Tuesday, November 10, 2009

Aku menolak Hidayah Allah..

Berat rasanya apabila kita menolak HidayahNya,menolak HadiahNya..sudah seminggu saya membuka niqob..namun,tiada perasaan yang tenang dan senang..malah sedih..saya letih..keluarga saya semua menentang pemakaian niqob..saya sanggup membuka niqob ini kerana mereka..dan saya sanggup menolak hadiah daripada Allah yang paling saya cintai..
Aku menolak cintaNya..aku menolak hidayahNya..aku mohon petunjuk dariMu ya Allah..
Aku tidak memahami kenapa diriki berniqob?Adakah kerana ia wajib?sunnah?banyak bahan bacaan telah aku baca..banyak pendapat..aku juga tidak memahami,kenapa aku ingin sekali berniqob?dan mengapa aku berani sekali berniqob?

Aku yakin..semuanya dari Allah..dan hanya Allah mengetahui kenapa?
Setelah bertemu dengan ibu-ibuku di taqlim..semuanya nangis kerana aku membuka niqob..mereka nangis kerana aku menolak Hidayah Allah..mereka member aku kekuatan..sahabat-sahabatku yang berniqob dari arab Saudi dan yaman juga member aku kekuatan..

Aku letih terpaksa menjadi dua orang dalam satu orang..apabila aku pulang ke rumah,aku kena buka niqobku..aku perlu mengikuti rentak keluargaku..apabila aku di Universiti aku memakai niqobku..mengikuti rentakku..aku letih..
Bukan mudah mendedahkan wajah..kerana sudah lama aku memakainya..membuka wajah bagaikan membuka sesuatu yang manis pada diriku yang selama ini aku simpan untuk bakal suamiku..

Monday, November 9, 2009

Greatness Of Allah..

Ibn Al-Qayyim described Allah's Greatness, saying,

He governs the affairs of the various kingdoms and He commands and forbids, creates, sustains, gives death, gives life, gives power, strips power (to and from whom He wills) and alternates the night and day.

He gives varying fortunes to people and alternates governments (and states), destroying some and bringing some into existence. His Command and Power are dominant in the heavens and their zones, the earth and all that which is on and in it, in the seas and in the air. His Knowledge has encompassed everything and He counted everything.

He hears all types of voices and they do not confuse Him. Rather, He hears each voice in its distinct language and need, and no voice will make Him busy from fulfilling the need of another, and no need will ever escape His Perfect Knowledge (and His Power to deliver).

He does not become bored because of the many needs of those who need. His Sight encompasses all that which there is. He sees the movement of a black ant on a barren rock during a dark night. To Him, the Unseen is uncovered end the secret is secret no more,

"Whosoever is in the heavens and on Earth begs of Him (its needs from Him). Every day He has a matter to bring Forth (such as giving honor to some, disgrace to some, life to (some, death to some, etc.)." [55:29]

He forgives an evil deed, makes depression vanish and brings reprieve from disasters, relief for whoever needs it, wealth for the poor, guidance for the misguided, light for the lost, help for he who is desperate, fullness for the hungry, cover for the barely clothed, cure for the ill and ease for he who suffers.

He accepts he who repents, gives reward for he who does good, gives aid for he who was dealt with injustice, destroys an arrogant person, covers mistakes, gives safety after fear end elevates some people and humiliates others.

If those who inhabit His heavens and His earth and all those whom He created, whether mankind or the Jinns, had hearts similar to the most pious heart, His Kingdom will not increase. If all His creation, whether mankind or the Jinns, had hearts similar to the heart of the most wicked heart, this will not decrease from His Kingdom.

Also, if all those who inhabit His heavens and His earth, all mankind and all the Jinns, the dead and the living, stand up on one strip of land and each asks Him for his need, and He then fulfils their needs, this will not decrease from what He has a bit. He is the First, nothing is before Him, the Last, nothing is after Him, the Most High, nothing is above Him, and the Most Near, nothing is nearer than Him.

He, Exalted and Ever High as He is, is the Best Whom one can and should remember, the only One Who deserves to be worshiped and thanked, the Kindest of all those who own and the Most generous of all those who are asked to give.

