Wednesday, December 9, 2009

Khalifah dan Khilafah Salafussoleh.

Wahai saudaraku sekalian,saya ingin mengajak antum berfikir sejenak..Apakah itu khalifah dan khilafah yang seringkali diperjuangkan?Fikirkan persoalan ini,

1)Adakah ingin membina sebuah daulah dan khilafah kita perlu untuk bertajasus?Membuka aib sesama muslim?

2)Adakah ingin membina sebuah khilafah Islam kita perlu menentang pemerintah Islam?

Mari kita Taddabur ayat ini,Surah An-Nur,ayat 55,Firman Allah swt,

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diredhai-Nya untuk mereka,dan Dia benar-benar akan menukar(keadaan) mereka,sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah(janji) itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Abul Fida Ismail Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan,

Inilah janji Allah swt kepada Rasul-nya saw.Sungguh Allah swt akan menjadikan umat-Nya sebagai khalifah di muka bumi.

Maksudnya,Allah swt akan menjadikan umat-Nya sebagai pemimpin-pemimpin masyarakat dan penguasa mereka.Sungguh benar-benar Allah swt akan menggantikan rasa takut menjadi situasi yang penuh rasa aman dan tegaknya hukum.

Allah Yang Maha suci dan Maha tinggi telah membuktikan janji itu dan milik-Nya lah segala puji. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum meninggal dunia,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membukakan kemenangan kepada kaum muslimin dengan Fathu Makkah, Khaibar, Bahrain, dan seluruh Jazirah Arab serta bumi Yaman secara total.

Jizyah (upeti) telah bisa diperoleh dari kalangan Majusi Hajar, sebagian pinggiran Syam. Para raja mengajukan deklarasi damai kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya Raja Heraklius, Romawi, penguasa Mesir dan Iskandariyah yaitu Muqauqus, Raja Oman, Raja An-Najasyi di Habasyah yang memerintah setelah Ashimah rahimahullahu. Kemudian, kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat,

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih pengganti beliau dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Semasa pemerintahannya, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengirim pasukan di bawah komando Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu ke Persia. Kemenangan pun diperoleh, Persia ditaklukkan dan sebagian tentaranya dibunuh. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun mengutus pasukan di bawah pimpinan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu ke wilayah Syam.

Juga mengirim sahabat Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu beserta pasukannya ke Mesir. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada pasukan kaum muslimin di Syam, berhasil pula menguasai Bashrah, Damaskus, dan yang tersisa adalah sebagian negeri Hauran.

Sepeninggal Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, muncul Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu. Beliau menegakkan pemerintahan secara sempurna, yang belum ada tandingannya dalam sejarah –setelah para nabi– dalam hal kekokohan, kekuatan, dan keadilannya yang sungguh sempurna. Dalam masa pemerintahannya, wilayah Syam dikuasai secara total, beberapa wilayah Mesir lainnya, dan sebagian besar wilayah Persia pun berhasil dikuasai. Begitu pula dengan kekaisaran Kisra, berhasil ditaklukkan dan direndahkan serendah-rendahnya. Raja Kisra lari hingga terusir. Nasib serupa pun menimpa Raja Romawi.

Kerajaannya berhasil diruntuhkan, hingga terlepas kekuasaannya di negeri Syam dan dia lari menuju Konstantinopel. Kemudian saat masa Daulah Utsmaniyah, kekuasaan kaum muslimin semakin melebar dari Timur hingga belahan Barat bumi. Wilayah Maghribi berhasil dikuasai hingga batas ujung yaitu Andalusia, Qabras (Cyprus), negeri Qairawan dan Sabtah yang terletak sekitar Laut Atlantik. Dari arah timur hingga ke negeri Cina.

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat di atas, 3/366)


Demikianlah fakta sejarah. Lantaran kekukuhan iman, kebersihan aqidah, ketulusan beramal shalih, Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan janjinya. Kata Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu, pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala boleh diperoleh dengan mengikuti syariat-Nya dan bersabar (dalam menjalankannya). Sebagaimana firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)


Ini sebagaimana tersebut dalam pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Jagalah (hukum-hukum) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya akan engkau dapati Dia di depanmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 2516, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 7957)


Maka, barangsiapa menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjaga agama-Nya, bersikap istiqamah, saling menasihati dan bersabar atasnya, kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongnya, mengokohkannya atas musuh-musuhnya serta menjaganya dari tipu daya musuhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)


Nampak, betapa keberhasilan yang gilang-gemilang dari generasi utama umat ini karena ketaatan, ketundukan, dan ketulusan mereka dalam menetapi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka adalah generasi yang senantiasa ittiba’ (mengikuti) apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah kunci keberhasilan mereka. Dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka berhasil menguasai dan memimpin di berbagai belahan dunia. Ke sanalah mesti merujuk. Merekalah yang patut untuk diteladani. Bukan mengikuti langkah-langkah yang telah dicanangkan secara sistematik oleh orang-orang kafir, musuh-musuh Islam. Ketika menukil ayat:


“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma’idah: 55-56)


Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam menyatakan:

“Perhatikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah menyebutkan kaidah (prinsip) keimanan, yaitu sikap wala’ (loyalitas) yang kukuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang yang beriman. Sikap wala’ (loyalitas) ini diiringi pula dengan sikap berlepas diri secara total dari musuh-musuh (Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (Tanwir Azh-Zhulumat, hal. 49)


Maka, apa yang akan terjadi jika perjuangan menegakkan Islam tanpa mengindahkan prinsip-prinsip keimanan? Bahkan prinsip-prinsip tersebut dinjak-injak dan dicampakkan demi meraup suara pada pemilu. Wallahul Musta’an.

Seorang kafir akan dijadikan teman seiring dalam perjuangan karena menunjukkan sikap loyalitas terhadap parti. Sedangkan seorang muslim yang taat, karena ketaatannya kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala,d ia tidak dihiraukannya. Bahkan, boleh jadi seorang muslim tadi disikapi sebagai lawan dengan tingkat permusuhan yang tajam lantaran mengkritisi cara perjuangan berparti. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma’idah: 55-56)


Firman-Nya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)


Selain itu, seseorang, parti atau jamaah yang terjerumus ke dalam kubangan lumpur demokrasi, maka jerat-jerat aturan perundangan akan mengikatnya. Dia harus tunduk dengan segala perundangan yang ada walau perundangan tersebut menyelisihi syariat.

Para wanita juga turut sibuk berpolitik untuk menjadi pemimpin,

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Dan hendaklah kamu(muslimah)tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’.” (An-Nur: 31)


Pemilihan terhadap wanita untuk menduduki jabatan yang memiliki tanggung jawab dalam kepemimpinan umat, masuk dalam kategori hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:
“Tidak akan beruntung satu kaum (bangsa) yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 4425)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut karakteristik umat yang kelak(terdahulu) memperoleh kemenangan dan kejayaan, di antaranya menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Firman-Nya:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pula untuk menghapus kemungkaran. Kata Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, (ubahlah) dengan lisannya. Bila tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pula untuk berkata yang baik. Bila tak boleh, diam. Bukan lantas membuat pernyataan-pernyataan politik yang menghasut umat terjatuh pada perkara diluar syariat Islam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam.” (HR. Muslim no. 34)


Demokrasi telah menggiring umat untuk terpaku pada perolehan suara, sementara ketentuan syariat ditanggalkan. Patutkah yang demikian ini dikategorikan memperjuangkan Islam dan kaum muslimin? Wallahu a’lam.

Al-Imam Abu Ja’afar Ath-Thohawiy rahimahullah berkata,

Saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah,

Haji dan jihad akan terus berjalan bersama pemerintah dari kalangan kaum muslimin yang baik mahupun yang fasik sampai tegaknya hari kiamat,tidak akan dibatalkan dan digugurkan oleh sesuatu apapun.

(Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah,hal 50)

Kesimpulannya,kita harus menjadi seorang khalifah yang taat kepada Allah,Rasulullah saw dan kita juga perlu taat pada pemerintah Islam.Tips untuk membina khilafah adalah kembali kepada al-Quran dan Sunnah,dengan ilmu dan amal,mengikuti teladan Salafussoleh..dengan kembalikan perasaan Taqwa,Khauf,Taat,Cinta kepada Allah dan deen Islam.

Kita harus berusaha menjadi persis seperti Salafussoleh yang diberi petunjuk oleh Allah,ansar dan muhajirin,membawa akhlak al-Quran dan as-Sunnah.

Mereka yang menentang pemerintah Islam beranggapan perbuatan mereka merupakan kebaikan yang membawa kemaslahatan.Sedangkan kerosakan menentang pemerintah Islam adalah persangkaan buruk sesama muslim dan membuka aib sesama muslim.Terjejaslah ukhwah Islam.

Bagi kaum muslimah,berhenti daripada ingin menjadi pemimpin,kerana tanggungjawab muslimah itu sudah cukup banyak,mengurus suami dan anak-anak..menjadi seorang ibu,isteri,guru itu sudah berat..tidak perlu berpolitik..biar kaum muslimin yang menguruskan siasah Islam.

Bercakap mengenai kezhaliman,wahai saudaraku,kezhaliman itu berlaku bukan hanya pada Pemimpin dan penguasa tetapi kepada setiap muslim yang tidak mengamalkan Islam.Termasuklah ayah,ibu,anak-anak,guru-guru..iya semua muslim jika tidak mengamalkan Islam itu adalah zalim,maka haruslah bertaubat dan kembali kepada Allah swt dan agama Islam.

Dariku,

Ummu Syauqina Nurharyati Husna,

Usaha menjadi Khalifah persis Salafussoleh,

Sumber rujukan yang saya pilih adalah daripada Darussalaf.com..kitab Umar al-Khattab,tokoh Islam.

Monday, December 7, 2009

Mengapa Iman ku Kurang???

Assalamo alaikum..Wahai saudaraku yang kukasihi..cinta itu bermula dengan kekaguman..apabila manusia rasa kagum maka,lahirlah perasaan cinta..Begitulah rasa kagumnya kita kepada pencipta,kagum dengan Rasul-rasul-Nya,kagum dengan deen(Islam) yang indah..membawa kita kepada Cinta..maka,kita mula belajar mencintai..

