Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Mewajibkan (1)
Pembahasan ini diambil dari rubrik tanya jawab majalah As Sunnah dan kami mendapatkan naskah ini dari kumpulan artikel Ustadz Kholid Syamhudi jazaahullahu khairan. Untuk memudahkan dalam pembacaan, pembahasan ini akan kami bagi menjadi 5 bagian yaitu dalil para ulama yang mewajibkan (2 bagian), dalil para ulama yang mengatakan tidak wajib (2 bagian) dan kesimpulan (1 bagian). Kami sarankan pada pembaca untuk menyimak dengan seksama dalil-dalil yang dipaparkan dalam artikel ini. Selamat membaca…
Pertanyaan:
Apakah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita, wajib atau tidak?
Jawaban:
Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Allah- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.
Dalil yang Mewajibkan
Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.
Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)
Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)
Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.
Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)
Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)
Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Kelima, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)
Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523)
Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)
Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:
وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)
Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524)
Keenam, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ
“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)
Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).
Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” (Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)
Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59),
“Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” (Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)
Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” (Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)
Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)
As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:
1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.
3. Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.
4. Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.
5. Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.
(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedelapan, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا
“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)
Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.
Kesembilan, firman Allah:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kesepuluh, firman Allah:
يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {32} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)
Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:
1. Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.
2. Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.
3. Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.
(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 39-44, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit, Darul ‘Ashimah).
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id
Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Mewajibkan (2)
Kesebelas, Ummu ‘Athiyah berkata:
أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
“Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haidh menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan kebiasaan wanita sahabat keluar rumah memakai jilbab. Dan Rasulullah tidak mengizinkan wanita keluar rumah tanpa jilbab, walaupun dalam perkara yang diperintahkan agama. Maka hal ini menjadi dalil untuk menutupi diri. (Lihat Risalah Al Hijab, hal 15, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Keduabelas, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:
كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ
“Dahulu wanita-wanita mukmin biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menutupi tubuh mereka dengan selimut. Kemudian mereka kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menutupi diri merupakan kebiasaan wanita sahabat yang merupakan teladan terbaik. Maka kita tidak boleh menyimpang dari jalan mereka itu. (Lihat Risalah Al Hijab, hal 16-17, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Ketiga belas, Perkataan ‘Aisyah: “Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita-wanita (di zaman ini) apa yang kita lihat, niscaya beliau melarang para wanita ke masjid, sebagaimana Bani Israil dahulu melarang para wanita mereka.” Diriwayatkan juga seperti ini dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu.
Dari riwayat ini diketahui bahwa setiap perkara yang mengakibatkan sesuatu yang berbahaya maka hal itu dilarang. Karena membuka wajah bagi wanita akan mengakibatkan bahaya, maka terlarang. (Lihat Risalah Al Hijab, hal 17, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Keempat belas, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ يُرْخِينَ شِبْرًا فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدْنَ عَلَيْهِ
“Barang siapa menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana para wanita membuat ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sejengka.l” Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau begitu telapak kaki mereka akan tersingkap?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sehasta, mereka tidak boleh melebihkannya.” (HR. Tirmidzi, dan lainnya)
Hadits ini menunjukkan kewajiban menutupi telapak kaki wanita, dan hal ini sudah dikenal di kalangan wanita sahabat. Sedangkan terbukanya telapak kaki wanita tidak lebih berbahaya dari pada terbukanya wajah dan tangan mereka, maka ini menunjukkan wajibnya menutupi wajah dan tangan wanita. (Lihat Risalah Al Hijab, hal 17-18, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Kelima belas, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا كَانَ عِنْدَ مُكَاتَبِ إِحْدَاكُنَّ مَا يُؤَدِّي فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ
“Jika budak mukatab (budak yang ada perjanjian dengan tuannya bahwa dia akan merdeka jika telah membayar sejumlah uang tertentu -pen) salah seorang di antara kamu (wanita) memiliki apa yang akan dia tunaikan, maka hendaklah wanita itu berhijab (menutupi diri) darinya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)
Hadits ini menunjukkan kewajiban wanita berhijab (menutupi dirinya) dari laki-laki asing (bukan mahram). (Lihat Risalah Al Hijab, hal 18, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Keenam belas, ‘Aisyah berkata:
كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ
“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Wanita yang ihram dilarang memakai penutup wajah dan kaos tangan sebagaimana disebutkan di dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Sehingga kebanyakan ulama berpendapat, wanita yang ihram wajib membuka wajah dan tangannya. Sedangkan yang wajib tidaklah dapat dilawan kecuali dengan yang wajib pula. Maka kalau bukan karena kewajiban menutup wajah bagi wanita, niscaya tidak boleh meninggalkan kewajiban ini (yakni membuka wajah bagi wanita yang ihram). (Lihat Risalah Al Hijab, hal 18-19, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Ketujuh belas, Asma’ binti Abi Bakar berkata: “Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisiri rambut sebelum itu di saat ihram.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)
Ini menunjukkan bahwa menutup wajah wanita sudah merupakan kebiasaan para wanita sahabat. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 68-69, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedelapan belas, ‘Aisyah berkata:
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“Mudah-mudahan Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama-tama, ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Jarir, dan lainnya)
Ibnu Hajar berkata (Fathul Bari 8/490): “Perkataan: lalu mereka berkerudung dengannya” maksudnya mereka menutupi wajah mereka.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 69, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kesembilan belas, Dari Urwah bin Zubair:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَفْلَحَ أَخَا أَبِي الْقُعَيْسِ جَاءَ يَسْتَأْذِنُ عَلَيْهَا وَهُوَ عَمُّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ بَعْدَ أَنْ نَزَلَ الْحِجَابُ فَأَبَيْتُ أَنْ آذَنَ لَهُ فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي صَنَعْتُ فَأَمَرَنِي أَنْ آذَنَ لَهُ
Dari ‘Aisyah bahwa Aflah saudara Abul Qu’eis, paman Aisyah dari penyusuan, datang minta izin untuk menemuinya setelah turun ayat hijab. ‘Aisyah berkata: “Maka aku tidak mau memberinya izin kepadanya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang maka aku memberitahukan apa yang telah aku lakukan, maka beliau memerintahkanku agar memberi izin kepadanya.” (HR. Bukhari dan lainnya)
Ibnu Hajar berkata (Fathul Bari 9/152): “Dalam hadits ini terdapat dalil kewajiban wanita menutupi diri dari laki-laki asing.”
Kedua puluh, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita adalah aurat, jika dia keluar, setan akan menjadikannya indah pada pandangan laki-laki.” (HR. Tirmidzi dan lainnya)
Kalau wanita adalah aurat, maka semuanya harus ditutupi. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 74-75, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedua puluh satu, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita.” Seorang laki-laki Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana pendapat Anda tentang saudara suami (bolehkah dia masuk menemui wanita, istri saudaranya)? Beliau menjawab: “Saudara suami adalah kematian. (Yakni: lebih berbahaya dari orang lain).” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Jika masuk menemui wanita-wanita bukan mahram tidak boleh, maka menemui mereka harus di balik tabir. Sehingga wanita wajib menutupi tubuh mereka, termasuk wajah. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 75, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedua puluh dua, Perkataan ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifki:
وَقَدْ كَانَ -صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ- يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي
“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)
Inilah kebiasaan Ummahatul mukminin, yaitu menutupi wajah, maka hukumnya meliputi wanita mukmin secara umum sebagaimana dalam masalah hijab. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 72, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedua puluh tiga, Aisyah berkata:
خَرَجَتْ سَوْدَةُ بَعْدَ مَا ضُرِبَ عَلَيْهَا الْحِجَابُ لِتَقْضِيَ حَاجَتَهَا وَكَانَتِ امْرَأَةً جَسِيمَةً تَفْرَعُ النِّسَاءَ جِسْمًا لَا تَخْفَى عَلَى مَنْ يَعْرِفُهَا فَرَآهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ يَا سَوْدَةُ وَاللَّهِ مَا تَخْفَيْنَ عَلَيْنَا فَانْظُرِي كَيْفَ تَخْرُجِينَ
“Setelah diwajibkan hijab pada Saudah, dia keluar (rumah) untuk menunaikan hajatnya, dia adalah seorang wanita yang besar (dalam riwayat lain: tinggi), tubuhnya melebihi wanita-wanita lainnya, tidak samar bagi orang yang mengenalnya. Lalu Umar melihatnya, kemudian berkata: “Hai Saudah, demi Allah engkau tidaklah tersembunyi bagi kami, perhatikanlah bagaimana engkau keluar!” (HR. Muslim)
Karena Umar mengetahui Saudah dengan tinggi dan besarnya, maka ini menunjukkan wajahnya tertutup. (Lihat Jami Ahkamin Nisa’ IV/486, karya Syaikh Mushthafa Al-Adawi).
Kedua puluh empat, terjadinya ijma’ tentang kewajiban wanita untuk selalu menetap di rumah dan tidak keluar kecuali jika ada keperluan, dan tentang wanita tidak keluar rumah dan lewat di hadapan laki-laki kecuali dengan berhijab (menutupi diri) dan menutup wajah. Ijma’ ini dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan lainnya. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 38, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Kedua puluh lima, banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh terbukanya wajah wanita. Seperti wanita akan menghiasi wajahnya sehingga mengundang berbagai kerusakan; hilangnya rasa malu dari wanita; tergodanya laki-laki; percampuran laki-laki dengan wanita; dan lain-lainnya. (Lihat Risalah Al Hijab, hal 20-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Kedua puluh enam, bantahan terhadap dalil-dalil yang membolehkan wanita membuka wajah secara ringkas:
1. Dalil-dalilnya shahih dan jelas penunjukan dalilnya. Tetapi dalil-dalil itu telah mansukh (dihapus hukumnya) dengan ayat yang mewajibkan hijab yang turun pada tahun 5 H, atau itu dilakukan oleh wanita tua yang tidak wajib berhijab, atau di hadapan anak kecil yang belum tahu aurat wanita.
2. Dalil-dalilnya shahih tetapi tidak jelas penunjukan dalilnya. Sehingga tidak kuat melawan dalil-dalil yang mewajibkan wanita menutup wajahnya. Sedangkan yang wajib adalah mengembalikan dalil-dalil mutasyabih (maknanya tidak pasti) kepada yang muhkam (maknanya pasti).
3. Dalil-dalilnya jelas penunjukan dalilnya tetapi tidak shahih, sehingga tidak dapat diterima.
(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 82-83, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).
Ringkasan Dalil-Dalil di Atas
Inilah ringkasan dalil-dalil para ulama yang mewajibkan hijab. Jika disimpulkan dalil-dalil itu, maka dapat dikelompokkan pada beberapa point:
1. Menjaga kemaluan hukumnya wajib, sedangkan menutup wajah termasuk sarana untuk menjaga kemaluan, sehingga hukumnya juga wajib.
2. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk berhijab (menutupi diri) dari laki-laki selain mahramnya. Perintah hijab ini meliputi menutup wajah.
3. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk memakai jilbab. Jilbab ini meliputi menutup wajah.
4. Perintah Allah kepada wanita untuk menutupi perhiasannya, ini mencakup menutupi wajah.
5. Ijma yang mereka nukilkan.
6. Qiyas. Yaitu kalau wanita wajib menutupi telapak kakinya, lehernya, dan lainnya karena dikhawatirkan akan menimbulkan godaan, maka menutup wajah wanita lebih wajib.
7. Kebiasaan para wanita sahabat, termasuk Ummahatul mukminin, menutupi wajah mereka.
Di Antara Ulama Zaman Ini yang Mewajibkan Cadar
Di antara para ulama zaman ini yang menguatkan pendapat ini adalah:
Syaikh Muhammad As-Sinqithi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Mushthafa Al-Adawi dan para ulama lainnya. Inilah sedikit penjelasan tentang dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar (menutup wajah) bagi wanita. Selanjutnya akan kita sampaikan dalil-dalil para ulama yang tidak mewajibkan cadar.
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id
Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Tidak Mewajibkan (3)
Pada edisi yang lalu telah kita sampaikan dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita. Sekarang -insya Allah- akan disampaikan dalil-dalil para ulama yang tidak mewajibkannya.
Dalil-Dalil yang Tidak Mewajibkan
Inilah secara ringkas dalil-dalil para ulama yang tidak mewajibkan cadar bagi wanita.
Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala,
وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nuur: 31)
Tentang perhiasan yang biasa nampak ini, Ibnu Abbas berkata, “Wajah dan telapak tangan.”
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Isma’il Al Qadhi. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 59-60, Penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah, Cet. I. Tetapi berbagai riwayat dari Ibnu Abbas tentang penafsiran ini dilemahkan oleh Syeikh Mushthafa Al Adawi dalam kitabnya Jami’ Ahkamin Nisa. Tentang hal ini terdapat riwayat-riwayat shahih dari perkataan sebagian tabi’in. Wallahu a’lam).
Perkataan serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar. (Riwayat ini dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 59-60). Berdasarkan penafsiran kedua sahabat ini jelas bahwa wajah dan telapak tangan wanita boleh kelihatan, sehingga bukan merupakan aurat yang wajib ditutup.
Kedua, firman Allah,
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Allah ta’ala memerintahkan para wanita menutupkan khimar (kerudung) pada belahan-belahan baju (dada dan lehernya), maka ini merupakan nash menutupi aurat, leher dan dada. Dalam firman Allah ini juga terdapat nash bolehnya membuka wajah, tidak mungkin selain itu.” (Al Muhalla III/216-217, Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 73).
Karena memang makna khimar (kerudung) adalah penutup kepala. Demikian diterangkan oleh para ulama, seperti tersebut dalam An Nihayah karya Imam Ibnul Atsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Al Hafizh Ibnu Katsir, Tafsir Fathu Al Qadir karya Asy Syaukani, dan lainnya. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 72-73).
Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala,
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَايَصْنَعُونَ {30} وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 30,31)
Ayat ini menunjukkan bahwa pada diri wanita ada sesuatu yang terbuka dan mungkin untuk dilihat. Sehingga Allah memerintahkan untuk menahan pandangan dari wanita. Dan yang biasa nampak itu yaitu wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 76,77). Semakna dengan ayat tersebut ialah hadits-hadits yang memerintahkan menahan pandangan dari wanita dan larangan mengulangi pandangan jika telah terlanjur memandang dengan tidak sengaja. Di antaranya,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا بُدَّ لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ إِنْ أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ
Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Janganlah kamu duduk-duduk di jalan”. Maka para Sahabat berkata, “Kami tidak dapat meninggalkannya, karena merupakan tempat kami untuk bercakap-cakap.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika kalian enggan (meninggalkan bermajelis di jalan), maka berilah hak jalan.” Sahabat bertanya, “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 1150, Muslim, Abu Dawud (4816). Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah 6/11-13)
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali radhiallahu ‘anhu,
يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau turutkan pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua), karena engkau berhak (yakni, tidak berdosa) pada pandangan (pertama), tetapi tidak berhak pada pandangan (kedua).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 77)
Jarir bin Abdullah berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرَةِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ اصْرِفْ بَصَرَكَ
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau bersabda, “Palingkan pandanganmu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya. Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 78)
Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Para ulama berkata, di sini terdapat hujjah (argumen) bahwa wanita tidak wajib menutupi wajahnya di jalan, tetapi hal itu adalah sunah yang disukai. Dan yang wajib bagi laki-laki ialah menahan pandangan dari wanita dalam segala keadaan, kecuali untuk tujuan yang syar’i (dibenarkan agama). Hal itu disebutkan oleh Muhyiddin An Nawawi, dan beliau tidak menambahinya.” (Adab Asy Syar’iyyah I/187, karya Ibnu Muflih. Lihat: Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 77).
Keempat, Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata,
أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا
Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud, Thabarani, Ibnu ‘Adi, dari jalan Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari ‘Aisyah. Ibnu ‘Adi berkata, “Terkadang Khalid mengatakan dari Ummu Salamah, sebagai ganti dari ‘Aisyah.” Sanad hadits ini lemah, sebagaimana Abu Dawud berkata setelah meriwayatkannya, “Hadits ini mursal, Khalid bin Duraik tidak bertemu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Demikian juga perawi bernama Sa’id bin Basyir lemah.”)
Hadits ini sesungguhnya lemah, tetapi Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini dikuatkan dengan beberapa penguat (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 58).
(1) Riwayat mursal shahih dari Qatadah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Jika seorang gadis kecil telah haidh, maka tidak pantas terlihat sesuatu darinya kecuali wajahnya dan tangannya sampai pergelangan.” (Tetapi kemungkinan riwayat ini sama sanadnya dengan riwayat di atas, yaitu Qatadah mendapatkan hadits ini dari Khalid bin Duraik, sehingga tidak dapat menguatkan. Wallahu a’lam).
(2) Diriwayatkan oleh Thabrani dan Al Baihaqi dari jalan Ibnu Luhai’ah, dari ‘Iyadh bin Abdullah, bahwa dia mendengar Ibrahim bin ‘Ubaid bin Rifa’ah Al Anshari menceritakan dari bapaknya, aku menyangka dari Asma’ binti ‘Umais yang berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui ‘Aisyah, dan di dekat ‘Aisyah ada saudarinya, yaitu Asma bintu Abi Bakar. Asma memakai pakaian buatan Syam yang longgar lengan bajunya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau bangkit lalu keluar.
Maka ‘Aisyah berkata kepada Asma, “Menyingkirlah engkau, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat perkara yang tidak beliau sukai. Maka Asma menyingkir. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, lalu Aisyah bertanya kenapa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit (dan keluar). Maka beliau menjawab, “Tidakkah engkau melihat keadaan Asma, sesungguhnya seorang wanita muslimah itu tidak boleh tampak darinya kecuali ini dan ini”, lalu beliau memegangi kedua lengan bajunya dan menutupkan pada kedua telapak tangannya, sehingga yang nampak hanyalah jari-jarinya, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pelipisnya sehingga yang nampak hanyalah wajahnya.”
Al-Baihaqi menyatakan, “Sanadnya dha’if.” Kelemahan hadits ini karena perawi yang bernama Ibnu Luhai’ah sering keliru setelah menceritakan dengan hafalannya, yang sebelumnya dia seorang yang utama dan terpercaya ketika menceritakan dengan bukunya. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa haditsnya ini dapat dijadikan penguat. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 59).
(3) Pendapat sebagian sahabat (seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar) yang menjelaskan perhiasan yang biasa nampak yang boleh tidak ditutup, yaitu wajah dan telapak tangan. Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 59).
Kelima, Jabir bin Abdillah berkata,
شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ
Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk menaati-Nya. Beliau menasihati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bersedekah, karena mayoritas kamu adalah bahan bakar neraka Jahannam!”
Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Karena kamu banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal. (HSR Muslim, dan lainnya)
Hadits ini jelas menunjukkan wajah wanita bukan aurat, yakni bolehnya wanita membuka wajah. Sebab jika tidak, pastilah Jabir tidak dapat menyebutkan bahwa wanita itu pipinya merah kehitam-hitaman. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 59) (Tetapi dalil ini dibantah dengan penjelasan bahwa hadits ini yang mahfudz (shahih) dengan lafazh min safilatin nisa’ (dari wanita-wanita rendah) sebagai ganti lafazh sithatin nisa’ (dari wanita dari tengah-tengah). Yang hal itu mengisyaratkan wanita tersebut adalah budak, sedangkan budak tidak wajib menutupi wajah. Atau kejadian ini sebelum turunnya ayat hijab. Wallahu a’lam).