He is the King Who has no partner, the One Who has no competitor, the Samad (Self-Sufficient) Who has no offspring, and the Ever High, none like unto Him. Everything perishes save His Face and every kingship is bound to perish except His.

He will only be obeyed by His Leave, and His Knowledge uncovers all disobedience to Him. When He is obeyed, He thanks for it, and when He is disobeyed, He grants forgiveness (for those who truly repent to Him). Every punishment from Him is just and every bounty is a grace. He is the Closest Witness and the Nearest One with His Perfect Care.

He controls the forelocks of everything and has the full records of all deeds end the books of all ages. The hearts are unmasked to Him and the secret is unveiled. His giving and punishing is merely a Command, "Verily, His Command, when He intends a thing, is only that He says to it, ‘Be, and it is!’" [36:82].

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.Amma ba’du :

Tidak diragukan lagi, bahwa isra’ dan mi’raj merupakan tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan atas kebenaran kerasulan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan keagungan kedudukannya di sisi Tuhannya, selain juga membuktikan atas kehebatan Allah dan kebesaran kekuasaan-Nya atas semua makhluk.

Firman Allah subhaanahu wa ta’ala :
سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير “MahaSuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda (kebesaran) kami, sesungguhnya Dia adalah MahaMendengar lagi MahaMelihat” ( QS. Al Isra’: 1).

Diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allah telah menaikannya ke langit, dan pintu pintu langit itu terbuka untuknya, hingga beliau sampai ke langit yang ketujuh, kemudian beliau diajak bicara oleh Allah serta diwajibkan sholat lima waktu, yang semula diwajibkan lima puluh waktu, tetapi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa kembali kepada-Nya minta keringanan, sehingga dijadikannya lima waktu, namun demikian, walaupun yang diwajibkan lima waktu saja, tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh waktu, karena perbuatan baik itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Hanya kepada Allah lah kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat-Nya.

Tentang malam saat diselenggarakannya Isra’ dan Mi’raj itu belum pernah diterangkan penentuan ( waktunya ) oleh Rasulullah, tidak pada bulan rajab, atau ( pada bulan ) yang lain, jikalau ada penentuannya maka itupun bukan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, menurut para ulama, hanya Allah lah yang mengetahui akan hikmah pelalaian manusia dalam hal ini.

Seandainya ada ( hadits ) yang menentukan ( waktu ) isra’ dan mi’raj, tetap tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menghususkannya dengan ibadah ibadah tertentu, selain juga tidak boleh mengadakan upacara perkumpulan apapun, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah mengadakan upacara upacara seperti itu, dan tidak pula menghususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut.

Jika peringatan malam tersebut disyariatkan, pasti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, melalui ucapan maupun perbuatan. Jika pernah dilakukan oleh beliau, pasti diketahui dan masyhur, dan tentunya akan disampaikan oleh para sahabat kepada kita, karena mereka telah menyampaikan dari Nabi apa apa yang telah dibutuhkan umat manusia, mereka belum pernah melanggar sedikitpun dalam masalah agama, bahkan merekalah orang yang pertama kali melakukan kebaikan setelah Rasulullah, maka jikalau upacara peringatan malam isra’ dan mi’raj itu ada tuntunannya, niscaya para sahabat akan lebih dahulu menjalankannya.

Nabi Muhammad adalah orang yang paling banyak memberi nasehat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah kerasulannya dengan sebaik-baiknya, dan menjalankan amanat Tuhannya dengan sempurna, oleh karena itu jika upacara peringatan malam isra’ dan mi’raj serta bentuk bentuk pengagungannya itu berasal dari agama Allah, tentunya tidak akan dilupakan dan disembunyikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena hal itu tidak ada, jelaslah bahwa upacara dan bentuk bentuk pengagungan malam tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agamaNya bagi umat ini, mencukupkan ni’matNya kepada mereka, dan mengingkari siapa saja yang berani mengada adakan sesuatu hal baru dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala.Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 )

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضي بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم

“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah ?, sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dzalim itu akan memperoleh azab yang pedih” ( QS. As syura, 21 ).

Dalam hadits hadits shoheh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita agar waspada dan menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah, dan beliau juga menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat, sebagai peringatan bagi umatnya sehingga mereka menjauhinya, karena bid’ah itu mengandung bahaya yang sangat besar.