Ingin sekali saya menulis tentang sebab-sebab berkurangnya keimanan dan kecintaan kepada Pencipta kita Allah swt.

Bahan Rujukan saya adalah kitab yang ditulis oleh 'Abdurrazaq bin 'Abdil Muhsin al-'Abbad al-Badr,judul bukunya adalah Duduklah sejenak bersama kami untuk menambah keimanan,Menyeru Sunnah yang sahih daripada pustaka Ibn Katsir.

Saya melihat ini adalah masalah dalaman jiwa kita yang perlu kita ubati,kita perlu mengetahui mengapa iman dan cinta kita itu berkurang sehingga hilangnya perasaan Khauf(takut) atau Taqwa kita pada Allah swt.

Ini adalah kesilapan diri kita sendiri,dan dibalasi setimpal apa yang kita lakukan..

Surah an-Naml,ayat 90,Firman Allah swt,

Dan barangsiapa yang membawa kejahatan,maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam Neraka.Tiadalah kamu dibalasi,melainkan setimpal dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.

Dari Ibnu Mas'ud ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

Kedua kaki anak Adam tidak akan dibiarkan melangkah pada hari kiamat dari hadapan Rabbnya,hingga dia ditanya tentang 5 perkara,Tentang umurnya untuk apa dia habiskan?tentang masa mudanya,untuk apa dia pergunakan?tentang hartanya,dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan?Dan apa yang telah dia kerjakan terhadap apa yang dia ketahui.

HR at-Tirmidzi.

Kita harus berusaha mengetahui keburukan bukan untuk melakukannya,akan tetapi untuk menghindarinya atau menjauhinya.Barangsiapa yang tidak mengetahui apa itu keburukan,maka dia akan terjerumus kedalamnya.

Telah tetap dalam ash-Shahiihan dari Hudzaifah bin al-Yaman ra,bahwasanya beliau berkata,

Para sahabat selalu bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan,sementara aku selalu bertanya kepada beliau tentang keburukan kerana takut terjerumus kedalamnya.

HR Al-Bukhari dan Muslim.

Ibn Jauzi ra berkata,
Sesungguhnya mengetahui keburukan dapat mencegah seseorang daripada terjerumus kdalamnya.
(Talbiis Ibliis(hal 4) dan lihat al-Fatawaa,karya Ibn Taimiyyah(X/301).

Banyak hadith-hadith,atsar-atsar para sahabat yang mengharuskan kita mempelajari sebab-sebab berkurangnya iman,faktor-faktor yang melemahkannya dan cara menjaga diri darinya,dan ini adalah tuntutan yang perlu diberi perhatian.

Apa yang bertentangan dengan ketaatan adalah kelalaian,kelalaian merupakan isyarat berkurangnya iman,mengabaikannya dan tidak memperhatikannya.

Syaikh Muhammad al-'Utsaimin ra berkata,

Adapun berkurangnya keimanan itu mempunyai beberapa sebab dan diantaranya adalah meninggalkan ketaatan.Keimanan berkurang kerana meninggalkan ketaatan.Malah ini berkemungkinan akan membawa kepada kehilangan keimanan secara keseluruhan,seperti meninggalkan SOLAT.
(Fat-hu Rabil Bariyyah,hal 66)

Mari kita renung sejenak wahyu Allah dalam Surah Asy-Syams,ayat 9 dan 10,
Firman Allah swt,

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang mensucikan jiwa,dan sesunguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Ayat ini menjelaskan betapa pentingnya ketaatan dan menjaganya kerana,hal ini merupakan faktor paling utama dalam mensucikan jiwa.

Saudaraku..marilah kita nilai semula diri kita,kita pulihkan jiwa kita,kita sembuhkan dengan ketaatan kepada pencipta..kita mempelajari apa itu keburukan,kita jauhi keburukan..kita tambahkan kebaikan..apabila kita tahu itu adalah buruk,pasti kita ada kemampuan memberhentikannya agar iman dan cinta kita tidak berkurang dan lenyap.

Islam melarang kita bertajassus(membuka aib saudara muslim).
Islam melarang kita berdusta.
Islam melarang kita makan harta anak yatim,rasuah dan riba'
Islam melarang kita membunuh orang awam
Islam melarang kita membunuh diri
Islam melarang kita berzina
Islam melarang kita minum arak
Islam melarang kita meninggalkan solat dan melalaikannya
Islam melarang kita membuka Aurat
Islam melarang kita derhaka pada ibu bapa
Islam melarang kita menjatuhkan pemerintah Islam

Dariku,
Ummu Syauqina Nurharyati Husna,
Menyeru Sunnah kepada Ummah.

Sunday, December 6, 2009

Dialog bersama warga Islam Singapura.

Assalamo alaikum..sememangnya dakwah itu sukar..sukar menembus hati-hati manusia..

Surah al-Fajr,ayat 27-30,Firman Allah swt,

Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya.Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hambaKu.Masuklah ke dalam syurga-Ku.

Alhamdulillah,saya sudah pulang daripada Singapura dengan membawa agenda dakwah Sunnah salafi,mengembalikan masyarakat Singapura kepada al-Quran dan Sunnah yang difahami oleh Sahabat-sahabat Rasulullah,tabien-tebien dan tabiut-tabien.MasyaAllah,bertubi-tubi soalan diutarakan..sememangnya mereka kabur dengan ilmu agama..keliru dan binggung.

Antara yang diutarakan oleh mereka..

1)Kenapa PAS menentang UMNO,Boleh ke politik dicampurkan dengan Islam,kenapa ada fatwa mengatakan Pas tidak boleh bernikah dengan orang UMNO?

2)Kenapa PAS suka berburuk sangka(tajasus) pada pemerintah Islam,kalau Singapura yelah pemerintah kafir?

3)Kenapa tabligh pergi dakwah(khuruj) tinggal tanggungjawab terhadap keluarga?

4)Kenapa tarikat itu pelik?kenapa Sufi itu mereka ajar pelik?

5)Kenapa ada orang Islam yang suka mengebom bali,bunuh orang awam?itu jihad ke?

6)Kenapa wanita kena berpurdah ke?lelaki kena berjanggut ke?

Sebagai dai..kita kena memberi ilmu yang bermanfaat.yang paling penting adalah kebenaran..
Dalam situasi ini..saya perlu adil..jawapan saya mudah..

Saya kata pada mereka tinggalkan dahulu persoalan-persoalan yang antum binggung dan keliru kerana islam itu mudah dan sederhana..islam itu tidak mengelirukan..

Pertama,jangan memikirkan terlalu negatif..tetapi lihat dari sudut positif..persoalan itu adalah kekurangan mereka,tetapi pernah kita lihat sumbangan mereka?

Baiklah..ramai orang fikir dakwah salafi ini memusuhi PAS,TABLIGH,HIZBUN TAHRIR..Dan sebagainya..ketahuilah saudaraku...dakwah salafi tidak memusuhi tetapi mengatakan kebenaran yang mengikuti syariat islam yang bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah..tidak mencelakan hanya mengatakan inilah syariat islam,inilah kebenaran,dengan hujah-hujah..dalil-dalil yang bukan mengikut nafsu..

Ketahuilah setiap manusia itu adalah sama..yang membezakan kita adalah taqwa..taqwa sahaja yang membezakan kita..

Rasulullah saw bersabda,Wahai manusia!Sesungguhnya tuhan kamu sama,bapa kamu sama(ADAM),Ketahuilah tiada kelebihan orang arab ke atas a'jam(yang bukan arab) atau a'jam ke atas arab,atau yang berkulit merah ke atas yang berkulit hitam,atau yang berkulit hitam keatas yang berkulit merah melainkan KETAQWAAN.Hadith riwayat Ahmad dan Baihaqi.

MasyaAllah..itulah islam..Allah menilai kita dengan ketaqwaan..makanya,setiap kekurangan yang berlaku akibat kurang kefahaman dan ilmu itu masih boleh diperbaiki..

Untuk menjadi orang yang bertaqwa itu kita perlu dahulukan dengan ilmu..bersumberkan al-Quran dan as-Sunnah..yang difahami oleh generasi awal yang mendapat islam iaitu para sahabat Rasulullah,tabien,tabiut tabien,yang dikenali sebagai salafussoleh..

Daripada Abi Najih Al-Irbadh ibn Sariah ra,katanya bahawa Rasulullah saw pernah memberi ingatan yang menggerunkan hati dan menitiskan air mata.Lalu kami berkata:

Wahai Rasulullah,nasihat itu seolah-olah nasihat perpisahan(terakhir),maka berilah kami nasihat.

Rasulullah bersabda,'Nasihatku,Bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepada pemerintah,sekalipun yang memerintah itu seorang hamba abdi.Siapa di antara kamu yang sempat hidup di zaman akan datang,dia akan melihat pergeseran yang banyak antara sesama islam.Hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' al-Rasyidin yang mendapat petunjuk.Gigitlah dengan taringmu,dan jauhilah perkara yang diadakan,kerana setiap perkara yang diadakan itu adalah bida'ah,setiap bida'ah itu sesat dan tiap-tiap yang sesat itu tempatnya di dalam neraka.'

Riwayat Ahmad,Abu Daud dan Tirmidzi.

Subhanallah hadith ini seperti sudah menjawab semua persoalan mereka..tetapi saya harus menegakkan juga sumbangan para pendakwah ini..tidak kiralah apa nama jemaah mereka..saya katakan..


Manusia yang terbaik ialah seorang mukmin yang berilmu,yang apabila dia didatangani orang maka dia akan memberi manfaat dan apabila dia ditinggalkan orang,maka dia akan bermanfaat buat dirinya sendiri.

