia selalu diprioritaskan, sifat pelit telah menjadi panutan, dan setiap orang yang memiliki rasio merasa bangga dengan pikirannya.
Inilah waktu yang kebanyakan manusia tidak lagi menghiraukan ajaran sunnah. Kelangkaan mengamalkan sunnah sudah menjadi tradisi yang mengakar ditengah-tengah kehidupan manusia pada umumnya. Sedangkan berkomitmen dengan sunnah laksana menggenggam bara api.
Namun bukan berarti bahwa ajaran sunnah telah lenyap secara keseluruhan dari muka bumi ini. Pejuang sunnah akan tetap eksis sampai Allah mendatangkan hari kiamat, walaupun dalam jumlah yang minoritas.
Demikianlah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jaminan yang pasti, sebagaimana dalam sabdanya,
“Senantiasa akan ada sekumpulan kecil dari umatku yang selalu tampak diatas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka, sampai datang perintah dari Allah (hari kiamat), sementara mereka masih dalam kondisi yang demikian itu”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)
Mereka yang mau membangun kembali puing-puing sunnah yang sudah runtuh dan dilupakan adalah pihak yang sangat berbahagia. Allah telah menjanjikan pahala yang cukup besar sebagai ganjaran atas perjuangan mereka.
Keberuntungan ini tergambar dalam sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut,“Hendaklah kalian memerintah kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar, sampai kalian melihat sifat pelit sudah dipeturutkan, hawa nafsu sudah diikuti, dunia sudah diprioritaskan, dan setiap orang yang memiliki rasio sudah merasa bangga dengan pikirannya, maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah urusan keumuman manusia.
Sesungguhnya dibelakang kalian terdapat hari-hari kesabaran. Saat itu kesabaran (diatas agama) laksana menggenggam bara api. Bagi yang mau mengamalkan (agama) diantara mereka (niscaya akan memperoleh) seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalnya”.Dalam sebuah riwayat: “Sang sahabat bertanya, wahai Rosulullah! Apakah (seperti) pahala lima puluh orang dari mereka? Beliau menjawab, (seperti) pahala lima puluh orang dari kalian”.
(HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan beliau menghasankannya, Ibnu Majah, An Nasai, Ibnu Hibban, serta yang selainnya, dari sahabat Abu Tsa’labah Al Khusyani. Lihat “Al Qobidhuna ‘Alal Jamr” karya Salim Al Hilali, hal 11-dst)
Sunday, October 18, 2009
Apa Itu ManhaJ sALAf??
Alhamdulillah..selesai sudah dauroh di Institute Al-Qayyim yang bertemakan=
Keilmuan Sebelum Berdakwah..
Saya ingin berkongsi satu berita genbira,kerana ada seorang ikhwah yang memeluk Islam setelah selesai dauroh kali ini,dan komentarnya adalah,dauroh ini memang jelas penjelasannya tentang Islam,memahami Islam bermula daripada Aqidah yang Saheeh,Ibadat yang bersih dan saheeh,akhlak yang terpuji yang bermanhajkan Salaf.
Dalam dauroh kami bermula kuliah kami dengan membincangkan soal Aqeedah..Aqeedah yang saheeh yang benar-benar ikut petunjuk Rasulullah,iaitu zaman terbaik yakni salaf.Kemudian diikuti dengan ibadat,akhlak,muamalat,dan Dakwah Salafiyyah,Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Istilah al-Quran=Kalam Allah yang diwahyukan kepada Baginda Nabi Saw dan merupakan ibadah dengan membacanya.
Dipetik daripada Manna’ al-Qattan,Mabahith fi Ulum al-Quran,(Riyadh:Maktabah al-Maarif li al-Nashar wa al-Tauzi’:cetakan 3,1421H:2000M)ms/17.
Istilah al-Sunnah=Setiap perkara yang dinisbahkan/disandarkan kepada baginda Nabi saw dari segi perkataan,perbuatan,taqrir dan sifat jasmani dan akhlaq baginda sama ada sebelum atau selepas dilantik sebagai rasul
Dipetik daripada Abu al-Laith,Prof Dr Mohd Syamsuddin,Ulum al-Hadith:Asiluha wa Mua’siruha(Kuala Lumpur:Dar al-Syakir:cetakan 4,1426H:2005M)M/S 21.
Taqrir adalah Isyarat Nabi Saw secara jelas atau tidak.Kadangkala baginda Nabi Saw tidak membantah perbuatan sahabat baginda,menggambarkan Nabi Saw tidak melarang.
al-Salaf=
1.Bahasa:terdahulu dan telah berlaku
2.Istilah:para sahabat Nabi Saw dan yang mengikuti cara mereka(Tabi’en) dan mereka yang berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah menurut cara kefahaman para Sahabat RA.
Dipetik daripada Ibn Faris,Abu al-Hussain Ahmad,Mu’jam Muqayiis al-Lughah,Tahiqiq:Abdul Salam Muhammad Harun,(Lubnan:Dar al-Fikr,1399H:1979M)j.3 m/s 95.
Dakwah kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Dakwah kepada al-Quran dan al-Sunnah adalah suatu perkara yang amat kritikal bagi umat ini menyeru kepada bukan sahaja umat Islam malah mereka yang bukan Islam untuk memahami dan beriman dengannya.
Namun,mengapa MANHAJ SALAF menjadi pilhan??Adakah manhaj lain bukannya terbaik sehingga memaksa kita memilih salaf sebagai jalan dakwah.
Manhaj Salaf adalah satu cara faham dan metodologi yang digunapakai mengikut kaedah kefahaman yang diselusuri para Ulama’ Salaf(terdahulu) dari
Para sahabat Nabi SAW,Tabi’en dan Tabi’en al-Tabi’en.Cara faham ini adalah yang berkait langsung dengan AQIDAH Islamiah dan Ibadah.Kerana dua unsur ini sahaja yang tidak bersifat fleksibel dan berubah selama mana tiada nas yang jelas membantah dan melarangnya.
Apabila terdapat sesuatu masalah dalam Fiqh,tentu sekali Ulama’ mempunyai pelbagai pendapat,pendapat yang berbeza,dan kita akan ikuti Jumhur Ulama’ dan ketepatan bernaskan Dalil al-Quran dan al-Sunnah.Maka inilah disiplin ilmu yang ada pada Manhaj Salaf,metodologi memahami sesuatu masalah,ada dalil yang kuat dan lemah.Maka disini kita seharusnya memahami mengikut ketepatan hujah dalil daripada Ulama’ yang berkefahaman Salaf.Maka,kurangnya keilmuwan dan tipisnya pengetahuan sebelum berdakwah menyebabkan kita akan terjerat didalam fitnah dan kesilapan berdakwah.
Tips dan solusi=
1)Menuntut ilmu dengan memperbanyakkan taddabur al-Quran dan kitab-kitab Hadith(Yang saheeh).
2}Membuat perbincangan tentang masalah-masalah yang ada(untuk mencari dalil dan pendapat yang kuat daripada ulama’ salaf)
3)Mengamalkan ilmu tersebut kepada diri sendiri
4)Mengajar ilmu tersebut kepada orang sekeliling kita(masyarakat).
5)Menjadi jurubicara Ummah,menterjemahkan apa itu Salaf,mengapa perlu ikut manhaj Salaf.
6)Menyelesaikan masalah ummah semaksimanya(akhlak Salaf).
Manhaj Salaf adalah Manhaj Yang sederhana dimana Manhaj ini menitik beratkan semua aspek daripada Aqidah yang saheeh,ibadat yang terbaik yang tepat dengan sunnatullah,akhlak yang mengikuti Salaf dan bermasyarakat.Inilah Kesyumulan Islam,semua aspek Islam dibncangkan,bukan menolak maslah fiqh dibelakang dengan beranggan khilaf,sebenarnya amat penting untuk membincangkan fiqh Islam untuk mendapat ketepatan dalam beribadat.
Keilmuan Sebelum Berdakwah..
Saya ingin berkongsi satu berita genbira,kerana ada seorang ikhwah yang memeluk Islam setelah selesai dauroh kali ini,dan komentarnya adalah,dauroh ini memang jelas penjelasannya tentang Islam,memahami Islam bermula daripada Aqidah yang Saheeh,Ibadat yang bersih dan saheeh,akhlak yang terpuji yang bermanhajkan Salaf.
Dalam dauroh kami bermula kuliah kami dengan membincangkan soal Aqeedah..Aqeedah yang saheeh yang benar-benar ikut petunjuk Rasulullah,iaitu zaman terbaik yakni salaf.Kemudian diikuti dengan ibadat,akhlak,muamalat,dan Dakwah Salafiyyah,Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Istilah al-Quran=Kalam Allah yang diwahyukan kepada Baginda Nabi Saw dan merupakan ibadah dengan membacanya.
Dipetik daripada Manna’ al-Qattan,Mabahith fi Ulum al-Quran,(Riyadh:Maktabah al-Maarif li al-Nashar wa al-Tauzi’:cetakan 3,1421H:2000M)ms/17.
Istilah al-Sunnah=Setiap perkara yang dinisbahkan/disandarkan kepada baginda Nabi saw dari segi perkataan,perbuatan,taqrir dan sifat jasmani dan akhlaq baginda sama ada sebelum atau selepas dilantik sebagai rasul
Dipetik daripada Abu al-Laith,Prof Dr Mohd Syamsuddin,Ulum al-Hadith:Asiluha wa Mua’siruha(Kuala Lumpur:Dar al-Syakir:cetakan 4,1426H:2005M)M/S 21.
Taqrir adalah Isyarat Nabi Saw secara jelas atau tidak.Kadangkala baginda Nabi Saw tidak membantah perbuatan sahabat baginda,menggambarkan Nabi Saw tidak melarang.
al-Salaf=
1.Bahasa:terdahulu dan telah berlaku
2.Istilah:para sahabat Nabi Saw dan yang mengikuti cara mereka(Tabi’en) dan mereka yang berpegang kepada al-Quran dan al-Sunnah menurut cara kefahaman para Sahabat RA.
Dipetik daripada Ibn Faris,Abu al-Hussain Ahmad,Mu’jam Muqayiis al-Lughah,Tahiqiq:Abdul Salam Muhammad Harun,(Lubnan:Dar al-Fikr,1399H:1979M)j.3 m/s 95.