Dari Aisyah, Radliyallahu ‘anhu berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :" من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ".

“Barang siapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan ( dalam agama ) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka amalan itu tertolak”.

Dan dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah bersabda :" من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ".“Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.

Dalam shahih Muslim dari Jabir rodhiAllah ‘anhu ia berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’at nya :" أما بعد, فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة ".

“Amma ba’du : sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah Kitab Allah ( Al Qur’an ), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) adalah yang diada adakan, dan setiap bid’ah ( yang diada adakan) itu sesat” ( HR. Muslim ).

Dan dalam kitab kitab Sunan diriwayatkan dari Irbadh bin Saariyah rodhiAllahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati kami dengan nasehat yang mantap, (jika kita mendengarnya) hati kami bergetar, dan air mata kami akan berlinang, maka kami berkata kepadanya :

wahai Rasulullah, seakan akan nasehat itu seperti nasehatnya orang yang akan berpisah, maka berilah kami nasehat, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :" أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ, وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة ".

“Aku wasiatkan kepada kamu sekalian agar selalu bertakwa kapada Allah, mendengarkan dan mentaati perintahNya, walaupun yang memerintah kamu itu seorang hamba, sesungguhnya barang siapa diantara kalian hidup ( pada masa itu ), maka ia akan menjumpai banyak perselisihan, maka ( ketika ) itu kamu wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaurrasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku, pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu sekuatnya, dan sekali kali janganlah mengada ada hal yang baru ( dalam agama ), karena setiap pengadaan hal yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat ”.

Dan masih banyak hadits hadits lain yang semakna dengan hadits ini, para sahabat dan para ulama salaf telah memperingatkan kita agar waspada terhadap perbuatan bid’ah serta menjauhinya.Dan tidaklah hal itu (peringatan agar waspada terhadap bid’ah), melainkan disebabkan karena (bid’ah itu) adalah tambahan terhadap agama, dan ( bid’ah itu ) adalah ( pembuatan ) syariat yang tidak diizinkan oleh Allah, karena hal itu menyerupai perbuatan musuh musuh Allah yaitu bangsa Yahudi dan Nasrani.

Adanya penambahan penambahan dalam agama itu (berarti) menuduh agama Islam kurang dan tidak sempurna, dengan jelas ini tergolong kerusakan besar, kemungkaran yang sesat dan bertentangan dengan firman Allah subhaanahu wa ta’ala

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الأسلام دينا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).

Selain itu, ( penambahan ) juga bertentangan dengan hadits hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan kita dari perbuatan bid’ah dan agar menjauhinya.Kami berharap, semoga dalil dalil yang telah kami sebutkan tadi cukup memuaskan bagi mereka yang menginginkan kebenaran, dan mau mengingkari perbuatan bid’ah, yakni bid’ah mengadakan upacara peringatan malam isra’ dan mi’raj, dan supaya kita sekalian waspada terhadapnya, karena sesungguhnya hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Ketika Allah telah mewajibkan orang orang muslim itu agar saling nasehat menasehati dan saling menerangkan apa apa yang telah disyareatkan Allah dalam agama, serta mengharamkan penyembunyian ilmu, maka kami memandang perlu untuk mengingatkan saudara saudara kami dari perbuatan bid’ah ini, yang telah menyebar di berbagai belahan bumi, sehingga sebagian orang mengira itu berasal dari agama.

Hanya Allah lah tempat bermohon, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin ini, dan memberi kepada mereka kemudahan dalam memahami agama Islam , semoga Allah I melimpahkan taufiq kepada kita semua untuk tetap berpegang teguh dengan agama yang haq ini, tetap konsisten menjalaninya dan meninggalkan apa apa yang bertentangan dengannya, hanya Allah lah penguasa segala galanya.

Semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Aamin.(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia.

Saturday, November 7, 2009

Hasad Dengki..bukan Sunnah..