Maka walaupun mereka membuat kesilapan dalam satu-satu sudut yang agak tergelincir daripada sumber al-Quran dan sunnah yang difahami Salafussoleh,namun mereka itu sangat bermanfaat pada Ummah Islam..mereka ada tarbiyyah..PAS banyak memberi kesedaran tentang kepentingan kuasa dan khalifah,mereka juga membuat Tamrin untuk membina kekentalan mental dan fizikal,hanya perselisihan berlaku kerana menentang pemerintah Islam..Bagi tabligh pula,mereka itu berakhlak baik,solatnya MasyaAllah berjemaah dan di awal waktu,sanggup keluar meninggalkan kepentingan diri untuk Islam,kesilapan mereka itu adalah melakukan bida'ah..beramal dengan hadith yang dhaif...

Sebagai manusia sememangnya yang negatif itu sahaja yang dilihat..yang positif itu tidak dilihat..

Sebagai pendukung Sunnah yang difahami oleh Salafussoleh...teguran yang dibuat terhadap jemaah-jemaah adalah hanya semata-mata untuk mengatakan,menyatakan,menjelaskan syariat islam..mana yang salah iya perlu ditegur..inilah sunnah..itulah bida'ah..ini cara yang betul,itu yang salah...bukan untuk mencela,mengaibkan atau merendahkan..

Apabila kita melakukan sesuatu yang tergelincir daripada al-Quran dan as-Sunnah yang difahami oleh salafussoleh,itulah sebabnya ummah islam berpecah dan keliru dan binggung..tetapi apabila mempelajari sedalam-dalamnya dengan kefahaman salafussoleh,insyaAllah tidak bingung kerana islam itu mudah..

Mari kita koreksi hati dan jiwa kita..

Bagi hati yang berpenyakit,

Surah al-Baqarah ayat 10,Firman Allah swt,
Dalam hati mereka ada penyakit,lalu Allah menambah penyakitnya itu dan mereka mendapat azab yang pedih,kerana mereka berdusta.

Penyakit hati itu misalnya ragu dan tidak yakin akan kebenaran,munafik dan tidak beriman.

Bagi hati yang tertutup,

Surah al-Muthaffifin ayat 14,Firman Allah swt,
Sekali-kali tidak!(mereka katakan bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan)Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

Bagi hati yang mengeras,

Surah al-An'am ayat 43,Firman Allah swt,
Tetapi mengapa mereka tidak memohon(kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka?Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.

Bagi hati yang membatu,

Surah al-Baqarah,ayat 74,Firman Allah swt,
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras,sehingga(hatimu) seperti batu,bahkan lebih keras.Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang(airnya)memancar daripadanya.Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya.Dan ada pula yang meluncur jatuh kerana takut kepada Allah.Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Janganlah kita menjadi seorang muslim yang mukmin,
Yang iblis berwajah manusia,
Serigala berjubah Taqwa.

Coretanku,
Ummu Syauqina Nurharyati Husna,
Berilmu Sebelum Berdakwah,
Di Singapura,2009.

Saturday, November 28, 2009

Penampilan itu adalah Syiar Islam..

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan syari’at Islam dengan sempurna dan meliputi segala hal, berlaku untuk semua zaman, semua tempat, dan dalam semua kondisi. Baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq sopan santun, cara berpenampilan dan berpakaian, cara bermuamalah antara sesama, dan banyak lagi. Semuanya telah lengkap dan sempurna.

Syari’at Islam ada yang bersifat batin/tidak tampak, ada pula yang bersifat zhahir/tampak. Semuanya merupakan bagian dari syari’at Islam yang harus diamalakan oleh setiap individu muslim. Syi’ar-syi’ar Islam harus dihormati dan dijunjung tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (Al-Hajj : 32)

Di antara aturan syari’at Islam yang penuh rahmat ini adalah cara berpenampilan. Islam telah memberikan ketentuan bagi kaum mukminin dan mukminah dalam cara berpenampilan dan berpakaian.

Terkait dengan mukminin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه

(Batas panjang) pakaian (sarung, gamis, celana) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis, dan tidak mengapa jika sampai antara pertengahan betis dengan dua mata kaki. Kain yang (dipanjangkan sampai) berada di bawah mata kaki maka itu di neraka. Barangsiapa yang menjulurkan sarung (melebihi mata kaki) karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya. (HR. Abu Dawud 4093).

Hadits ini menunjukkan bahwa cara berpakaian seorang muslim harus di atas mata kaki, tidak boleh di bawah mata kaki. Ini ketentuan syari’at Islam sekaligus ini merupakan ajaran junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang berani melanggar ketentuan ini dengan sengaja maka dia diancam dengan neraka. Jika melanggar aturan ini karena sombong, maka ancamannya lebih besar lagi.

Seorang muslim yang cinta ajaran Nabinya, cinta agama Islam, tunduk dan patuh kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla, maka pasti dia akan memperhatikan aturan syari’at Islam yang satu ini. Dengan tanpa malu atau gengsi ia akan berpenampilan dengan pakaian (sarung, gamis, celana) di atas mata kaki atau setengah betis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang berjenggot lebat dan berambut tebal. Ini merupakan teladan dari beliau dalam berpenampilan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berjenggot. Beliau bersabda :

« قصوا الشوارب وأعفوا اللحى خالفوا المشركين »

Potonglah kumis-kumis (kalian) dan panjangkanlah jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum musyrikin. (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :

« جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس »

Pangkaslah kumis-kumis (kalian) dan biarkan panjang jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum majusi. (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits di atas menunjukkan kewajiban memanjangkan jenggot sekaligus menunjukkan haram menggunting atau mencukur jenggot. Ini adalah perintah dan larangan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian juga, Islam sebagai syari’at yang lengkap dan sempurna, pembawa rahmat bagi alam semesta, sangat menghargai dan menjaga kehormatan kaum wanita. Jangan sampai mereka menjadi mangsa pihak-pihak tidak bertanggungjawab. Di antara bentuk penjagaan Islam terhadap kaum wanita adalah mereka diwajibkan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh aurat mereka, mulai dari rambut, leher, tengkuk, dada, punggung, kaki, dan seluruh anggota tubuh mereka. Perintah ini Allah tegaskan dalam Al-Qur`an pada surat An-Nur : 31 dan surat Al-Ahzab : 59.

Sebagai generasi yang taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya para istri Nabi dan para shahabiyyah segera melaksanakan perintah tersebut. Islam mempersyarakatkan baju yang dikenakan tersebut harus menutupi seluruh tubuh, lebar, tidak ketat atau transparan, tidak berwarna mencolok atau menarik, dan beberapa kriteria lainnya.

Termasuk yang juga harus ditutup oleh kaum wanita adalah wajah. Ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan :

“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, ketika kami (para wanita) berhaji bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka ketika mereka (para pengendara laki-laki tersebut) telah dekat, masing-masing kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Beberapa ketentuan terkait penampilan dan pakaian di atas merupakan ketentuan syari’at Islam dan merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja itu menjadi ciri khas bagi kaum muslimin yang taat menjalankan ajaran syari’at, cinta kepada bimbingan Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penampilan Islami tersebut merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa, ciri orang yang shalih, ciri orang yang taat dan cinta pada agama Islam.

Penampilan Islami di atas bukan bikinan kelompok/golongan atau bangsa tertentu, bukan pula ciri khas kelompok atau bangsa tertentu, bukan pula sekedar adat kebiasan masyarakat, bangsa, atau kelompok tertentu. Tapi merupakan aturan syariat Islam, merupakan ketentuan yang berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diajarkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh musibah telah menimpa kaum muslimin. Setelah kaum teroris - khawarij mencoreng Islam dan kaum muslimin, mencemarkan nama harum jihad, mereka juga mencemarkan syiar-syiar Islam. Sebagian kaum teroris - khawarij tersebut ternyata menampakkan atribut-atribut Islami di atas, bahkan mereka jadikan atribut Islami tersebut sebagai sarana untuk penyamaran dan melarikan diri!!

Maka timbullah stigma di masyarakat bahwa orang-orang berjenggot, bergamis, bercelana di atas mata kaki, atau istri bercadar berarti adalah teroris, atau sepaham/sealiran dengan teroris, atau minimalnya pro teroris sehingga harus dicurigai dan diselidiki. Sungguh jahat para teroris - khawarij tersebut, akibat ulah mereka syiar Islam yang mulia menjadi tercitrakan jelek.

Yang sangat disesalkan adalah justru sebagaian kaum muslimin sendiri menjadi benci terhadap jenggot, gamis, cadar, dll serta ikutan-ikutan menaruh curiga kepada setiap orang yang mengenakannya. Maka suasana ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membenci syariat Islam, untuk kembali menghembuskan isu bahwa jenggot, gamis, cadar, dll bukan bagian dari Islam, itu hanya adat arab badui, atau merupakan ciri-ciri kelompok garis keras.

Sungguh keyakinan demikian telah menginjak-injak syari’at Islam, dan disadari maupun tidak merupakan pengingkaran terhadap sebagian ajaran Islam. Yang lebih disesalkan adalah justru stigma negatif di atas juga disuarakan oleh orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh Islam, atau cendekiawan muslim. Sungguh komentar-komentar mereka tidak memberikan solusi, tapi malah membuat suasana semakin keruh

Sikap sebagian kaum muslimin yang menaruh curiga terhadap segala atribut Islami di atas - bahkan di beberapa daerah sampai pada tindakan main hakim sendiri - bukanlah solusi untuk memberantas terorisme. Justru hal itu menunjukkan ketidakpahaman umat terhadap hakekat terorisme, di sisi lain menunjukkan betapa rapuhnya aqidah umat sehingga sangat mudah dikendalikan oleh media massa dan tokoh-tokoh yang tidak jelas.

Terorisme - Khawarij muncul karena kecintaan yang besar terhadap Islam dan semangat memperjuangkan Islam, namun keluar dari metode yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Terorisme yang muncul sekarang sebenarnya berakar dan merupakan kelanjutan dari paham jahil khawarij.

Untuk membentengi membentengi diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, lingkungan dan masyarakat kita dari paham sesat khawarij maka umat Islam harus kembali merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah di bawah bimbingan para ‘ulama yang meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).