Keenam, Ibnu Abbas berkata,
أَرْدَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ … فَوَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنَّاسِ يُفْتِيهِمْ وَأَقْبَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ وَضِيئَةٌ تَسْتَفْتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا فَأَخْلَفَ بِيَدِهِ فَأَخَذَ بِذَقَنِ الْفَضْلِ فَعَدَلَ وَجْهَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهَا …
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan Al Fadhl bin Abbas… kemudian beliau berhenti untuk memberi fatwa kepada orang banyak. Datanglah seorang wanita yang cantik dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulailah Al Fadhl melihat wanita tersebut, dan kecantikannya mengagumkannya. Nabi ‘alaihi wa sallam pun berpaling, tetapi Al Fadhl tetap melihatnya. Maka nabi ‘alaihi wa sallam memundurkan tangannya dan memegang dagu Al Fadhl, kemudian memalingkan wajah Al Fadhl dari melihatnya…” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dan dia menyebutkan bahwa permintaan fatwa itu terjadi di tempat penyembelihan kurban, setelah Rasulullah melemparkan jumrah, lalu dia menambahkan, “Maka Abbas berkata kepada Rasulullah ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kenapa anda memalingkan leher anak pamanmu?” Beliau menjawab, “Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, sehingga aku tidak merasa aman dari syaitan (menggoda) keduanya” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya. Syaikh Al Albani menyatakan, “Sanadnya bagus”)
Dengan ini berarti, bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah tahallul (selesai) dari ihram, sehingga wanita tersebut bukanlah muhrimah (wanita yang sedang berihram, dengan hajji atau umrah).
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Seandainya wajah wanita merupakan aurat yang wajib ditutupi, tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan wanita tersebut membuka wajahnya di hadapan orang banyak. Pastilah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita itu untuk menurunkan (jilbabnya) dari atas (kepala untuk menutupi wajah). Dan seandainya wajahnya tertutup, tentulah Ibnu Abbas tidak mengetahui wanita itu cantik atau buruk.”
Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat perintah untuk menahan pandangan karena khawatir fitnah. Konsekuensinya jika aman dari fitnah, maka tidak terlarang. Hal itu dikuatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memalingkan wajah Al Fadhl sampai dia menajamkan pandangan, karena kekagumannya terhadap wanita tersebut, sehingga beliau khawatir fitnah menimpanya. Di dalam hadits ini juga terdapat (dalil) pertarungan watak dasar manusia terhadapnya serta kelemahan manusia dari kecenderungan dan kekaguman terhadap wanita.
Juga terdapat (dalil) bahwa istri-istri kaum mukminin tidak wajib berhijab sebagaimana istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena (kalau memang hal itu) wajib bagi seluruh wanita, pastilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada wanita dari suku Khats’am tersebut untuk menutupi (dirinya) dan tidak memalingkan wajah Al Fadhl. Di dalamnya juga terdapat (dalil) bahwa menutup wajah wanita tidak wajib, Para ulama berijma’ bahwa wanita boleh menampakkan wajahnya ketika shalat, walaupun dilihat oleh laki-laki asing.” (Fathu Al-Bari XI/8)
Perkataan Ibnu Baththal rahimahullah tersebut dibantah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, dengan alasan bahwa wanita dari suku Khats’am tersebut muhrimah (wanita yang sedang berihram). Tetapi Syaikh Al Albani menyatakan, bahwa yang benar wanita itu bukan muhrimah (wanita yang sedang berihram), sebagaimana penjelasan di atas. Seandainya wanita itu muhrimah (wanita yang sedang berihram), maka pendapat Ibnu Baththal itu tetap kuat. Karena wanita muhrimah itu boleh melabuhkan jilbabnya ke wajahnya di hadapan laki-laki asing, sebagaimana hadits tentang hal ini. (Lihat haditsnya pada edisi terdahulu, pada dalil ke 13 yang mewajibkan cadar).
Maka hadits ini menunjukkan bahwa cadar tidaklah wajib bagi wanita, walaupun dia memiliki wajah yang cantik, tetapi hukumnya adalah disukai (sunah). Peristiwa ini terjadi di akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hukumnya muhkam (tetap; tidak dihapus). (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 61-64).
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id
Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Tidak Mewajibkan (4)
Ketujuh, Sahl bin Sa’d berkata,
أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ…
“Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menghibahkan diriku kepada Anda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau menaikkan dan menurunkan pandangan kepadanya. Lalu beliau menundukkan kepalanya……” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, “Di dalam hadits ini juga terdapat (dalil) bolehnya memperhatikan kecantikan seorang wanita karena berkehendak menikahinya… tetapi (pemahaman) ini terbantah dengan anggapan bahwa hal itu khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau ma’shum, dan yang telah menjadi kesimpulan kami, bahwa tidak haram bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melihat wanita mukmin yang bukan mahram, ini berbeda dengan selain beliau. Sedangkan Ibnul ‘Arabi menempuh cara lain dalam menjawab hal tersebut, dia mengatakan, “Kemungkinan hal itu sebelum (kewajiban) hijab, atau setelahnya tetapi dia menyelubungi dirinya.” Tetapi rangkaian hadits ini jauh dari apa yang dia katakan.” (Fathul Bari IX/210).
Kedelapan, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,
كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ
“Dahulu wanita-wanita mukminah biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menutupi tubuh (mereka) dengan selimut. Kemudian (mereka) kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain,
وَمَا يَعْرِفُ بَعْضُنَا وُجُوْهَ بَعْضٍ
“Dan sebagian kami tidak mengenal wajah yang lain.” (HR. Abu Ya’la di dalam Musnadnya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 66)
Dari perkataan ‘Aisyah, “Tidak ada seorangpun mengenal mereka karena gelap.” dapat dipahami, jika tidak gelap niscaya dikenali, sedangkan mereka dikenali -menurut kebiasaan- dari wajahnya yang terbuka. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 65).
Kesembilan, ketika Fatimah binti Qais dicerai thalaq tiga oleh suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadanya memerintahkan agar dia ber-’iddah di rumah Ummu Syuraik. Tetapi kemudian beliau mengutus seseorang kepadanya lagi dengan menyatakan,
أَنَّ أُمَّ شَرِيكٍ يَأْتِيهَا الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ فَانْطَلِقِي إِلَى ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى فَإِنَّكِ إِذَا وَضَعْتِ خِمَارَكِ لَمْ يَرَكِ فَانْطَلَقَتْ إِلَيْهِ …
“Bahwa Ummu Syuraik biasa didatangi oleh orang-orang Muhajirin yang pertama. Maka hendaklah engkau pergi ke (rumah) Ibnu Ummi Maktum yang buta, karena jika engkau melepaskan khimar (kerudung, penutup kepala) dia tidak akan melihatmu. Fathimah binti Qais pergi kepadanya…” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa wajah bukan aurat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan Fathimah binti Qais dengan memakai khimar dilihat oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa wajahnya tidak wajib ditutup, sebagaimana kewajiban menutup kepalanya. Tetapi karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir dia melepaskan khimarnya (kerudung), sehingga akan nampak apa yang harus ditutupi, maka beliau memerintahkannya dengan yang lebih selamat untuknya; yaitu berpindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum yang buta. Karena dia tidak akan melihatnya jika Fathimah binti Qais melepaskan khimar. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 65).
Peristiwa ini terjadi di akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Fathimah binti Qais menyebutkan bahwa setelah habis ‘iddahnya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah tentang Dajjal dari Tamim Ad Dari yang baru masuk Islam dari Nasrani. Sedangkan Tamim masuk Islam tahun 9 H. Adapun ayat jilbab turun tahun 3 H atau 5 H, sehingga kejadian ini setelah adanya kewajiban berjilbab. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 66-67).
Kesepuluh, Abdurrahman bin ‘Abis,
سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قِيلَ لَهُ أَشَهِدْتَ الْعِيدَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ وَلَوْلَا مَكَانِي مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ حَتَّى أَتَى الْعَلَمَ الَّذِي عِنْدَ دَارِ كَثِيرِ بْنِ الصَّلْتِ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِينَ بِأَيْدِيهِنَّ يَقْذِفْنَهُ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَبِلَالٌ إِلَى بَيْتِهِ
“Saya mendegar Ibnu Abbas ditanya, “Apakah Anda (pernah) menghadiri (shalat) ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab, “Ya, dan jika bukan karena posisiku (umurku) yang masih kecil, niscaya saya tidak menyaksikannya. (Rasulullah keluar) sampai mendatangi tanda yang ada di dekat rumah Katsir bin Ash Shalt, lalu beliau shalat, kemudian berkhutbah. Lalu beliau bersama Bilal mendatangi para wanita, kemudian menasihati mereka, mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka aku lihat para wanita mengulurkan tangan mereka melemparkannya (cincin, dan lainnya sebagai sedekaah) ke kain Bilal. Kemudian Beliau dan Bilal pulang ke rumahnya.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Nasai, dan lainnya. Lafazh hadits ini riwayat Bukhari dalam Kitab Jum’ah)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Inilah Ibnu Abbas -di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat tangan para wanita, maka benarlah bahwa tangan dan wajah wanita bukan aurat, adapun selainnya wajib ditutup.”
Pengambilan dalil ini tidak dapat dibantah dengan perkataan, kemungkinan kejadian ini sebelum turunnya ayat jilbab, karena peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat jilbab. Dengan dalil, Imam Ahmad meriwayatkan (dengan tambahan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat bai’atun nisa’ (surat Al Mumtahanah: 12), padahal ayat ini turun pada Fathu Makkah, tahun 8 H, sebagaimana perkataan Muqatil. Sedangkan perintah jilbab (hijab) turun tahun 3 H atau 5 H ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Jahsy (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 67, 75).
Kesebelas, dari Subai’ah binti Al-Harits,
أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ ابْنِ خَوْلَةَ فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَكَانَ بَدْرِيًّا فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنْقَضِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ مِنْ وَفَاتِهِ فَلَقِيَهَا أَبُو السَّنَابِلِ يَعْنِي ابْنَ بَعْكَكٍ حِينَ تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا وَقَدِ اكْتَحَلَتْ (وَاحْتَضَبَتْ وَ تَهَيَّأَتْ) فَقَالَ لَهَا ارْبَعِي عَلَى نَفْسِكِ أَوْ نَحْوَ هَذَا لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ النِّكَاحَ
Bahwa dia menjadi istri Sa’d bin Khaulah, lalu Sa’d wafat pada haji wada’, dan dia seorang Badari (sahabat yang ikut perang Badar). Lalu Subai’ah binti Al Harits melahirkan kandungannya sebelum selesai 4 bulan 10 hari dari wafat suaminya. Kemudian Abu As Sanabil (yakni Ibnu Ba’kak) menemuinya ketika nifasnya telah selesai, dan dia telah memakai celak mata (dan memakai inai pada kuku tangan, dan bersip-siap). Lalu Abu As Sanabil berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru (atau kalimat semacamnya) mungkin engkau menghendaki nikah…” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 69. Asal kisah riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadits ini nyata menunjukkan, bahwa kedua telapak tangan dan wajah atau mata bukanlah aurat pada kebiasaan para wanita sahabat. Karena jika merupakan aurat yang harus ditutup, tentulah Subai’ah tidak boleh menampakkannya di hadapan Abu As Sanabil. Peristiwa ini nyata terjadi setelah kewajiban jilbab (hijab), yaitu setelah haji wada’, tahun 10 H. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 69).
Keduabelas, Atha bin Abi Rabah berkata,
قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا
Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita dari penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”. Dia berkata, “Itu wanita yang hitam, dia dahulu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku memiliki penyakit ayan (epilepsi), dan (jika kambuh, auratku) terbuka. Berdoalah kepada Allah untuk (kesembuhan) ku!”. Beliau menjawab, “Jika engkau mau bersabar (terhadap penyakit ini), engkau mendapatkan surga. Tetapi jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.” Wanita tadi berkata, “Aku akan bersabar. Tetapi (jika kambuh penyakitku, auratku) terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku agar (jika kambuh, auratku) tidak terbuka.” Maka beliau mendoakannya. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Ketiga belas, Ibnu Abbas berkata,
كَانَتِ امْرَأَةٌ تُصَلِّي خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْنَاءَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ فَكَانَ بَعْضُ الْقَوْمِ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ لِئَلَّا يَرَاهَا وَيَسْتَأْخِرُ بَعْضُهُمْ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ فَإِذَا رَكَعَ نَظَرَ مِنْ تَحْتِ إِبْطَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ )
Dahulu ada seorang wanita yang sangat cantik shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebagian laki-laki maju, sehingga berada di shaf pertama agar tidak melihat wanita itu. Tetapi sebagian orang mundur, sehingga berada di shaf belakang. Jika ruku’, dia dapat melihat (wanita itu) dari sela ketiaknya. Maka Allah menurunkan (ayat),
وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripadamu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).” (QS. Al Hijr: 24) (HR. Ash Habus Sunan, Al Hakim, dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 2472. Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 70).
Hadits ini menunjukkan bahwa di zaman Nabi, wajah wanita biasa terbuka.
Keempat belas, Ibnu Mas’ud berkata,
رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَأَتَى سَوْدَةَ وَهِيَ تَصْنَعُ طِيبًا وَعِنْدَهَا نِسَاءٌ فَأَخْلَيْنَهُ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ رَأَى امْرَأَةً تُعْجِبُهُ فَلْيَقُمْ إِلَى أَهْلِهِ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita sehingga wanita itu membuat beliau terpesona, kemudian beliau mendatangi Saudah (istri beliau), yang sedang membuat minyak wangi dan di dekatnya ada banyak wanita. Maka wanita-wanita itu meninggalkan beliau, lalu beliau menunaikan hajatnya. Kemudian beliau bersabda: “Siapa pun lelaki yang melihat seorang wanita, sehingga wanita itu membuatnya terpesona, maka hendaklah dia pergi kepada istrinya, karena sesungguhnya pada istrinya itu ada yang semisal apa yang ada pada wanita itu.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban, Darimi, dan lainnya. Lafazh ini riwayat Darimi. Lihat takhrijnya di dalam Ash-Shahihah no. 235)
Sebagaimana hadits sebelumnya, hadits ini nyata menunjukkan bahwa di zaman Nabi, wajah wanita biasa terbuka.
Kelima belas, Dari Abdullah bin Muhammad, dari seorang wanita di antara mereka yang berkata,
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا آكُلُ بِشِمَالِي وَكُنْتُ امْرَأَةً عَسْرَاءَ فَضَرَبَ يَدِي فَسَقَطَتِ اللُّقْمَةُ فَقَالَ لَا تَأْكُلِي بِشِمَالِكِ وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكِ يَمِينًا أَوْ قَالَ وَقَدْ أَطْلَقَ اللَّهُ يَمِينَكِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku ketika aku sedang makan dengan tangan kiriku, karena aku seorang wanita yang kidal. Maka beliau memukul tanganku sehingga sesuap makanan jatuh. Lalu beliau bersabda, “Janganlah engkau makan dengan tangan kirimu, sedangkan Allah telah menjadikan tangan kanan untukmu.” Atau bersabda, “Sedangkan Allah telah menyembuhkan tangan kananmu.” (HR. Ahmad dan Thabarani. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 72)
Keenam belas, berlakunya perbuatan ini setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits di atas jelas menunjukkan tentang perbuatan sebagian sahabiah yang membuka wajah dan telapak tangan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan hal ini terus berlangsung setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagaimana ditunjukkan dengan 16 riwayat yang dibawakan Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah (hal. 96-103). Ini semua menguatkan, bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukanlah aurat sehingga wajib ditutup.
Ketujuh belas, anggapan terjadinya ijma’ tentang wajah dan telapak tangan merupakan aurat yang wajib ditutup, tidaklah benar. Bahkan telah terjadi perselisihan di antara ulama. Pendapat tiga imam (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i), menyatakan bukan sebagai aurat. Ini juga merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad. Di antara ulama besar mazhab Hambali yang menguatkan pendapat ini ialah dua imam; yakni Ibnu Qudamah dan Imam Ibnu Muflih. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan dalam Al Mughni, “Karena kebutuhan mendorong telah dibukanya wajah untuk jual-beli, dan membuka telapak tangan untuk mengambil dan memberi.” (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 7-9).
Kedelapan belas (tambahan),
dalil-dalil shahih di atas dengan tegas menunjukkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wajah dan telapak tangan wanita biasa terbuka. Berarti wajah dan telapak tangan wanita dikecualikan dari kewajiban untuk ditutup. Sebagian keterangan di atas juga menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi setelah turunnya ayat hijab (jilbab).
Sehingga menunjukkan diperbolehkannya membuka wajah dan telapak tangan bagi wanita tidak terhapus oleh ayat jilbab. Kemudian, seandainya tidak diketahui bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi setelah turunnya ayat hijab/jilbab, maka hal itu menunjukkan diperbolehkannya membuka wajah dan telapak tangan bagi wanita. Sedangkan menurut kaidah, bahwa setiap hukum itu tetap sebagaimana sebelumnya sampai ada hukum lain yang menghapusnya. Maka orang yang mewajibkan wanita menutup wajah wajib membawakan dalil yang menghapuskan bolehnya wanita membuka wajah dan telapak tangan. Adakah hal itu? Bahkan yang didapati ialah keterangan dan dalil yang memperkuat hukum asal tersebut.
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id
Hukum Cadar: Kesimpulan Antara 2 Pendapat Ulama (5)
Pertama, wanita menutup wajahnya bukanlah sesuatu yang aneh di zaman kenabian. Karena hal itu dilakukan oleh ummahatul mukminin (para istri Rasulullah) dan sebagian para wanita sahabat. Sehingga merupakan sesuatu yang disyariatkan dan keutamaan.
Kedua, membuka wajah juga dilakukan oleh sebagian sahabiah. Bahkan hingga akhir masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihin wa sallam, dan berlanjut pada perbuatan wanita-wanita pada zaman setelahnya.
Ketiga, seorang muslim tidak boleh merendahkan wanita yang menutup wajahnya dan tidak boleh menganggapnya berlebihan.
Keempat, dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang mewajibkan cadar begitu kuat; menunjukkan kewajiban wanita untuk berhijab (menutupi diri dari laki-laki) dan berjilbab serta menutupi perhiasannya secara umum. Dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang tidak mewajibkan cadar begitu kuat; menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat yang harus ditutup.
Inilah jawaban kami tentang masalah cadar bagi wanita. Mudah-mudahan kaum muslimin dapat saling memahami permasalahan ini dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishshawwab.
Saturday, January 16, 2010
Wednesday, January 13, 2010
Penyebab terjadinya Perpecahan...
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Al-Mukminun: 52-53)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu”
Yaitu agama kalian –wahai para Nabi– adalah agama yang satu, dan ajaran yang satu yaitu menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah k, tidak ada sekutu bagi-Nya (Tafsir Ibnu Katsir, 3/248). Maka lafadz ‘umat’ yang dimaksud dalam ayat ini adalah agama.
فَتَقَطَّعُوا
Maknanya adalah
افْتَرَقُوا
(berpecah belah).
Yaitu, para umat menjadikan agama mereka yang satu menjadi beberapa agama, setelah mereka diperintahkan untuk bersatu. (Tafsir Al-Qurthubi, 12/129)
زُبُراً
Makna zubur dalam ayat ini diperselisihkan.
Ada yang mengatakan bahwa zubur adalah jamak dari zabuur yang berarti kitab-kitab, yaitu mereka mengarang kitab-kitab dan kesesatan yang mereka susun. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.
Adapula yang mengatakan bahwa mereka memecah belah kitab-kitab, satu kelompok mengikuti shuhuf (lembaran-lembaran), satu kelompok lagi mengikuti Taurat, kelompok lainnya mengikuti Zabur, dan yang lain mengikuti Injil. Kemudian mereka mengubah semua (kitab) tersebut. Pendapat ini disebutkan oleh Qatadah.
Ada pula yang berkata bahwa maknanya adalah setiap kelompok beriman dengan satu kitab dan mengingkari kitab-kitab lainnya.