Oleh Dr Juanda Jaya

Umat perlu mantapkan akidah, bukan bersengketa soal fiqh atau ekstrem mazhab

"SEMUA permusuhan boleh diharapkan perdamaian kecuali permusuhan akibat hasad dan dengki." (Diwan Al-Imam Al-Syafie: 49)

Ungkapan, al-Imam al-Syafie jelas menggambarkan sifat semua manusia. Ia akan menjadi amat hodoh apabila menimpa mereka yang mendakwa diri alim dalam beragama. Ungkapan ini muncul daripada pengalaman Imam al-Syafie yang pernah menjadi mangsa permainan kejahilan pentadbir dan politikus yang jahat dan suka menyalahgunakan kuasa.

Akibatnya beliau disisih, dihalang daripada mengajar dan berceramah, hatta dalam rumahnya sendiri. Lebih sedih untuk tujuan mengaibkan kemuliaan imam yang digelar nasirus sunnah (pembela sunnah Nabi SAW) ini, beliau digari, dirantai dan diseret dari Yaman menuju ke Baghdad akibat dituduh perkara yang tidak pernah dilakukannya.

Semuanya hasil kelemahan dan kebodohan pemerintah yang hanya mendengar nasihat orang bodoh dan jahil tetapi berlagak serta berlakon umpama orang alim dalam disiplin agama. Tidak kira Muslim yang jahil atau alim, dari kalangan orang biasa atau ulama, sesungguhnya sifat hasad merosakkan akal dan jiwa, agama dan urusan dunia mereka. Disebabkan hasad, seseorang tidak boleh mengawal dirinya membenci, memusuhi dan mencuba menjatuhkan saudaranya sehingga lupa bahawa pernah turun ayat al-Quran yang mengingatkan supaya menghapuskan sifat dengki dari hati mereka.

Firman Allah bermaksud: "Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa; Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara kami yang sudah beriman lebih dulu daripada kami dan janganlah Engkau membiarkan rasa dengki dalam hati kami terhadap orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Surah al-Hasyr: 10).

Hasad dengki di kalangan ulama memang wujud, bahkan penyakit hati inilah yang paling besar bahayanya, mengotori kesucian ilmu dan agama, menebarkan kebusukan dan kejahatan yang ditunggangi oleh nafsu iblis. Setiap manusia ada syaitannya, tak kira nabi dan rasul, inikan lagi manusia biasa yang digelar ulama. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Tiada seorang pun daripada kamu melainkan ia diiringi temannya daripada jin (syaitan) dan temannya daripada malaikat. Sahabat bertanya: Dan padamu juga, wahai Rasulullah? Sabda Baginda: Padaku juga, tetapi Allah Azza Wa Jalla membantuku terhadapnya sehingga dia tiada menyuruhku kecuali kebenaran saja." (Hadis Muslim)

Persaingan antara ulama untuk mendapat perhatian, kedudukan tinggi, kemuliaan dan kehormatan yang dijulang pengikut yang ramai menunjukkan ulama tetap manusia biasa. Siapa yang tak teringin dunia, kuasa dan nikmat yang berkekalan, bukankah ini tabiat semula jadi penciptaan manusia? Mengapa golongan kononnya berilmu ini terbabit juga dengan penyakit hati yang Rasulullah SAW sifatkan seperti pisau pencukur?

Puncanya kerana ilmu yang dituntut belum sempurna dan hakikatnya ia tidak akan sempurna sampai bila-bila kecuali ilmu itu diwarnai dengan iman dan akhlak hasil pengalaman terhadap sedikit titisan ilmu anugerah Allah SWT. Ilmu Allah SWT begitu luas dan tiada siapa mampu mencapai kesempurnaannya.

Jadi, sesiapa ulama yang menyangka dirinya lebih berilmu daripada saudaranya, sesungguhnya ia tertipu oleh ilmu sendiri. Bukankah guru kita sering mengingatkan dengan ajaran imam yang kita agungkan, al-Imam al-Syafie bahawa: "Kataku mungkin salah dan kata penentangku mungkin benar." Juga panduan dalam menilai yang benar, al-Syafie mengajarkan: "Jika (dalil penentang itu adalah) hadis yang sahih, maka itulah mazhab aku."

Perbezaan pandangan seharusnya tidak memicu permusuhan dan dendam pada mereka yang bergelar pewaris Nabi. Sifat tawaduk jelas terakam dalam keperibadian empat imam mazhab yang masih kekal hingga kini. Maka jangan sesiapa cuba mengeksploitasikan hal ini. Imam Abu Hanifah berkata: "Inilah pendapat Abu Hanifah dan inilah sebaik-baik pendapat yang kami capai dan orang yang mendatangkan yang lebih baik daripadanya, itulah yang lebih benar."