Segala problem yang menimpa kaum muslimin tidak akan tercabut kecuali jika kaum muslimin mau kembali kepada ajaran agama mereka. Tidak akan menjadi baik kondisi umat di akhir zaman ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awal Islam, yaitu berpegang kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan prinsip pemahaman yang benar, yaitu metode pemahaman para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).

sumber : http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=66

Friday, November 27, 2009

Kehilangan..

Saya seorang wanita yang biasa yang tiada kecantikan,kelembutan,keistimewaan..hari ini ingin sekali saya menulis tentang kehilangan..

Dalam kehidupan ini,kita pasti akan merasai kehilangan..kadang-kadang untuk mengelak daripada kehilangan sesuatu yang kita sayang kita sanggup berkorban..bukan kadang-kadang tetapi sememangnya itulah tindakan kita..

Seperti seorang ibu yang tidak mahu kehilangan anaknya,seorang anak yang tidak mahu kehilangan ibu dan ayahnya..

Terima kasih ibuku yang mengorbankan nyawanya untukku,sewaktu ibu saya mengandung ada ketumbuhan di rahimnya,maka,doctor kata saya perlu digugurkan..namun,kerana dia tidak mahu kehilangan saya..dia sanggup mengambil risiko..dan dia meninggal dunia ketika melahirkan saya..namun,tetap rasa kehilangan,saya kehilangan seorang ibu..

Abang dan kakak saya yang mengalami tekanan hidup..mereka dijaga oleh pak cik saya di Australia..dan saya kehilangan abang dan kakak..saya Cuma ada seorang ayah..hanya dia sahaja..Ayah saya bernikah lagi..dan saya ada seorang ibu tiri..saya menghargainya..

Saya seorang anak yang manja..dibesarkan dalam kemewahan hidup..ketika saya berumur 12 tahun,saya kehilangan nenek saya..yang paling saya sayang..tetapi hidup saya diceriakan dengan kehadiran seorang adik lelaki...namanya Ariff..ayah saya mengambilnya sebagai anak angkat..

Namun kehidupan sentiasa diuji..perniagaan ayah saya kerugian besar..kerana ada pecah amanah dalam syarikat..dan saya kehilangan kemewahan kehidupan...betapa susahnya saya nak sesuaikan diri..maka,kami berhijrah daripada Kuala Lumpur ke Kulai,Johor..sebuah Bandar yang sangat simple..

Maka,saya kehilangan sahabat baik saya..Anisa Izwin,Erin Adlina,Amira Lukman,Eda Fazlida,Naufal Aizat,Zahreen Hasnor,Hazrin Abdullah,Shahirah Najla dan Ariff Shazrel..they are my brothers and sisters..

Selepas berpindah..saya banyak menyendiri..culture shock hidup di Johor..sahabat baik saya di sekolah Bandar Putra Kulai..Nurizayu Zakaria,Nurfatiha,Lukman,Fadzli,Fizi..perpindahan di Johor membuat saya lebih matang..saya meminati pidato dan debat..

Dahulu saya adalah atlet sukan,sewaktu di Kuala Lumpur..saya suka bermain basketball,hoki,bola jarring,berenang..saya akan berjogging setiap petang..apabila saya pindah ke Johor saya kehilangan Team Mates saya..malah di Johor tiada sukan..hanya akademik..

Apabila kita kehilangan kita kena belajar menerima..menerima benda baru..saya cuba sesuaikan diri..Tanpa saya sedar..diri saya sememangnya berubah..cara hidup saya..saya mula memerhatikan keadaan sekeliling..saya sudah boleh menerima kehilangan dengan mudah..if i can cope before,i can cope it again..learn from experience..

Saya memasuki Universiti Sains Malaysia..tiba-tiba saya mendapat panggilan telefon..waktu itu bulan puasa..lagi seminggu kita akan beraya..ayah saya kata,adik dah tiada..adik dah meninggal dunia..saya terkedu..tetapi saya redha..selepas kehilangan adik saya..saya jarang balik ke rumah..kerana rumah dah tidak ceria..ayah saya banyak outstation dengan bisnesnya,ibu tiri saya juga berubah..mengalami kemurungan..tak tahu nak buat apa..saya hanya focus belajar..dan banyak bersabar..

Teringin sekali saya untuk bernikah..namun,saya takut nak menyayangi orang lagi..kerana saya tak nak rasa kehilangan..teramat pedih rasanya..

Kesimpulannya..sepanjang perjalanan hidup ini..hanya pencipta kita sahaja yang akan kekal bersama kita pada setiap masa..sewaktu kita senang atau susah..Allah Yang Maha Kekal..Dia akan sentiasa bersama kita dalam keadaan kita lalai ataupun dalam keadaan kita ingat padaNya..tidak pernah Allah melupakan kita..Kasih sayang-Nya juga sentiasa mengalir seperti sungai yang tidak berhenti mengalir..Allah akan melindungi kita..Yang paling penting kita tidak akan kehilangan Allah..kerana Allah sentiada ada untuk kita..

Saya bukanlah wanita yang sempurna..saya akan usaha supaya tidak kehilangan perkara yang kita sayang..tetapi inilah kehidupan..saya bersedia ditinggalkan dan meninggalkan..kerana hidup ini bukan paksaan tetapi kerelaan..saya redha..kerana saya yakin Allah akan member yang terbaik..sentiasa yang lebih baik..

Thursday, November 26, 2009

Ushulus Sittah Jemaah Tabligh

Bagi seorang yang ingin mengetahui kesesatan sebuah paham atau kelompok hendaknya dia mengetahui terlebih dahulu mana pemahaman yang benar dan mana pemahaman yang salah. Banyak kita saksikan seseorang kebingungan bila dia mendengar atau membaca pernyataan bahwa :

Ini adalah pemahaman yang sesat dan itu adalah pemahaman yang menyeleweng! Mengapa dia bingung.

Hal itu terjadi tidak lain karena dia belum mengetahui perkara yang benar dan yang salah. Kebingungan ini tidak hanya melanda orang awam saja. Akan tetapi para pelajar, mahasiswa, dan kalangan intelek pun mengalami hal yang sama.

Untuk itu sudah seharusnya seorang itu terlebih dahulu mengetahui kebenaran sehingga bila diajak berbicara tentang firqah-firqah sesat semacam syi’ah, mu’tazilah, jahmiyah, dan lain-lainnya tidak akan merasa heran. Sudah semestinya seorang Muslim mempelajari kebenaran yang terdapat pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Adakah benar fakta ini?

Tidak diragukan lagi bahwa jamaah tabligh adalah suatu kelompok dakwah yang telah menyebar kemana-mana. Tapi sebenarnya bagaimana jamaah ini bila dilihat dengan kacamata ajaran Islam. Kalau kita menengok sejarahnya, jamaah ini dirintis oleh Muhammad Ilyas Ad Diyobandi Al Jisti Al Kandahlawi kemudian Ad Dahlawi. Dia adalah pendiri jamaah tabligh di India. Dia pula yang merancang dan merumuskan ushulus sittah (enam dasar) ajaran jamaah tabligh. Ini dengan isyarat gurunya, Rasyid Ahmad Kankuhi Ad Diobandi Al Jisti An Naqsyabandi dan Asyraf Ali At Tanuhi Ad Diobandi Al Jisti. (Lihat Al Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiri halaman 24).

Kemudian dilanjutkan gerakan ini oleh anaknya, Yusuf. Dan pimpinan mereka sekarang adalah In’amul Hasan. (Halaman 7) Jamaah ini dibangun di atas empat jenis tarekat sufi : Jistiyah, Qadiriyah, Sahrawardiyah, dan Naqsyabandiyah. Di atas empat tarekat sufi inilah In’amul Hasan membaiat para pengikutnya yang telah dianggap pantas untuk dibaiat. (Halaman 7-8).

Dari sini telah nampak jamaah tabligh tidaklah mendasarkan pemahamannya kepada pemahaman Salaf Shalih sebagai dasar pemahamannya pasti sesat. Dan berikut ini kita akan mendapatkan bukti nyata kesesatan mereka. Penampilan zuhud jamaah tabligh telah menipu sebagian besar kaum Muslimin sehingga ketika ada orang yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok yang sesat tiba-tiba terkejut sambil berkata : “Apakah orang-orang yang zuhud seperti itu sesat dan salah.?”

Rupanya, orang-orang seperti ini tidak paham pokok dan dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menilai sesat atau tidaknya suatu kelompok tertentu. Mereka mengukur baik dan buruk hanya dari segi penampilan luar tanpa melihat bagaimana keadaan dalamnya.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang arif dan bijaksana. Mereka menghukumi kelompok atau perorangan tidaklah berdasarkan hawa nafsu atau karena sakit hati tetapi dengan ilmu dan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan semua makhluk.

Berapa banyak orang-orang sufi yang berpenampilan sederhana dan zuhud tidak luput dari kritikan dan kecaman pedas dari para ulama. Mereka bisa menipu orang awam tapi jangan harap bisa menipu ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ahli Tarikh Islam, Al Imam Al Hafidh Adz Dzahabi mengomentari tertipunya Al Manshur, seorang khalifah Bani Abbasiyah karena ulah seorang tokoh mu’tazilah, ‘Amr bin ‘Ubaid.

Khalifah bersyair :
Semua kalian berjalan dengan perlahan-lahan
Semua kalian memburu buruannya
Kecuali ‘Amr bin ‘Ubaid

Imam Adz Dzahabi berkata : “Dia (Manshur) tertipu dengan kezuhudan dan lagak keikhlasannya hingga dia melupakan kebid’ahannya.” (Lihat Siyar A’lamin Nubala 6/105 dan Naqdur Rijal karya Syaikh Rabi’ halaman 12)

Ushulus Sittah
“Jamaah ini memiliki manhaj yang dijadikan dasar sebagai tempat rujukan yang dinamakan Ushulus Sittah (enam dasar), Ushulus Sittah tersebut berisi :
1. Merealisasikan kalimat thayibah Laa Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah.
2. Shalat dengan khusyu’ dan khudhu’ (penuh ketundukan).
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan kaum Muslimin.
5. Memperbaiki niat dan mengikhlaskannya.
6. Keluar (khuruj) di jalan Allah.