Adapula yang membaca dengan mem-fathah-kan huruf zay yang maknanya adalah potongan-potongan seperti potongan besi. Dan ini termasuk qira‘ah (bacaan) Al-A’masy dan Abu ‘Amr. (lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12/130)
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”
Yaitu setiap kelompok suka dengan kesesatan yang ada padanya karena mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/248)
Penjelasan Makna Ayat
Al-Allamah As-Sa’di t berkata:
“Sesungguhnya ini adalah umat kalian, yaitu jamaah kalian –wahai sekalian para rasul– adalah jamaah yang satu, yang bersepakat di atas satu agama, dan Rabb kalian pun hanyalah satu. Maka bertakwalah kalian kepada-Ku, dengan menjalankan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Dan sungguh Allah k telah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para rasul, karena para rasul-lah yang mereka jadikan sebagai panutan, dan di belakang rasul pula mereka berjalan. Sehingga Allah k berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang menisbahkan dirinya kepada para nabi dan juga yang lainnya untuk mematuhi hal ini dan mengamalkannya. Namun orang-orang zalim dan memecah-belah tidaklah menghendaki melainkan penyimpangan. Oleh karena itu Allah swt menyatakan selanjutnya:
“Mereka telah berpecah belah dalam perkara mereka menjadi kelompok-kelompok”.
Setiap kelompok merasa senang dengan ilmu dan agama yang ada pada mereka dan mengklaim bahwa merekalah yang benar, sedangkan yang lainnya tidak di atas kebenaran.
Padahal yang berada di atas kebenaran di antara mereka adalah yang berada di atas jalan para rasul, dengan memakan makanan yang baik dan halal, beramal shalih. Sedangkan yang selain itu, maka mereka berada di atas kebatilan.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 554)
Nampak dari ayat ini, bahwa ada dua hal pokok yang menjadi prinsip dakwah para nabi dan rasul pada setiap zaman dan generasi, yaitu:
Pertama: mentauhidkan Allah swt dalam beribadah kepada-Nya
Kedua: menyatukan umat manusia agar berjalan di atasnya dan tidak berpecah-belah.
Adapun tauhidullah, maka hal ini diambil dari firman-Nya
وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ
“dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku”. Allah swt telah menjadikannya sebagai asas dakwah para nabi dan Rasul, sehingga tidaklah terjadi perbezaan di antara mereka dalam hal mengajak manusia untuk memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah swt, dan meninggalkan segala bentuk praktik kesyirikan yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Dan firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya`: 25)
Dan firman-Nya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagimu selain-Nya.’ Sesung-guhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah swt), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah swt yang menguatkan dakwah tauhid tersebut.
Adapun yang kedua, yaitu mempersatukan umat di atas tauhid dan menghindari perpecahan, maka diambil dari firman-Nya
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu”, dan juga firman-Nya
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan.”
Ayat Allah swt yang mulia ini menjelaskan bahwa hakikat persatuan umat adalah dengan menyembah Allah swt berdasarkan syariat yang dibawa oleh para rasul, baik dalam akidah maupun ibadah. Dan umat disatukan di atas syariat tersebut, sehingga Rabb mereka satu, agama mereka satu, akidah mereka satu, dan Nabi mereka pun satu, yang dijadikan sebagai imam yang mereka berjalan di atas syariatnya.
Dan tujuan mereka pun satu yaitu untuk meninggikan kalimat Allah swt dalam diri-diri mereka dan juga dalam diri orang lain. Dan dengan harapan yang satu, yaitu memperoleh keridhaan Allah swt dan jannah (surga)-Nya, serta selamat dari kemurkaan dan neraka-Nya.
Namun yang terjadi, kebanyakan umat mengamalkan selain apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Sehingga mereka pun terpecah menjadi berkelompok-kelompok, dan masing-masingnya memiliki pengikut. Dan mereka menjadi kelompok-kelompok yang saling membenci satu sama lain, saling memusuhi, di mana setiap kelompok mengklaim bahwa dialah yang berada di atas kebenaran, dan selainnya di atas kebatilan. Setiap kelompok berbangga diri terhadap apa yang ada pada mereka.
Padahal perselisihan tidaklah selalu membuahkan perpecahan dan tidak selalu memberi pengaruh yang negatif dalam persatuan umat, kecuali apabila hal tersebut terjadi dalam perkara prinsip-prinsip agama dan akidah, seperti tauhid dengan tiga pembagiannya.
Maka barangsiapa yang berkeyakinan bolehnya beristighatsah kepada makhluk dalam perkara yang tidak ada sesuatupun yang mampu melakukannya kecuali Allah swt, atau tidak ambil pusing (masa bodoh) dengan orang-orang yang thawaf di kuburan, dan bahkan memberi kesempatan kepada orang-orang yang ber-taqarrub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kuburan, lalu menyeru para penyembah kubur untuk mendatanginya dan memberikan dorongan kepadanya untuk mengambil kebaikan dan menolak keja-hatan, dan menganggap bahwa orang yang melakukan hal tersebut tidak mengeluarkannya dari Islam, bahkan tetap menganggapnya sebagai saudara, menjadikannya sebagai salah satu anggota dalam berdakwah, maka sesungguhnya dengan hal tersebut dia telah menggugurkan tauhid uluhiyyah.
Dan barangsiapa yang menakwilkan sifat-sifat Allah swt dengan sesuatu yang membatalkan maknanya yang hakiki yang dikehendaki oleh Allah k dalam Kitab-Nya, dan yang dikehendaki oleh Nabi-Nya sebagai penyampai dari-Nya, dengan persangkaan bahwa zhahir ayat tersebut bukanlah yang diinginkan –karena bila memahami secara zhahir maka menyebabkan terjadinya penyerupaan dengan makhluk– seperti anggapan kaum Asy’ariyyah, atau meniadakan sifat-sifat Allah swt secara keseluruhan seperti anggapan kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah, atau menyangka bahwa Al-Qur`an bukanlah firman Allah swt, namun hanyalah makhluk seperti makhluk yang lainnya, dan berpendapat bahwa Allah swt tidak dilihat oleh kaum mukminin di akhirat seperti anggapan kaum Mu’tazilah;
Dan barangsiapa yang menganggap bahwa seorang hamba menciptakan perbuatannya sendiri seperti anggapan kaum Qadariyyah yang mengingkari takdir, atau mengatakan bahwa seorang hamba tidak punya kehendak, seperti batu yang didorong atau seperti ranting yang digerakkan oleh angin seperti kaum Jabriyyah yang ekstrem dalam menetapkan taqdir dan perbuatan-perbuatan Allah swt, atau menyangka bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal dalam neraka seperti anggapan kaum Khawarij, atau berkata bahwa dia (yaitu pelaku dosa besar) tidak mukmin dan tidak pula kafir, sedangkan di akhirat dia akan kekal dalam neraka, seperti anggapan kaum Mu’tazilah;
Atau menganggap bahwa iman tidaklah dipengaruhi dengan adanya dosa, atau iman itu hanya sekedar pembenaran, walaupun tidak diucapkan dan tidak diamalkan seperti anggapan kaum Murji’ah; Atau menganggap bahwa bacaan dan cara-cara tarekat si fulan atau tarekat syaikh fulan lebih afdhal dari membaca Al-Qur`an, atau lebih afdhal dari membaca hadits Nabi dan bahwa tarekat itulah yang benar, atau lebih mengutamakan tarekat Sufiyyah daripada akidah Salafiyyah;
Atau meyakini bahwa 12 imam terpelihara dari kesalahan, dan meyakini kekafiran para shahabat, sebab mereka lebih mengutamakan Abu Bakr, Umar dan Utsman daripada Ali dalam kekhilafahan, dan membolehkan mencela para shahabat g seperti anggapan kaum Rafidhah; Maka semua keyakinan ini dan yang semisalnya dengan berbagai tingkatannya, inilah yang memecah belah umat. Dan inilah yang menyebabkan terjadinya perpecahan yang tercela sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur`an.
Adapun perselisihan dalam perkara furu’, maka tidaklah menyebabkan adanya tafriq (berpecah-belah) dan tidak pula berakibat saling mencela satu sama lain. Karena hal ini terjadi pada zaman Nabi n, dan tidak menyebabkan saling mencela antara yang satu dengan yang lainnya, dan tidak pula bersikap keras antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar ra, dia berkata: Nabi saw bersabda pada saat perang Ahzab:
“Janganlah salah seorang kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”. Kemudian sebagian shahabat mendapati waktu shalat Ashar di perjalanan. Sebagian shahabat berkata: ‘Kami tidak mengerjakan shalat sampai kami tiba (di Bani Quraizhah).’
Sebagian yang lain berkata: ‘Kita tetap shalat (pada waktunya). Bukan itu (shalat Ashar di Bani Quraizhah) yang beliau inginkan dari kita.’ Lalu perkara ini disebutkan kepada Rasulullah n dan beliau tidak mencela seorangpun dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Maghazi, 30/4119)
Juga dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Muhammad bin Abi Bakr bertanya kepada Anas bin Malik ra dalam keadaan keduanya sedang berangkat dari Mina menuju Arafah:
“Apa yang kalian dulu kerjakan (berupa dzikir, pen.) bersama Rasulullah saw pada hari ini?” Beliau menjawab: “Di antara kami ada yang bertalbiyah, dan beliau tidak mengingkarinya. Dan di antara kami ada pula yang bertakbir, dan beliau pun tidak mengingkarinya.” (HR. Al-Bukhari, 86/1659)
Dan para shahabat Rasulullah saw telah berbeza pendapat dalam berbagai masalah furu’ dan mereka tidak saling mencela. Tidak pula memunculkan celaan, pemboikotan, dan perpecahan. Kemudian pula, bahwa merupakan tabiat manusia, mereka berselisih dalam perkara yang diperbolehkan untuk ijtihad berupa hukum-hukum furu’, dipandang dari perbedaan pandangan akal dan kesiapan fitrahnya. Dengan sebab inilah tidak ada celaan atasnya.
Adapun jika telah menyentuh agama, akidah dihinakan, maka sesungguhnya mereka (para shahabat) sangat marah, walaupun orang tersebut termasuk kerabatnya yang terdekat. Telah shahih dari Ibnu ‘Umar ra tatkala beliau ra menyebutkan hadits Rasulullah n:
إِذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمُ امْرَأَتُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَأَذَنْ لَهَا، لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ
“Jika istri salah seorang kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid maka hendaklah dia mengizinkannya. Janganlah kalian mencegah hamba-hamba wanita Allah (keluar menuju) masjid-masjid Allah.”
Maka Bilal (salah seorang anak Ibnu ‘Umar ra, -pen.) berkata: “Demi Allah, kami akan mencegah mereka, jika tidak maka dia akan membuat kerusakan.”
Perawi hadits ini berkata: “Maka (Ibnu ‘Umar ra) mencelanya dengan celaan yang buruk, yang aku tidak pernah mendengar (celaan) seperti itu sebelumnya. Dan beliau berkata: ‘Aku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah n, lalu kamu berkata: ‘Demi Allah, kami akan mencegahnya’?!” (HR. Al-Bukhari no. 865 dan Muslim no. 442)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “(Kisah ini) terdapat dalam riwayat Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Adapun menurut riwayat Al-Imam Ahmad, disebutkan bahwa Abdullah bin ‘Umar tidak mengajaknya bicara sampai beliau meninggal.”
Dan dalam Musnad Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Abu Bakrah ra berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَذْفِ
“Rasulullah saw melarang melempar dengan kerikil.”
Maka salah seorang anak pamannya berkata: “Melarang dari ini?”, sambil melempar kerikil dengan dua jarinya. Maka Abu Bakrah ra berkata: “Apakah engkau tidak melihatku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah saw bahwa beliau melarang, lalu engkau melakukannya?!
Demi Allah swt, aku tidak akan mengajakmu berbicara selama hidupku!”, atau (kalimat) yang semisal dengan ini.” (Musnad Al-Imam Ahmad, 5/46)
Demikian pula yang dialami oleh Abdullah bin Mughaffal ra bersama seorang kerabatnya dalam masalah melempar kerikil dengan dua jari, disebutkan dalam Musnad (5/55). (Lihat kitab Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, An-Najmi, hal. 99-102)
Al-Wala` wal Bara` Hanyalah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
Kita memetik faedah dari ayat ini bahwa tolak ukur kebenaran hanyalah yang datang dari Allah swt, Rasul-Nya, dan apa yang telah menjadi kesepakatan pendahulu umat ini. Adapun selain itu maka hal tersebut adalah kesesatan, perpecahan dan penyimpangan dari jalan Allah k. Firman-Nya:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْراً
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Agama kaum muslimin dibangun di atas ittiba’ (ikut) terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang telah disepakati oleh umat ini. Ketiga perkara ini merupakan prinsip-prinsip yang tetap terjaga (dari kesesatan).
Dan apa saja yang diperselisihkan umat ini, maka mereka kembalikan kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Dan tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mengangkat seseorang lalu mengajak kepada jalan orang itu, dan ber-wala` dan bara` di atasnya, kecuali kepada Nabi saw.
Dan tidak boleh seseorang memegang suatu perkataan, lalu ber-wala` dan bara` di atas perkataan tersebut, kecuali bila itu perkataan Allah swt dan perkataan Rasul-Nya saw. Dan apa yang disepakati umat ini.
Bahkan (bersikap wala` dan bara` bukan di atas tiga perkara ini) termasuk perbuatan ahli bid’ah, yang mereka mengangkat seseorang atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengannya, bersikap loyal dan memusuhi di atas perkataan atau penisbatan tersebut.” (Dar`ut Ta’arudh, 1/272; Mauqif Ibnu Taimiyyah, 1/269-270)
Jika kita perhatikan ayat ini, maka jelaslah bahwa apa yang selama ini diamalkan oleh kelompok-kelompok sesat, baik itu Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, tarekat Shufiyyah, Hizbut Tahrir, dan yang lainnya adalah kesesatan yang nyata.
Maka perhatikanlah, semoga kita termasuk di antara hamba-hamba yang diberi hidayah.
Amin.
(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=307)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu”
Yaitu agama kalian –wahai para Nabi– adalah agama yang satu, dan ajaran yang satu yaitu menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah k, tidak ada sekutu bagi-Nya (Tafsir Ibnu Katsir, 3/248). Maka lafadz ‘umat’ yang dimaksud dalam ayat ini adalah agama.
فَتَقَطَّعُوا
Maknanya adalah
افْتَرَقُوا
(berpecah belah).
Yaitu, para umat menjadikan agama mereka yang satu menjadi beberapa agama, setelah mereka diperintahkan untuk bersatu. (Tafsir Al-Qurthubi, 12/129)
زُبُراً
Makna zubur dalam ayat ini diperselisihkan.
Ada yang mengatakan bahwa zubur adalah jamak dari zabuur yang berarti kitab-kitab, yaitu mereka mengarang kitab-kitab dan kesesatan yang mereka susun. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.
Adapula yang mengatakan bahwa mereka memecah belah kitab-kitab, satu kelompok mengikuti shuhuf (lembaran-lembaran), satu kelompok lagi mengikuti Taurat, kelompok lainnya mengikuti Zabur, dan yang lain mengikuti Injil. Kemudian mereka mengubah semua (kitab) tersebut. Pendapat ini disebutkan oleh Qatadah.
Ada pula yang berkata bahwa maknanya adalah setiap kelompok beriman dengan satu kitab dan mengingkari kitab-kitab lainnya.
Adapula yang membaca dengan mem-fathah-kan huruf zay yang maknanya adalah potongan-potongan seperti potongan besi. Dan ini termasuk qira‘ah (bacaan) Al-A’masy dan Abu ‘Amr. (lihat Tafsir Al-Qurthubi, 12/130)
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”
Yaitu setiap kelompok suka dengan kesesatan yang ada padanya karena mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/248)
Penjelasan Makna Ayat
Al-Allamah As-Sa’di t berkata:
“Sesungguhnya ini adalah umat kalian, yaitu jamaah kalian –wahai sekalian para rasul– adalah jamaah yang satu, yang bersepakat di atas satu agama, dan Rabb kalian pun hanyalah satu. Maka bertakwalah kalian kepada-Ku, dengan menjalankan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Dan sungguh Allah k telah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para rasul, karena para rasul-lah yang mereka jadikan sebagai panutan, dan di belakang rasul pula mereka berjalan. Sehingga Allah k berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang menisbahkan dirinya kepada para nabi dan juga yang lainnya untuk mematuhi hal ini dan mengamalkannya. Namun orang-orang zalim dan memecah-belah tidaklah menghendaki melainkan penyimpangan. Oleh karena itu Allah swt menyatakan selanjutnya:
“Mereka telah berpecah belah dalam perkara mereka menjadi kelompok-kelompok”.
Setiap kelompok merasa senang dengan ilmu dan agama yang ada pada mereka dan mengklaim bahwa merekalah yang benar, sedangkan yang lainnya tidak di atas kebenaran.
Padahal yang berada di atas kebenaran di antara mereka adalah yang berada di atas jalan para rasul, dengan memakan makanan yang baik dan halal, beramal shalih. Sedangkan yang selain itu, maka mereka berada di atas kebatilan.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 554)
Nampak dari ayat ini, bahwa ada dua hal pokok yang menjadi prinsip dakwah para nabi dan rasul pada setiap zaman dan generasi, yaitu:
Pertama: mentauhidkan Allah swt dalam beribadah kepada-Nya
Kedua: menyatukan umat manusia agar berjalan di atasnya dan tidak berpecah-belah.
Adapun tauhidullah, maka hal ini diambil dari firman-Nya
وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ
“dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku”. Allah swt telah menjadikannya sebagai asas dakwah para nabi dan Rasul, sehingga tidaklah terjadi perbezaan di antara mereka dalam hal mengajak manusia untuk memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah swt, dan meninggalkan segala bentuk praktik kesyirikan yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Dan firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya`: 25)
Dan firman-Nya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagimu selain-Nya.’ Sesung-guhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah swt), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah swt yang menguatkan dakwah tauhid tersebut.
Adapun yang kedua, yaitu mempersatukan umat di atas tauhid dan menghindari perpecahan, maka diambil dari firman-Nya
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu”, dan juga firman-Nya
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan.”
Ayat Allah swt yang mulia ini menjelaskan bahwa hakikat persatuan umat adalah dengan menyembah Allah swt berdasarkan syariat yang dibawa oleh para rasul, baik dalam akidah maupun ibadah. Dan umat disatukan di atas syariat tersebut, sehingga Rabb mereka satu, agama mereka satu, akidah mereka satu, dan Nabi mereka pun satu, yang dijadikan sebagai imam yang mereka berjalan di atas syariatnya.
Dan tujuan mereka pun satu yaitu untuk meninggikan kalimat Allah swt dalam diri-diri mereka dan juga dalam diri orang lain. Dan dengan harapan yang satu, yaitu memperoleh keridhaan Allah swt dan jannah (surga)-Nya, serta selamat dari kemurkaan dan neraka-Nya.
Namun yang terjadi, kebanyakan umat mengamalkan selain apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Sehingga mereka pun terpecah menjadi berkelompok-kelompok, dan masing-masingnya memiliki pengikut. Dan mereka menjadi kelompok-kelompok yang saling membenci satu sama lain, saling memusuhi, di mana setiap kelompok mengklaim bahwa dialah yang berada di atas kebenaran, dan selainnya di atas kebatilan. Setiap kelompok berbangga diri terhadap apa yang ada pada mereka.
Padahal perselisihan tidaklah selalu membuahkan perpecahan dan tidak selalu memberi pengaruh yang negatif dalam persatuan umat, kecuali apabila hal tersebut terjadi dalam perkara prinsip-prinsip agama dan akidah, seperti tauhid dengan tiga pembagiannya.