Imam Malik berkata: "Saya ialah manusia biasa, boleh benar boleh juga salah, maka perhatikanlah pendapat saya ini. Apa yang bersesuaian dengan al-Quran dan sunnah ambillah dan yang tidak sesuai tinggalkanlah."

Imam Ahmad Hanbal berkata kepada Abu Daud: "Janganlah engkau bertaklid kepadaku, jangan bertaklid kepada Malik, jangan bertaklid kepada al-Thauri dan al-Auza'i, ambillah pendapat dari tempat mereka mengambil (iaitu al-Quran dan al-Sunnah)." (Ilmu Perbandingan mazhab, Prof Dr Hasbi Ash-Shiddiqie)

Imam Al-Syafi'ie pula mengatakan: "Jika kamu dapati apa yang ada dalam kitabku menyanggah sunnah Rasulullah SAW, maka berpeganglah dengan sunnah dan tinggalkanlah pendapatku." (Syiar Alam Al-Nubala' al-Zahabi Jilid 10, halaman 34).

Malang sekali, pengikut yang mengaku pembela mazhab mereka saling bertikam, bersaing dan berdendam layaknya seorang jahil. Di kalangan orang awam lagi teruk keadaannya akibat momokan Wahabi. Padahal fahaman ini tidaklah sebagaimana tuduhan jahat yang dilemparkan orang jahil yang mengaku membela fahaman tertentu.

Fitnah yang ditujukan kepada ulama yang tidak sehaluan, amat mengecewakan kerana ia dicetuskan oleh sesama orang alim yang dikawal oleh emosi dan nafsu untuk mempertahankan habuan dunia.

Mengapa wajib mengamalkan mazhab tertentu, padahal zaman Rasulullah SAW tiada sebarang mazhab melainkan al-Quran dan Sunnah yang menjadi pegangan?

Lagi pula disebabkan kerana bergaduh pasal fiqh yang amat remeh, maka hadis yang sahih daripada al-Bukhari dan Muslim ditolak akibat ia tidak mengikuti selera arus perdana. Akhirnya bab akidah yang menjadi teras keimanan diremehkan, muncul ajaran sesat yang semakin hangat kebelakangan ini sehingga penguat kuasa agama kecut perut untuk ambil tindakan dan ia tak mampu ditangani dengan baik.

Penjahat sebenar dibiarkan bebas, tetapi ulama yang amanah dengan ilmunya dicemburui, disekat, difitnah bahkan kalau boleh dipenjarakan, sedangkan pintu dialog dan berbahas secara akademik dan profesional boleh dilakukan. Bukankah sejarah pernah mencatatkan dialog antara Tok Kenali dengan penentangnya pernah berlaku di pekarangan Istana Kelantan suatu ketika dulu, bahkan perkarangan Istana Selangor di tapak Kolej Islam Klang sekarang turut pernah memperlihatkan golongan ulil amri dan sultan berbahas secara akademik dan jujur dilakukan antara ulama yang berbeza pendapat diadakan bagi menjaga kesucian agama ini.

Belum lagi masalah umat yang semakin kompleks dengan isu maksiat remaja, keganasan rumah tangga, kes kekeluargaan syariah yang lambat, amalan rasuah hingga sikap dan akhlak umat Islam di jalan raya pun sampai kini belum dapat diatasi dengan berkesan, walaupun pelbagai usaha dilakukan. Malangnya jika orang yang berkhidmat untuk agama terheret dengan sifat saling mendengki bagaimanakah masa depan umat ini?

Jelas, kita perlukan pimpinan yang jiwanya besar dan jujur dalam menjalankan amanah untuk dirinya. Api hasad dengki itu merebak dengan pantas. Ia membawa kerugian amat besar kepada umat Islam. Kemajuan umat yang bergantung dengan toleransi akan terbantut dengan sikap hasad dan prejudis yang semakin menjadi-jadi. Betapa pentingnya memiliki sifat ketakutan kepada Allah SWT. Sifat khasyah (takut) kepada Allah SWT sudah dirakamkan dalam al-Quran yang bermaksud: "Sesungguhnya mereka yang amat sangat takutnya kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya adalah ulama."