Perhatikanlah wahai para pembaca yang budiman terhadap Ushulus Sittah ini. Kemudian kita lihat apakah mereka berada di atas manhaj yang benar dalam memahami, mempraktikkan, dan mendakwahkan dasar-dasar ini. Sebelum kita membicarakannya, Anda harus mengetahui terlebih dahulu bahwa Ushulus Sittah ini memiliki Kalimat Rahasia. Jika Anda telah mengenalinya akan bisa –dengan izin Allah– memahami semua pendapat dan gerakan jamaah ini dengan mengembalikan semua ucapan dan perbuatan tersebut kepada Kalimat Rahasia ini. Kalimat Rahasia itu adalah segala sesuatu yang menyebabkan lari atau berselisih antara dua orang maka harus diputus dan dilenyapkan dari manhaj jamaah ini.

Sekarang mari bersama saya membahas dasar yang pertama jamaah ini, yaitu merealisasikan dua kalimat syahadat. Apakah Anda telah mengetahui cara merealisasikan dua kalimat syahadat di atas.

Realisasi dua kalimat syahadat itu adalah dengan cara mewujudkan tiga jenis tauhid, Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma’ was Sifat. Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus Syaikh rahmatullah ‘alaihi mengatakan dalam Kitab Fathul Majid halaman 84 :

“Ucapan beliau, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : ‘Bab Siapa Yang Merealisasikan Tauhid Akan Masuk Surga Tanpa Dihisab. Yaitu tanpa diadzab.’ Saya (Syaikh Abdurrahman) katakan : Merealisasikannya adalah (dengan cara) memurnikan dan membersihkannya dari noda-noda syirik, kebid’ahan, dan kemaksiatan.”

Setelah kita memahami makna kalimat tauhid di atas dan Kalimat Rahasia yang ada pada mereka baiklah sekarang kita lihat realisasinya pada jamaah ini. Mereka merealisasikan kalimat ini dengan hanya berbicara sekitar tauhid Rububiyah saja. Mengapa demikian. Karena hal itu tidak sampai menyebabkan terjadinya perpecahan, membuat orang lari, dan berselisih antara dua orang Muslim.

Adapun kalau berbicara tentang tauhid Al Asma’ was Shifat maka akan menyebabkan terjadinya perpecahan, membuat orang lari, dan perselisihan karena di sana ada kelompok asy’ariyah, maturidiyah, jahmiyah, hululiyah, ittihadiyah, dan Salafiyah. Mereka semua berbeda dalam masalah ini. Dan dasar yang dijalani oleh jamaah tabligh dalam Kalimat Rahasia ini bahwa sesuatu yang akan menyebabkan orang lari, perselisihan, dan perpecahan antara dua orang maka harus dibuang dan ditiadakan dari manhaj jamaah ini.

Demikian juga jenis ketiga dari bagian tauhid, yaitu tauhid Uluhiyah maka pembicaraan dalam masalah ini diputus dan ditiadakan karena akan menyebabkan terjadinya perpecahan dan perselisihan karena nanti ada yang Salafi dan ada yang khalafi quburi. Yang pertama (Salafi, pent.) tidak membolehkan seseorang bepergian ke kuburan, shalat di sisinya, (shalat) ke arahnya, thawaf di situ, tawassul dengan orang-orang shalih, istighatsah kepada mereka, dan seterusnya. Berbeda dengan yang kedua (khalafi quburi, pent.), semua hal tadi boleh bahkan yang kita sebutkan tadi adalah intisari agama mereka.

Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, jika ada di antara mereka yang menerangkan dasar ini tidaklah mereka mengatakan kecuali segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita, memberi nikmat kepada kita, dan seterusnya yang berkaitan dengan tauhid Rububiyah saja. Kita telah mengetahui bahwa yang namanya ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, serta ucapan para shahabat, apakah dalam bidang aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan yang lainnya.

Mereka menyatakan ilmu itu ada dua, ilmu fadha’il yang berasal dari mereka dan ilmu masa’il yang berasal dari para ulama yang berada di setiap negeri. Setiap orang yang khuruj (keluar berdakwah) bersama mereka hendaknya mengambil (ilmu masa’il) tersebut dari para ulama di negeri masing-masing.

Apakah Anda telah memperhatikan pembagian ini. Dan mengapa mereka membolehkan seseorang berbicara tentang ilmu fadha’il dan melarang berbicara ilmu masa’il bahkan menganjurkan orang yang khuruj bersama mereka untuk mengambil ilmu tersebut dari para ulama di negeri masing-masing. Karena ilmu yang pertama (fadha’il) tidak menimbulkan perpecahan dan perselisihan, berbeda dengan yang kedua yang akan menimbulkan perpecahan.

Dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar mereka juga menggunakan senjata Kalimat Rahasia ini. Mestinya amar ma’ruf nahi munkar itu diterapkan dalam semua perkara akan tetapi mereka menerapkannya dalam perkara yang sekiranya tidak menimbulkan perpecahan. Lalu bagaimana mereka mempraktikkannya.

Maka jawabnya dengan cara pemaparan, yaitu mereka memaparkan hadits-hadits dan ayat-ayat yang berisi anjuran untuk melaksanakan perbuatan itu atau meninggalkan perbuatan yang dilakukannya tanpa menembus sisi aqidah. Mereka akan mengatakan kepada orang yang meninggalkan shalat –misalnya,

:[ “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mukminun : 12)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam besabda : “Tidaklah setiap hamba Muslim shalat untuk Allah di setiap harinya dua belas rakaat tathawwu’ bukan fardlu kecuali Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di Surga.” Ini keutamaan shalat yang sunnah maka bagaimana dengan yang fardlu. ]


Ketahuilah, mereka memiliki dua pertemuan rutin di malam Selasa dan Rabu. Pertemuan pertama untuk orang-orang yang pulang dari khuruj. Pada pertemuan pertama dihadirkan di hadapan mereka orang-orang yang ingin diberi semangat untuk khuruj bersama mereka atau untuk mempengaruhi mereka.

Pertemuan kedua untuk menata khuruj pada waktu Ashar di hari Rabu. Amir pertemuan berkata kepada salah seorang yang telah khuruj –agar yang baru dan para pendengar mengetahui– :

“Berapa hari Anda khuruj.”

Yang khuruj menjawab:

“Saya khuruj selama 4 bulan di jalan Allah.” Sang amir berkata :

“Masya Allah! Di mana Anda habiskan semua waktu Anda itu.”

Yang khuruj menjawab :

“10 hari di negeri-negeri Teluk,
20 hari di belantara Afrika,
1 bulan di Eropa,
1 bulan di Amerika Selatan,
1 bulan di Asia Timur, India, dan Pakistan.”

Maka sang amir pertemuan berkata (perhatikan ucapannya) :

“Masya Allah! Anda adalah dai dan ketahuilah dai itu seperti awan yang datang ke bumi turun berupa air hujan kemudian menyirami mereka.

Berbeza dengan ulama, mereka itu ibarat perigi, jika Anda merasa haus Anda harus menempuh perjalanan sejauh-jauhnya untuk mendatangi perigi itu maka Anda akan mati dulu sebelum sampai ke perigi tersebut. Bahkan mungkin Anda tidak bisa minum karena timba yang digunakan untuk mengambilnya tidak ada. Dan kalau Anda ingin minum maka Anda harus datang ke pinggir perigi kemudian menimba dulu baru engkau bisa minum.”

Apakah Anda merasa tergugah –seperti tergugahnya para pendengar cerita itu– yang lebih memuliakan dai dari orang yang alim!

Maka akibat dari cerita ini jika salah seorang di antara mereka ingin duduk menuntut ilmu, diceritakanlah kisah ini maka akhirnya diapun ingin menjadi awan saja daripada menjadi perigi!

Agar Anda tidak kebingungan setelah membaca kisah ini maka harus diterangkan di sini kekeliruannya.

Saya katakan –dengan mengharapkan bimbingan Allah– : Ketahuilah –semoga Allah membimbing kita kepada jalan-jalan kebaikan–

bahwa awan yang turun berupa hujan tidaklah menumbuhkan kecuali rerumputan untuk makanan ternak pada umumnya dan hanya menumbuhkan rumput yang bersifat bermusim. Bahkan kalau hujan itu turunnya di bumi yang gersang atau tidak pada musimnya, tidak bermanfaat.

Dan kadang-kadang awan itu membawa kerusakan dan menimbulkan kehancuran. Berbeza halnya dengan air perigi, dia bisa dijadikan air minum dan untuk bercocok tanam. Dan biasanya daerah yang ada periginya kehidupan di sana lebih bertahan lama karena penduduknya bisa bercocok tanam, minum, menanam hasil tanamannya, dan seterusnya. Dan keberadaan perigi memberi manfaat bagi orang yang tinggal di situ dan bagi orang yang lewat apakah untuk diri mereka, tunggangan mereka, untuk tanaman mereka, dan perbekalan mereka dengan cara disimpan dalam bejana-bejana. Perigi saat airnya brsih jernih, dan harum, apakah Anda berpikir untuk meninggalkannya.

Ada kisah lain, mudah-mudahan semakin memperjelas kesesatan jamaah ini. Diceritakan di hadapan para pemula yang ingin menuntut ilmu syar’i bahwa salah seorang di antara mereka berkata :

[ “Kemana Anda akan pergi wahai fulan.” Maka yang lain akan menjawab : “Aku akan pergi belajar.” Kemudian orang yang pertama tadi berkata :

“Untuk apa.” Yang lain berkata :

“Agar aku mengetahui perkara yang halal dan haram.”

Yang pertama berkata : “Subhanallah, Anda tidak tahu perkara yang halal dan haram.!

Apakah anda tidak mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

‘Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun banyak orang yang memberi fatwa kepadamu.’