Dakwah kepada al-Quran dan as-Sunnah.
Dakwah kepada al-Quran dan al-Sunnah adalah suatu perkara yang amat kritikal bagi umat ini menyeru kepada bukan sahaja umat Islam malah mereka yang bukan Islam untuk memahami dan beriman dengannya.
Namun,mengapa MANHAJ SALAF menjadi pilhan??Adakah manhaj lain bukannya terbaik sehingga memaksa kita memilih salaf sebagai jalan dakwah.
Manhaj Salaf adalah satu cara faham dan metodologi yang digunapakai mengikut kaedah kefahaman yang diselusuri para Ulama’ Salaf(terdahulu) dari
Para sahabat Nabi SAW,Tabi’en dan Tabi’en al-Tabi’en.Cara faham ini adalah yang berkait langsung dengan AQIDAH Islamiah dan Ibadah.Kerana dua unsur ini sahaja yang tidak bersifat fleksibel dan berubah selama mana tiada nas yang jelas membantah dan melarangnya.
Apabila terdapat sesuatu masalah dalam Fiqh,tentu sekali Ulama’ mempunyai pelbagai pendapat,pendapat yang berbeza,dan kita akan ikuti Jumhur Ulama’ dan ketepatan bernaskan Dalil al-Quran dan al-Sunnah.Maka inilah disiplin ilmu yang ada pada Manhaj Salaf,metodologi memahami sesuatu masalah,ada dalil yang kuat dan lemah.Maka disini kita seharusnya memahami mengikut ketepatan hujah dalil daripada Ulama’ yang berkefahaman Salaf.Maka,kurangnya keilmuwan dan tipisnya pengetahuan sebelum berdakwah menyebabkan kita akan terjerat didalam fitnah dan kesilapan berdakwah.
Tips dan solusi=
1)Menuntut ilmu dengan memperbanyakkan taddabur al-Quran dan kitab-kitab Hadith(Yang saheeh).
2}Membuat perbincangan tentang masalah-masalah yang ada(untuk mencari dalil dan pendapat yang kuat daripada ulama’ salaf)
3)Mengamalkan ilmu tersebut kepada diri sendiri
4)Mengajar ilmu tersebut kepada orang sekeliling kita(masyarakat).
5)Menjadi jurubicara Ummah,menterjemahkan apa itu Salaf,mengapa perlu ikut manhaj Salaf.
6)Menyelesaikan masalah ummah semaksimanya(akhlak Salaf).
Manhaj Salaf adalah Manhaj Yang sederhana dimana Manhaj ini menitik beratkan semua aspek daripada Aqidah yang saheeh,ibadat yang terbaik yang tepat dengan sunnatullah,akhlak yang mengikuti Salaf dan bermasyarakat.Inilah Kesyumulan Islam,semua aspek Islam dibncangkan,bukan menolak maslah fiqh dibelakang dengan beranggan khilaf,sebenarnya amat penting untuk membincangkan fiqh Islam untuk mendapat ketepatan dalam beribadat.
Sunday, October 11, 2009
wHERE iS gOD??
Dear Sister,I took this from www.shareIslam.com BY Yusuf Estes..i hope you read all of his articles..he is a very good in following salafees..he is (wahhabi..hehe just kidding) he is following salafees..and he is good.
Some other religions teach "God is everywhere." This is actually called "pantheism" and it is the opposite of our belief system in Islam.
Allah tells us clearly there is nothing, anywhere in the universe like Him similar to his likeness, nor is He ever in His creation.He tells us in the Quran He created the universe in six "yawm" (periods of time) and then He "astawah 'ala al Arsh" (rose up, above His Throne).
He is there (above His Throne) and will remain there until the End Times.Allah has such complete Knowledge as to be able to Know all things past, present and future in all places at exactly the same time. The same can be said for His absolute Hearing and Seeing.
In this way, His Knowledge, His Hearing, His Sight is everywhere simultaneously.In this regard, the prophet Muhammad (peace be upon him) told us He is as close to us as our jugular vein. He also explained Allah is "with us" when we are in sincere worship to Him and in times of need.
Naturally, this would not compromise His existence outside of His creation.The Quran offers us a more detailed understanding of Where (and Who) Allah is.
"Certainly your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. He brings the night as a cover over the day rapidly, and the sun, the moon, the stars subject to His Command. Surely, His is the Creation and the Commandment. Blessed be Allah, the Lord of the universe!"
[Noble Quran 7:54]
"Indeed, your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above), the Throne, disposing the affair of everything. No intercessor (can plead with Him) except by His Permission. This is Allah, your Lord, so worship Him. Won't you then remember?"
[Noble Quran 10:3]
"It is Allah who erected the heavens without pillars that you [can] see; then He Istawa (rose above) the Throne and made subject the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. He arranges [each] matter; He details the signs that you may, of the meeting with your Lord, be certain."
[Noble Quran 13:2]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. The Most Beneficent! Ask Him, as He is Al-Khabir (The All-Knower of everything).
[Noble Quran 25:59]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. You (mankind) have none, besides Him, as a Wali (protector or helper etc.) or an intercessor. Won't you then remember (accepting admonishment)?
[Noble Quran 32:4]
Some other religions teach "God is everywhere." This is actually called "pantheism" and it is the opposite of our belief system in Islam.
Allah tells us clearly there is nothing, anywhere in the universe like Him similar to his likeness, nor is He ever in His creation.He tells us in the Quran He created the universe in six "yawm" (periods of time) and then He "astawah 'ala al Arsh" (rose up, above His Throne).
He is there (above His Throne) and will remain there until the End Times.Allah has such complete Knowledge as to be able to Know all things past, present and future in all places at exactly the same time. The same can be said for His absolute Hearing and Seeing.
In this way, His Knowledge, His Hearing, His Sight is everywhere simultaneously.In this regard, the prophet Muhammad (peace be upon him) told us He is as close to us as our jugular vein. He also explained Allah is "with us" when we are in sincere worship to Him and in times of need.
Naturally, this would not compromise His existence outside of His creation.The Quran offers us a more detailed understanding of Where (and Who) Allah is.
"Certainly your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. He brings the night as a cover over the day rapidly, and the sun, the moon, the stars subject to His Command. Surely, His is the Creation and the Commandment. Blessed be Allah, the Lord of the universe!"
[Noble Quran 7:54]
"Indeed, your Lord is Allah, Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above), the Throne, disposing the affair of everything. No intercessor (can plead with Him) except by His Permission. This is Allah, your Lord, so worship Him. Won't you then remember?"
[Noble Quran 10:3]
"It is Allah who erected the heavens without pillars that you [can] see; then He Istawa (rose above) the Throne and made subject the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. He arranges [each] matter; He details the signs that you may, of the meeting with your Lord, be certain."
[Noble Quran 13:2]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. The Most Beneficent! Ask Him, as He is Al-Khabir (The All-Knower of everything).
[Noble Quran 25:59]
Who created the heavens and the earth in six yaum (days or periods of time), and then He Istawa (rose above) the Throne. You (mankind) have none, besides Him, as a Wali (protector or helper etc.) or an intercessor. Won't you then remember (accepting admonishment)?
[Noble Quran 32:4]
Saturday, October 10, 2009
Arus Perubahan
Arus tajdid(perubahan),wahai saudaraku mari kita renungi seketika..
Tidak ada siapa yang dapat menafikan sumbangan gerakan Islam dalam memberikan kesedaran umat dalam bidang-bidang yang mereka fokuskan.Sumbangan itu tidak hanya bersumberkan sebuah gerakan tertentu semata.Bahkan ia datang dari keperbagaian gerakan,organisasi mendakwa hanya mereka yang berfungsi menyedarkan umat dan penyelesai segala krisis,lantas menafikan peranan gerakan atau yang lain.
Arus tajdid berterima kasih kepada semua gerakan yang menyelusuri perjalanan mereka bermanhajkan al-Quran dan sunnah dan bersendikan kefahaman salafussoleh.Arus tajdid wajar menghargai apa yang telah mereka sumbangkan selama ini,selagimana sumbangan itu positif untuk umat.
Arus tajdid meolak sikap ekstrimis yang menganggap jemaah dan kumpulan mereka sahaja yang syar’I,manakala selain mereka secara langsung atau tidak,dianggap tertolak.Jemaah atau organisasi yang ditubuhkan hanyalah wasilah(jalan) bukan ghayah(matlamat) bagi Islam itu sendiri.Matlamat Islam lebih agung dan syumuldari sebarang jemaah atau harakah.Fikrah Islam yang tulen merentasi kesempitan jemaah.Melebar luas menyeberangi pagar sebarang organisasi.
Arus tajdid juga harus berterima kasih kepada individu-individu yang memberikan sumbangan kepada kesedaran Islam,sama ada mereka terlibat dengan mana-mana jemaah,organisasi atau tidak terlibat.Bukan syarat sah sesuatu amalan soleh atau dakwah kepada al-Kitab dan al-Sunnah seseorang mesti terlibat dengan organisasi atau jemaah tertentu.
Bahkan amalan soleh itu sah apabila memenuhi rukun dan syarat seperti yang dijelaskan oleh nas-nas Islam,iaitu aqidah yang murni,niat yang ikhlas dan menepati petunjuk al-Sunnah dalam mempraktikkan amalan tersebut.Maka dakwaan sesetengah kelompok yang menganggap sesiapa yang tidak menyertai organisasi organisasi atau jemaah dengan istilah ‘tidak masuk jemaah’ sebagai tidak berpendirian dan tidak diiktirafkan,adalah lambing suatu sikap ghulu atau melampau.
Terima kasih ini merangkumi individu atau tokoh yang berada di setiap pelosok dan penjuru,yang bergerak menyumbangkan kepada umat ini.Sama ada mereka berada di dalam organisasi kerajaan atau di luar dari daerah percaturan politik.Selagi mereka menyumbang kepada umat ini dan memperlihatkan kejujuran mereka,maka mereka berada dalam perjuangan umat.