Ini adalah pengiktirafan daripada Allah kepada ulama sebenar. Setiap pandangan, perbuatan dan pemikiran mereka dikawal dengan ketakutan dan ketundukannya hanya kepada Allah SWT, bukan takutkan kerusi dan gaji bulanannya. Maka dia tiada niat sedikitpun untuk menjatuhkan sesiapa demi meninggikan diri dan pandangan dirinya semata-mata. Inilah yang al-Imam al-Syafie fahamkan daripada al-Quran dan al-sunnah.

Friday, November 6, 2009

Membaca Perjalanan Hidup Salafush Shalih





Sesungguhnya para salaf-tiga generasi yang pertama dari umat ini,yaitu para Sahabat Nabi Saw,orang-orang yang mengikutinya dengan baik,orang-orang yang pertama di dalam Islam adalah sebaik-baik kurun(generasi),mereka adalah para pembela Islam yang memberikan petunjuk kepada seluruh manusia.

Mereka adalah singa-singa Allah dalam peperangan dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa-peristiwa besar.Mereka adalah pembawa agama ini dan yang menghantarkannya kepada orang ada setelahnya.Mereka adalah orang-orang yang paling kuat keimanannya,paling dalam keilmuannya,paling baik hatinya dan paling bersih jiwanya.

Khususnya para sahabat Nabi saw yang telah diberi keistimewaan oleh Allah swt dengan melihat Nabi saw.Allah telah memberikan kurnia dengan boleh memandangnya,juga telah memuliakan mereka dengan mendengar suaranya dan merasa betah dengan mendengar pembicaraannya sehingga mereka mengambil agama ini darinya(Rasulullah) dengan masih segar.Sehingga hati-hati mereka menjadi kuat dengannya,jiwa-jiwa mereka merasa tenang dengannya dan mereka pn tegar di atas setangguh gunung.

Cukuplah untuk menjelaskan keutamaan mereka dengan Firman Allah swt,
Surah Al-Imran,`Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia..’
Makna ayat tersebut adalah,sesungguhnya mereka(para sahabat Nabi) adalah sebaik-baik umat yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.

Dijelaskan dalam sahih Muslim dari Abu Hurairah r.a beliau berkata,Rasulullah bersabda:

Sebaik-baik umatku adalah(generasi)pada zaman di mana aku diutus kepada mereka,kemudian orang-orang yang datang setelah mereka...

Orang yang merenungi manusia pilihan seperti mereka dan membaca perjalanan hidup mereka,mengenal kebaikan mereka dan merenungi akhlak mereka yang mulia,seperti menjadikan Rasul yang mulia sebagai suri tauladan,mengikatkan diri dengan keimanan,takut dari dosa dan perbuatan maksiat,menjaga diri dari riya’ dan kemunafikan,menghadapkan diri untuk ketaatan,berlomba-lomba di dalam melakukan kebaikan,memperhatikan keadaan diri mereka dan kekuatan ibadah mereka,semangat mereka di dalam melakukan ketaatan,keberpalingan mereka dari dunia fana dan menghadapnya mereka kepada akhirat yang kekal abadi,maka dari perenungan ini dia akan menjumpai sejumlah kebaikan dan banyak sifat yang boleh mendorongnya untuk benar-benar bersuri tauladan kepada mereka(Salafussoleh) dan senang berhias dengan sifat-sifat mereka.

Mengingat mereka adalah Dzikir kepada Allah dan merenungi keadaan mereka boleh memperkuatkan keimanan dan menjadikan hati bercahaya.Tempat-tempat untuk merenungi dan mencari riwayat perjalanan hidup mereka adalah kitab-kitab sejarah,kitab-kitab biografi,cerita tentang orang-orang zuhud,orang-orang wara’ dan yang lainnya,dengan mengambil manfaat dari riwayat yang SAHIH di dalamnya.

Perenungan ini boleh membawa pelakunya untuk meniru dan menyerupai mereka dengan baik.Syaikhul Islam berkata,Maka barangsiapa lebih menyerupai mereka,maka ia lebih sempurna(Al-‘Ubuudiyyah) Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum,maka ia termasuk golongan mereka.