Maka barangsiapa yang berkeyakinan bolehnya beristighatsah kepada makhluk dalam perkara yang tidak ada sesuatupun yang mampu melakukannya kecuali Allah swt, atau tidak ambil pusing (masa bodoh) dengan orang-orang yang thawaf di kuburan, dan bahkan memberi kesempatan kepada orang-orang yang ber-taqarrub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kuburan, lalu menyeru para penyembah kubur untuk mendatanginya dan memberikan dorongan kepadanya untuk mengambil kebaikan dan menolak keja-hatan, dan menganggap bahwa orang yang melakukan hal tersebut tidak mengeluarkannya dari Islam, bahkan tetap menganggapnya sebagai saudara, menjadikannya sebagai salah satu anggota dalam berdakwah, maka sesungguhnya dengan hal tersebut dia telah menggugurkan tauhid uluhiyyah.
Dan barangsiapa yang menakwilkan sifat-sifat Allah swt dengan sesuatu yang membatalkan maknanya yang hakiki yang dikehendaki oleh Allah k dalam Kitab-Nya, dan yang dikehendaki oleh Nabi-Nya sebagai penyampai dari-Nya, dengan persangkaan bahwa zhahir ayat tersebut bukanlah yang diinginkan –karena bila memahami secara zhahir maka menyebabkan terjadinya penyerupaan dengan makhluk– seperti anggapan kaum Asy’ariyyah, atau meniadakan sifat-sifat Allah swt secara keseluruhan seperti anggapan kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah, atau menyangka bahwa Al-Qur`an bukanlah firman Allah swt, namun hanyalah makhluk seperti makhluk yang lainnya, dan berpendapat bahwa Allah swt tidak dilihat oleh kaum mukminin di akhirat seperti anggapan kaum Mu’tazilah;
Dan barangsiapa yang menganggap bahwa seorang hamba menciptakan perbuatannya sendiri seperti anggapan kaum Qadariyyah yang mengingkari takdir, atau mengatakan bahwa seorang hamba tidak punya kehendak, seperti batu yang didorong atau seperti ranting yang digerakkan oleh angin seperti kaum Jabriyyah yang ekstrem dalam menetapkan taqdir dan perbuatan-perbuatan Allah swt, atau menyangka bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal dalam neraka seperti anggapan kaum Khawarij, atau berkata bahwa dia (yaitu pelaku dosa besar) tidak mukmin dan tidak pula kafir, sedangkan di akhirat dia akan kekal dalam neraka, seperti anggapan kaum Mu’tazilah;
Atau menganggap bahwa iman tidaklah dipengaruhi dengan adanya dosa, atau iman itu hanya sekedar pembenaran, walaupun tidak diucapkan dan tidak diamalkan seperti anggapan kaum Murji’ah; Atau menganggap bahwa bacaan dan cara-cara tarekat si fulan atau tarekat syaikh fulan lebih afdhal dari membaca Al-Qur`an, atau lebih afdhal dari membaca hadits Nabi dan bahwa tarekat itulah yang benar, atau lebih mengutamakan tarekat Sufiyyah daripada akidah Salafiyyah;
Atau meyakini bahwa 12 imam terpelihara dari kesalahan, dan meyakini kekafiran para shahabat, sebab mereka lebih mengutamakan Abu Bakr, Umar dan Utsman daripada Ali dalam kekhilafahan, dan membolehkan mencela para shahabat g seperti anggapan kaum Rafidhah; Maka semua keyakinan ini dan yang semisalnya dengan berbagai tingkatannya, inilah yang memecah belah umat. Dan inilah yang menyebabkan terjadinya perpecahan yang tercela sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur`an.
Adapun perselisihan dalam perkara furu’, maka tidaklah menyebabkan adanya tafriq (berpecah-belah) dan tidak pula berakibat saling mencela satu sama lain. Karena hal ini terjadi pada zaman Nabi n, dan tidak menyebabkan saling mencela antara yang satu dengan yang lainnya, dan tidak pula bersikap keras antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar ra, dia berkata: Nabi saw bersabda pada saat perang Ahzab:
“Janganlah salah seorang kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”. Kemudian sebagian shahabat mendapati waktu shalat Ashar di perjalanan. Sebagian shahabat berkata: ‘Kami tidak mengerjakan shalat sampai kami tiba (di Bani Quraizhah).’
Sebagian yang lain berkata: ‘Kita tetap shalat (pada waktunya). Bukan itu (shalat Ashar di Bani Quraizhah) yang beliau inginkan dari kita.’ Lalu perkara ini disebutkan kepada Rasulullah n dan beliau tidak mencela seorangpun dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Maghazi, 30/4119)
Juga dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Muhammad bin Abi Bakr bertanya kepada Anas bin Malik ra dalam keadaan keduanya sedang berangkat dari Mina menuju Arafah:
“Apa yang kalian dulu kerjakan (berupa dzikir, pen.) bersama Rasulullah saw pada hari ini?” Beliau menjawab: “Di antara kami ada yang bertalbiyah, dan beliau tidak mengingkarinya. Dan di antara kami ada pula yang bertakbir, dan beliau pun tidak mengingkarinya.” (HR. Al-Bukhari, 86/1659)
Dan para shahabat Rasulullah saw telah berbeza pendapat dalam berbagai masalah furu’ dan mereka tidak saling mencela. Tidak pula memunculkan celaan, pemboikotan, dan perpecahan. Kemudian pula, bahwa merupakan tabiat manusia, mereka berselisih dalam perkara yang diperbolehkan untuk ijtihad berupa hukum-hukum furu’, dipandang dari perbedaan pandangan akal dan kesiapan fitrahnya. Dengan sebab inilah tidak ada celaan atasnya.
Adapun jika telah menyentuh agama, akidah dihinakan, maka sesungguhnya mereka (para shahabat) sangat marah, walaupun orang tersebut termasuk kerabatnya yang terdekat. Telah shahih dari Ibnu ‘Umar ra tatkala beliau ra menyebutkan hadits Rasulullah n:
إِذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمُ امْرَأَتُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَأَذَنْ لَهَا، لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ
“Jika istri salah seorang kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid maka hendaklah dia mengizinkannya. Janganlah kalian mencegah hamba-hamba wanita Allah (keluar menuju) masjid-masjid Allah.”
Maka Bilal (salah seorang anak Ibnu ‘Umar ra, -pen.) berkata: “Demi Allah, kami akan mencegah mereka, jika tidak maka dia akan membuat kerusakan.”
Perawi hadits ini berkata: “Maka (Ibnu ‘Umar ra) mencelanya dengan celaan yang buruk, yang aku tidak pernah mendengar (celaan) seperti itu sebelumnya. Dan beliau berkata: ‘Aku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah n, lalu kamu berkata: ‘Demi Allah, kami akan mencegahnya’?!” (HR. Al-Bukhari no. 865 dan Muslim no. 442)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “(Kisah ini) terdapat dalam riwayat Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Adapun menurut riwayat Al-Imam Ahmad, disebutkan bahwa Abdullah bin ‘Umar tidak mengajaknya bicara sampai beliau meninggal.”
Dan dalam Musnad Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Abu Bakrah ra berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَذْفِ
“Rasulullah saw melarang melempar dengan kerikil.”
Maka salah seorang anak pamannya berkata: “Melarang dari ini?”, sambil melempar kerikil dengan dua jarinya. Maka Abu Bakrah ra berkata: “Apakah engkau tidak melihatku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah saw bahwa beliau melarang, lalu engkau melakukannya?!
Demi Allah swt, aku tidak akan mengajakmu berbicara selama hidupku!”, atau (kalimat) yang semisal dengan ini.” (Musnad Al-Imam Ahmad, 5/46)
Demikian pula yang dialami oleh Abdullah bin Mughaffal ra bersama seorang kerabatnya dalam masalah melempar kerikil dengan dua jari, disebutkan dalam Musnad (5/55). (Lihat kitab Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, An-Najmi, hal. 99-102)
Al-Wala` wal Bara` Hanyalah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
Kita memetik faedah dari ayat ini bahwa tolak ukur kebenaran hanyalah yang datang dari Allah swt, Rasul-Nya, dan apa yang telah menjadi kesepakatan pendahulu umat ini. Adapun selain itu maka hal tersebut adalah kesesatan, perpecahan dan penyimpangan dari jalan Allah k. Firman-Nya:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْراً
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Agama kaum muslimin dibangun di atas ittiba’ (ikut) terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang telah disepakati oleh umat ini. Ketiga perkara ini merupakan prinsip-prinsip yang tetap terjaga (dari kesesatan).
Dan apa saja yang diperselisihkan umat ini, maka mereka kembalikan kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Dan tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mengangkat seseorang lalu mengajak kepada jalan orang itu, dan ber-wala` dan bara` di atasnya, kecuali kepada Nabi saw.
Dan tidak boleh seseorang memegang suatu perkataan, lalu ber-wala` dan bara` di atas perkataan tersebut, kecuali bila itu perkataan Allah swt dan perkataan Rasul-Nya saw. Dan apa yang disepakati umat ini.
Bahkan (bersikap wala` dan bara` bukan di atas tiga perkara ini) termasuk perbuatan ahli bid’ah, yang mereka mengangkat seseorang atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengannya, bersikap loyal dan memusuhi di atas perkataan atau penisbatan tersebut.” (Dar`ut Ta’arudh, 1/272; Mauqif Ibnu Taimiyyah, 1/269-270)
Jika kita perhatikan ayat ini, maka jelaslah bahwa apa yang selama ini diamalkan oleh kelompok-kelompok sesat, baik itu Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, tarekat Shufiyyah, Hizbut Tahrir, dan yang lainnya adalah kesesatan yang nyata.
Maka perhatikanlah, semoga kita termasuk di antara hamba-hamba yang diberi hidayah.
Amin.
(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=307)
Sunday, January 10, 2010
Jaga diriku untuk dirinya...
Menjaga diri untuk dirinya…jagalah diri kamu untuk bakal pasangan sehidup matimu…yang bakal halal untuk kamu,jika ada kemaksiatan maka halangi dengan taqwa…Akhowat jagalah auratmu,jagalah pergaulanmu untuk bakal suamimu…nasihat juga kepada diriku harus kujaga diriku untuk dirinya…Dan semoga dirinya juga dijaga untuk diriku…Semoga Allah pelihara kami berdua…
Pernikahan adalah anugerah Allah..pernikahan adalah untuk memberi bukan menerima…apabila memberi,kita akan meneguhkan peranan kita daripada hanya menerima dan meminta…
Harus aku akui…sudah masanya aku belajar untuk memberi daripada menerima,harus aku melatih diri ini untuk persediaan kea lam pernikahan..Subhanallah…Semoga Allah sentiasa membimbing diri ini agar sentiasa berada dalam jalan yang lurus menuju Syurga…
Suami dan isteri itu hadiah daripada Allah swt,maka harus aku mencintai pemberi hadiah ini daripada hadiah..harus aku mencintai yang Maha Cinta…Kini,aku terasa tenang dan yakin dengan diri ini,untuk melangkah diri dalam alam latihan untuk memegang amanah Allah swt..
Sahabat-sahabat saling menasihati,apa sudah belajar cara-cara menjadi isteri?Kena mula dari sekarang,kena ada ilmu..amanah Allah jangan diperlekehkan..menjadi Isteri itu amanah yang mulia..
Ish..menulis macam saya dah nak nikah pulak ye..hehe..lama lagi saya nikah…Cuma ini adalah tanggungjawab kita sebagai akhowat Islam..kita perlu menjaga diri kita untuk bakal suami…kita harus membuat persediaan awal untuk bernikah..kerana ramai yang mengendahkan amanah ini…sebagai seorang isteri..
Saya nak menulis banyak pun,saya belum bernikah…ilmu pun tidak banyak…namun,inilah nasihat yang saya dapat daripada dia..’Jaga diri untuk saya dan saya akan jaga diri untuk kamu’…InsyaAllah..akan saya jaga diri saya…agama saya..
Ummu Syauqina Nurharyati Husna
Pernikahan adalah anugerah Allah..pernikahan adalah untuk memberi bukan menerima…apabila memberi,kita akan meneguhkan peranan kita daripada hanya menerima dan meminta…
Harus aku akui…sudah masanya aku belajar untuk memberi daripada menerima,harus aku melatih diri ini untuk persediaan kea lam pernikahan..Subhanallah…Semoga Allah sentiasa membimbing diri ini agar sentiasa berada dalam jalan yang lurus menuju Syurga…
Suami dan isteri itu hadiah daripada Allah swt,maka harus aku mencintai pemberi hadiah ini daripada hadiah..harus aku mencintai yang Maha Cinta…Kini,aku terasa tenang dan yakin dengan diri ini,untuk melangkah diri dalam alam latihan untuk memegang amanah Allah swt..
Sahabat-sahabat saling menasihati,apa sudah belajar cara-cara menjadi isteri?Kena mula dari sekarang,kena ada ilmu..amanah Allah jangan diperlekehkan..menjadi Isteri itu amanah yang mulia..
Ish..menulis macam saya dah nak nikah pulak ye..hehe..lama lagi saya nikah…Cuma ini adalah tanggungjawab kita sebagai akhowat Islam..kita perlu menjaga diri kita untuk bakal suami…kita harus membuat persediaan awal untuk bernikah..kerana ramai yang mengendahkan amanah ini…sebagai seorang isteri..
Saya nak menulis banyak pun,saya belum bernikah…ilmu pun tidak banyak…namun,inilah nasihat yang saya dapat daripada dia..’Jaga diri untuk saya dan saya akan jaga diri untuk kamu’…InsyaAllah..akan saya jaga diri saya…agama saya..
Ummu Syauqina Nurharyati Husna
Saturday, January 9, 2010
Christians are Confuse about Jesus and Allah.
It is well-known Islam is the fastest growing religion in the world.Numbers are not important but the important is how you practice your Islam.Important to follow and express the ISLAM in life.Amazingly,more women entering Islam although the chistianity claiming that Islam oppressed the women.
What is the meaning people in Islam if they do not understand and practices their Islam?Infact the government of most of the country prohibited their citizens to expressed their religion.It is amazing,I was tears when I see my sisters converted into Islam and they realy love their Islam.Amazingly,they are better than the women who are Islam since born.MasyaAllah.I feel so touched to see my sisters in California,France,Chicago who converts into Islam.They at first dislike Islam,outspoke and always speak bad things about Islam,but certainly Hidayah came from Allah,they are curious to know about Islam,as the women of Islam are more modesty and respected.
And feel so thankful to Allah to give us Quran as in the Quran there are a lot of Proves and explain the mistakes of the Scientist.The quran explain the mistakes of the Scientist by expressed the scientific facts in great details.The quran have none of these contradiction and everything is precisely true.
If the Christianity want to use the word Allah in their Bible or text,the bible cannot be better than the Quran.As the bible having a lot of contradictions,mistakes and non of their science review is true and excepted.Thus,the important is,we need to understand the contents in the Quran and research it.
In comparative religion,we learn about the bible,and there are a lot of mistakes and stories that is impossible written by God as there are mistakes,Do Allah do mistakes?How can a god write bad things about his messenger in his Book?In Quran,Allah never writes with mistakes,no contradiction,scientificly presice with experiments and Allah never write bad stories about His Messenger Rasulullah.
Where is the proves saying Jesus is Allah?There is no prove in the bible…Jesus never claiming that he is Allah or he is the One God..So is it unfair to say that Jesus is Allah..In Islam,Muhammad is the messenger of Allah,we never claim that Muhammad is Allah,Why Jesus name is not Allah before,and recently…they(Christians) are claiming that Jesus is Allah..Allah means one god..is it contradiction with the concept of Trinity…oh they say…Father is the God,Son is the God and Holy ghost is the God,not 3 god but 1 god…very Confused..the Christians are Confused about their own God..
In Bible says that Jesus is helpless….
John(5:30) I can of mine own self do nothing,as I Hear,I Judge:and my judgement is just,because I seek not mine own will,but the will of the Father which SENT ME.
My question is,who sent Jesus?Jesus does not say,I am Allah,but he said he was been sent by who??Christians will say Allah send Jesus…if Christians says that,means that they are believing the Islam ways..that believe Allah send his Rasul(Messenger) to spread Tawheed…But the Chistians will say we do not believe Muhammad as the Messenger…What I Can say They Are confused…very confused…they do not understand the concept of One God as Islam Believe,they could not understand the concept of messenger..
Islam is simple..not confusing at all..We believe..Allah is our Only One God(Tawheed),Laila Hail Allah,no other god except Allah..very clear…And Allah send his messenger to spread Tawheed to people…who are the Messenger?Certainly Adam,David,Abraham,Jacob,Isa(Jesus),I Cannot remember their English names..and the last is Prophet Muhammad saw…So thus it means the Islam deny others Messsenger of Allah?No,Islam believe and excepting all of Allah’s messenger before Muhammad that is written in Quran…and we follow the Rules of Islam that is send to Muhammad as Muhammad is the messenger of all Ummah(people),different than Moses that is send to Israels and Jesus to Israels..
There are no clear statements,where in the bible did Jesus say,I am God,of worship me,Jesus say One God.
And because of this,the Christians that are confused and want us the Muslim to be confuse like them,they want to Use the word Allah in their Bible or articles…saying that their god’s name is Allah too…They at first believe that their god’s name is Jesus and now they are claiming their God’s name is Allah too..they want to say,
Father is Allah,
Jesus is Allah,
Holy Ghost Is Allah,
Not 3 Allah but 1 Allah…
In Islam…we are simple..not complicated..
Surah al-Ikhlas(The Purity of Faith)…Purity..pure
1.Say:He is Allah,the One and Only
2.Allah,the Eternal,Absolute
3.He begets not,nor is He begotten
4.And there is none like unto Him
The Aqidah of islam is simple,clear and fascinating…Allahu Akhbar…never confused to understand the Aqidah of Islam…
By Ummu Syauqina Nurharyati Husna
I took this from Brother Naim,statements in Bible=
Jesus said: "Allah is greater than I" (John 14:28)
Jesus prayed to Allah (Matthew 26:39)
Jesus said the most important commandment is "'Hear, O Israel, the Lord our Allah, the Lord is one.Love the Lord your Allah with all your ......heart and with all your soul and with all your mind and with all your strength." (Mark 12:29-30)
I am Allah, and there is no other; I am Allah, and there is none like me" (Isaiah 46:9)
'One of those days Jesus went out to a mountainside to pray, and spent the night praying to Allah.’ (Luke 6:12)
"Jesus of Nazareth was a man accredited by Allah to you by miracles, wonders and signs, which Allah did among you through him, as you yourselves know." (Acts 2:22)
“I am the LORD your Allah, who brought you out of Egypt, out of the land of slavery. You shall have no other gods before me.” (Exodus 20:2-3; Deuteronomy 5:6-7)
‘Jesus prayed to Allah for himself and said, “…Now this is eternal life; that they may know you, the only true God, and Jesus Christ, whom you have sent…” ‘ (John 17:3)
What is the meaning people in Islam if they do not understand and practices their Islam?Infact the government of most of the country prohibited their citizens to expressed their religion.It is amazing,I was tears when I see my sisters converted into Islam and they realy love their Islam.Amazingly,they are better than the women who are Islam since born.MasyaAllah.I feel so touched to see my sisters in California,France,Chicago who converts into Islam.They at first dislike Islam,outspoke and always speak bad things about Islam,but certainly Hidayah came from Allah,they are curious to know about Islam,as the women of Islam are more modesty and respected.
And feel so thankful to Allah to give us Quran as in the Quran there are a lot of Proves and explain the mistakes of the Scientist.The quran explain the mistakes of the Scientist by expressed the scientific facts in great details.The quran have none of these contradiction and everything is precisely true.
If the Christianity want to use the word Allah in their Bible or text,the bible cannot be better than the Quran.As the bible having a lot of contradictions,mistakes and non of their science review is true and excepted.Thus,the important is,we need to understand the contents in the Quran and research it.