Dakwaan yang menganggap golongan agama yang mendekati pemerintah kesemuanya mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang dan bersikap tidak adil.Walaupun ramai bersikap demikian,tapi bukan kesemuanya.Menghukum mereka secara keseluruhan bercanggahan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw terhadap Najasyi,Raja Habsyah yang menganut Islam pada zaman baginda.Baginda percaya kepada keadilannya dan menghantar para sahabat berhijrah ke negaranya.
Apabila Najasyi menganut Islam,Nabi saw tidak memerintahkan Najasyi meninggalkan kedudukannya sebagai Raja Habshah,sekalipun kerajaan yang dipimpinnya bukan kerajaan Islam dan beliau tidak berhijrah mendapatkan Rasulullah saw.Namun Rasulullah pula tidak memerintahkan hal itu kepadanya.Kedudukan Najasyi sebagai raja membolehkan dia melindungi para sahabat yang berhijrah ke negaranya dan melaksanakan keadilan dengan ruang kemampuan yang dimilikinya.
Apabila Najasyi meninggal,Rasulullah saw bersabda:
Maksudnya,
Daripada Jabir r.a Nabi saw bersabda-ketika kematian Najasyi,Telah mati pada hari ini seorang lelaki soleh.Bangunlah dan bersolatlah ke atas saudara kamu Ashamah(Nama Najashi)
Riwayat al-Bukhari,Kitab al-Manaqib,Muslim,Kitab al-Janaiz.
Baginda menyifatkan Najasyi sebagai seorang yang soleh.Baginda menyebut ungkapan ‘akhukum’(saudara kamu) yang bermaksud saudara seislam kamu.Bahkan baginda menyuruh para sahabat mengadakan solat ghaib untuk jenazah tanda persaudaraan sekalipun berjauhan.Baginda tidak mengatakan Najasyi berkepentingan,enggan menyertai gerakan Islam atau tidak berprinsip.Bahkan baginda menghargainya kerana telah zahir dari dirinya iman,keikhlasan dan keadilan sikap.
Maka kita wajar mencontohi hal ini.Sesiapa yang menyatakan pendirian menyokong usaha kembali kepada al-Quran dan sunnah seperti yang difahami oleh generasi awal Islam,kurun-kurun yang diberkati,golongan salafussoleh serta berusaha memperbaharui pendekatan al-Din dalam wajah kemodenan yang ada bertunjangkan prinsip salaf,maka kita menganggapnya berjuang bersama dengan arus tajdid ini.Sama ada dia berada dalam kerajaan atau pembangkang,sama ada dia berjemaah atau bersendirian.
Arus tajdid dengan ini menyeru dijauhi sikap ghulu atau melampaui batasan dalam beragama termasuk dalam urusan dakwah.
Firman Allah swt:
Maksudnya,
Katakanlah:Wahai ahli kitab!janganlah kamu melampau dalam agama kamu secara yang tidak benar dan janganlah kamu menurut hawa nafsu yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan banyak manusia serta (sekarang) mereka telah tersesat (jauh) dari jalan yang betul-Surah al-Maidah;77.
Dalam sebuah hadith:
Maksudnya:Daripada Ibn Abbas,katanya:Pada pagi Hari ‘Aqabah(musim haji) Rasulullah saw bersabda kepadaku ketika baginda berada di atas kenderaannya:Kutipkan untukku (batu-batu kecil untuk melontar jamrah al-Aqabah).Aku pun mengutip batu-batu kecil untuk baginda yang semuanya sebesar biji kacang.Apabila aku meletaknya ke dalam tangan baginda,baginda pun bersabda:
Ya!sebesar ini!Jauhilah kamu melampau dalam agama(al-Ghulu) kerana sesungguhnya al-Ghulu telah membinasakan mereka yang sebelum kamu.
Riwayat al-Nasaai,Ibn Majah dan Ahmad.Disahihkan oleh Ibn Khuzaimah (Sahih Ibn Khuzaimah jil:4,ms 276,Beirut:al-Maktab al-Islami).Al-Albani turut mensahihkannya dalam al-Silsilaj al-Sahuhah(jil:3,ms:278).
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah (w.728H) berkata:
Sesungguhnya agama Allah ini adalah pertengahan antara yang melampau dan yang meninggalkannya.Allah Ta’ala tidak memerintahkan hamba-hambaNya sesuatu melainkan syaitan akan mengganggunya dengan 2 cara.Syaitan tidak kisah yang mana sati dia berjaya.Iaitu sama ada secara ifrat(melampaui batasan yang sepatutnya dalam beragama) atau tafrit (cuai terhadap agama).
Justeru,Islam adalah agama Allah yang tidak boleh diambil ajarannya daripada sesiapapun selainNya.Maka syaitan menggangu kebanyakan mereka yang mengaku mengikut ajaran Islam.Sehingga syaitan berjaya mengeluarkan mereka daripada syariat.
Malah,syaitan berjaya mengeluarkan banyak puak umat ini yang terdiri daripada mereka yang kuat beribadah dan warak.Sehingga menjadikan mereka keluar daripada agama seperti mana melurunya anak panah daripada busarnya.
(Ibn Taimiyah,Majmu’at al-Fatawa,jil 2,ms:236,Riyadh:Maktabah al-‘Abikan)
Ditulis oleh Abu Talhah.
Tidak ada siapa yang dapat menafikan sumbangan gerakan Islam dalam memberikan kesedaran umat dalam bidang-bidang yang mereka fokuskan.Sumbangan itu tidak hanya bersumberkan sebuah gerakan tertentu semata.Bahkan ia datang dari keperbagaian gerakan,organisasi mendakwa hanya mereka yang berfungsi menyedarkan umat dan penyelesai segala krisis,lantas menafikan peranan gerakan atau yang lain.
Arus tajdid berterima kasih kepada semua gerakan yang menyelusuri perjalanan mereka bermanhajkan al-Quran dan sunnah dan bersendikan kefahaman salafussoleh.Arus tajdid wajar menghargai apa yang telah mereka sumbangkan selama ini,selagimana sumbangan itu positif untuk umat.
Arus tajdid meolak sikap ekstrimis yang menganggap jemaah dan kumpulan mereka sahaja yang syar’I,manakala selain mereka secara langsung atau tidak,dianggap tertolak.Jemaah atau organisasi yang ditubuhkan hanyalah wasilah(jalan) bukan ghayah(matlamat) bagi Islam itu sendiri.Matlamat Islam lebih agung dan syumuldari sebarang jemaah atau harakah.Fikrah Islam yang tulen merentasi kesempitan jemaah.Melebar luas menyeberangi pagar sebarang organisasi.
Arus tajdid juga harus berterima kasih kepada individu-individu yang memberikan sumbangan kepada kesedaran Islam,sama ada mereka terlibat dengan mana-mana jemaah,organisasi atau tidak terlibat.Bukan syarat sah sesuatu amalan soleh atau dakwah kepada al-Kitab dan al-Sunnah seseorang mesti terlibat dengan organisasi atau jemaah tertentu.
Bahkan amalan soleh itu sah apabila memenuhi rukun dan syarat seperti yang dijelaskan oleh nas-nas Islam,iaitu aqidah yang murni,niat yang ikhlas dan menepati petunjuk al-Sunnah dalam mempraktikkan amalan tersebut.Maka dakwaan sesetengah kelompok yang menganggap sesiapa yang tidak menyertai organisasi organisasi atau jemaah dengan istilah ‘tidak masuk jemaah’ sebagai tidak berpendirian dan tidak diiktirafkan,adalah lambing suatu sikap ghulu atau melampau.
Terima kasih ini merangkumi individu atau tokoh yang berada di setiap pelosok dan penjuru,yang bergerak menyumbangkan kepada umat ini.Sama ada mereka berada di dalam organisasi kerajaan atau di luar dari daerah percaturan politik.Selagi mereka menyumbang kepada umat ini dan memperlihatkan kejujuran mereka,maka mereka berada dalam perjuangan umat.
Dakwaan yang menganggap golongan agama yang mendekati pemerintah kesemuanya mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang mencari kepentingan dunia adalah dakwaan yang tidak seimbang dan bersikap tidak adil.Walaupun ramai bersikap demikian,tapi bukan kesemuanya.Menghukum mereka secara keseluruhan bercanggahan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw terhadap Najasyi,Raja Habsyah yang menganut Islam pada zaman baginda.Baginda percaya kepada keadilannya dan menghantar para sahabat berhijrah ke negaranya.
Apabila Najasyi menganut Islam,Nabi saw tidak memerintahkan Najasyi meninggalkan kedudukannya sebagai Raja Habshah,sekalipun kerajaan yang dipimpinnya bukan kerajaan Islam dan beliau tidak berhijrah mendapatkan Rasulullah saw.Namun Rasulullah pula tidak memerintahkan hal itu kepadanya.Kedudukan Najasyi sebagai raja membolehkan dia melindungi para sahabat yang berhijrah ke negaranya dan melaksanakan keadilan dengan ruang kemampuan yang dimilikinya.
Apabila Najasyi meninggal,Rasulullah saw bersabda:
Maksudnya,
Daripada Jabir r.a Nabi saw bersabda-ketika kematian Najasyi,Telah mati pada hari ini seorang lelaki soleh.Bangunlah dan bersolatlah ke atas saudara kamu Ashamah(Nama Najashi)
Riwayat al-Bukhari,Kitab al-Manaqib,Muslim,Kitab al-Janaiz.
Baginda menyifatkan Najasyi sebagai seorang yang soleh.Baginda menyebut ungkapan ‘akhukum’(saudara kamu) yang bermaksud saudara seislam kamu.Bahkan baginda menyuruh para sahabat mengadakan solat ghaib untuk jenazah tanda persaudaraan sekalipun berjauhan.Baginda tidak mengatakan Najasyi berkepentingan,enggan menyertai gerakan Islam atau tidak berprinsip.Bahkan baginda menghargainya kerana telah zahir dari dirinya iman,keikhlasan dan keadilan sikap.
Maka kita wajar mencontohi hal ini.Sesiapa yang menyatakan pendirian menyokong usaha kembali kepada al-Quran dan sunnah seperti yang difahami oleh generasi awal Islam,kurun-kurun yang diberkati,golongan salafussoleh serta berusaha memperbaharui pendekatan al-Din dalam wajah kemodenan yang ada bertunjangkan prinsip salaf,maka kita menganggapnya berjuang bersama dengan arus tajdid ini.Sama ada dia berada dalam kerajaan atau pembangkang,sama ada dia berjemaah atau bersendirian.