Semua masalah terdahulu yang boleh menambah dan menguatkan keimanan,semuanya di bawah ilmu syar’i yang bersumber dari Kitabullah,Sunnah RasulullahNya,dan segala hal yang bersumber dari kaum Salaf umat ini.

Demikian pula seseorang yang sibuk dengan ilmu-ilmu lainnya boleh menambah keimanannya sesuai dengan penghayatan dan usahanya di dalam mencari kebenaran.Segala urusan,dari awal sampai akhir ada di tangan Allah.Dia-lah yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus.

Ilmu-ilmu selain ilmu syar’i ini sama sekali tidak akan berakibat kepada bertambahnya keimanan,kecuali jika disertai dengan perenungan dan tafakkur akan ayat-ayat Allah yang berkilauan dan hujjah-hujjahNya yang Nampak jelas.Tanpa perenungan dan tafakkur ini,maka hilanglah manfaat yang agung dan buah yang mulia ini.Pelakunya tidak akan pernah mendapatkan manfaat dengan bertambah kuat dan kukuhnya keimanan.

Semua ini menjelaskan kepada kita pentingnya bertafakkur dan merenungi ayat-ayat Allah dan makhlukNya.Merenungi makhluk-makhluk Allah merupakan sebab kedua dari sebab-sebab bertambahnya keimanan.
Sumber pertama menimba ilmu yang bermanfaat yang bersumberkan dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Thursday, November 5, 2009

Salah guna istilah salafi..

Salah guna istilah salafi..Arus tajdid wajar membantah kelompok yang menyalahgunakan nama Salafi sedangkan dalam masa yang sama kerja mereka adalah mencerca secara tidak seimbang tokoh-tokoh penyumbang kepada kebangkitan tajdid,seperti Hassan al-Banna,Sayyid Qutb,al Qaradhawi,Salman Adah dan ramai lagi.

Kita tidak menganggap tokoh-tokoh itu maksum,namun memfokus aktiviti untuk menyerangkan tokoh-tokoh tersebut dengan cara yang menyimpang dari metodologi ilmiah adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.Cara sebegini mendekati manhaj Khawarij dan menyanggahi Manhaj ahli Sunnah.

Syeikh Ibn Jibrin salah seorang tokoh Salafi semasa Arab Saudi ketika ditanya hal ini menjawab,
Sesungguhnya Sayyid Qutb dan Hasan al Banna adalah dari ulama’ kaum Muslimin dan ahli dakwah.Sesungguhnya Allah telah memanfaatkan melalui mereka berdua dan member petunjuk kepada ramai manusia dengan dakwah mereka.

Mereka berdua mempunyai sumbangan yang tidak dapat dinafikan.Kerana itu,ketika keputusan hukuman mati dikenakan ke atas Sayyid Qutb dibuat,Syeikh Abdl Aziz bin Baz memohon diberi pengampunan kepadanya dan belia merayu dalam permohonan itu.Namun ia tidak diterima Presiden Jamal(Abdul Naser) .

Allah akan menghukum Jamal apa yang layak untuknya.Ketika mana kedua-dua(Sayyid Qutb dan al-Banna) dibunuh,keduanya digelar Syahid,kerana mereka dibunuh secara zalim,dan syahid itu ada khas dan ang am.Tersebar perkara ini di dalam akhbar dan buku-buku tanpa ada orang mengingkarinya.

Kemudian Para Ulama’ menerima buku mereka dan Allah member manfaat kepada mereka dengan buku-buku tersebut.Jika ada pada mereka berdua kesilapan dalam takwilan ata yang seumpamanya dengannya,perkara itu tidak sampai kepada tahap untuk kafirkan mereka.Sesungguhnya para Ulama’ yang awal(salaf) juga ada kesilapan seperti al-Nawawi,al-Suyuthi,Ibn Jauzi,Ibn ‘Atiyyah,al-Khatabi,al-Qastalani,imam Syafie..

Mahasiswa dan pembaca harus seimbangkan ilmu dan pengetahuan..Harus tajdid kepada tidak bertaqlid buta tetapi mencari alas an dan dalil serta hujah dalam sesuatu perkara,penguasaan ilmu itu penting,kitab-kitab Hadith perlu ditaddabur selain al-Quran.