In comparative religion,we learn about the bible,and there are a lot of mistakes and stories that is impossible written by God as there are mistakes,Do Allah do mistakes?How can a god write bad things about his messenger in his Book?In Quran,Allah never writes with mistakes,no contradiction,scientificly presice with experiments and Allah never write bad stories about His Messenger Rasulullah.
Where is the proves saying Jesus is Allah?There is no prove in the bible…Jesus never claiming that he is Allah or he is the One God..So is it unfair to say that Jesus is Allah..In Islam,Muhammad is the messenger of Allah,we never claim that Muhammad is Allah,Why Jesus name is not Allah before,and recently…they(Christians) are claiming that Jesus is Allah..Allah means one god..is it contradiction with the concept of Trinity…oh they say…Father is the God,Son is the God and Holy ghost is the God,not 3 god but 1 god…very Confused..the Christians are Confused about their own God..
In Bible says that Jesus is helpless….
John(5:30) I can of mine own self do nothing,as I Hear,I Judge:and my judgement is just,because I seek not mine own will,but the will of the Father which SENT ME.
My question is,who sent Jesus?Jesus does not say,I am Allah,but he said he was been sent by who??Christians will say Allah send Jesus…if Christians says that,means that they are believing the Islam ways..that believe Allah send his Rasul(Messenger) to spread Tawheed…But the Chistians will say we do not believe Muhammad as the Messenger…What I Can say They Are confused…very confused…they do not understand the concept of One God as Islam Believe,they could not understand the concept of messenger..
Islam is simple..not confusing at all..We believe..Allah is our Only One God(Tawheed),Laila Hail Allah,no other god except Allah..very clear…And Allah send his messenger to spread Tawheed to people…who are the Messenger?Certainly Adam,David,Abraham,Jacob,Isa(Jesus),I Cannot remember their English names..and the last is Prophet Muhammad saw…So thus it means the Islam deny others Messsenger of Allah?No,Islam believe and excepting all of Allah’s messenger before Muhammad that is written in Quran…and we follow the Rules of Islam that is send to Muhammad as Muhammad is the messenger of all Ummah(people),different than Moses that is send to Israels and Jesus to Israels..
There are no clear statements,where in the bible did Jesus say,I am God,of worship me,Jesus say One God.
And because of this,the Christians that are confused and want us the Muslim to be confuse like them,they want to Use the word Allah in their Bible or articles…saying that their god’s name is Allah too…They at first believe that their god’s name is Jesus and now they are claiming their God’s name is Allah too..they want to say,
Father is Allah,
Jesus is Allah,
Holy Ghost Is Allah,
Not 3 Allah but 1 Allah…
In Islam…we are simple..not complicated..
Surah al-Ikhlas(The Purity of Faith)…Purity..pure
1.Say:He is Allah,the One and Only
2.Allah,the Eternal,Absolute
3.He begets not,nor is He begotten
4.And there is none like unto Him
The Aqidah of islam is simple,clear and fascinating…Allahu Akhbar…never confused to understand the Aqidah of Islam…
By Ummu Syauqina Nurharyati Husna
I took this from Brother Naim,statements in Bible=
Jesus said: "Allah is greater than I" (John 14:28)
Jesus prayed to Allah (Matthew 26:39)
Jesus said the most important commandment is "'Hear, O Israel, the Lord our Allah, the Lord is one.Love the Lord your Allah with all your ......heart and with all your soul and with all your mind and with all your strength." (Mark 12:29-30)
I am Allah, and there is no other; I am Allah, and there is none like me" (Isaiah 46:9)
'One of those days Jesus went out to a mountainside to pray, and spent the night praying to Allah.’ (Luke 6:12)
"Jesus of Nazareth was a man accredited by Allah to you by miracles, wonders and signs, which Allah did among you through him, as you yourselves know." (Acts 2:22)
“I am the LORD your Allah, who brought you out of Egypt, out of the land of slavery. You shall have no other gods before me.” (Exodus 20:2-3; Deuteronomy 5:6-7)
‘Jesus prayed to Allah for himself and said, “…Now this is eternal life; that they may know you, the only true God, and Jesus Christ, whom you have sent…” ‘ (John 17:3)
Friday, January 8, 2010
Makna Selawat Syifa' dan Nariyyah..
Artikel ini tulis oleh Abu Huzaifah An Nawawi,
Selawat Syifa’:
اَللَّهُمَّ صَلِ عَلىَ مُحَمَّدٍ طِبِّ القُلُوْبِّ وَدَوَاِئهَا، وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَاِئهَا، وَنُوْرِاْلأَبصَارِ وَضِيَاِئهَا، وَعَلىَ أَلِهِ وَسَلَّمَ
Maksudnya: “Ya Allah, berikanlah selawat dan salam kepada Muhammad, yang memberi penawar dan pengubat hati (kalbu), yang memberi kesihatan dan penyembuhan badan, cahaya dan yang menerangkan pandangan mata. Juga ke atas keluarga beliau.”
Selawat ini banyak diamalkan oleh banyak tokoh-tokoh perubatan dan bomoh-bomoh tertentu di dalam negara kita (Malaysia) mahu pun di luar negara. Ia digunakan sebagai zikir atau bentuk doa untuk mengubati/merawat individu tertentu yang mengalami masalah kesihatan tertentu.
Ianya juga sangat popular malahan sehingga dinasyidkan dan dilagukan sebagai zikir-zikir harian. Malangnya, kebanyakan dari mereka (yang mengamalkannya) hanya tahu melafazkan dan melagukannya. Namun tidak mahu mengambil tahu berkenaan makna dan kesyirikan yang terkandung di dalamnya.
Lebih malang lagi, selawat tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melalui mana-mana riwayat hadis, apatah lagi tidak juga diamalkan oleh sahabat-sabahat Rasulullah sendiri. Maka, ianya adalah tergolong di dalam bentuk selawat-selawat ciptaan dan rekaan manusia berdasarkan akal dan nafsu.
Jika kita perhatikan satu persatu rangkap perkataan di dalam selawat tersebut, terdapat penyandaran sifat yang tidak selayaknya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam iaitu dengan sifat “yang memberi penawar”, “pengubat hati (kalbu)”, “yang memberi kesihatan”, “penyembuhan badan”, dan “yang menerangkan pandangan mata”. Padahal kita mengetahui bahawa yang mampu menyembuhkan dan memberi kesihatan badan, yang mampu mengubati hati, dan yang mampu menerangkan pandangan mata adalah hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Berkenaan sifat yang dinisbahkan (atau disandarkan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tersebut, beliau sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, apatah lagi untuk orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa memberi manfaat kepada diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah”.” (Surah al-A’raaf, 7: 188)
“...dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku,” (Surah asy-Syu’araa, 26: 80)
“Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tidaklah dia memiliki cahaya sedikit pun.” (Surah an-Nuur, 24: 40)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri bersabda (maksudnya):
“Janganlah kamu melampaui batas dengan mengagung-agungkan aku sebagaimana kaum Nasrani telah melakukannya terhadap Isa anak Mariam. Sesungguhnya tiadalah aku melainkan seorang hamba, maka katakanlah, “(Muhammad) Hamba dan Pesuruh Allah”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 3445, daripada ‘Umar al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu)
Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata:
“Sesungguhnya yang menyembuhkan dan yang memberi kesihatan badan, hati, dan mata hanyalah Allah sahaja. Adapun Rasulullah tidak memiliki kekuasaan untuk memberi manfaat bagi dirinya dan tidak pula untuk selainnya. Bentuk selawat ini (selawat Syifa’ di atas) menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya),
“Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak pula kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah...” (Surah Yunus, 10: 49) (Rujuk: Fadhilat Selawat Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, m/s. 113-114, Mubarak Mahfudh Bamuallim. Juga al-Firqatun Najiyah, m/s. 192-193, Syaikh Muhammad Jamil Zainu)
Selawat Nariyah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً، وَسلِّمْ سَلاَمًا تَامَّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَ بِهِ الْحَوَاِئجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Maksudnya: “Ya Allah, berikanlah selawat dan keselamatan yang sempurna kepada penghulu kami, Muhammad, yang dengannya akan terlerai pertikaian hidup, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala apa yang diperlukan, tercapai segala keinginan dan hasil yang baik (husnul Khatimah), tersiramilah hati yang gersang dengan perantaraan wajahnya yang mulia. Dan semoga dilimpahkan pula kepada keluarganya, para sahabatnya sebanyak ilmu-Mu.”
Jika kita benar-benar memahami akan hakikat kebenaran, telah jelas bahawa aiqdah tauhid yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mewajibkan supaya setiap Muslim meyakini bahawa hanya Allah yang mampu menyelesaikan (meleraikan) pertikaian di dalam kehidupan, menghilangkan segala kesusahan, yang memenuhi segala bentuk keperluan, dan memperkenankan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya.
Seseorang Muslim tidak dibenarkan berdoa kepada selain Allah. Walaupun kepada para Malaikat dan Nabi yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman (maksudnya),
“Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, sebenarnya pada hakikatnya mereka tidak memiliki sebarang kuasa untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. Sesungguhnya yang mereka seru itu, mereka sendiri sentiasa mencari jalan agar mereka menjadi yang paling dekat (kepada Allah), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Surah al-Isra’, 17: 56-57)
“Hanya kepada Allah kami menyembah, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.” (Surah al-Fatihah, 1: 5)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan berkenaan ayat ini,
“Yang dapat melakukan semua itu hanyalah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Menciptakan dan meemrintahklan hanyalah hak Allah semata. Di mana berkenaan firman Allah (maksudnya): “Orang-orang musyrik dahulu sering menyatakan “Kami menyembah Malaikat, ‘Isa al-Masih, dan ‘Uzair”. Mereka itulah yang diseru sebagai tempat memohon sesuatu oleh orang-orang musyrik.” (Rujuk: Tafsir Ibnu Katsir di bawah perbahasan ayat 56-57 Surah al-Isra’)
Jika kita perhatikan rangkap selawat tersebut, dengan ia menunjukkan bentuk-bentuk permohonan doa kepada Nabi. Malah sifat-sifat yang tidak selayaknya, tetapi malah sebenarnya berlebih-lebihan (ghuluw) disandarkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Penutup:
Dari dua bentuk selawat yang telah kita lihat di atas, kita dapat perhatikan bahawa sifat-sifat yang dinisbatkan atau disandarkan kepada Nabi dalam untaian (atau rangkap) selawat tersebut sangat berlebih-lebihan dan memerangkap seseorang jatuh ke dalam lembah kesyirikan. Sekiranya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam mendengarnya, sudah pasti beliau tidak akan redha. Ini adalah berdasarkan beberapa dalil di bawah ini,
Firman Allah (maksudnya):
“(Dialah Allah) Yang telah menciptakan aku, lalu Dialah yang memberi aku petunjuk, dan Yang memberi makan dan minuman kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (Surah asy-Syu’araa’, 26: 78-80)
Dari Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau?” Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
“Adakah kamu menjadikan aku setara dengan Allah? (dalam riwayat yang lain, “tandingan bagi Allah?). Tidak, tetapi katakanlah: “Apa yang dikehendaki Allah sahaja”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Adabul Mufrad, no. 783)
Begitulah penjelasan daripada Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Salam sendiri.
Oleh itu, perlu kita fahami bahawa, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Tidak ada kaifiyah (cara) selawat yang lebih baik daripada kaifiyah yang diajarkan beilau Shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri. Jauhilah bentuk-bentuk beribadah yang direka cipta oleh manusia yang dengannya akan mengakibatkan pelbagai kesesatan dalam beragama.
“Ya Allah, selamatkanlah kami dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan dari sifat kemusyrikan yang besar atau pun yang kecil”
Selawat Syifa’:
اَللَّهُمَّ صَلِ عَلىَ مُحَمَّدٍ طِبِّ القُلُوْبِّ وَدَوَاِئهَا، وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَاِئهَا، وَنُوْرِاْلأَبصَارِ وَضِيَاِئهَا، وَعَلىَ أَلِهِ وَسَلَّمَ
Maksudnya: “Ya Allah, berikanlah selawat dan salam kepada Muhammad, yang memberi penawar dan pengubat hati (kalbu), yang memberi kesihatan dan penyembuhan badan, cahaya dan yang menerangkan pandangan mata. Juga ke atas keluarga beliau.”
Selawat ini banyak diamalkan oleh banyak tokoh-tokoh perubatan dan bomoh-bomoh tertentu di dalam negara kita (Malaysia) mahu pun di luar negara. Ia digunakan sebagai zikir atau bentuk doa untuk mengubati/merawat individu tertentu yang mengalami masalah kesihatan tertentu.
Ianya juga sangat popular malahan sehingga dinasyidkan dan dilagukan sebagai zikir-zikir harian. Malangnya, kebanyakan dari mereka (yang mengamalkannya) hanya tahu melafazkan dan melagukannya. Namun tidak mahu mengambil tahu berkenaan makna dan kesyirikan yang terkandung di dalamnya.
Lebih malang lagi, selawat tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melalui mana-mana riwayat hadis, apatah lagi tidak juga diamalkan oleh sahabat-sabahat Rasulullah sendiri. Maka, ianya adalah tergolong di dalam bentuk selawat-selawat ciptaan dan rekaan manusia berdasarkan akal dan nafsu.
Jika kita perhatikan satu persatu rangkap perkataan di dalam selawat tersebut, terdapat penyandaran sifat yang tidak selayaknya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam iaitu dengan sifat “yang memberi penawar”, “pengubat hati (kalbu)”, “yang memberi kesihatan”, “penyembuhan badan”, dan “yang menerangkan pandangan mata”. Padahal kita mengetahui bahawa yang mampu menyembuhkan dan memberi kesihatan badan, yang mampu mengubati hati, dan yang mampu menerangkan pandangan mata adalah hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Berkenaan sifat yang dinisbahkan (atau disandarkan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tersebut, beliau sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, apatah lagi untuk orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa memberi manfaat kepada diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah”.” (Surah al-A’raaf, 7: 188)
“...dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku,” (Surah asy-Syu’araa, 26: 80)
“Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tidaklah dia memiliki cahaya sedikit pun.” (Surah an-Nuur, 24: 40)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri bersabda (maksudnya):
“Janganlah kamu melampaui batas dengan mengagung-agungkan aku sebagaimana kaum Nasrani telah melakukannya terhadap Isa anak Mariam. Sesungguhnya tiadalah aku melainkan seorang hamba, maka katakanlah, “(Muhammad) Hamba dan Pesuruh Allah”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 3445, daripada ‘Umar al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu)
Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata:
“Sesungguhnya yang menyembuhkan dan yang memberi kesihatan badan, hati, dan mata hanyalah Allah sahaja. Adapun Rasulullah tidak memiliki kekuasaan untuk memberi manfaat bagi dirinya dan tidak pula untuk selainnya. Bentuk selawat ini (selawat Syifa’ di atas) menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya),
“Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak pula kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah...” (Surah Yunus, 10: 49) (Rujuk: Fadhilat Selawat Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, m/s. 113-114, Mubarak Mahfudh Bamuallim. Juga al-Firqatun Najiyah, m/s. 192-193, Syaikh Muhammad Jamil Zainu)
Selawat Nariyah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً، وَسلِّمْ سَلاَمًا تَامَّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَ بِهِ الْحَوَاِئجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Maksudnya: “Ya Allah, berikanlah selawat dan keselamatan yang sempurna kepada penghulu kami, Muhammad, yang dengannya akan terlerai pertikaian hidup, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala apa yang diperlukan, tercapai segala keinginan dan hasil yang baik (husnul Khatimah), tersiramilah hati yang gersang dengan perantaraan wajahnya yang mulia. Dan semoga dilimpahkan pula kepada keluarganya, para sahabatnya sebanyak ilmu-Mu.”
Jika kita benar-benar memahami akan hakikat kebenaran, telah jelas bahawa aiqdah tauhid yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mewajibkan supaya setiap Muslim meyakini bahawa hanya Allah yang mampu menyelesaikan (meleraikan) pertikaian di dalam kehidupan, menghilangkan segala kesusahan, yang memenuhi segala bentuk keperluan, dan memperkenankan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya.
Seseorang Muslim tidak dibenarkan berdoa kepada selain Allah. Walaupun kepada para Malaikat dan Nabi yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman (maksudnya),
“Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, sebenarnya pada hakikatnya mereka tidak memiliki sebarang kuasa untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. Sesungguhnya yang mereka seru itu, mereka sendiri sentiasa mencari jalan agar mereka menjadi yang paling dekat (kepada Allah), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Surah al-Isra’, 17: 56-57)
“Hanya kepada Allah kami menyembah, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.” (Surah al-Fatihah, 1: 5)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan berkenaan ayat ini,
“Yang dapat melakukan semua itu hanyalah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Menciptakan dan meemrintahklan hanyalah hak Allah semata. Di mana berkenaan firman Allah (maksudnya): “Orang-orang musyrik dahulu sering menyatakan “Kami menyembah Malaikat, ‘Isa al-Masih, dan ‘Uzair”. Mereka itulah yang diseru sebagai tempat memohon sesuatu oleh orang-orang musyrik.” (Rujuk: Tafsir Ibnu Katsir di bawah perbahasan ayat 56-57 Surah al-Isra’)
Jika kita perhatikan rangkap selawat tersebut, dengan ia menunjukkan bentuk-bentuk permohonan doa kepada Nabi. Malah sifat-sifat yang tidak selayaknya, tetapi malah sebenarnya berlebih-lebihan (ghuluw) disandarkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Penutup:
Dari dua bentuk selawat yang telah kita lihat di atas, kita dapat perhatikan bahawa sifat-sifat yang dinisbatkan atau disandarkan kepada Nabi dalam untaian (atau rangkap) selawat tersebut sangat berlebih-lebihan dan memerangkap seseorang jatuh ke dalam lembah kesyirikan. Sekiranya beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam mendengarnya, sudah pasti beliau tidak akan redha. Ini adalah berdasarkan beberapa dalil di bawah ini,
Firman Allah (maksudnya):
“(Dialah Allah) Yang telah menciptakan aku, lalu Dialah yang memberi aku petunjuk, dan Yang memberi makan dan minuman kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (Surah asy-Syu’araa’, 26: 78-80)
Dari Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau?” Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
“Adakah kamu menjadikan aku setara dengan Allah? (dalam riwayat yang lain, “tandingan bagi Allah?). Tidak, tetapi katakanlah: “Apa yang dikehendaki Allah sahaja”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Adabul Mufrad, no. 783)
Begitulah penjelasan daripada Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Salam sendiri.
Oleh itu, perlu kita fahami bahawa, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Tidak ada kaifiyah (cara) selawat yang lebih baik daripada kaifiyah yang diajarkan beilau Shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri. Jauhilah bentuk-bentuk beribadah yang direka cipta oleh manusia yang dengannya akan mengakibatkan pelbagai kesesatan dalam beragama.
“Ya Allah, selamatkanlah kami dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan dari sifat kemusyrikan yang besar atau pun yang kecil”
Thursday, January 7, 2010
Say No to Hadith Maudhu' and Beware oF Hadith Dhoif..