Arus tajdid dengan ini menyeru dijauhi sikap ghulu atau melampaui batasan dalam beragama termasuk dalam urusan dakwah.
Firman Allah swt:
Maksudnya,
Katakanlah:Wahai ahli kitab!janganlah kamu melampau dalam agama kamu secara yang tidak benar dan janganlah kamu menurut hawa nafsu yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan banyak manusia serta (sekarang) mereka telah tersesat (jauh) dari jalan yang betul-Surah al-Maidah;77.
Dalam sebuah hadith:
Maksudnya:Daripada Ibn Abbas,katanya:Pada pagi Hari ‘Aqabah(musim haji) Rasulullah saw bersabda kepadaku ketika baginda berada di atas kenderaannya:Kutipkan untukku (batu-batu kecil untuk melontar jamrah al-Aqabah).Aku pun mengutip batu-batu kecil untuk baginda yang semuanya sebesar biji kacang.Apabila aku meletaknya ke dalam tangan baginda,baginda pun bersabda:
Ya!sebesar ini!Jauhilah kamu melampau dalam agama(al-Ghulu) kerana sesungguhnya al-Ghulu telah membinasakan mereka yang sebelum kamu.
Riwayat al-Nasaai,Ibn Majah dan Ahmad.Disahihkan oleh Ibn Khuzaimah (Sahih Ibn Khuzaimah jil:4,ms 276,Beirut:al-Maktab al-Islami).Al-Albani turut mensahihkannya dalam al-Silsilaj al-Sahuhah(jil:3,ms:278).
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah (w.728H) berkata:
Sesungguhnya agama Allah ini adalah pertengahan antara yang melampau dan yang meninggalkannya.Allah Ta’ala tidak memerintahkan hamba-hambaNya sesuatu melainkan syaitan akan mengganggunya dengan 2 cara.Syaitan tidak kisah yang mana sati dia berjaya.Iaitu sama ada secara ifrat(melampaui batasan yang sepatutnya dalam beragama) atau tafrit (cuai terhadap agama).
Justeru,Islam adalah agama Allah yang tidak boleh diambil ajarannya daripada sesiapapun selainNya.Maka syaitan menggangu kebanyakan mereka yang mengaku mengikut ajaran Islam.Sehingga syaitan berjaya mengeluarkan mereka daripada syariat.
Malah,syaitan berjaya mengeluarkan banyak puak umat ini yang terdiri daripada mereka yang kuat beribadah dan warak.Sehingga menjadikan mereka keluar daripada agama seperti mana melurunya anak panah daripada busarnya.
(Ibn Taimiyah,Majmu’at al-Fatawa,jil 2,ms:236,Riyadh:Maktabah al-‘Abikan)
Ditulis oleh Abu Talhah.
Friday, October 9, 2009
Sebelah Menyebelah..
Sampainya aku di bilik, Amir sedang solat Asar,tanpa melengahkan masa aku segera mengambil wudhu’ dan terus bersedia untuk solat mengikutinya.”Allahuakbar…”aku terus bertakbir.”
Eh..apsal ko berdiri sebelah aku ni?”teriak Amir terkejut dengan tindakanku yang berdiri selari atau sebelah menyebelah denganya.Terbantut keinginanku berimam..”Ya Allah..apsal plak ni?kan dah elok-elok solat tadi.”
Ayat-ayat spontan terpacul keluar dari mulutku akibat tindakannya.“Eh, aku pulak yang salah? yang ko pergi berdiri sebelah aku tu buat apa? kan ko tu makmum, diri la belakang sikit!”Amir menyuarakan apa yang terbuku dihatinya sehingga membuatkan solatnya terbatal.
Aku hanya mampu tersenyum sinis mendengar kata-katanya. Otak aku ligat bekerja mencari jawapan yang sesuai dengan pemahamanku tentang kedudukan makmum seorang diri."Em..ko belajar makmum kene belakang sikit dari imam ker?”aku cuba bertanya walaupun tahu akan jawapannya."Ek eleh..mestilah,habis tu takkan la kedudukan imam belakang makmum?”
Jawapan Amir cuba menyindir. Aku segera cuba menjernihkan keadaan takut kalau-kalau Amir“terbakar” dengan pertanyaanku."Makmum sebelah kanan kan?”aku bertanya lagi."Yela!” Amir menjawab keras kerana soalanku yang dikira tidak relevan pada usianya. Untuk menguatkan hujahnya dia membacakan hadith yang dihafalnya sejak di sekolah menengah agama."Artinya :
Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku di sebelah kanannya....(Shahih Riwayat Bukhari I/177).
"“Pergh..mantap jugak budak Amir ni.”hatiku berbisik penuh kekaguman.” Tapi tu just dalil yang mengatakan makmum di sebelah kanan jer?”aku cuba menjauhkan perbualan.Walaupun jam telah menunjukkan tepat pukul 5.30 petang, aku berniat melewatkan sedikit solatku untuk sesuatu yang ku harapkan memberi manfaat kepada pengetahuan Amir.”Memangla makmum sebelah kanan,habis tu?”soalan Amir menunjukkan seolah-oleh beliau tidak faham akan soalanku.
“Selain dalil bahawa makmum sepatutnya berada di sebelah kanan,ada juga dalil lain yakni…Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ;
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia dirikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliaumendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud).
" Terjah Amir menguatkan hujah-hujahnya dengan hadith sahih.“Tapi kedua-dua dalil yang kau berikan ni just menceritakan bahawa kedudukan makmum di sebelah kanan,yang aku persoalkan sekarang ni ialah bagaimana dengan posisi makmum tu, sebelah menyebelah imam atau sebelah kanan dan belakang sikit,ada tak dalil?
” Aku terus menyoal membuatkan dahi Amirberkerut.Beliau seolah-olah tercabar. Soalanku seolah-olah menambah minyak petrol ke dalam api yang baru hendak marak,tetapi aku beranggapan bahawa tindakan aku seterusnya diharap mampu membuatkanAmir faham.
“Ah..dahla, nak solat ke tak ni?karang habis plak waktu.”Amir cuba berdalih.Barangkali dia tidak ketemu jawapan bagi soalanku.Amir terus bertakbir dan meneruskan niatnya untuk solat. Aku bersangka baik bahawa kemungkinan dia tidak mahu melewat-lewatkan solatnya.
Akibat berpegang teguh dengan kefahamanku, aku meneruskan“sunnah”yang dianggap pelik oleh Amir dengan solat sejajar dengannya. Barangkali solat Amir tidak khusyu’ dengan tindakanku yang dianggap pelik.Selesai solat, setelah berzikir secara sir’, aku memulakan muzakarah yang terbantut sebentar tadi, Amir seolah-olah“melarikan diri”.”Amir….”aku menyapa.Amir yang tadinya bergegas bangkit menoleh melihatku.
"Dalam hadits Jabir bin Abdullah tu, sewaktu datang Jabbar bin Shakhr lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menempatkan keduanya dibelakangnya. Ini menunjukan kedua sahabat itu tadinya berada di samping Nabi sejajar dengan beliau. Kemudian Nabishallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan mereka di belakangnya. Tidak akan dikatakan "Di belakang" kalau pada awalnya sahabat itu tidak berada sejajar dengan baginda shallallahu 'alaihi wa sallam? Apabila ma'mum dua orang atau lebih, maka barulah harus berdiri di belakang Imam”
pertanyaanku yang berbentuk ulasan membuatkan Amir melabuhkan punggungnya semula di atas hamparan sejadah.“Ha..tula,bab-bab hadith ni ko kene berguru, bukan boleh baca ikut buku jer.
”Amir cuba memperliku sambil tersenyum sinis.Aku masih cuba bertenang walaupun agak terasa dengan kata-katanya.
“Tapi dalam Al-Muwattha karangan Imam Malik diterangkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah shalat bersama Umar. Lalu IbnuMas'ud berdiri dekat di sebelah kanan Umar sejajar dengannya.Apa pendapat ko?”
Aku cuba membentang hujah.“Ha..tula ko, berguru dengan buku.sampai lupa kita tinggal kat Malaysia.kita kan mazhab Shafie.yang nak ikut sangat mazhab Maliki tu kenapa? mana boleh tukar-tukar mazhab.”
kata Amir dengan hujahnya.Aku tetap mengukir senyum dan mengangguk seolah-olah mengiakan kata-katanya.
”Seorang da’e yang bijak harus mengetahui cara bagaimana mengawal emosinya sebelum dia ingin mengawal emosi mad’unya” terngiang kata-kata ustaz di telingaku.”Inilah masanya bom atom digugurkan…huhu”bisik hatiku.
”Pernah tak ko dengar hadith Dari Ibnu Abbas, ia berkata ;"Aku pernah shalat di sisi/tepi Nabishallallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah shalat bersama kami dibelakang kami, sedang aku (berada) di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku shalat bersamanya (berjama'ah) (Shahih Riwayat Ahmad dan Nasa'i)”
“Err..tak pernah”Amir menjawab dengan muka penuh kekeliruan.Mendengar perkataan tidak pernah aku terus menyambung.”Perkataan, "Aku shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", terjemahan dari kalimat "Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
“Hadith tu guna root word “janbun”?”pertanyaan Amir menunjukkan simpulan tali makin terurai.Sebagai seorang pelajar bahasa Arab di Universiti Islam Antarabangsa semestinya beliau memahami perkataan itu seperti mana dalam kamus-kamus bahasa Arab artinya : sisi, tepi, samping, sebelah, pihak, dekat.
"A’ah.. Jika dikatakan dalam bahasa Arab "janban li janbin" maka artinya :Sebelah menyebelah, berdampingan, bahu-membahu kan?”aku cuba menyoal."Em…a’ah”jawapan Amir lambat seperti jawapan itu memakan tuannya."Em..takpelah.aku pun tak berapa tahu sangat bahasa Arab ni.