Subhanallah, sampai sekarang engkau tidak mengetahui perkara yang halal dan yang haram padahal banyak binatang yang mengerti tentang itu. Apakah Anda tidak melihat kucing ketika Anda letakkan makanan di suatu tempat kemudian Anda pergi dan kembali lagi sebentar setelah itu maka Anda akan lihat dia memakannya dan ketika melihatmu dia akan lari. Berbeza dengn kalau Anda duduk di atas kursi makanmu kemudian Anda letakkan di sebelahmu sesuatu makanan maka dia akan makan dengan tenang di sebelahmu.

Pada kes yang pertama kucing itu tahu bahwa dia terjatuh ke dalam perbuatan yang haram oleh karena itu dia lari. Dan pada kes yg kedua, dia tahu bahwa makanan yang didapatkannya halal oleh karena itu dia makan bersamamu dengan tenang.

Wahai saudaraku, akal kaum Mukminin bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram! Oleh karena itu mintalah fatwa kepada hatimu walau banyak orang yang memberi fatwa kepadamu.!” ]

Maka wahai saudaraku, apakah Anda setuju dengan permisalan seperti itu. Tentunya bagi seorang Muslim dalam menentukan perkara halal/haram dan perkara lain dalam urusan agama ini harus bersandar kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Sebab kalau masing-masing orang diberikan kebebasan menentukan urusan agama ini sekehendaknya sendiri niscaya akan rusak agama yang mulia ini. Adapun perkara minta
fatwa kepada hati dalam menentukan suatu permasalahan, hal ini kadang-kadang bisa diterapkan dalam hal-hal yang memang belum jelas urusannya dalam agama ini.

Dan tentunya syaratnya dia harus seorang rasikh (mendalam) ilmunya dalam Dien ini dan tidak dikhawatirkan hawa nafsu mempengaruhinya.

Diceritakan bahwa salah seorang tabligh berbicara memberikan semangat kepada para pendengarnya untuk khuruj bersama mereka dengan meninggalkan anak, istri, keluarga, harta, negeri, dan lain-lainnya :

“Wahai saudaraku, jika Anda meletakkan gula ke dalam gelas teh kemudian Anda tuangkan air dan Anda minum tanpa mengaduk gulanya maka Anda tidak akan merasakan manisnya gula. Dan jika Anda aduk maka akan merasakan manisnya gula.

Demikian halnya dengan iman di dalam hati setiap manusia. Iman itu ada dan tidak akan bisa dirasakan manisnya oleh pemiliknya kecuali setelah mengaduknya dengan bergabung dan khuruj bersama jamaah ini.”

Saya beranggapan, Anda akan segera membantah kisah ini dengan berkata :

“Subhanallah! Jadi iman itu ada di setiap hati manusia.! Hingga di hati-hati orang munafik, kafir, dan murtad!” Dan barangkali Anda akan berkata pula :

“Subhanallah! Jadi para ulama, penuntut ilmu, dai, orang awam dari kalangan pria dan wanita tidak akan merasakan manisnya iman bila tidak ikut khuruj dengan kalian.!”

Mungkin Anda akan juga berkata : “Subhanallah! Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

‘Tiga perkara, barangsiapa ada pada dirinya tiga perkara itu akan merasakan manisnya iman :

Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai seseorang karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci kalau dilemparkan ke dalam neraka.’ (HR. Muslim 1/66)

Terakhir akan saya tutup dengan sebuah kisah bagaimana mereka mempermainkan syariat dan akal para pendengarnya.

Amir khuruj membagi kelompoknya pada hari Kamis pagi menjadi 2 kelompok.

Kelompok pertama, tinggal di masjid membuat halaqah dzikir yang terus berkelanjutan hingga semua kelompok pulang. Kelompok kedua menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang lebih.

Tugasnya mengetuk pintu-pintu rumah yang berdekatan dengan masjid dan mengajak mereka untuk hadir dan bergabung dalam kegiatan jamaah ini dan agar mereka menghadiri bayan (penjelasan) yang diadakan setelah Maghrib sampai Isya’.

Dan sebelum semuanya berpencar sang amir menceritakan kepada mereka kisah-kisah untuk memberi pelajaran kepada mereka maka dia berkata :

“Pernah pada suatu saat sebuah kelompok ke suatu daerah. Setelah mereka dibagi menjadi 2 kelompok berdiamlah kelompok pertama dalam masjid. Dan kelompok kedua keluar mengetuk pintu-pintu rumah.

Setiap kali mereka mengetuk pintu, mereka tidak mendapati jawaban yang menyenangkan dan sambutan yang baik. Tetapi mereka terus mengetuk pintu-pintu rumah dan tetap saja tidak disambut dengan baik. Maka ada di antara mereka yang berkata : ‘Periksalah iman kalian, wahai teman-teman!’

Maka merekapun memeriksa iman mereka tapi mereka tidak mendapati cacat (!). Maka salah seorang mereka berkata : ‘Mungkin teman-teman kita yang kita tinggalkan di masjid lalai berdzikir kepada Allah.’ Maka mereka berkata : ‘Marilah kita lihat mereka!’ Maka ternyata mereka dapati teman-teman mereka yang ada di masjid lalai berdzikir kepada Allah.

Saudaraku, apa yang terasa di dalam dirimu kalau engkau khuruj bersama mereka kemudian mereka menjadikanmu di halaqah masjid apakah Anda ketika mendengar kisah ini akan lalai dari dzikir kepada Allah. Atau engkau akan berusaha dengan keras agar Allah memberi taufiq kepada teman-temanmu yang di luar hingga mereka membawa hasil.”

Tidak diragukan lagi, inilah terjadi. Terlebih lagi jika si tablighi tadi menyandarkan perbuatannya itu dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa :

[ “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah dari beberapa rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun sakinah (ketenangan) kepada mereka. Dan mereka akan diliputi rahmat, dinaungi
malaikat, dan disebut-sebut Allah pada hamba-hamba yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim 4/2074)

Maka menurut mereka, penghuni masjid seperti sumber listrik dan kelompok kedua seperti lampu. Bila bergerak sumber listrik mereka akan hidup. Dan kalau tidak bergerak lampunya akan mati. ] Apakah Anda pernah mendengar permisalan seperti ini dan apakah Anda pernah melihat cara berdalil seperti ini! (Quthbiyah oleh Abu Ibrahim halaman 4-12)

Kitab Rujukan Jamaah Tabligh
Syaikh Tuwaijiri berkata : “Kitab yang paling top di kalangan tabligh adalah kitab Tablighin Nishshab yang dikarang oleh salah seorang tokoh mereka yang bernama Muhammad Zakaria Al Kandahlawi. Mereka sangat mengagungkan kitab ini sebagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah mengagungkan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab hadits lain.

Para tablighi (orang tabligh) menjadikan kitab ini sebagai rujukan dan pegangan bagi orang India dan Ajam yang mengikuti mereka. Di dalam kitab ini (Tablighin Nishshab) berisi kesyirikan-kesyirikan, bid’ah-bid’ah, khurafat-khurafat, dan hadits-hadits yang palsu dan lemah yang banyak sekali.

Kitab ini sebenarnya adalah kitab yang jelek dan jahat serta sarat dengan fitnah dan kesesatan. Orang-orang tabligh menjadikannya sebagai rujukan untuk menyebarkan kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan mereka, melariskannya, dan memperindahnya kepada orang-orang yang bodoh yang mereka (orang-orang tabligh -red) lebih sesat dari binatang ternak … .

Dan termasuk juga yang mereka perindah adalah dengan mewajibkan ziarah ke kubur Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam setelah haji. Padahal dalam perkara itu hanya bersandar dengan hadits-hadits yang palsu.

Dan orang tabligh memiliki kitab lain yang mereka jadikan sebagai pegangan dan rujukan para pengikut mereka dari kalangan Ajam, India, dan selainnya yaitu kitab yang bernama Hayatush Shahabah karya Muhammad Yusuf Al Kandahlawi. Kitab ini juga sarat dengan hadits-hadits yang palsu dan lemah. Dan ini termasuk kitab yang jahat, sesat, dan berisi fitnah.” (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 11-12)

Dinukil dari www.assunnah.cjb.net

Saturday, November 21, 2009

Doa dan Dzikir

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Diantara keutamaan-keutamaan iman yang itu merupakan buah dari keimanan seorang muslim dan akan nampak pada segi amalan lahiriyah-nya adalah mereka sangat bersemangat untuk bisa memberikan kemanfaatan kepada saudaranya sesama muslim, baik itu berbentuk pengajaran ilmu yang bermanfaat atau bantuan yang berupa materi atau paling minimal ia akan mendoakan kebaikan padanya.

Hanya saja hal ini timbul disebabkan adanya sisi kebersamaan didalam keimanan. Dan hal tersebut akan memberikan sebuah konsekuensi adanya suatu ikatan persaudaraan diantara sesama kaum mukminin. Dengan timbulnya suatu ikatan persaudaraan diantara kaum mukminin, pada akhirnya, akan membuahkan hasil yang menggembirakan berupa saling mencintai dan saling mendoakan dengan kebaikan diantara mereka.

Para pembaca yang kami hormati, marilah kita mencoba merenung sejenak untuk bisa menghayati makna-makna dan bisa mengambil beberapa faedah yang bisa dipetik dari cuplikan ayat diatas.

Makna dari:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ

adalah: Orang-orang yang datang setelah Muhajirin dan Anshar yaitu para tabi’in dan kaum muslimin setelahnya sampai hari kiamat.

Mereka mendoakan ampunan bagi saudara-saudara mereka yang telah mendahului mereka dalam keimanan, yaitu para shahabat (Muhajirin dan Anshar) Radhiallahu ‘anhum.

Dan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata dalam kitabnya, Taisirul Karimir Rahman, menafsirkan ayat tersebut, bahwa doa ini (ayat ini) mencakup segenap kaum mukminin yang terdahulu baik dari kalangan shahabat maupun kaum mukminin yang hidup sebelum masa shahabat, dan juga kaum mukminin yang datang setelah para shahabat.

Jadi doa mereka mencakup semua kaum mukminin. Mereka mendoakan bagi saudaranya sesama mukmin dengan kebaikan dalam keadaan saudaranya tersebut tidak hadir di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dalam kitab-kitabnya dengan ( اَلدُّعَاءُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ ).