Dewasa ini kita sering melihat para penulis-penulis serta penceramah-penceramah agama yang tidak memberi perhatian yang tinggi terhadap ketulenan dalil-dalil yang mereka guna pakai ketika menghasilkan bahan dakwah mereka. Walaupun sesetengah di antara mereka ini memiliki bergulung-gulung ijazah dari universiti yang hebat-hebat dan mendakwa memiliki ijazah yang bersanad sehingga kepada Rasulullah s.a.w. daripada para Syaikh yang dikatakan memiliki maqam yang tinggi, namun mereka sering mencemari hasil kerja mereka dengan hadis-hadis yang sebenarnya tidak bersumber daripada Rasulullah s.a.w.. Apabila mereka ini ditegur pasti mereka akan berkata bahawa para ulamak telah membenarkan penggunaan hadis lemah (dha’if) walaupun pada hakikatnya mereka tidak sekadar mempergunakan hadis-hadis yang dha’if sahaja bahkan mereka turut memaparkan hadis-hadis yang palsu (mawdhu’). Sebenarnya jawapan balas mereka itu hanyalah untuk mengaburi mata orang awam akan kejahilan mereka dalam ilmu hadis. Sikap golongan agama sebegini telah dicela oleh Imam Abu Bakr al-Khatib dalam buku al-Kifayah fi ‘Ilmi al-Riwayah (ms.32):
Mereka merasa lelah dalam menghafal hadis, mencampur-adukkan perawi (mengkaji tentang perawi) menjauhi dalil qath’i (yang pasti) mengikuti apa yang tidak mereka ketahui, mereka lebih suka bersenang-senang dan istirehat, bahkan mengajar di majlis-majlis sedangkan mereka tidak berilmu serta mencela ilmu yang tidak mereka kuasai.
Mereka mengambil hadis dari buku-buku yang dijual, hanya mengeluarkan bayaran untuk mengumpulkan buku-buku itu, tanpa langsung mendengar hadis daripada para perawi, tidak mengetahui tentang semua yang berhubungan dengan perawi. Apabila mereka menghafal hadis maka mereka mencampur-adukkan yang buruk dengan yang baik dan yang benar-benar sahih dengan yang lemah.
Jika ditanyakan kepada mereka tentang sanad atau dalil dari sesuatu hadis mereka menjadi bingung, mengusap janggutnya yang semua itu menunjukkan kebodohan mereka dalam hal ini seperti keldai dalam kandangnya. Apabila mereka bertemu ahli hadis yang mana ilmu ini tidak mereka kuasai, mereka mencela para ahli hadis ini bahkan terus tidak mengendahkan mereka - Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if (edisi terjemahan dengan tajuk Hukum Mengamalkan Hadits Dha’if, Pustaka Azzam, Jakarta 2004), ms 48-49.
Bermodalkan jubah serta serban yang dipakainya, akhirnya orang awam menelan bulat-bulat kata-kata mereka tersebut disebabkan status mereka sebagai kelompok yang dianggap intelektual dalam bidang agama dan hasilnya sesuatu amal ibadah mahupun kepercayaan yang tidak bersumber daripada Rasulullah s.a.w. telah dianggap sebagai amalan yang sunnah oleh orang ramai.
Sebelum kita meneruskan perbahasan tentang hukum menggunakan hadis yang statusnya dha’if, sewajarnya kita melihat jalan yang ditempuhi oleh Imam al-Syafi`i r.h dalam menerima atau menolak sesebuah hadis Rasulullah s.a.w.. Semoga dengan pemahaman yang benar dalam syarat-syarat sah dan diterimanya hadis menurut Imam al-Syafi`i ini, ianya akan dapat kita jadikan pedoman dalam berinteraksi dengan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w..
Imam al-Syafi`i r.h. bercerita:
Ada seorang berkata: “Sebutkan kepadaku batas minimum syarat untuk diterima hujah terhadap ahli ilmu sehingga berita atau riwayat orang khusus diterima dan dianggap (benar) bagi mereka."
Aku (Imam al-Syafi`i r.h menjawab : "Riwayat satu orang daripada satu orang, hingga sampai kepada Nabi atau hingga ke bawah (peringkat terakhir / paling bawah). Hujah dan perbahasan dengan riwayat satu orang tidak dapat diterima kecuali jika memenuhi sejumlah kriteria.
Di antara kriteria itu adalah yang meriwayatkan adalah seorang tsiqah (terpercaya) dalam agama, dikenal jujur dalam berbicara, faham dengan apa yang diriwayatkannya, mengetahui maksud lafaz, dan ketika menyampaikan hadis dia menyampaikan sesuai dengan apa yang didengar tepat dengan huruf-hurufnya dan tidak menyampaikannya dengan makna (dengan lafaz dari dia sendiri). Kerana bila dia meriwayatkannya dengan makna (dengan pemahaman dia sendiri), padahal dia tidak mengetahui maksud lafaz, maka mungkin terjadi dia salah memahami sehingga seharusnya haram, malah dia katakan halal. Dan apabila dia menyampaikannya (meriwayatkannya) dengan huruf-hurufnya, maka kesalahfahaman tersebut tidak akan terjadi. Dia harus meriwayatkannya seperti itu baik dengan cara dihafal atau ditulis.
Bila ada ahli penghafal hadis yang lain meriwayatkan hadisnya, maka riwayatnya harus sama dengan riwayatnya itu. Juga dia tidak tergolong seorang yang mudallis (menipu) dengan meriwayatkan dari seorang yang dijumpainya pada satu riwayat yang tidak didengar olehnya, dia harus meriwayatkan daripada Nabi s.a.w. riwayat yang tidak berbeza dengan apa yang diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah daripada Nabi s.a.w.. Begitulah kriteria yang harus dimiliki mulai perawi terendah (paling bawah) hingga paling atas yang sampai kepada Nabi s.a.w.. Kerana masing-masing daripada mereka diakui oleh orang yang mengambil riwayatnya dan oleh orang yang mengambil riwayat daripadanya, sehingga masing-masing daripada mereka harus memenuhi kriteria ini." – rujuk Dr Muhammad A.W. al-‘Aqil, Manhaj al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullah Ta’ala fi Itsbat al-Aqidah (edisi terjemahan dengantajuk Manhaj Aqidah Imam al-Syafi’i rahimahullah Ta’ala) ms. 89
Sekian kata-kata Imam al-Syafi`i rahimahullah yang darinya boleh kita membuat satu kesimpulan bahawa beliau menerima hadis dan mengikutinya dengan syarat hadis itu sah daripada Rasulullah s.a.w.. Kriteria yang telah ditetapkan oleh Imam al-Syafi`i r.h ini adalah sama dengan kaedah yang telah dibuat oleh para ulamak hadis dalam bidang musthalah iaitu:
1) Sanadnya tersambung (tidak putus / muttashil)
2) Para Perawinya adil
3) Perawinya dhabit (tepat dan sempurna hafalannya)
4) Selamat dari syadz. Yang dimaksudkan syadz adalah riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat orang lain yang lebih tsiqah darinya.
5) Selamat dari 'illat atau cacat yang membuatnya cela.
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir r.h mengomentari ucapan Imam al-Syafi`i r.h di atas sebagai berikut:
"Siapa sahaja yang memahami ucapan Imam al-Syafi`i r.h pada bab ini, pasti dia akan mendapati, bahwa Imam al-Syafi`i r.h telah merangkum kaedah-kaedah yang sahih tentang ilmu al-hadis (al-Musthalah), dan bahawa dialah yang pertama kali menjelaskan secara jelas tentangnya, dia juga sebagai pembela hadis serta orang yang berhujah tentang wajibnya mengamalkan sunnah. Imam al-Syafi`i r.h juga memberi bantahan terhadap orang-orang yang menentang dan menolak hadis. Benarlah penduduk Makkah yang menggelari Imam al-Syafi`i r.h dengan gelar Nashir al-Sunnah (pembela sunnah), semoga Allah S.W.T. meredhainya." – rujuk Dr Muhammad AW al-‘Aqil, Manhaj Aqidah Imam al-Syafi’i, ms. 89
Demikian serba ringkas tentang mazhab Imam al-Syafi`i r.h dalam mengesahkan dan menerima sesebuah hadis yang boleh kita semua jadikan sebagai pedoman dan inilah manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah yang sebenar. Ternyata ianya berbeza dengan sikap sesetengah ilmuwan Islam tempatan yang mengaku kuat berpegang kepada mazhab Syafi’i, tetapi mengambil sikap acuh tak acuh dalam meriwayatkan sesuatu hadis.
Apakah itu hadis Dha’if? Hadis lemah atau dha’if adalah hadis yang tidak menepati persyaratan hadis sahih atau hasan. Kelemahan hadis tersebut boleh disebabkan oleh dua perkara yakni:
a) Terputus atau gugurnya sanad (mata rantai perawi hadis)
b) Disebabkan perawi (mereka yang mengkhabarkan hadis tersebut) dalam sanad hadis itu terdapat celaan terhadapnya mahupun kelemahan peribadi.
Tanggapan bahawa dibenarkan penggunaan hadis-hadis dha’if muncul dari pendapat sesetengah para ulamak yang membenarkan penggunaannya dalam bab fadhaail al-amal (keutamaan melakukan sesuatu amal) atau targhib (anjuran untuk melakukan sesuatu amalan) dan tarhib (amaran terhadap sesuatu amalan). Mereka sering berhujah dengan kata-kata Imam Ahmad r.h seperti berikut:
Apabila kami meriwayatkan daripada Rasulullah s.a.w. tentang halal dan haram dan sunnah-sunnah hukum-hukum, nescaya kami keraskan yakni kami periksa dengan ketat sanad-sanadnya. Dan apabila kami meriwayatkan daripada Nabi s.a.w. tentang fadhaail al-amal yang tidak menyangkut masalah hukum dan tidak disandarkan kepada baginda s.a.w., nescaya kami permudahkan (pemeriksaan) sanad-sanadnya. – Diriwayatkan oleh Imam al-Khatib al-Baghdadi di dalam Kifaayah fi Ilmir Riwayah, ms. 134.
Sebenarnya maksud Imam Ahmad di atas tidak menyokong hujah mereka kerana bagi beliau pembahagian hadis hanyalah menjadi dua iaitu sahih dan dha’if. Hadis dh’aif pula terpecah kepada dua kategori iaitu:
a) Hadis dha’if yang tertolak dan tidak dipakai sebagai hujah.
b) Hadis dhai’if yang boleh dijadikan hujah.
Hadis dha’if jenis kedua ini menurut istilah Imam al-Tirmidzi r.h dikenali sebagai hadis Hasan yang temasuk dalam kategori hadis yang sabit (thabithah). Hadis Hasan ialah hadis yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang yang adil, kurang dhabit, serta tidak ada syadz dan ‘illat yang berat di dalamnya. Ini bermakna semenjak zaman Imam al-Tirmidzi hadis dibahagikan menjadi tiga jenis iaitu sahih, hasan dan dha’if. Oleh itu maksud sebenar Imam Ahmad r.h dengan permudahkan pemeriksaan sanad (tasaahul) dalam perkara berkaitan fadhaail al-amal adalah beramal dengan hadis yang berstatus Hasan. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir r.h. ketika mensyarah buku al-Ba’iistul-Hasist Syarah Ikhtisar Ulumil-Hadith karya Ibnu Kathir r.h (jilid 1, ms. 279) telah berkata:
Sesungguhnya maksud ucapan mereka (termasuk Imam Ahmad, ‘Abdul Rahman bin Mahdi dan ‘Abdullah bin Mubarak) yang lebih tepat –wallahu a’lam- bahawa mempermudahkan maknanya pengambilan hadis hasan yang tidak sampai kedudukan kepada hadis sahih.
Selanjutnya Ibnu Qayyim r.h dalam kitabnya I’lam al-Mauqi’in ketika memaparkan tentang dasar hukum keempat berkata tentang pandangan Imam Ahmad:
Dasar hukum keempat: berpedoman kepada hadis mursal dan dha’if jika tidak ada yang membantahnya, beliaulah (iaitu Imam Ahmad) yang mengutamakan hadis mursal dan dha’if di atas qiyas. Hadis dha’if yang dimaksudkannya bukanlah hadis yang bathil, munkar yang salah satu perawinya tertuduh sebagai pemalsu hadis sehingga menyebabkan larangan pengamalan hadis ini. Tetapi dha’if menurut beliau adalah sebahagian dari sahih dan sebahagian dari hadis hasan, kerana beliau tidak membahagi hadis kepada sahih, hasan dan dha’if, tetapi beliau membahagi hadis kepada sahih dan dha’if. – Rujuk I’lam al-Mauqi’in, jilid 1, ms. 31. Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 125.
Bagi mereka yang suka menyebarkan hadis dha’if, mereka beranggapan telah terjadi ijmak (kesepakatan) di kalangan para ulamak tentang sahnya penggunaan hadis dha’if dalam perkara fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib sedangkan realitinya telah terjadi khilaf (perbezaan pendapat) di antara para ulamak sebagaimana diterangkan secara meluas di dalam kitab-kitab musthalah. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani r.h:
Nukilan ini (terjadinya ijmak tentang dibenarkan penggunaan hadis dha’if dalam bab fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib) perlu dipersoalkan kerana perbezaan pendapat dalam masalah ini tetap ada di mana sebahagian para peneliti hadis berpihak kepada pendapat tidak dibolehkan menggunakan hadis dha’if secara mutlak dalam masalah hukum atau fadhaail. Syaikh Jamaluddin al-Qosimi r.h dalam Qowa’id at-Tahdits (m.s. 94) berkata:
Dikisahkan oleh Ibnu Sayyid al-Nas dalam Uyun al-Atsar daripada Yahya bin Ma’in dan dinisbatkan kepada Abu Bakar bin al-‘Arabi dalam Fath al-Mughits, sebenarnya ini juga pendapat Bukhari dan Muslim… juga pendapat Ibnu Hazm. - Tamamul Minnah fit-Ta’liq ‘Ala Fiqhus Sunnah, (edisi terjemahan dengan tajuk Terjemah Tamamul Minnah Koreksi dan Komentar Ilmiah Terhadap Kitab Fiqhus Sunnah Karya Syaikh Sayyid Sabiq) ms. 27
Inilah juga pegangan Imam al-Syafi’i r.h yang tekenal dengan kata-katanya seperti di bawah:
"Apabila hadis itu sahih, maka ia adalah madzhabku." – rujuk Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wasallam min at-Takbiiri at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, (edisi terjemahan dengan tajuk Sifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) ms. 58
“Setiap apa yang aku katakan, sedangkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdapat hadis sahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadis nabi adalah lebih utama. Oleh itu, janganlah kamu mengikutiku (bertaklid padaku)." – rujuk Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, ms. 59
“Setiap perkara yang aku telah perkatakannya, sedang ada riwayat yang sahih di sisi ulama hadis daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menyanggahi apa yang aku ucapkan, maka aku menarik balik ucapanku semasa hidupku dan selepas mati”. – rujuk Ibn Qayyim al-Jauziyyah, 'Ilam al-Muwaqqi'iin, jilid 2 ms. 263
Selanjutnya apa yang sebenarnya dimaksud oleh sebahagian para ulamak bahwa boleh beramal dengan hadis-hadis dha’if untuk fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib ialah apabila telah wujudnya dalil yang sahih secara tafshil (terperinci) yang menetapkan tentang sesuatu amal, baik wajib, sunat, haram atau makruh, kemudian datang hadis-hadis dha'if yang menerangkan tentang keutamaannya (fadhaail al-amal) atau tarhib dan targhibnya dengan syarat hadis-hadis tersebut tidak terlalu dha'if atau maudhu' (palsu) maka inilah yang dimaksud oleh sebahagian ulamak: boleh beramal dengan hadis-hadis dha'if untuk fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Satu lagi syaratnya yang perlu dilihat adalah hadis dh’aif tersebut masih membicarakan hukum asli tanpa adanya penambahan atau menetapkan batasan baru bagi amalan tersebut. Sebagai contohnya amalan berpuasa sunat pada hari Isnin dan Khamis atau pada bulan-bulan haram telah ditetapkan menerusi dalil yang sah dari hadis-hadis Nabi s.a.w.. Setelah itu terdapat hadis-hadis dha’if yang ringan berbentuk fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib yang tidak berlebihan, maka sesetengah ulamak menbenarkan beramal dengan hadis tersebut. Berbeza pula sekiranya melakukan ibadah tertentu pada malam Nisfu Sya’ban yang tidak memiliki sebarang sandaran dari al-Qur’an mahupun al-Sunnah, maka dalam situasi sebegini hadis yang ringan kedha’ifannya pada dasarnya tidak memiliki sebarang nilai. Apa pun jua bagi para ulamak yang membolehkan pengamalan hadis dha’if yang ringan dalam bab fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib telah menetapkan beberapa persyaratan yang sangat berat dan ketat. Menurut Syaikh Abu ‘Abdullah Sayid bin ‘Abbas al-Jalimi:
Para peneliti dalam disiplin ilmu ini menyatakan larangan mengamalkan hadis dha’if baik dalam hukum mahupun bab fadhaail al-amal (keutamaan ibadah). Golongan yang membenarkan mengamalkan hadis dalam keutamaan ibadah sekalipin hadis dha’if (selama bukan hadis palsu atau sangat lemah) telah menetapkan syarat-syarat penting yang harus dipenuhi dalam mengamalkan hadis tersebut. - Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if , ms 18.
Syarat-syaratnya adalah seperti berikut:
Syarat pertama: Penggunaan hadis tersebut khusus untuk perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Penggunaan hadis dha’if dalam hal-hal berkaitan akidah dan penetapan hukum-hakam (seperti mewajibkan mahupun menetapkan hukum sunat terhadap sesuatu amal) adalah sama sekali tidak dibenarkan. Menetapkan hukum ke atas sesuatu amalan mestilah berlandaskan nas yang sabit. Sekiranya tidak seseorang itu berkemungkinan tinggi akan terjebak ke dalam perbuatan mencipta syari’at yang baru. Imam al-Syafi’i r.h telah mengingatkan kita dengan kata-katanya yang masyhur:
“Sesiapa yang menganggap baik (apa yang diciptakan dalam agama tanpa nas dari al-Qur’an dan al-Sunnah), dia telah mencipta syarak, sesiapa yang mencipta syarak, maka dia telah kafir.” - Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Risalah, ms. 507
Syarat kedua: Hadis yang dipergunakan tersebut tidak terlalu dha'if. Hadis-hadis maudhu' (palsu), munkar (hadis yg diriwayatkan perawi yang dha’if bertentangan dengan riwayat dari perawi yang thiqah) dan hadis-hadis La ashla lahu (yang tidak diketahui asal-usulnya) sama sekali tidak dibenarkan penggunaannya.
Syarat ketiga: Hadis tersebut tidak boleh diyakini sebagai sabda Nabi s.a.w.. Justeru itu ketika mempergunakan hadis tersebut tidak boleh menggunakan lafaz-lafaz yang menetapkan secara pasti (jazm) bahawa hadis tersebut berasal daripada Rasulullah s.a.w. seperti: 'Nabi s.a.w. telah bersabda' atau 'Baginda s.a.w. telah mengerjakan sesuatu' atau 'Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan dan melarang' dan lain-lain yang menunjukkan seolah-olah baginda s.a.w. benar-benar bersabda demikian. Tetapi wajib menggunakan lafadz tamridh (yaitu lafaz yang tidak menunjukkan sebagai suatu ketetapan). Seperti: 'Telah diriwayatkan dari Nabi s.a.w.’ dan yang serupa dengannya.
Syarat keempat: Hadis tersebut harus mempunyai dasar yang umum dari hadis yang sabit. Ini bermakna bahawa hadis dha’if yang dipergunakan tersebut tidak membentuk satu amalan yang baru yang dikategorikan sebagai bidaah.
Syarat kelima: Hadis tersebut tidak boleh disebarkan kepada orang ramai ataupun mengajak orang ramai untuk beramal dengan hadis tersebut. Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar r.h dalam Tabyin al-Ajib Bimaa Warada Fi Fadli Rajab (ms. 23-26) telah berkata:
“Bahawa para ahli ilmu telah mempermudah-mudahkan dalam membawakan hadis-hadis tentang fadhaail al-amal. Walaupun ada diantaranya lemah (dha’if) selama tidak palsu (mawdhu’) Sepatutnya perkara itu diberikan syarat iaitu orang yang beramal dengannya, meyakini bahawa hadis itu lemah dan tidak memasyhurkannya agar tidak ada orang yang melaksanakan hadis dha’if kemudian mengsyariatkannya atau diduga oleh sebahagian orang-orang yang bodoh bahawa hadis tersebut sahih (itu merupakan sunnah yang benar).” - Dinukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 80.