Sajer tanye.”aku cuba merendah diri dengan menyorok di belakang bidang ekonomiku.Aku meninggalkan Amir yang masih duduk di hamparan kekeliruannya itu. Cukuplah motifku untuk menimbulkan persoalan dengan hadith tersebut yang boleh difahami jelas dari segi bahasanya bahawa Ibnu Abbas ketika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berada di samping/sejajar dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keesokkanharinya,aku pulang ke bilik setelah habis kelas seperti biasa.Bilik lengang dan aku menghamparkan tubuhku di atas katil.Menghembus nafas syukur kerana hari Khamis sememangnya jadualku padat dan akhirnya dapatku lalui hari ini degan lancar.Berselimutkan keletihan sepanjanghari,maka dengan sendirinya aku terlelap.”Eh..ya Allah! Pukul berapa dah ni?”aku tersedar dari lamunan tidurku.
Jam telahpun menunjukkanpukul 6.Aku terlena lebih kurang satu jam lebih tanpa sedar."Ish..taksolat lagi ni”. Aku segera ke bilik air mengambil wudhu’.
“Allahuakbar..”aku melaungkan takbir tanpa melafazkan niat secara jahar.”Allahuakbar” tiba-tiba takbirku disambut Amir yang berada di sebelahku.Amir berdiridi sebelah kanan dan sejajar denganku menjadikannya makmum dan akusebagai imam.
"Alhamdulillah..faham gak dia apa yang aku cuba sampaikan semalam.”bisik hatiku.Selesai solat aku melihat ke arah Amir,menunggu responnya.”Ko tahu Mi,semalam pas ko tanya aku tu,aku try lah check hadith tu guna software Maktabah Syamilah,memang betul matan hadith ada"Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
Malah ada gak dalam kitab Subulus Salam, Diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha' (seorang tabi'in),"Seorang menjadi ma'mum bagi seorang, dimanakah ia (ma'mum) harus berdiri .? Jawab Atha', "Di tepinya". Ibnu Juraij bertanya lagi,"Apakah si Ma'mum itu harus dekat dengan Imam sehingga ia satu shaf dengannya, yaitu tidak ada jarak antara keduanya (ma'mum dan imam) ?"Jawab Atha'; "Ya!" Ibnu Juraij bertanya lagi, "Apakah si ma'mum tidak berdiri jauh sehingga tidak ada lowong antara mereka (ma'mum dan imam)?Jawab Atha' : "Ya".(Subulus Salam jilid 2 hal.31).
" Jawapan Amir dengan muka keyakinan."Yeke?” reaksiku dengan mimik muka terkejut bercampur bangga sekurang-kurangnya Amir tidak lagi bertaqlid dalam hal ini..Belum sempat dia menjawab, aku menambah "Maknanya…betullah apa yang aku buat semalam?" soalku dengan agak sinis.
Amir hanya mampu membisu tanda mengiakannya."Takpelah, sekurang-kurangnya lepas ni ko dah tak payah nak tepuk-tepuk bahu imam dari belakang kalau nak jadi makmum, kalau imam tu ada heart-attack,terkejut, kan payah?.” aku cuba berjenaka menjernihkan keadaan. Mendengar kata-kata ku itu, Amir tergelak hingga ternampak putih giginya.
Ibn Yusof 14 Zulhijjah 1427/ 04 January 2007 5.15 p.mibnyusof.blogspot.com
Eh..apsal ko berdiri sebelah aku ni?”teriak Amir terkejut dengan tindakanku yang berdiri selari atau sebelah menyebelah denganya.Terbantut keinginanku berimam..”Ya Allah..apsal plak ni?kan dah elok-elok solat tadi.”
Ayat-ayat spontan terpacul keluar dari mulutku akibat tindakannya.“Eh, aku pulak yang salah? yang ko pergi berdiri sebelah aku tu buat apa? kan ko tu makmum, diri la belakang sikit!”Amir menyuarakan apa yang terbuku dihatinya sehingga membuatkan solatnya terbatal.
Aku hanya mampu tersenyum sinis mendengar kata-katanya. Otak aku ligat bekerja mencari jawapan yang sesuai dengan pemahamanku tentang kedudukan makmum seorang diri."Em..ko belajar makmum kene belakang sikit dari imam ker?”aku cuba bertanya walaupun tahu akan jawapannya."Ek eleh..mestilah,habis tu takkan la kedudukan imam belakang makmum?”
Jawapan Amir cuba menyindir. Aku segera cuba menjernihkan keadaan takut kalau-kalau Amir“terbakar” dengan pertanyaanku."Makmum sebelah kanan kan?”aku bertanya lagi."Yela!” Amir menjawab keras kerana soalanku yang dikira tidak relevan pada usianya. Untuk menguatkan hujahnya dia membacakan hadith yang dihafalnya sejak di sekolah menengah agama."Artinya :
Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku di sebelah kanannya....(Shahih Riwayat Bukhari I/177).
"“Pergh..mantap jugak budak Amir ni.”hatiku berbisik penuh kekaguman.” Tapi tu just dalil yang mengatakan makmum di sebelah kanan jer?”aku cuba menjauhkan perbualan.Walaupun jam telah menunjukkan tepat pukul 5.30 petang, aku berniat melewatkan sedikit solatku untuk sesuatu yang ku harapkan memberi manfaat kepada pengetahuan Amir.”Memangla makmum sebelah kanan,habis tu?”soalan Amir menunjukkan seolah-oleh beliau tidak faham akan soalanku.
“Selain dalil bahawa makmum sepatutnya berada di sebelah kanan,ada juga dalil lain yakni…Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ;
"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia dirikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliaumendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya (Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud).
" Terjah Amir menguatkan hujah-hujahnya dengan hadith sahih.“Tapi kedua-dua dalil yang kau berikan ni just menceritakan bahawa kedudukan makmum di sebelah kanan,yang aku persoalkan sekarang ni ialah bagaimana dengan posisi makmum tu, sebelah menyebelah imam atau sebelah kanan dan belakang sikit,ada tak dalil?
” Aku terus menyoal membuatkan dahi Amirberkerut.Beliau seolah-olah tercabar. Soalanku seolah-olah menambah minyak petrol ke dalam api yang baru hendak marak,tetapi aku beranggapan bahawa tindakan aku seterusnya diharap mampu membuatkanAmir faham.
“Ah..dahla, nak solat ke tak ni?karang habis plak waktu.”Amir cuba berdalih.Barangkali dia tidak ketemu jawapan bagi soalanku.Amir terus bertakbir dan meneruskan niatnya untuk solat. Aku bersangka baik bahawa kemungkinan dia tidak mahu melewat-lewatkan solatnya.
Akibat berpegang teguh dengan kefahamanku, aku meneruskan“sunnah”yang dianggap pelik oleh Amir dengan solat sejajar dengannya. Barangkali solat Amir tidak khusyu’ dengan tindakanku yang dianggap pelik.Selesai solat, setelah berzikir secara sir’, aku memulakan muzakarah yang terbantut sebentar tadi, Amir seolah-olah“melarikan diri”.”Amir….”aku menyapa.Amir yang tadinya bergegas bangkit menoleh melihatku.
"Dalam hadits Jabir bin Abdullah tu, sewaktu datang Jabbar bin Shakhr lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menempatkan keduanya dibelakangnya. Ini menunjukan kedua sahabat itu tadinya berada di samping Nabi sejajar dengan beliau. Kemudian Nabishallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan mereka di belakangnya. Tidak akan dikatakan "Di belakang" kalau pada awalnya sahabat itu tidak berada sejajar dengan baginda shallallahu 'alaihi wa sallam? Apabila ma'mum dua orang atau lebih, maka barulah harus berdiri di belakang Imam”
pertanyaanku yang berbentuk ulasan membuatkan Amir melabuhkan punggungnya semula di atas hamparan sejadah.“Ha..tula,bab-bab hadith ni ko kene berguru, bukan boleh baca ikut buku jer.
”Amir cuba memperliku sambil tersenyum sinis.Aku masih cuba bertenang walaupun agak terasa dengan kata-katanya.
“Tapi dalam Al-Muwattha karangan Imam Malik diterangkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah shalat bersama Umar. Lalu IbnuMas'ud berdiri dekat di sebelah kanan Umar sejajar dengannya.Apa pendapat ko?”
Aku cuba membentang hujah.“Ha..tula ko, berguru dengan buku.sampai lupa kita tinggal kat Malaysia.kita kan mazhab Shafie.yang nak ikut sangat mazhab Maliki tu kenapa? mana boleh tukar-tukar mazhab.”
kata Amir dengan hujahnya.Aku tetap mengukir senyum dan mengangguk seolah-olah mengiakan kata-katanya.
”Seorang da’e yang bijak harus mengetahui cara bagaimana mengawal emosinya sebelum dia ingin mengawal emosi mad’unya” terngiang kata-kata ustaz di telingaku.”Inilah masanya bom atom digugurkan…huhu”bisik hatiku.
”Pernah tak ko dengar hadith Dari Ibnu Abbas, ia berkata ;"Aku pernah shalat di sisi/tepi Nabishallallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah shalat bersama kami dibelakang kami, sedang aku (berada) di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku shalat bersamanya (berjama'ah) (Shahih Riwayat Ahmad dan Nasa'i)”
“Err..tak pernah”Amir menjawab dengan muka penuh kekeliruan.Mendengar perkataan tidak pernah aku terus menyambung.”Perkataan, "Aku shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", terjemahan dari kalimat "Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
“Hadith tu guna root word “janbun”?”pertanyaan Amir menunjukkan simpulan tali makin terurai.Sebagai seorang pelajar bahasa Arab di Universiti Islam Antarabangsa semestinya beliau memahami perkataan itu seperti mana dalam kamus-kamus bahasa Arab artinya : sisi, tepi, samping, sebelah, pihak, dekat.
"A’ah.. Jika dikatakan dalam bahasa Arab "janban li janbin" maka artinya :Sebelah menyebelah, berdampingan, bahu-membahu kan?”aku cuba menyoal."Em…a’ah”jawapan Amir lambat seperti jawapan itu memakan tuannya."Em..takpelah.aku pun tak berapa tahu sangat bahasa Arab ni.