Adalah suatu doa yang dilakukan tanpa kehadiran orang yang didoakan dan juga tanpa sepengetahuannya. Dan insya Allah akan datang penjelasannya melalui hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Perlu diketahui, bahwasanya amalan yang seperti ini merupakan bukti dan petunjuk yang kuat dan jelas akan kejujuran dan kesempurnaan keimanan seseorang. Sebab bagaimana tidak sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka jika engkau mendoakan bagi saudaramu suatu kebaikan apapun tanpa sepengetahuannya bahwa engkau telah mendoakannya dan juga tanpa adanya wasiat dari dirinya untuk minta didoakan dengan sesuatu, maka hal itu merupakan suatu petunjuk akan kecintaanmu yang jujur kepada saudaramu tersebut. Ini juga berarti bahwa engkau benar-benar menginginkan suatu kebaikan ada pada diri saudaramu sebagaimana engkau menginginkan kebaikan itu ada pada dirimu sendiri.

Untuk itu kita juga meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihilangkan dari diri kita penyakit-penyakit yang bisa menghalangi timbulnya sifat kecintaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan doa mereka dalam firman-Nya:
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “

“…Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

-Imam Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkamil- Qur`an, bahwa makna ( غِلاًّ ) adalah sifat dendam dan iri hati.

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya bahwa dalam doa tersebut mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihilangkan dari hati-hati mereka sifat dendam dan iri hati, baik sedikit maupun banyak. Yang mana jika hilang dua sifat tercela tersebut, maka akan tertanam dalam hati itu sifat kebalikannya, yaitu adanya kecintaan sesama mukmin, loyalitas, saling menasehati, dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ محمد: ١٩

“Dan memohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) kaum mukminin, baik yang laki-laki maupun perempuan.” (Muhammad: 19)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam agar beliau berdoa meminta ampun atas dosa-dosanya dan juga memintakan ampunan bagi saudara-saudaranya kaum mukminin, laki-laki dan perempuan.

Hal yang senada juga Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam firman-Nya tentang doa nabi Ibrohim ‘Alaihis Salam:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ إبراهيم: ٤١

“Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan segenap orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrohim: 41)

Potongan dua ayat diatas kembali menunjukkan tentang mendoakan saudaranya dengan kebaikan tanpa sepengetahuan dan kehadiran saudaranya di hadapannya.

Kesimpulan dari ayat-ayat yang telah kita lewati itu bahwasanya mendoakan saudaranya dengan kebaikan tanpa sepengetahuannya merupakan petunjuk, jalan dan amalan yang telah diamalkan oleh para rasul عليهم الصلاة والسلام .
Keutamaan amalan ini

Para pembaca yang sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah kita bisa memahami makna ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas dan juga mengambil faedah yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, maka sekarang marilah kita melihat kepada petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam masalah ini.

Al-Imam Muslim meletakkan beberapa hadits dalam masalah ini dalam kitab Shohih-nya yang kemudian diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i: “Keutamaan doa untuk kaum muslimin dengan tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits dari shahabiyah Ummud Darda`:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Kisah selengkapnya dari hadits diatas adalah sebagai berikut: Seorang laki-laki datang ke negeri Syam, kemudian ia ingin bertemu dengan Abud Darda` Radhiallahu ‘anhu di rumahnya namun beliau tidak ada dan hanya mendapati Ummud Darda`. Ummud Darda` berkata, “Apakah kamu ingin pergi haji tahun ini?” Orang tersebut menjawab, “Ya.” Ummud Darda` mengatakan, “Doakanlah kami dengan kebaikan. Karena sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,” kemudian Ummud Darda` menyebutkan hadits diatas.

Al-Imam An-Nawawi رحه الله menjelaskan hadits diatas dalam kitabnya, Al-Minhaj, dengan mengatakan, “Makna بظهر الغيب adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan di dalam keikhlasannya.

“Dan dahulu sebagian para salaf jika menginginkan suatu doa bagi dirinya sendiri, maka iapun akan berdoa dengan doa tersebut bagi saudaranya sesama muslim dikarenakan amalan tersebut sangat dikabulkan dan ia akan mendapatkan balasan yang semisalnya.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan, “Bahwasanya jika seseorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) dengan tanpa sepengetahuan dan kehadiran saudaranya di hadapannya. Seorang malaikat berkata, ‘Amin (Ya Allah, kabulkanlah), dan bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.’ Maka malaikat akan mengaminkan atas doamu jika engkau mendoakan bagi saudaramu tanpa sepengetahuan dan kehadirannya.”
Syarat-syarat dikabulkannya doa

Pembaca yang semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita semua, setelah kita mengetahui bahwa mendoakan orang lain tanpa kehadiran dan tanpa sepengetahuannya adalah salah satu faktor pendorong dikabulkannya sebuah doa. Namun ada perkara yang sangat penting untuk kita ketahui agar doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebut syarat-syarat dikabulkannya doa, yaitu:

Pertama: Ikhlash karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Hendaknya seseorang yang berdoa mengikhlashkan di dalam doanya menengadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang khusyu’, bersandar hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ia tahu bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu mengabulkan doanya, dan berharap penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk terkabulnya doa tersebut.

Kedua: Merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ketika berdoa merasa dalam kondisi sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sesungguhnya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan serta bisa menghilangkan musibah/kesusahan yang menimpanya.

Adapun orang yang berdoa dalam keadaan merasa tidak butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi ia berdoa sebagai kebiasaan saja, maka yang demikian tidak pantas untuk dikabulkan doanya.

Ketiga: Meninggalkan makanan yang haram

Hendaknya ia meninggalkan makan dari makanan yang haram, karena makan dari makanan yang haram akan menjadi penghalang dikabulkannya doa seseorang. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shohih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah baik dan Ia tidaklah menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman (kaum mukminin) dengan apa-apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul, makanlah dari sesuatu yang baik dan beramallah dengan amalan sholih.’ Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari sesuatu yang baik apa-apa yang telah kami rizkikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan, ada seorang laki-laki yang sedang berpergian jauh dalam keadaan rambutnya kusut masai dan berdebu, kemudian menengadahkan kedua tangannya ke atas (ke arah langit) dan berkata: ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku!’ sementara makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, pakaiannya adalah haram, dan ia diberi makan dari hasil yang haram. Maka, bagaimana bisa dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menganggap jauh akan terkabulnya doa orang tersebut. Padahal orang tersebut telah melakukan sebab-sebab zhahir (tampak) terkabulnya doa seperti:

1. Mengangkat telapak tangan ke arah langit (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas ‘Arsy.

2. Menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala “Ar Rabb” (الرَّبُّ). Ber-tawassul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama ini adalah salah satu sebab terkabulnya doa sebagaimana doa-doa dalam Al-Qur`an banyak dimulai dengan kata “Rabb”, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ البقرة: ٢٠١

“Dan diantara mereka ada yang mengatakan (berdoa), “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari adzab An Nar (neraka).” (Al-Baqarah: 201)

Begitu pula dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (41) إبراهيم: ٤٠ -٤١

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat dan anak keturunanku! Wahai Rabbku, kabulkanlah doaku! Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kaum muslimin pada hari ditegakkannya Al-Hisab (Hari Perhitungan).” (Ibrohim: 40-41)

3. Berdoa dalam keadaan safar, dan safar adalah salah satu sebab terkabulnya doa.

Akan tetapi doa orang tersebut tidak dikabulkan karena makanannya haram, pakaiannya haram, dan mendapatkan makanan dari hasil perkara yang haram.

Kemudian yang penting untuk diketahui juga ketika seorang hamba berdoa untuk tidak terburu-buru akan terkabulnya doanya, karena terburu-buru adalah salah satu sebab penghalang terkabulnya doa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
يُسْتَجَابُ ِلأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ قِيلَ وَكَيْفَ يَعْجَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ اللَّهَ فَلَمْ يَسْتَجِبْ اللَّهُ لِي

“Dikabulkan bagi salah seorang diantara kalian (ketika berdoa) selagi tidak terburu-buru.” Para shahabat bertanya: “Bagaimana terburu-burunya (seseorang ketika berdoa), wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia berkata, “Saya telah berdoa akan tetapi Allah tidak mengabulkan untukku.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Kepada Saudaraku Kaum Muslimin

Menengok sejarah perjalanan waktu yang ada, sungguh kita patut merasa bersedih terhadap krisis yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di berbagai belahan dunia. Mereka mengalami penindasan, pembantaian, pengrusakan, perampasan wilayah dan bentuk-bentuk kezhaliman yang lain. Mayoritas mereka dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Dan kita yang berada disini juga tidak memiliki kekuatan yang memadai, baik secara fisik maupun materi, yang dapat kita berikan sebagai bantuan kepada mereka selain dari doa yang kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kemenangan dan kesabaran bagi mereka, serta mendoakan kehancuran bagi musuh-musuh mereka.

Inilah realita yang harus bagi diri kita untuk bisa memetik hikmah dari peristiwa tersebut. Al-Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya, Al-Fawaid, mengatakan, “Bahwa keadaan seorang hamba, selamanya berputar diantara hukum-hukum yang berkaitan dengan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum-hukum yang berkaitan dengan turunnya musibah. Sehingga ia butuh, bahkan sangat membutuhkan sekali, kepada pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika ia melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ia sangat membutuhkan sekali kepada kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala turun kepadanya sebuah musibah. Sejauh mana kadar seorang hamba tersebut telah menegakkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sejauh itu pulalah kadar kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan ia dapatkan ketika terjadi musibah yang menimpanya.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.
وصلىالله على محمد وعلى آله والصحابة أجمعين والحمد لله رب العالمين

http://www.assalafy.org/mahad/?p=321
Isu Zikir Wahhabi:
Abaikan Saja, Kita Ikut Mazhab Syafi'e!

http://an-nawawi.blogspot.com

Baru-baru ini meledak satu isu berkaitan Fahaman Wahhabi di dada-dada akhbar ekoran penangkapan seorang bekas mufti Negeri Perlis oleh Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) yang didakwa mendoktrinkan fahaman Wahhabinya kepada masyarakat. Namun, akhirnya dibebaskan tanpa sebarang pertuduhan.