Syarat keenam: Wajib menperjelaskan status hadis tersebut sebagai dha'if ketika menukilnya dalam penulisan mahupun menyampaikan secara lisan.
Namun begitu sekiranya kita meneliti syarat-syarat di atas, sewajarnya kita bertanya kepada golongan yang gemar untuk menyebarkan hadis-hadis dha’if bersandarkan dakwaan bahawa ianya dibenarkan oleh ulamak-ulamak seperti al-Hafidz Ibnu Hajar, Imam al-Nawawi dan al-Hafidz al-Sakhawi; adakah kamu telah memperhatikan serta mempergunakan syarat-syarat tersebut dengan penuh keikhlasan ketika meriwayatkan hadis-hadis tersebut? Penulis yakin ramai di antara mereka yang telah membelakangi syarat-syarat tersebut apatah lagi proses untuk membezakan hadis yang darjatnya sahih, hasan, dha’if yang ringan, dha’if jiddan (sangat lemah), mawdhu’, munkar dan sebagainya seperti yang terdapat dalam ilmu hadis (al-Musthalah) hanya mampu dilakukan oleh mereka yang benar-benar pakar dalam bidang hadis. Menyedari hakikat ini adalah lebih baik bagi masyarakat Islam di Malaysia untuk memberikan keutamaan yang tinggi hanya untuk beramal dengan hadis-hadis yang sabit (iaitu sahih dan hasan) daripada baginda s.a.w..
Tindakan menyebar hadis-hadis Rasulullah s.a.w. tanpa terlebih dahulu meneliti kesahihannya merupakan satu jenayah ilmiah dan merupakan perbuatan yang tercela. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Cukuplah seseorang itu dianggap berdusta apabila dia menceritakan segala sesuatu yang dia dengar. – Hadis riwayat Imam Muslim di dalam Shahihnya, no: 5
Celaan tersebut adalah disebabkan setiap perkhabaran yang sampai kepada seseorang maka terdapat kemungkinan ianya perkara yang benar ataupun dusta. Oleh itu sekiranya seseorang itu menyebarkan apa jua perkara yang diterimanya tanpa terlebih dahulu meneliti kesahihannya, maka ini boleh mengakibatkan dirinya terjebak menjadi penyebar perkara yang dusta. Lantaran itu Rasulullah s.a.w. telah mencela perbuatan tersebut. Seharusnya kita sedari bahawa para sahabat r.a amat berhati-hati ketika menyampaikan hadis-hadis Rasulullah s.a.w.. Hal ini adalah sepertimana diriwayatkan di bawah:
Berkata Abdurrahman bin Abi Laila: Kami Pernah berkata kepada Zaid bin Arqam: Ceritakanlah kepada kami (hadis-hadis) daripada Rasulullah s.a.w.. Beliau menjawab: Kami telah tua dan lupa, sedangkan menceritakan hadis dariupada Rasulullah sangat berat. – Hadis riwayat Imam Ibnu Majah di dalam Sunannya, no: 25
Satu perkara yang sewajarnya kita yakini adalah perbahasan yang wujud dalam hadis-hadis yang sahih dan hassan telah mencakupi seluruh bidang ilmu dalam Islam termasuk perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Dr. Asyraf bin Sa’id berkata:
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Muslim bahawa hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh perawai yang terpercaya atau para ahli ilmu sangat banyak jumlahnya sehingga tidak perlu meriwayatkan lagi dari perawi yang lemah dan cacat. Begitu juga yang dikatakan oleh Ibnu Hibban:
Kami tidak berdasarkan kepada dalil yang tidah sah dari segi periwayatan dalam buku kami kerana dalil-dalil sahih yang ada sudah cukup bagi kami. - Dinukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 108.
Sesungguhnya pengamalan hadis dha’if ini membuka pintu kerosakan. Pada mulanya mungkin seseorang itu membataskan diri dalam perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib sahaja. Namun lambat laun penggunaan hadis dha’if ini akan menular pula dalam perkara berkaitan dengan akidah, tauhid dan hukum-hukum lain sebagaimana yang terjadi sekarang. Di antara kerosakan yang fatal dalam sikap terlalu mengambil mudah dalam pengamalan hadis dha’if ini adalah timbulnya amalan bid’ah dalam masyarakat terutamanya hadis-hadis dha’if yang mengkhususkan amalan tertentu, dikerjakan pada hari, tatacara, tempat, keadaan ataupun jumlah yang tertentu tanpa disokong oleh riwayat yang sah daripada Rasulullah s.a.w..
Jelas bagi kita bahawa periwayatan hadis-hadis Rasulullah bukanlah satu perkara yang boleh di ambil mudah. Kita seharusnya berusaha untuk meneliti statusnya terlebih dahulu. Sekiranya tidak mampu untuk berbuat demikian maka hendaklah kita merujuk kepada mereka yang ahli dalam bidang hadis. Sewajarnya kita tidak menyebarkan sesuatu hadis hanya bersandarkan persangkaan di dalam diri masing-masing bahawa ianya hadis yang sabit. Sesungguhnya sikap hanya bergantung kepada persangkaan telah dicela oleh Allah S.W.T. melalui firman-Nya:
Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan. – Yunus (10) : 36
Justeru itu satu tindakan yang bersepadu oleh ilmuwan Islam di Malaysia perlu di ambil demi untuk membersihkan hadis-hadis dha’if dan mawdhu’ yang telah disebarkan di tengah-tengah masyarakat oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Ini merupakan salah satu agenda utama gerakan Tajdid di Malaysia dan ianya adalah satu usaha yang murni kerana terdapat ancaman yang keras daripada Rasulullah s.a.w bagi mereka yang berdusta di atas nama baginda. Menurut Imam al-Thahawi r.h di dalam kitabnya Musykilul Athar (jilid 1, ms. 176):
Barangsiapa yang menceritakan (hadis) dari Rasulullah s.a.w. atas dasar zhan / persangkaan, bererti dia telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan tanpa haq (dengan tidak benar). Dan orang yang menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan tanpa haq, bererti dia telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan cara yang batil. Dan orang yang telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan cara yang batil, nescaya dia menjadi salah seorang pendusta yang masuk ke dalam sabda Nabi s.a.w.:
Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya no: 107
Jumhur ulama telah bersepakat bahawa hadith dhaif tidak boleh digunakan dalam urusan agama yang melibatkan hukum-hakam. Namun, di sana timbul persoalan, adakah boleh beramal dengan hadith yang dhaif dalam kes targhib wa tarhib /fadhail ’amal (kelebihan amalan)? Perbahsan begini begitu penting dalam rangka memelihara kemurnian sunnah nubuwwah.
Sepanjang penelitian terhadap beberapa penulisan, di dapati di sana terdapat beberapa pendapat mengenai penggunaan hadith dhaif dalam kes targhib wa tarhib/Fadhail ’amal. Ringkasannya seperti ini :
1) Tidak bolek beramal secara mutlak. Antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Bukhari, Muslim, Ibn Hazm, dll
2) Boleh beramal dengan hadith dhaif antara yang berpendapat sedemikian adalah Imam Ahmad
3) Boleh beramal tetapi bersyarat. Inilah pendapat Ibn Hajar al-Asqalani antaranya.
Pendapat yang mengatakan bahawa boleh beramal kebanyakannya daripada ulama2 mutaakhirin (terdahulu). Sesuatu yang penting untuk dibincangkan di sini adalah pembahagian sahih, hasan dan dhaif wujud setelah diperkenalkan oleh Imam al-Tirmidhi (m. 279 H). Sebelum itu, pembahagiannya terbatas kepada sahih dan dhaif sahaja. Imam Ahmad (m. 241 H) yang mengatakan boleh beramal dengan hadith dhaif dalam fadhail ’amal adalah perlu ditafsir semula. Mungkin pendapat Imam Ahmad itu adalah hadith hasan yang terdapat sekarang dan bukannya dhaif.
Manakala ulama2 yang mengharuskan penggunaan hadith dhaif dalam fadhail ’amal dengan syarat memerlukan penilitian yang mendalam terhadap syarat2 yang dikenakannya. Seperti 3 syarat yang dikenakan oleh Ibn Hajar iaitu hadith tersebut bukanlah hadith yang terlalu lemah, berada dalam dasar umum (ada riwayat2 lain yang menyokong atau tidak bercanggah dengan al-Quran dan Sunnah yang sahih), dan tidak beriktiqad bahawa ianya datang daripada Rasulullah saw. Ketiga-tiga syarat ini apabila didalami, seolah-olah hadith tersebut telah menjadi hasan li ghai rih, dan bukan lagi dhaif.
Kesimpulannya :
Setelah kita melihat beberapa aspek penting terhadap pendapat2 ulama, lebih selamat kiranya mengambil pendapat2 yang menolak menggunakan hadith dhaif.
Sebagai seorang mukmin yang mencintai Rasulullah saw, target hidup kita seboleh mungkin ingin mengikuti setiap langkah kekasih Allah ini. Namun, hadith dhaif adalah riwayat yang masih diragui kesahihannya. Adakah benar daripada Rasulullah saw ataupun bukan.
Walaupun dalam kes targhib wa tarhib kerana mana mungkin boleh kita katakan sesuatu yang langsung tidak pernah disabdakan oleh Baginda saw. Kalaulah begitu, ianya telah termasuk dalam golongan yang disediakan tempat duduknya di neraka. Selain itu, kenapa perlunya kita membezakan antara hukum hakam dan tarhib wa targhib? Sedangkan kedua2nya adalah sebahagian daripada agama. Kalaulah dalam isu hukum hakam kita sepakat tidak boleh gunakan hadith dhaif, kenapa tidak dalam kes targhih wa tarhib. Lagipun, hadith sahih dan hasan dalam kes ini masih banyak dan hanya kita yang tidak mencarinya. Itu lebih selamat daripada terjatuh dalam golongan yang mendustakan Rasulullah saw.Moga ALLAH selamatkan kita daripada kepanasan api neraka..
Mereka merasa lelah dalam menghafal hadis, mencampur-adukkan perawi (mengkaji tentang perawi) menjauhi dalil qath’i (yang pasti) mengikuti apa yang tidak mereka ketahui, mereka lebih suka bersenang-senang dan istirehat, bahkan mengajar di majlis-majlis sedangkan mereka tidak berilmu serta mencela ilmu yang tidak mereka kuasai.
Mereka mengambil hadis dari buku-buku yang dijual, hanya mengeluarkan bayaran untuk mengumpulkan buku-buku itu, tanpa langsung mendengar hadis daripada para perawi, tidak mengetahui tentang semua yang berhubungan dengan perawi. Apabila mereka menghafal hadis maka mereka mencampur-adukkan yang buruk dengan yang baik dan yang benar-benar sahih dengan yang lemah.
Jika ditanyakan kepada mereka tentang sanad atau dalil dari sesuatu hadis mereka menjadi bingung, mengusap janggutnya yang semua itu menunjukkan kebodohan mereka dalam hal ini seperti keldai dalam kandangnya. Apabila mereka bertemu ahli hadis yang mana ilmu ini tidak mereka kuasai, mereka mencela para ahli hadis ini bahkan terus tidak mengendahkan mereka - Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if (edisi terjemahan dengan tajuk Hukum Mengamalkan Hadits Dha’if, Pustaka Azzam, Jakarta 2004), ms 48-49.
Bermodalkan jubah serta serban yang dipakainya, akhirnya orang awam menelan bulat-bulat kata-kata mereka tersebut disebabkan status mereka sebagai kelompok yang dianggap intelektual dalam bidang agama dan hasilnya sesuatu amal ibadah mahupun kepercayaan yang tidak bersumber daripada Rasulullah s.a.w. telah dianggap sebagai amalan yang sunnah oleh orang ramai.
Sebelum kita meneruskan perbahasan tentang hukum menggunakan hadis yang statusnya dha’if, sewajarnya kita melihat jalan yang ditempuhi oleh Imam al-Syafi`i r.h dalam menerima atau menolak sesebuah hadis Rasulullah s.a.w.. Semoga dengan pemahaman yang benar dalam syarat-syarat sah dan diterimanya hadis menurut Imam al-Syafi`i ini, ianya akan dapat kita jadikan pedoman dalam berinteraksi dengan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w..
Imam al-Syafi`i r.h. bercerita:
Ada seorang berkata: “Sebutkan kepadaku batas minimum syarat untuk diterima hujah terhadap ahli ilmu sehingga berita atau riwayat orang khusus diterima dan dianggap (benar) bagi mereka."
Aku (Imam al-Syafi`i r.h menjawab : "Riwayat satu orang daripada satu orang, hingga sampai kepada Nabi atau hingga ke bawah (peringkat terakhir / paling bawah). Hujah dan perbahasan dengan riwayat satu orang tidak dapat diterima kecuali jika memenuhi sejumlah kriteria.
Di antara kriteria itu adalah yang meriwayatkan adalah seorang tsiqah (terpercaya) dalam agama, dikenal jujur dalam berbicara, faham dengan apa yang diriwayatkannya, mengetahui maksud lafaz, dan ketika menyampaikan hadis dia menyampaikan sesuai dengan apa yang didengar tepat dengan huruf-hurufnya dan tidak menyampaikannya dengan makna (dengan lafaz dari dia sendiri). Kerana bila dia meriwayatkannya dengan makna (dengan pemahaman dia sendiri), padahal dia tidak mengetahui maksud lafaz, maka mungkin terjadi dia salah memahami sehingga seharusnya haram, malah dia katakan halal. Dan apabila dia menyampaikannya (meriwayatkannya) dengan huruf-hurufnya, maka kesalahfahaman tersebut tidak akan terjadi. Dia harus meriwayatkannya seperti itu baik dengan cara dihafal atau ditulis.
Bila ada ahli penghafal hadis yang lain meriwayatkan hadisnya, maka riwayatnya harus sama dengan riwayatnya itu. Juga dia tidak tergolong seorang yang mudallis (menipu) dengan meriwayatkan dari seorang yang dijumpainya pada satu riwayat yang tidak didengar olehnya, dia harus meriwayatkan daripada Nabi s.a.w. riwayat yang tidak berbeza dengan apa yang diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah daripada Nabi s.a.w.. Begitulah kriteria yang harus dimiliki mulai perawi terendah (paling bawah) hingga paling atas yang sampai kepada Nabi s.a.w.. Kerana masing-masing daripada mereka diakui oleh orang yang mengambil riwayatnya dan oleh orang yang mengambil riwayat daripadanya, sehingga masing-masing daripada mereka harus memenuhi kriteria ini." – rujuk Dr Muhammad A.W. al-‘Aqil, Manhaj al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullah Ta’ala fi Itsbat al-Aqidah (edisi terjemahan dengantajuk Manhaj Aqidah Imam al-Syafi’i rahimahullah Ta’ala) ms. 89
Sekian kata-kata Imam al-Syafi`i rahimahullah yang darinya boleh kita membuat satu kesimpulan bahawa beliau menerima hadis dan mengikutinya dengan syarat hadis itu sah daripada Rasulullah s.a.w.. Kriteria yang telah ditetapkan oleh Imam al-Syafi`i r.h ini adalah sama dengan kaedah yang telah dibuat oleh para ulamak hadis dalam bidang musthalah iaitu:
1) Sanadnya tersambung (tidak putus / muttashil)
2) Para Perawinya adil
3) Perawinya dhabit (tepat dan sempurna hafalannya)
4) Selamat dari syadz. Yang dimaksudkan syadz adalah riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat orang lain yang lebih tsiqah darinya.
5) Selamat dari 'illat atau cacat yang membuatnya cela.
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir r.h mengomentari ucapan Imam al-Syafi`i r.h di atas sebagai berikut:
"Siapa sahaja yang memahami ucapan Imam al-Syafi`i r.h pada bab ini, pasti dia akan mendapati, bahwa Imam al-Syafi`i r.h telah merangkum kaedah-kaedah yang sahih tentang ilmu al-hadis (al-Musthalah), dan bahawa dialah yang pertama kali menjelaskan secara jelas tentangnya, dia juga sebagai pembela hadis serta orang yang berhujah tentang wajibnya mengamalkan sunnah. Imam al-Syafi`i r.h juga memberi bantahan terhadap orang-orang yang menentang dan menolak hadis. Benarlah penduduk Makkah yang menggelari Imam al-Syafi`i r.h dengan gelar Nashir al-Sunnah (pembela sunnah), semoga Allah S.W.T. meredhainya." – rujuk Dr Muhammad AW al-‘Aqil, Manhaj Aqidah Imam al-Syafi’i, ms. 89
Demikian serba ringkas tentang mazhab Imam al-Syafi`i r.h dalam mengesahkan dan menerima sesebuah hadis yang boleh kita semua jadikan sebagai pedoman dan inilah manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah yang sebenar. Ternyata ianya berbeza dengan sikap sesetengah ilmuwan Islam tempatan yang mengaku kuat berpegang kepada mazhab Syafi’i, tetapi mengambil sikap acuh tak acuh dalam meriwayatkan sesuatu hadis.
Apakah itu hadis Dha’if? Hadis lemah atau dha’if adalah hadis yang tidak menepati persyaratan hadis sahih atau hasan. Kelemahan hadis tersebut boleh disebabkan oleh dua perkara yakni:
a) Terputus atau gugurnya sanad (mata rantai perawi hadis)
b) Disebabkan perawi (mereka yang mengkhabarkan hadis tersebut) dalam sanad hadis itu terdapat celaan terhadapnya mahupun kelemahan peribadi.
Tanggapan bahawa dibenarkan penggunaan hadis-hadis dha’if muncul dari pendapat sesetengah para ulamak yang membenarkan penggunaannya dalam bab fadhaail al-amal (keutamaan melakukan sesuatu amal) atau targhib (anjuran untuk melakukan sesuatu amalan) dan tarhib (amaran terhadap sesuatu amalan). Mereka sering berhujah dengan kata-kata Imam Ahmad r.h seperti berikut:
Apabila kami meriwayatkan daripada Rasulullah s.a.w. tentang halal dan haram dan sunnah-sunnah hukum-hukum, nescaya kami keraskan yakni kami periksa dengan ketat sanad-sanadnya. Dan apabila kami meriwayatkan daripada Nabi s.a.w. tentang fadhaail al-amal yang tidak menyangkut masalah hukum dan tidak disandarkan kepada baginda s.a.w., nescaya kami permudahkan (pemeriksaan) sanad-sanadnya. – Diriwayatkan oleh Imam al-Khatib al-Baghdadi di dalam Kifaayah fi Ilmir Riwayah, ms. 134.
Sebenarnya maksud Imam Ahmad di atas tidak menyokong hujah mereka kerana bagi beliau pembahagian hadis hanyalah menjadi dua iaitu sahih dan dha’if. Hadis dh’aif pula terpecah kepada dua kategori iaitu:
a) Hadis dha’if yang tertolak dan tidak dipakai sebagai hujah.
b) Hadis dhai’if yang boleh dijadikan hujah.
Hadis dha’if jenis kedua ini menurut istilah Imam al-Tirmidzi r.h dikenali sebagai hadis Hasan yang temasuk dalam kategori hadis yang sabit (thabithah). Hadis Hasan ialah hadis yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang yang adil, kurang dhabit, serta tidak ada syadz dan ‘illat yang berat di dalamnya. Ini bermakna semenjak zaman Imam al-Tirmidzi hadis dibahagikan menjadi tiga jenis iaitu sahih, hasan dan dha’if. Oleh itu maksud sebenar Imam Ahmad r.h dengan permudahkan pemeriksaan sanad (tasaahul) dalam perkara berkaitan fadhaail al-amal adalah beramal dengan hadis yang berstatus Hasan. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir r.h. ketika mensyarah buku al-Ba’iistul-Hasist Syarah Ikhtisar Ulumil-Hadith karya Ibnu Kathir r.h (jilid 1, ms. 279) telah berkata:
Sesungguhnya maksud ucapan mereka (termasuk Imam Ahmad, ‘Abdul Rahman bin Mahdi dan ‘Abdullah bin Mubarak) yang lebih tepat –wallahu a’lam- bahawa mempermudahkan maknanya pengambilan hadis hasan yang tidak sampai kedudukan kepada hadis sahih.