Sajer tanye.”aku cuba merendah diri dengan menyorok di belakang bidang ekonomiku.Aku meninggalkan Amir yang masih duduk di hamparan kekeliruannya itu. Cukuplah motifku untuk menimbulkan persoalan dengan hadith tersebut yang boleh difahami jelas dari segi bahasanya bahawa Ibnu Abbas ketika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berada di samping/sejajar dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keesokkanharinya,aku pulang ke bilik setelah habis kelas seperti biasa.Bilik lengang dan aku menghamparkan tubuhku di atas katil.Menghembus nafas syukur kerana hari Khamis sememangnya jadualku padat dan akhirnya dapatku lalui hari ini degan lancar.Berselimutkan keletihan sepanjanghari,maka dengan sendirinya aku terlelap.”Eh..ya Allah! Pukul berapa dah ni?”aku tersedar dari lamunan tidurku.
Jam telahpun menunjukkanpukul 6.Aku terlena lebih kurang satu jam lebih tanpa sedar."Ish..taksolat lagi ni”. Aku segera ke bilik air mengambil wudhu’.
“Allahuakbar..”aku melaungkan takbir tanpa melafazkan niat secara jahar.”Allahuakbar” tiba-tiba takbirku disambut Amir yang berada di sebelahku.Amir berdiridi sebelah kanan dan sejajar denganku menjadikannya makmum dan akusebagai imam.
"Alhamdulillah..faham gak dia apa yang aku cuba sampaikan semalam.”bisik hatiku.Selesai solat aku melihat ke arah Amir,menunggu responnya.”Ko tahu Mi,semalam pas ko tanya aku tu,aku try lah check hadith tu guna software Maktabah Syamilah,memang betul matan hadith ada"Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu 'alaihi wa sallam".
Malah ada gak dalam kitab Subulus Salam, Diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha' (seorang tabi'in),"Seorang menjadi ma'mum bagi seorang, dimanakah ia (ma'mum) harus berdiri .? Jawab Atha', "Di tepinya". Ibnu Juraij bertanya lagi,"Apakah si Ma'mum itu harus dekat dengan Imam sehingga ia satu shaf dengannya, yaitu tidak ada jarak antara keduanya (ma'mum dan imam) ?"Jawab Atha'; "Ya!" Ibnu Juraij bertanya lagi, "Apakah si ma'mum tidak berdiri jauh sehingga tidak ada lowong antara mereka (ma'mum dan imam)?Jawab Atha' : "Ya".(Subulus Salam jilid 2 hal.31).
" Jawapan Amir dengan muka keyakinan."Yeke?” reaksiku dengan mimik muka terkejut bercampur bangga sekurang-kurangnya Amir tidak lagi bertaqlid dalam hal ini..Belum sempat dia menjawab, aku menambah "Maknanya…betullah apa yang aku buat semalam?" soalku dengan agak sinis.
Amir hanya mampu membisu tanda mengiakannya."Takpelah, sekurang-kurangnya lepas ni ko dah tak payah nak tepuk-tepuk bahu imam dari belakang kalau nak jadi makmum, kalau imam tu ada heart-attack,terkejut, kan payah?.” aku cuba berjenaka menjernihkan keadaan. Mendengar kata-kata ku itu, Amir tergelak hingga ternampak putih giginya.
Ibn Yusof 14 Zulhijjah 1427/ 04 January 2007 5.15 p.mibnyusof.blogspot.com
Monday, October 5, 2009
Doa Jahar atau Israr?
Prof Madya Dr Ahmad Farouk Musa
Firman Allah:“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selainAllah yang mensyariatkan kepada mereka agama yangtidak diizinkan oleh Allah?” [42:21]
Sabda arRasul:“Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklahkalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’arRasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglahdengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilahkamu perkara yang diada-adakan (dalam agama) keranasetiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiapbid’ah adalah sesat”
[Riwayat Abu Dawud dan at-Tarmizi. Kata at-Tarmizi:Hadith ini hasan sahih. Diriwayatkan juga oleh IbnuHibban dan al-Hakim di dalam al Mustadrak denganmengatakan hadith ini sahih. Hal ini dipersetujui olehaz-Zahabi di dalam Tahqiq al-Mustadrak 1/288]
Marilah kita melihat secara adil dan saksama tentangpermasalahan berzikir secara jahar (kuat) yang dilakukan secara berjamaah sepertimana yang telahdinukilkan daripada hadith yang diriwayatkan oleh IbnuAbbas.
Apa yang jelas, penulis (Dr Asmadi Mohamed Naim, bekas tenaga penggerak al-Arqam) telah cuba untuk membela perbuatan yang diamalkan oleh jama’ah yang pernah beliau anuti dan juga yang dilakukan olehramai umat Islam di Malaysia ini yang mengkhatamkan solat dengan berzikir dan berdo’a beramai-ramai.
Penulis telah dengan sengaja melakukan jenayah ilmiah,dengan melupakan perbicaraan upacara berdo’a setiap habis solat yang mengiringi zikir tersebut. Sedangkan perbuatan tersebut dilakukan secara beriringan.
Tujuannya tidak lain melainkan untuk -Sunnah yang sebenarnya. Di zaman siber ini, manusia tidak dapat bersembunyi disebalik jubah atau serban,celak atau janggut, mahupun ijazah Azhar atau Jordan,kerana setiap rujukan yang dikemukakan boleh diperiksa kesohihannya. Penulis beranggapan bahawa sekiranya beliau dapat mendatangkan hadith Ibnu Abbas tersebut,maka tiada yang akan mempersoalkan tentang upacara berdo’a beramai-ramai dan menganggap bahawa perbuatan tersebut juga sebahagian daripada as-Sunnah.
Ketika mengulas hadith Ibnu Abbas tersebut, yakni"Meninggikan suara berzikir selepas orang ramai selesai daripada solat fardu sudah pun berlaku pada zaman Nabi";
al-Imam asy-Syafie berkata: “Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir setelah selesai solat. Hendaklah mereka mengisrarkan(memperlahankan) zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya, maka ketika itu dijaharkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka sesudah itu hendaklah ia israrkan.
[Mausu’ at al-Imam asy-Syafie: al-Umm, jilid 1ms353]Adapun hadith Ibnu Abbas tersebut, Imam asy-Syafiemenjelaskan: “Aku berpendapat Baginda menjaharkan zikir hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajari daripada Baginda. Hal ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir.
(Maksud Imam asy-Syafie ialah apa yang beliau tulis dalam al-Umm tersebut dalam bab kalam al-Imam wajulusihi ba’dassalam yang mana beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang menunjukkan Baginda tidak menjaharkan suara ketika zikir sesudah solat.) Kadangkala riwayat menyebut Baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut Baginda pergi tanpa zikir.
Ummu Salamah pula menyebut duduknya Baginda (sesudah solat) tetapi tidak menyebut Baginda berzikir secara jahar. Aku berpendapat Baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara sirr (perlahan).”Maksud al-Imam asy-Syafie di sini ialah hadith riwayat Ummu Salamah : “Adalah Rasulullah apabila telah memberi salam, bangunlah para wanita dikala Nabi selesai memberi salam itu.
Sedang Nabi duduk sejenak ditempatnya sebelum berdiri. Kami berfikir; Nabi berbuat demikian untuk memberi kesempatan kepada wanita keluar lebih dahulu agar tidak berdesakan dengan para lelaki.” [Riwayat Ahmad dan Bukhari; al-Muntaqa 1:473]
Selanjutnya al-Imam asy-Syafie berkata: “Jika seseorang berkata: Seperti apa? (yakni apakah contoh yang Baginda lakukan hanya seketika kemudian setelah orang ramai mempelajarinya, Baginda tinggalkan)
Akukatakan: Sepertimana Baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana Baginda berdiri dan ruku’ diatasnya, kemudian Baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, Baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat, Baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat Baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (di dalam solat), ruku’ dan bangun daripada sujud. Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.”Sambungnya lagi: “Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika sehingga kaum wanita pergi.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian Imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum daripada itu, atau duduk lebih lama daripada itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”Demikianlah huraian Imam asy-Syafie berhubung hadithIbnu Abbas tersebut.
Apa yang jelas Imam asy-Syafie yang dikenali sebagai ‘nasirus-sunnah’ tidak pernah menyebutkan bahawa Nabi dan para sahabatnya berkekalan berbuat sedemikian yakni menjaharkan zikir sesudah solat sepertimana yang dilakukan oleh umat Islam yang mengaku bermazhab Syafie di negara kita ini. Sekiranya para sahabat yang terdahulu senantiasa menjaharkan zikir sesudah solat, sudah tentulah telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dan berlaku ijma’ para sahabat dalam hal yang sedemikian itu. Akan tetapi kita tidakmenjumpai perkara yang sedemikan rupa.
Jelaslah sudah bahawa perbuatan menjaharkan zikir beramai-ramai menyanggahi apa yang telah di fatwakan oleh Imam asy-Syafie sendiri dan apa yang diwarisi daripada as-sunnah. Mereka memandang sunnah perbuatan yang sedemikian itu sehingga mereka merasakan orang yang meninggalkan perkara tersebut seakan-akan telah meninggalkan sunnah ar-Rasul.
Selanjutnya al-Baihaqi dan selainnya berhujjah untukmengisrarkan zikir sesudah solat dengan hadith AbuMusa al-Asya’ari ujarnya: “ Kami telah menyertai Nabidi dalam satu perjalanan. Kami apabila turun ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir sehingga bergema suara kami.
Maka Nabi bersabda: Wahai manusia,berlemah-lembutlah kamu terhadap dirimu, kerana kamu bukan menyeru kepada Dia yang pekak dan bukan pula menyeru kepada Dia yang jauh, tetapi Dia yang senantiasa dekat dengan dirimu”Apa yang lebih jelek ialah mereka mengadakan suatu bid’ah yang tidak dikenali diz aman Rasulullah dan para sahabatnya iaitu berterus-terusan berdo’a beramai-ramai sesudah solat.
Manakah nas daripada as-sunnah yang dapat menjadi dalil bagi perbuatan yang sedemikian ini? Bukankah perbuatan berzikir dan berdoa beramai-ramai sesudah solat ini dilakukan serentak?Mengapakan perbincangan tentang perkara ini sengaja dilupakan?