Monday, November 2, 2009

Kuliah Dr Asri..Gelombang Fitnah..hari ini di IQ

KULIAH DR MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN
�Gelombang Fitnah�
3 NOV 2009(SELASA)
8.00 malam
Di Institut Al-Qayyim,Mengkuang, Penang.

Student yang berminat tetapi tiada kenderaan boleh hubungi
Ummu Syauqina (017 6713370),kami akan uruskan pengangkutan.

Atsar(perkataan) Sahabat Salaf:
�Abdullah bin Rawahah ra pernah menarik tangan beberapa orang dari kalangan sahabat,
Lalu berkata,
�Marilah sejenak kita menambah keimanan,marilah kita mengingati Allah dan menambah keimanan dan ketaatan,semoga Dia mengingat kita dengan ampunan-Nya.
Abdullah bin Mas�ud ra pernah berkata,
Duduklah bersama kami untuk menambah keimanan,
Beliau pun berkata dalam do�anya,
Ya Allah,tambahkanlah kepadaku keimanan,keyakinan dan kefaqihan dalam beragama.

Sumber rujukan:Buku judul asli,Asbaabu Ziyaadatil Limaan wa Nuqshaanihi,Penulis �Abdurrazzaq bin �Abdil Muhsin al-�Abbad al-Badr,Judul dalam bhs Indonesia,Duduklah Sejenak bersama kami...Penerbit Pustaka Ibnu Katsir,penerjemah Beni Sarbeni Muraja�ah.

Sunday, November 1, 2009

Dr Asri Ditangkap Jais

Asslam Moalaikum..Pagi ini gegar satu Malaysia..Bekas Mufti Perlis Ditangkap JAIS..bertenang..Dr Asri baru ditahan..dituduh memberi kuliah tanpa Tauliah di sebuah Banglo di Klang..Tak apa..selagi JAIS tidak dapat membuktikan kesalahan beliau,dia difitnah..Orang yang membawa kebenaran difitnah...

Selama saya membaca buku-bukunya,menonton youtubenya..belum pernah saya mendengar beliau mencerca Imam Bukhari,Imam An Nawawi,Imam Ghazali seperti yang didakwa oleh PGSM atau mana-mana pihak..malah saya mengenali semua ulamak daripada bukunya dan you tubenya..Dengarlah kuliah Dr Asri,Kuliah Riyadhus Soliheen bab Tawakkal..bab Taubat..MasyaAllah..Begitu Faqih..

Jikalau lihat tahap ketegasan Dr Asri dengan Ustaz Rosul Dahri..Dr Asri banyak berlembut..kurang tegasnya berbanding Ustaz Rosul Dahri..Dr Asri juga memberi kuliah dengan Ilmu bukan Emosi..dia banyak menjaga hati banyak pihak ketika berhujah..tetapi Kebenaran itu memang menyakitkan dan Pahit..

Pagi ini saya berada di perpustakaan Pusat Islam USM..Bersembang dengan librarian di sini,saya kata aduh..jatuh maruah Dr Asri..banyak Fitnah..kata Librarian itu..ala itu hanya sesama manusia yang penting dengan Allah swt..Subhanallah..fitnah di dunia ini banyak..sesama manusia..yang penting Dr Asri dah menyampaikan kebenaran yang berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah berlandaskan kefahaman As Salafus Soleh..dan kuliah Hadithnya di Youtube sangat Bertauliah..paling saya suka bab Tawakkal..

Inilah yang ada pada Dr Asri..ILMU,KEBERANIAN,KEMURAHAN HATI,KEBENARAN...Selaras dengan penulisan Ibn Qayyim yang menyatakan seorang yang Faqih perlu mencintai Ilmu,keberanian,kemurahan hati dan kebaikan serta kebenaran..Janganlah menyampaikan sesuatu yang menjadikan kita semakin tidak memahami..

Saya menyarankan SEMUA MAHASISWA MAHASISWI,PEMBACA buka Blog IQ baca semua penulisan DR ASRI dan dengar semua YOUTUBE mencari bukti ketidak Tauliah dan bukti beliau mencaci Ulamak-ulamak..Carilah..