Selanjutnya Ibnu Qayyim r.h dalam kitabnya I’lam al-Mauqi’in ketika memaparkan tentang dasar hukum keempat berkata tentang pandangan Imam Ahmad:
Dasar hukum keempat: berpedoman kepada hadis mursal dan dha’if jika tidak ada yang membantahnya, beliaulah (iaitu Imam Ahmad) yang mengutamakan hadis mursal dan dha’if di atas qiyas. Hadis dha’if yang dimaksudkannya bukanlah hadis yang bathil, munkar yang salah satu perawinya tertuduh sebagai pemalsu hadis sehingga menyebabkan larangan pengamalan hadis ini. Tetapi dha’if menurut beliau adalah sebahagian dari sahih dan sebahagian dari hadis hasan, kerana beliau tidak membahagi hadis kepada sahih, hasan dan dha’if, tetapi beliau membahagi hadis kepada sahih dan dha’if. – Rujuk I’lam al-Mauqi’in, jilid 1, ms. 31. Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 125.
Bagi mereka yang suka menyebarkan hadis dha’if, mereka beranggapan telah terjadi ijmak (kesepakatan) di kalangan para ulamak tentang sahnya penggunaan hadis dha’if dalam perkara fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib sedangkan realitinya telah terjadi khilaf (perbezaan pendapat) di antara para ulamak sebagaimana diterangkan secara meluas di dalam kitab-kitab musthalah. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani r.h:
Nukilan ini (terjadinya ijmak tentang dibenarkan penggunaan hadis dha’if dalam bab fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib) perlu dipersoalkan kerana perbezaan pendapat dalam masalah ini tetap ada di mana sebahagian para peneliti hadis berpihak kepada pendapat tidak dibolehkan menggunakan hadis dha’if secara mutlak dalam masalah hukum atau fadhaail. Syaikh Jamaluddin al-Qosimi r.h dalam Qowa’id at-Tahdits (m.s. 94) berkata:
Dikisahkan oleh Ibnu Sayyid al-Nas dalam Uyun al-Atsar daripada Yahya bin Ma’in dan dinisbatkan kepada Abu Bakar bin al-‘Arabi dalam Fath al-Mughits, sebenarnya ini juga pendapat Bukhari dan Muslim… juga pendapat Ibnu Hazm. - Tamamul Minnah fit-Ta’liq ‘Ala Fiqhus Sunnah, (edisi terjemahan dengan tajuk Terjemah Tamamul Minnah Koreksi dan Komentar Ilmiah Terhadap Kitab Fiqhus Sunnah Karya Syaikh Sayyid Sabiq) ms. 27
Inilah juga pegangan Imam al-Syafi’i r.h yang tekenal dengan kata-katanya seperti di bawah:
"Apabila hadis itu sahih, maka ia adalah madzhabku." – rujuk Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wasallam min at-Takbiiri at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, (edisi terjemahan dengan tajuk Sifat Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) ms. 58
“Setiap apa yang aku katakan, sedangkan daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdapat hadis sahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadis nabi adalah lebih utama. Oleh itu, janganlah kamu mengikutiku (bertaklid padaku)." – rujuk Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, ms. 59
“Setiap perkara yang aku telah perkatakannya, sedang ada riwayat yang sahih di sisi ulama hadis daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menyanggahi apa yang aku ucapkan, maka aku menarik balik ucapanku semasa hidupku dan selepas mati”. – rujuk Ibn Qayyim al-Jauziyyah, 'Ilam al-Muwaqqi'iin, jilid 2 ms. 263
Selanjutnya apa yang sebenarnya dimaksud oleh sebahagian para ulamak bahwa boleh beramal dengan hadis-hadis dha’if untuk fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib ialah apabila telah wujudnya dalil yang sahih secara tafshil (terperinci) yang menetapkan tentang sesuatu amal, baik wajib, sunat, haram atau makruh, kemudian datang hadis-hadis dha'if yang menerangkan tentang keutamaannya (fadhaail al-amal) atau tarhib dan targhibnya dengan syarat hadis-hadis tersebut tidak terlalu dha'if atau maudhu' (palsu) maka inilah yang dimaksud oleh sebahagian ulamak: boleh beramal dengan hadis-hadis dha'if untuk fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Satu lagi syaratnya yang perlu dilihat adalah hadis dh’aif tersebut masih membicarakan hukum asli tanpa adanya penambahan atau menetapkan batasan baru bagi amalan tersebut. Sebagai contohnya amalan berpuasa sunat pada hari Isnin dan Khamis atau pada bulan-bulan haram telah ditetapkan menerusi dalil yang sah dari hadis-hadis Nabi s.a.w.. Setelah itu terdapat hadis-hadis dha’if yang ringan berbentuk fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib yang tidak berlebihan, maka sesetengah ulamak menbenarkan beramal dengan hadis tersebut. Berbeza pula sekiranya melakukan ibadah tertentu pada malam Nisfu Sya’ban yang tidak memiliki sebarang sandaran dari al-Qur’an mahupun al-Sunnah, maka dalam situasi sebegini hadis yang ringan kedha’ifannya pada dasarnya tidak memiliki sebarang nilai. Apa pun jua bagi para ulamak yang membolehkan pengamalan hadis dha’if yang ringan dalam bab fadhaail al-amal atau tarhib dan targhib telah menetapkan beberapa persyaratan yang sangat berat dan ketat. Menurut Syaikh Abu ‘Abdullah Sayid bin ‘Abbas al-Jalimi:
Para peneliti dalam disiplin ilmu ini menyatakan larangan mengamalkan hadis dha’if baik dalam hukum mahupun bab fadhaail al-amal (keutamaan ibadah). Golongan yang membenarkan mengamalkan hadis dalam keutamaan ibadah sekalipin hadis dha’if (selama bukan hadis palsu atau sangat lemah) telah menetapkan syarat-syarat penting yang harus dipenuhi dalam mengamalkan hadis tersebut. - Penulis nukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if , ms 18.
Syarat-syaratnya adalah seperti berikut:
Syarat pertama: Penggunaan hadis tersebut khusus untuk perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Penggunaan hadis dha’if dalam hal-hal berkaitan akidah dan penetapan hukum-hakam (seperti mewajibkan mahupun menetapkan hukum sunat terhadap sesuatu amal) adalah sama sekali tidak dibenarkan. Menetapkan hukum ke atas sesuatu amalan mestilah berlandaskan nas yang sabit. Sekiranya tidak seseorang itu berkemungkinan tinggi akan terjebak ke dalam perbuatan mencipta syari’at yang baru. Imam al-Syafi’i r.h telah mengingatkan kita dengan kata-katanya yang masyhur:
“Sesiapa yang menganggap baik (apa yang diciptakan dalam agama tanpa nas dari al-Qur’an dan al-Sunnah), dia telah mencipta syarak, sesiapa yang mencipta syarak, maka dia telah kafir.” - Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Risalah, ms. 507
Syarat kedua: Hadis yang dipergunakan tersebut tidak terlalu dha'if. Hadis-hadis maudhu' (palsu), munkar (hadis yg diriwayatkan perawi yang dha’if bertentangan dengan riwayat dari perawi yang thiqah) dan hadis-hadis La ashla lahu (yang tidak diketahui asal-usulnya) sama sekali tidak dibenarkan penggunaannya.
Syarat ketiga: Hadis tersebut tidak boleh diyakini sebagai sabda Nabi s.a.w.. Justeru itu ketika mempergunakan hadis tersebut tidak boleh menggunakan lafaz-lafaz yang menetapkan secara pasti (jazm) bahawa hadis tersebut berasal daripada Rasulullah s.a.w. seperti: 'Nabi s.a.w. telah bersabda' atau 'Baginda s.a.w. telah mengerjakan sesuatu' atau 'Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan dan melarang' dan lain-lain yang menunjukkan seolah-olah baginda s.a.w. benar-benar bersabda demikian. Tetapi wajib menggunakan lafadz tamridh (yaitu lafaz yang tidak menunjukkan sebagai suatu ketetapan). Seperti: 'Telah diriwayatkan dari Nabi s.a.w.’ dan yang serupa dengannya.
Syarat keempat: Hadis tersebut harus mempunyai dasar yang umum dari hadis yang sabit. Ini bermakna bahawa hadis dha’if yang dipergunakan tersebut tidak membentuk satu amalan yang baru yang dikategorikan sebagai bidaah.
Syarat kelima: Hadis tersebut tidak boleh disebarkan kepada orang ramai ataupun mengajak orang ramai untuk beramal dengan hadis tersebut. Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar r.h dalam Tabyin al-Ajib Bimaa Warada Fi Fadli Rajab (ms. 23-26) telah berkata:
“Bahawa para ahli ilmu telah mempermudah-mudahkan dalam membawakan hadis-hadis tentang fadhaail al-amal. Walaupun ada diantaranya lemah (dha’if) selama tidak palsu (mawdhu’) Sepatutnya perkara itu diberikan syarat iaitu orang yang beramal dengannya, meyakini bahawa hadis itu lemah dan tidak memasyhurkannya agar tidak ada orang yang melaksanakan hadis dha’if kemudian mengsyariatkannya atau diduga oleh sebahagian orang-orang yang bodoh bahawa hadis tersebut sahih (itu merupakan sunnah yang benar).” - Dinukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 80.
Syarat keenam: Wajib menperjelaskan status hadis tersebut sebagai dha'if ketika menukilnya dalam penulisan mahupun menyampaikan secara lisan.
Namun begitu sekiranya kita meneliti syarat-syarat di atas, sewajarnya kita bertanya kepada golongan yang gemar untuk menyebarkan hadis-hadis dha’if bersandarkan dakwaan bahawa ianya dibenarkan oleh ulamak-ulamak seperti al-Hafidz Ibnu Hajar, Imam al-Nawawi dan al-Hafidz al-Sakhawi; adakah kamu telah memperhatikan serta mempergunakan syarat-syarat tersebut dengan penuh keikhlasan ketika meriwayatkan hadis-hadis tersebut? Penulis yakin ramai di antara mereka yang telah membelakangi syarat-syarat tersebut apatah lagi proses untuk membezakan hadis yang darjatnya sahih, hasan, dha’if yang ringan, dha’if jiddan (sangat lemah), mawdhu’, munkar dan sebagainya seperti yang terdapat dalam ilmu hadis (al-Musthalah) hanya mampu dilakukan oleh mereka yang benar-benar pakar dalam bidang hadis. Menyedari hakikat ini adalah lebih baik bagi masyarakat Islam di Malaysia untuk memberikan keutamaan yang tinggi hanya untuk beramal dengan hadis-hadis yang sabit (iaitu sahih dan hasan) daripada baginda s.a.w..
Tindakan menyebar hadis-hadis Rasulullah s.a.w. tanpa terlebih dahulu meneliti kesahihannya merupakan satu jenayah ilmiah dan merupakan perbuatan yang tercela. Sabda Rasulullah s.a.w.:
Cukuplah seseorang itu dianggap berdusta apabila dia menceritakan segala sesuatu yang dia dengar. – Hadis riwayat Imam Muslim di dalam Shahihnya, no: 5
Celaan tersebut adalah disebabkan setiap perkhabaran yang sampai kepada seseorang maka terdapat kemungkinan ianya perkara yang benar ataupun dusta. Oleh itu sekiranya seseorang itu menyebarkan apa jua perkara yang diterimanya tanpa terlebih dahulu meneliti kesahihannya, maka ini boleh mengakibatkan dirinya terjebak menjadi penyebar perkara yang dusta. Lantaran itu Rasulullah s.a.w. telah mencela perbuatan tersebut. Seharusnya kita sedari bahawa para sahabat r.a amat berhati-hati ketika menyampaikan hadis-hadis Rasulullah s.a.w.. Hal ini adalah sepertimana diriwayatkan di bawah:
Berkata Abdurrahman bin Abi Laila: Kami Pernah berkata kepada Zaid bin Arqam: Ceritakanlah kepada kami (hadis-hadis) daripada Rasulullah s.a.w.. Beliau menjawab: Kami telah tua dan lupa, sedangkan menceritakan hadis dariupada Rasulullah sangat berat. – Hadis riwayat Imam Ibnu Majah di dalam Sunannya, no: 25
Satu perkara yang sewajarnya kita yakini adalah perbahasan yang wujud dalam hadis-hadis yang sahih dan hassan telah mencakupi seluruh bidang ilmu dalam Islam termasuk perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib. Dr. Asyraf bin Sa’id berkata:
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Muslim bahawa hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh perawai yang terpercaya atau para ahli ilmu sangat banyak jumlahnya sehingga tidak perlu meriwayatkan lagi dari perawi yang lemah dan cacat. Begitu juga yang dikatakan oleh Ibnu Hibban:
Kami tidak berdasarkan kepada dalil yang tidah sah dari segi periwayatan dalam buku kami kerana dalil-dalil sahih yang ada sudah cukup bagi kami. - Dinukil dari buku Dr Asyraf bin Sa’id, Hukmu al-‘Amal bi al-Hadits adh-Dha’if, ms 108.
Sesungguhnya pengamalan hadis dha’if ini membuka pintu kerosakan. Pada mulanya mungkin seseorang itu membataskan diri dalam perkara berkaitan fadhaail al-amal atau targhib dan tarhib sahaja. Namun lambat laun penggunaan hadis dha’if ini akan menular pula dalam perkara berkaitan dengan akidah, tauhid dan hukum-hukum lain sebagaimana yang terjadi sekarang. Di antara kerosakan yang fatal dalam sikap terlalu mengambil mudah dalam pengamalan hadis dha’if ini adalah timbulnya amalan bid’ah dalam masyarakat terutamanya hadis-hadis dha’if yang mengkhususkan amalan tertentu, dikerjakan pada hari, tatacara, tempat, keadaan ataupun jumlah yang tertentu tanpa disokong oleh riwayat yang sah daripada Rasulullah s.a.w..
Jelas bagi kita bahawa periwayatan hadis-hadis Rasulullah bukanlah satu perkara yang boleh di ambil mudah. Kita seharusnya berusaha untuk meneliti statusnya terlebih dahulu. Sekiranya tidak mampu untuk berbuat demikian maka hendaklah kita merujuk kepada mereka yang ahli dalam bidang hadis. Sewajarnya kita tidak menyebarkan sesuatu hadis hanya bersandarkan persangkaan di dalam diri masing-masing bahawa ianya hadis yang sabit. Sesungguhnya sikap hanya bergantung kepada persangkaan telah dicela oleh Allah S.W.T. melalui firman-Nya:
Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan. – Yunus (10) : 36
Justeru itu satu tindakan yang bersepadu oleh ilmuwan Islam di Malaysia perlu di ambil demi untuk membersihkan hadis-hadis dha’if dan mawdhu’ yang telah disebarkan di tengah-tengah masyarakat oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Ini merupakan salah satu agenda utama gerakan Tajdid di Malaysia dan ianya adalah satu usaha yang murni kerana terdapat ancaman yang keras daripada Rasulullah s.a.w bagi mereka yang berdusta di atas nama baginda. Menurut Imam al-Thahawi r.h di dalam kitabnya Musykilul Athar (jilid 1, ms. 176):
Barangsiapa yang menceritakan (hadis) dari Rasulullah s.a.w. atas dasar zhan / persangkaan, bererti dia telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan tanpa haq (dengan tidak benar). Dan orang yang menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan tanpa haq, bererti dia telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan cara yang batil. Dan orang yang telah menceritakan (hadis) dari baginda s.a.w. dengan cara yang batil, nescaya dia menjadi salah seorang pendusta yang masuk ke dalam sabda Nabi s.a.w.:
Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya no: 107
Jumhur ulama telah bersepakat bahawa hadith dhaif tidak boleh digunakan dalam urusan agama yang melibatkan hukum-hakam. Namun, di sana timbul persoalan, adakah boleh beramal dengan hadith yang dhaif dalam kes targhib wa tarhib /fadhail ’amal (kelebihan amalan)? Perbahsan begini begitu penting dalam rangka memelihara kemurnian sunnah nubuwwah.
Sepanjang penelitian terhadap beberapa penulisan, di dapati di sana terdapat beberapa pendapat mengenai penggunaan hadith dhaif dalam kes targhib wa tarhib/Fadhail ’amal. Ringkasannya seperti ini :
1) Tidak bolek beramal secara mutlak. Antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Bukhari, Muslim, Ibn Hazm, dll
2) Boleh beramal dengan hadith dhaif antara yang berpendapat sedemikian adalah Imam Ahmad
3) Boleh beramal tetapi bersyarat. Inilah pendapat Ibn Hajar al-Asqalani antaranya.
Pendapat yang mengatakan bahawa boleh beramal kebanyakannya daripada ulama2 mutaakhirin (terdahulu). Sesuatu yang penting untuk dibincangkan di sini adalah pembahagian sahih, hasan dan dhaif wujud setelah diperkenalkan oleh Imam al-Tirmidhi (m. 279 H). Sebelum itu, pembahagiannya terbatas kepada sahih dan dhaif sahaja. Imam Ahmad (m. 241 H) yang mengatakan boleh beramal dengan hadith dhaif dalam fadhail ’amal adalah perlu ditafsir semula. Mungkin pendapat Imam Ahmad itu adalah hadith hasan yang terdapat sekarang dan bukannya dhaif.
Manakala ulama2 yang mengharuskan penggunaan hadith dhaif dalam fadhail ’amal dengan syarat memerlukan penilitian yang mendalam terhadap syarat2 yang dikenakannya. Seperti 3 syarat yang dikenakan oleh Ibn Hajar iaitu hadith tersebut bukanlah hadith yang terlalu lemah, berada dalam dasar umum (ada riwayat2 lain yang menyokong atau tidak bercanggah dengan al-Quran dan Sunnah yang sahih), dan tidak beriktiqad bahawa ianya datang daripada Rasulullah saw. Ketiga-tiga syarat ini apabila didalami, seolah-olah hadith tersebut telah menjadi hasan li ghai rih, dan bukan lagi dhaif.
Kesimpulannya :
Setelah kita melihat beberapa aspek penting terhadap pendapat2 ulama, lebih selamat kiranya mengambil pendapat2 yang menolak menggunakan hadith dhaif.
Sebagai seorang mukmin yang mencintai Rasulullah saw, target hidup kita seboleh mungkin ingin mengikuti setiap langkah kekasih Allah ini. Namun, hadith dhaif adalah riwayat yang masih diragui kesahihannya. Adakah benar daripada Rasulullah saw ataupun bukan.
Walaupun dalam kes targhib wa tarhib kerana mana mungkin boleh kita katakan sesuatu yang langsung tidak pernah disabdakan oleh Baginda saw. Kalaulah begitu, ianya telah termasuk dalam golongan yang disediakan tempat duduknya di neraka. Selain itu, kenapa perlunya kita membezakan antara hukum hakam dan tarhib wa targhib? Sedangkan kedua2nya adalah sebahagian daripada agama. Kalaulah dalam isu hukum hakam kita sepakat tidak boleh gunakan hadith dhaif, kenapa tidak dalam kes targhih wa tarhib. Lagipun, hadith sahih dan hasan dalam kes ini masih banyak dan hanya kita yang tidak mencarinya. Itu lebih selamat daripada terjatuh dalam golongan yang mendustakan Rasulullah saw.Moga ALLAH selamatkan kita daripada kepanasan api neraka..
Subscribe to:
Posts (Atom)