Adakah kerana tidak ada satu nas pun daripada as-sunnah yang boleh di kemukakan untuk menjadi dalil, lantas merasa cukup untuk membawa nas yang mengizinkan menjaharkan zikir dengan harapan manusia akan terpedaya dan menganggap perbuatan ini juga sebahagian daripada as-sunnah?
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam hal ini: “Tidaklah ada khilaf tentang kesunnatan adanya zikir sesudah solat,bagi imam, bagi makmum, dan bagi yang bersolat bersendirian. Masing-masing berzikir sendiri-sendiri.Adat yang diadakan manusia, iaitu imam menentukan doa buat solat subuh dan asar, tiada berasal sama sekali.Berjabat tangan sesudah solat subuh dan asar adalah suatu bid’ah” [al-Majmu’ III: 484,492]
Berkata al-Imam Ibnul Qayyim: “Imam berdoa sesudah salam daripada solat sambil menghadap qiblat, atau menghadap makmum tidak pernah dikerjakan Nabi, yang senantiasa bertindak sebagai imam, dan tidak ada pula riwayat yang menyuruh kita mengerjakan yang sedemikian itu.” [Zadul Ma’ad I:93]
Berkata pula al-Ustaz Ali Mahfuz di dalam al-Ibda’: “Nabi tidak pernah duduk sambil menghadap makmum untuk membaca doa sesudah solat dengan suara yang keras serta terus menerus melakukan yang sedemikian itu.
Lantaran itu, orang awam menyangka bahawa begitulah seharusnya mengkhatamkan solat, padahal yang disukai ialah berdoa secara sendiri-sendiri. Dan mengapa harus kita mengeraskan suara waktu berdoa, padahal Allah telah berfirman:
Serulah Tuhanmu dengan tadarru’ dan khufyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [7:55]
Tadarru’ ialah berlaku khusyu’, tenang, dan merasa rendah diri berhadapan dengan Allah. Khufyah ialah menyebut sesuatu dengan menghaluskan suara.” [al Ibda’: 272-273]
Hadith Nabi yang memberi amaran kepada pengamal dan pembuat bid’ah sangat banyak jumlahnya. Cukuplah sekiranya kami mendatangkan satu athar untuk membuktikan betapa prihatinnya para sahabat Nabi dalam perkara yang berhubung dengan ibadah ini.
Mereka senantiasa mengingkari sesuatu ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi walaupun dipandang baik oleh mata manusia.
Daripada ‘Amr bin Salamah (murid kepada Abdullah bin Mas’ud) katanya:
Suatu ketika kami ke pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum solat subuh.Apabila beliau keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musaal-Asy’ari lalu bertanya: Apakah Abu Abdul Rahman(gelaran Abdullah bin Mas’ud) telah keluar kepadakamu?
Kami jawab: Tidak. Maka beliau duduk bersama kami sehingga Abdullah bin Mas’ud keluar. Apabila beliau keluar, kami semua bangun kepadanya.Lalu Abu Musa al-Asy’ari berkata: Wahai Abu AbdulRahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak melihat,alhamdulillah, melainkan ianya baik. Beliau bertanya:Apakah dia? Kata Abu Musa: Jika umur kamu panjang kamu akan melihatnya.
Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan menunggu solat. Bagi setiap lingkungan ada seorang lelaki (ketua), sementara ditangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata: Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali,merekapun bertahlil. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih.
Tanya Abdullah binMas’ud: Apa yang telah kamu katakan kepada mereka.Jawabnya: Aku tidak berkata apa-apapun kerana menanti pandangan dan perintahmu.”Berkata Abdullah bin Mas’ud: Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa-dosa mereka dan memberi jaminan pahala mereka tidak akan hilang sedikitpun?Lalu beliau berjalan dan kamipun berjalan bersama.
Sehinggalah beliau tiba di salah satu lingkungan tersebut. Beliau berdiri lantas berkata: Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini? Jawab mereka: Wahai Abu Abdul Rahman, batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih.
Jawab beliau: Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju Baginda belum lagi buruk, bekas makanan dan minuman Baginda belum lagi pecah. Demi jiwaku yang berada ditanganNya, apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad,atau kamu semua pembuka pintu kesesatan.
Jawab mereka: Demi Allah wahai Abu Abdul Rahman, kami hanya bertujuan baik. Jawab beliau: Betapa ramai yang bertujuan baik tetapi tidak menepatinya. Sesungguhnya Rasulullah telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Qur’an namun tidak lebih daripada kerongkong mereka. Demi Allah, aku tidak tahu,barangkali kebanyakan mereka daripada kalangan kamu.Kemudian beliau pergi.Berkata ‘Amr bin Salamah: Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan. [Riwayat ad-Darimi di dalam Musnadnya dengansanad yang dinilai sahih oleh al-Albani di dalamSilsilah al-Ahadith as-Sohihah V:11]
Lihatlah betapa Abdullah bin Mas’ud membantah perbuatan ibadah berzikir beramai-ramai yang diamalkan kumpulan tersebut walaupun mereka pada asalnya memiliki niat dan pandangan yang baik. Pada zahirnya tiada yang buruk pada perbuatan mereka. Namun kerana ia merupakan ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi, maka ia ditolak. Bahkan Abdullah bin Mas’ud memberi amaran betapa perbuatan bid’ah yang kecil akan mengheret seseorang kepada bid’ah yang lebih besar.
Akhir kata perhatikanlah apa yang telah disebut olehSyeikh Yusuf al-Qaradawi: “Hendaklah seorang Muslim dalam ibadahnya mengikut batasan yang ditentukan untuknya. Tidak mencukupi hanya sekadar bertujuan untuk keredaan Allah semata. Bahkan hendaklah ibadah itu dilakukan dalam bentuk yang disyari’atkan Allah dengan kaifiyyat (tatacara) yang diredaiNya.
Janganlah ibadah seorang Muslim itu berdasarkan apa yang direka oleh manusia berdasarkan hawa nafsu dan sangkaan.”
Selanjutnya beliau berkata: “Tidak boleh sesiapa pun daripada imam-imam kaum muslimin betapa tinggi sekalipun darjat ilmunya, demikian juga tidak boleh mana-mana badan ilmu sekalipun hebat kedudukannya,demikian juga bagi mana-mana institusi ilmu, atau golongan daripada kaum muslimin samada kecil atau besar, untuk mencipta ibadah yang baru dalam agama Allah atau menokok-nambah ibadah yang ada dalam agama atau mengubah cara yang dilakukan pada . Hal ini memandangkan pembuat syari’at hanyalah Allah manakala ar-Rasul adalah penyampainya,sedangkan kita hanyalah pengikutnya.
Segala kebaikan itu dalam al-ittiba’ (mengikut apa yang ditentukanAllah dan rasulNya). [Al-Ibadah fil-Islam: 165-167]
Firman Allah:“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selainAllah yang mensyariatkan kepada mereka agama yangtidak diizinkan oleh Allah?” [42:21]
Sabda arRasul:“Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklahkalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’arRasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglahdengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilahkamu perkara yang diada-adakan (dalam agama) keranasetiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiapbid’ah adalah sesat”
[Riwayat Abu Dawud dan at-Tarmizi. Kata at-Tarmizi:Hadith ini hasan sahih. Diriwayatkan juga oleh IbnuHibban dan al-Hakim di dalam al Mustadrak denganmengatakan hadith ini sahih. Hal ini dipersetujui olehaz-Zahabi di dalam Tahqiq al-Mustadrak 1/288]
Marilah kita melihat secara adil dan saksama tentangpermasalahan berzikir secara jahar (kuat) yang dilakukan secara berjamaah sepertimana yang telahdinukilkan daripada hadith yang diriwayatkan oleh IbnuAbbas.
Apa yang jelas, penulis (Dr Asmadi Mohamed Naim, bekas tenaga penggerak al-Arqam) telah cuba untuk membela perbuatan yang diamalkan oleh jama’ah yang pernah beliau anuti dan juga yang dilakukan olehramai umat Islam di Malaysia ini yang mengkhatamkan solat dengan berzikir dan berdo’a beramai-ramai.
Penulis telah dengan sengaja melakukan jenayah ilmiah,dengan melupakan perbicaraan upacara berdo’a setiap habis solat yang mengiringi zikir tersebut. Sedangkan perbuatan tersebut dilakukan secara beriringan.
Tujuannya tidak lain melainkan untuk -Sunnah yang sebenarnya. Di zaman siber ini, manusia tidak dapat bersembunyi disebalik jubah atau serban,celak atau janggut, mahupun ijazah Azhar atau Jordan,kerana setiap rujukan yang dikemukakan boleh diperiksa kesohihannya. Penulis beranggapan bahawa sekiranya beliau dapat mendatangkan hadith Ibnu Abbas tersebut,maka tiada yang akan mempersoalkan tentang upacara berdo’a beramai-ramai dan menganggap bahawa perbuatan tersebut juga sebahagian daripada as-Sunnah.
Ketika mengulas hadith Ibnu Abbas tersebut, yakni"Meninggikan suara berzikir selepas orang ramai selesai daripada solat fardu sudah pun berlaku pada zaman Nabi";
al-Imam asy-Syafie berkata: “Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir setelah selesai solat. Hendaklah mereka mengisrarkan(memperlahankan) zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya, maka ketika itu dijaharkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka sesudah itu hendaklah ia israrkan.
[Mausu’ at al-Imam asy-Syafie: al-Umm, jilid 1ms353]Adapun hadith Ibnu Abbas tersebut, Imam asy-Syafiemenjelaskan: “Aku berpendapat Baginda menjaharkan zikir hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajari daripada Baginda. Hal ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir.
(Maksud Imam asy-Syafie ialah apa yang beliau tulis dalam al-Umm tersebut dalam bab kalam al-Imam wajulusihi ba’dassalam yang mana beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang menunjukkan Baginda tidak menjaharkan suara ketika zikir sesudah solat.) Kadangkala riwayat menyebut Baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut Baginda pergi tanpa zikir.
Ummu Salamah pula menyebut duduknya Baginda (sesudah solat) tetapi tidak menyebut Baginda berzikir secara jahar. Aku berpendapat Baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara sirr (perlahan).”Maksud al-Imam asy-Syafie di sini ialah hadith riwayat Ummu Salamah : “Adalah Rasulullah apabila telah memberi salam, bangunlah para wanita dikala Nabi selesai memberi salam itu.