Walaupun begitu, bukan itu isu yang mahu saya tangkap masuk ke dalam tulisan kali ini. Tetapi lebih kepada kenyataan oleh seorang tokoh lain rentetan dari isu Wahhabi tersebut.

Sebenarnya saya tertarik dengan kenyataan seorang Timbalan Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Dato' Dr. Mashitah Ibrahim sebagaimana berikut dinukilkan dari riwayat
Akhbak Berita Harian:

Beliau berkata, fahaman itu tidak sesuai kerana di Malaysia berpegang kepada Ahli Sunnah Wal Jamaah dan Wahabi boleh mewujudkan perselisihan sesama umat Islam.

Antara perbezaan pendapat yang menimbulkan perselisihan ialah tidak membaca qunut dalam solat subuh, membaca Yaasin pada malam Jumaat, membaca talkin, tidak berwirid selepas solat dan mengadakan tahlil.


Manakala menurut riwayat dari jalur sanad Akhbar Utusan Malaysia:

Antara ajaran fahaman Wahabi ialah tidak mengamalkan bacaan doa qunut dan Yasiin selain tidak mengadakan tahlil dan tidak berzikir selepas solat seperti amalan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Jari-jemari saya lebih teruja untuk menikam papan kekunci menoreh sekitar isu Wahhabi tidak berzikir (atau berwirid) setiap selepas solat (merujuk solat fardhu).

Sebagaimana yang disentuh oleh Dato' Dr. Mashitah di atas, pertamanya beliau menyentuh soal perselisihan di dalam agama dari kalangan umat Islam. Sebenarnya, dalam persoalan perbezaan pendapat di dalam agama, ia bukanlah suatu perkara yang asing. Malah ia sebenarnya telah lama disentuh oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin/orang-orang yang berilmu) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Surah an-Nisaa', 4: 59)

Apa yang menarik, selain Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan tentang perselisihan melalui ayat tersebut, Allah juga telah menyatakan solusinya apabila berlaku perbezaan pendapat di antara orang-orang yang beriman. Iaitulah dengan kembali merujuk al-Qur'an dan as-Sunnah.

Maka, apabila isu zikir ini timbul. Apa yang mahu saya tekankan adalah, pentingnya kita kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah.

Abaikan saja isu Wahhabi atau bukan Wahhabi.

Sebagai menghormati Mazhab Kebangsaan kita, Mazhab Syafi'e, berikut saya dahulukan pendapat Imam asy-Syafi'e sendiri berkenaan isu zikir selepas solat ini. Juga sebagai sebuah pengiktirafan bahawa beliau adalah salah seorang ulama besar dalam dunia ilmu yang wajar dijadikan sebagai contoh dan ikutan.

Imam asy-Syafi'e rahimahullah menjelaskan sebagaimana berikut:

وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول {وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها} يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك

Terjemahan: Aku berpendapat bahawa seseorang imam dan makmum hendaklah mereka berzikir kepada Allah di setiap kali selesai solat, dan hendaklah mereka merendahkan suara zikirnya, melainkan bagi seseorang imam yang mahu menunjuk-ajar para makmumnya berkenaan zikir, maka dia boleh mengeraskan suara/bacaan zikirnya, sehingga apabila dia telah mengetahui bahawa para makmum telah tahu, maka hendaklah dia kembali merendahkan suara zikirnya, kerana Allah 'Azza wa Jalla berfirman (maksudnya):

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Surah al-Israa', 17: 110)

Maksud kata الصلاة (ash-Sholah) wallahu Ta'ala a'lam adalah doa. لا تَجْهَرْ (Laa Tajhar): Janganlah engkau mengangkat suaramu, وَلا تُخَافِتْ (wa laa tukhofit): Janganlah engkau rendahkan sehingga engkau sendiri tidak mendengarnya. (Rujuk: Imam asy-Syafi'e, al-Umm, 1/127)

Perkara ini turut diperkuatkan lagi dengan penjelasan salah seorang ulama besar bermazhab Syafi'e iaitu Imam an-Nawawi rahimahullah:

قال اصحابنا إن الذكر والدعاء بعد الصلاة يستحب أن يسر بهما إلا أن يكون اماما يريد تعليم الناس فيجهر ليتعلموا فإذا تعلموا وكانوا عالمين أسره

Terjemahan: Para ulama dari mazhab Syafi'e (ash-haabunaa), berkata: Zikir dan doa setelah solat, disunnahkan supaya dilakukan dengan merendahkan suara, kecuali apabila dia seorang imam yang hendak membimbing (mengajar) orang lain (para makmum), maka dibolehkan untuk mengeraskan (menguatkan) suaranya, supaya mereka semua dapat belajar darinya, dan apabila diketahui bahawa mereka telah memahami serta sudah tahu (akan zikir-zikirnya), maka hendaklah dia kembali berzikir dengan merendahkan suara. (Rujuk: Imam an-Nawawi, al-Majmu' Syarah al-Muhazzab, 3/487)

Dari dua perkataan ulama besar ini, kita dapat melihat beberapa titik penting dalam persoalan zikir sebaik selesai solat fardhu:

1 – Mazhab asy-Syafi'e menyatakan bahawa amalan berzikir di setiap kali setelah selesai solat fardhu adalah sunnah (dianjurkan).

2 – Cara berzikir selepas solat adalah dilaksanakan dengan secara individu.

3 – Dilaksanakan dengan suara yang perlahan dan bukan dikuatkan, cukup sekadar diri sendiri yang mendengarnya.

4 – Boleh dikeraskan bacaan sekiranya bertujuan untuk mengajar dan memberi bimbingan kepada orang lain yang mahu memperlajarinya.

Demikianlah empat intipati utama yang dapat kita ambil dari perkataan Imam asy-Syafi'e dan Imam an-Nawawi di atas.

Jadi, jika benar kelompok Wahhabi meninggalkan atau menolak amalan berzikir selepas solat fardhu, maka kefahaman ini jelas bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Imam dari mazhab Syafi'e tadi.

Malah, berzikir setelah solat, ianya adalah bersandarkan kepada hadis-hadis yang sahih. Cukuplah saya bawakan salah satu contoh zikir yang tsabit dari sunnah yang dianjurkan untuk diamalkan. Dari sebuah hadis, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Terjemahan: Sesiapa yang di setiap kali selesai solatnya (solat fardhu), dia menyucikan Allah (berzikir Subhanallah) 33 kali, memuji Allah (mengucapkan al-hamdulillah) 33 kali, dan membesarkan Allah (mengucapkan Allahu Akhbar) 33 kali, yang semuanya menjadi 99 kali kemudian dicukupkan 100 kali dengan Laa ilaaha illallahu wahdahu la syarikalah... maka, Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan. (Hadis Riwayat Muslim, Bab: Zikir-zikir yang dianjurkan sebaik selesai solat, 3/262, no. 939. Dari hadis Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu. Rujuk zikir-zikir seterusnya: Klik Blog Fiqh)

Maka, dengan terang lagi bersuluh dengan bersandarkan kepada hadis Nabi dan perkataan dua ulama besar dari mazhab asy-Syafi'e bahawa berzikir setelah selesai solat fardhu itu hukumnya adalah dianjurkan (sunnah).

Jika benar Wahhabi menolak sunnah berzikir setelah solat fardhu ini (sebagaimana yang dinyatakan oleh Dato' Dr. Mashitah), bermakna mereka (kelompok Wahhabi) telah salah.

Namun, perlu kita fahami juga berkenaan dengan adab-adab di dalam berzikir. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh dua imam tadi iaitu:

1 – Cara berzikir selepas solat adalah dilaksanakan dengan secara individu (bukan secara berjama'ah/koir).

2 – Dilaksanakan dengan suara yang perlahan dan bukan dikuatkan, cukup sekadar diri sendiri yang mendengarnya. Apatah lagi dengan berlagu, maka itu jelas-jelas telah salah.

3 – Boleh dikeraskan bacaan sekiranya bertujuan untuk mengajar dan memberi bimbingan kepada orang lain yang mahu memperlajarinya.

Kesimpulan dari kenyataan Imam asy-Syafi'e dan Imam an-Nawawi ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menyentuh berkenaan adab-adab di dalam berzikir secara umumnya:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Terjemahan: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Surah al-A'raaf, 7: 205)

Berkenaan ayat ini, seorang lagi ulama besar dalam bidang tafsir yang bermazhab Syafi'e menjelaskan:

وهكذا يستحب أن يكون الذكر لا يكون نداء ولا جهرًا بليغًا

Terjemahan: Demikianlah zikir dianjurkan, iaitu dengan suara yang tidak dikeraskan dan tidak dinyaringkan. (Rujuk: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim, 3/539)

Perkara ini menjadi lebih jelas apabila kita merujuk kepada sebuah hadis, di mana Sahabat bernama Abu Musa al-'Asy'ari menceritakan:

رفع الناس أصواتهم بالدعاء في بعض الأسفار، فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس، أربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبًا؛ إن الذي تدعونه سميع قريب

Terjemahan: Ketika itu, orang ramai mengeraskan (memperkuatkan) suaranya di dalam berdoa di ketika melakukan safar (perjalanan), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun berkata (membantah perbuatan mereka yang mengeraskan suara dalam berdoa):

Wahai manusia, kasihanilah diri kamu. Kerana kamu sebenarnya tidak menyeru kepada yang tuli (pekak) dan yang jauh, sesungguhnya Dzat yang kamu seru adalah Maha Mendengar lagi sangat dekat. (Rujuk: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim, 3/539)

Jika ini dapat kita fahami, jelaslah bahawa rata-rata masyarakat negara kita yang mengaku bermazhab Syafi'e sebenarnya telah membelakangkan perkataan Imam-imam besar mereka. Khususnya dalam persoalan berzikir selepas solat yang saya sentuh ini.