Sedang Nabi duduk sejenak ditempatnya sebelum berdiri. Kami berfikir; Nabi berbuat demikian untuk memberi kesempatan kepada wanita keluar lebih dahulu agar tidak berdesakan dengan para lelaki.” [Riwayat Ahmad dan Bukhari; al-Muntaqa 1:473]
Selanjutnya al-Imam asy-Syafie berkata: “Jika seseorang berkata: Seperti apa? (yakni apakah contoh yang Baginda lakukan hanya seketika kemudian setelah orang ramai mempelajarinya, Baginda tinggalkan)
Akukatakan: Sepertimana Baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana Baginda berdiri dan ruku’ diatasnya, kemudian Baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, Baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat, Baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat Baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (di dalam solat), ruku’ dan bangun daripada sujud. Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.”Sambungnya lagi: “Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika sehingga kaum wanita pergi.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian Imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum daripada itu, atau duduk lebih lama daripada itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”Demikianlah huraian Imam asy-Syafie berhubung hadithIbnu Abbas tersebut.
Apa yang jelas Imam asy-Syafie yang dikenali sebagai ‘nasirus-sunnah’ tidak pernah menyebutkan bahawa Nabi dan para sahabatnya berkekalan berbuat sedemikian yakni menjaharkan zikir sesudah solat sepertimana yang dilakukan oleh umat Islam yang mengaku bermazhab Syafie di negara kita ini. Sekiranya para sahabat yang terdahulu senantiasa menjaharkan zikir sesudah solat, sudah tentulah telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dan berlaku ijma’ para sahabat dalam hal yang sedemikian itu. Akan tetapi kita tidakmenjumpai perkara yang sedemikan rupa.
Jelaslah sudah bahawa perbuatan menjaharkan zikir beramai-ramai menyanggahi apa yang telah di fatwakan oleh Imam asy-Syafie sendiri dan apa yang diwarisi daripada as-sunnah. Mereka memandang sunnah perbuatan yang sedemikian itu sehingga mereka merasakan orang yang meninggalkan perkara tersebut seakan-akan telah meninggalkan sunnah ar-Rasul.
Selanjutnya al-Baihaqi dan selainnya berhujjah untukmengisrarkan zikir sesudah solat dengan hadith AbuMusa al-Asya’ari ujarnya: “ Kami telah menyertai Nabidi dalam satu perjalanan. Kami apabila turun ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir sehingga bergema suara kami.
Maka Nabi bersabda: Wahai manusia,berlemah-lembutlah kamu terhadap dirimu, kerana kamu bukan menyeru kepada Dia yang pekak dan bukan pula menyeru kepada Dia yang jauh, tetapi Dia yang senantiasa dekat dengan dirimu”Apa yang lebih jelek ialah mereka mengadakan suatu bid’ah yang tidak dikenali diz aman Rasulullah dan para sahabatnya iaitu berterus-terusan berdo’a beramai-ramai sesudah solat.
Manakah nas daripada as-sunnah yang dapat menjadi dalil bagi perbuatan yang sedemikian ini? Bukankah perbuatan berzikir dan berdoa beramai-ramai sesudah solat ini dilakukan serentak?Mengapakan perbincangan tentang perkara ini sengaja dilupakan?
Adakah kerana tidak ada satu nas pun daripada as-sunnah yang boleh di kemukakan untuk menjadi dalil, lantas merasa cukup untuk membawa nas yang mengizinkan menjaharkan zikir dengan harapan manusia akan terpedaya dan menganggap perbuatan ini juga sebahagian daripada as-sunnah?
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam hal ini: “Tidaklah ada khilaf tentang kesunnatan adanya zikir sesudah solat,bagi imam, bagi makmum, dan bagi yang bersolat bersendirian. Masing-masing berzikir sendiri-sendiri.Adat yang diadakan manusia, iaitu imam menentukan doa buat solat subuh dan asar, tiada berasal sama sekali.Berjabat tangan sesudah solat subuh dan asar adalah suatu bid’ah” [al-Majmu’ III: 484,492]
Berkata al-Imam Ibnul Qayyim: “Imam berdoa sesudah salam daripada solat sambil menghadap qiblat, atau menghadap makmum tidak pernah dikerjakan Nabi, yang senantiasa bertindak sebagai imam, dan tidak ada pula riwayat yang menyuruh kita mengerjakan yang sedemikian itu.” [Zadul Ma’ad I:93]
Berkata pula al-Ustaz Ali Mahfuz di dalam al-Ibda’: “Nabi tidak pernah duduk sambil menghadap makmum untuk membaca doa sesudah solat dengan suara yang keras serta terus menerus melakukan yang sedemikian itu.
Lantaran itu, orang awam menyangka bahawa begitulah seharusnya mengkhatamkan solat, padahal yang disukai ialah berdoa secara sendiri-sendiri. Dan mengapa harus kita mengeraskan suara waktu berdoa, padahal Allah telah berfirman:
Serulah Tuhanmu dengan tadarru’ dan khufyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [7:55]
Tadarru’ ialah berlaku khusyu’, tenang, dan merasa rendah diri berhadapan dengan Allah. Khufyah ialah menyebut sesuatu dengan menghaluskan suara.” [al Ibda’: 272-273]
Hadith Nabi yang memberi amaran kepada pengamal dan pembuat bid’ah sangat banyak jumlahnya. Cukuplah sekiranya kami mendatangkan satu athar untuk membuktikan betapa prihatinnya para sahabat Nabi dalam perkara yang berhubung dengan ibadah ini.
Mereka senantiasa mengingkari sesuatu ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi walaupun dipandang baik oleh mata manusia.
Daripada ‘Amr bin Salamah (murid kepada Abdullah bin Mas’ud) katanya:
Suatu ketika kami ke pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum solat subuh.Apabila beliau keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musaal-Asy’ari lalu bertanya: Apakah Abu Abdul Rahman(gelaran Abdullah bin Mas’ud) telah keluar kepadakamu?
Kami jawab: Tidak. Maka beliau duduk bersama kami sehingga Abdullah bin Mas’ud keluar. Apabila beliau keluar, kami semua bangun kepadanya.Lalu Abu Musa al-Asy’ari berkata: Wahai Abu AbdulRahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak melihat,alhamdulillah, melainkan ianya baik. Beliau bertanya:Apakah dia? Kata Abu Musa: Jika umur kamu panjang kamu akan melihatnya.
Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan menunggu solat. Bagi setiap lingkungan ada seorang lelaki (ketua), sementara ditangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata: Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali,merekapun bertahlil. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih.
Tanya Abdullah binMas’ud: Apa yang telah kamu katakan kepada mereka.Jawabnya: Aku tidak berkata apa-apapun kerana menanti pandangan dan perintahmu.”Berkata Abdullah bin Mas’ud: Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa-dosa mereka dan memberi jaminan pahala mereka tidak akan hilang sedikitpun?Lalu beliau berjalan dan kamipun berjalan bersama.
Sehinggalah beliau tiba di salah satu lingkungan tersebut. Beliau berdiri lantas berkata: Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini? Jawab mereka: Wahai Abu Abdul Rahman, batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih.
Jawab beliau: Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju Baginda belum lagi buruk, bekas makanan dan minuman Baginda belum lagi pecah. Demi jiwaku yang berada ditanganNya, apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad,atau kamu semua pembuka pintu kesesatan.
Jawab mereka: Demi Allah wahai Abu Abdul Rahman, kami hanya bertujuan baik. Jawab beliau: Betapa ramai yang bertujuan baik tetapi tidak menepatinya. Sesungguhnya Rasulullah telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Qur’an namun tidak lebih daripada kerongkong mereka. Demi Allah, aku tidak tahu,barangkali kebanyakan mereka daripada kalangan kamu.Kemudian beliau pergi.Berkata ‘Amr bin Salamah: Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan. [Riwayat ad-Darimi di dalam Musnadnya dengansanad yang dinilai sahih oleh al-Albani di dalamSilsilah al-Ahadith as-Sohihah V:11]
Lihatlah betapa Abdullah bin Mas’ud membantah perbuatan ibadah berzikir beramai-ramai yang diamalkan kumpulan tersebut walaupun mereka pada asalnya memiliki niat dan pandangan yang baik. Pada zahirnya tiada yang buruk pada perbuatan mereka. Namun kerana ia merupakan ibadah yang tidak ada contoh daripada Nabi, maka ia ditolak. Bahkan Abdullah bin Mas’ud memberi amaran betapa perbuatan bid’ah yang kecil akan mengheret seseorang kepada bid’ah yang lebih besar.
Akhir kata perhatikanlah apa yang telah disebut olehSyeikh Yusuf al-Qaradawi: “Hendaklah seorang Muslim dalam ibadahnya mengikut batasan yang ditentukan untuknya. Tidak mencukupi hanya sekadar bertujuan untuk keredaan Allah semata. Bahkan hendaklah ibadah itu dilakukan dalam bentuk yang disyari’atkan Allah dengan kaifiyyat (tatacara) yang diredaiNya.
Janganlah ibadah seorang Muslim itu berdasarkan apa yang direka oleh manusia berdasarkan hawa nafsu dan sangkaan.”
Selanjutnya beliau berkata: “Tidak boleh sesiapa pun daripada imam-imam kaum muslimin betapa tinggi sekalipun darjat ilmunya, demikian juga tidak boleh mana-mana badan ilmu sekalipun hebat kedudukannya,demikian juga bagi mana-mana institusi ilmu, atau golongan daripada kaum muslimin samada kecil atau besar, untuk mencipta ibadah yang baru dalam agama Allah atau menokok-nambah ibadah yang ada dalam agama atau mengubah cara yang dilakukan pada . Hal ini memandangkan pembuat syari’at hanyalah Allah manakala ar-Rasul adalah penyampainya,sedangkan kita hanyalah pengikutnya.
Segala kebaikan itu dalam al-ittiba’ (mengikut apa yang ditentukanAllah dan rasulNya). [Al-Ibadah fil-Islam: 165-167]
Subscribe to:
Posts (Atom)